11
Feb
10

Hanifah Damanhuri Oayobada: Lapau Maya

Sajak ado lapau maya — Sejak ada lapau/warung maya
Sajak awak jadi anggota — Sejak saya jadi anggota
Awak barubah jadi paota — Saya berubah jadi tukang ngobrol

Namono paota — Yang namanya tukang ngobrol
Ado sajo bahan ota — Ada saja bahan obrolannya
Tema ota — Tema obrolan
Tagantuang jo sia ma ota — Tergantung kepada siapa yang mengobrol
Atau tagantuang apo nan takana — Atau tergantung apa yang teringat

Kampuang takana — Kampung teringat
Kampuang jadi ota — Kampung jadi bahan obrolan
Rantau tampek tingga — Rantau tempat tinggal
Indak luput dari ota — Tidak luput dari obrolan

Sambia maota — Sambil ngobrol
Sambia baraja — Sambil belajar
Sambia basuo jo saudara — Sambil bersua dengan saudara
Namono lapau maya — Namanya lapau/warung maya
Kok ado nan babeda — Kalau ada yang berbeda
Ah itu kan biasa — Ah itu kan biasa

Lapau maya — Lapau/warung maya
Indak tampek maota saja — Bukan tempat mengobrol saja
Jadi tampek manyusun rencana — Jadi tempat menyusun rencana
Sia nan kajadi apa — Siapa yang akan jadi apa
Apa untuk siapa
Dimana dibangun apa
Darimana dana untuk apa
Apa rencana kerja
Boleh-boleh aja
Untuk yang bisa dan suka

Bagiku lapau maya
Lebih banyak untuk pelipur lara
Bagiku lapau maya
Lebih banyak untuk baraja (belajar)

Siapa tau suatu masa
Berkat rajin baraja (belajar)
Tulisanku beredar dimana-mana
Rantaunet pasti bangga

Bengkulu, 11 Desember 2009

Hanifah

***

Tentang penulis : Hanifah Damanhuri Oayobada

Hanifah Damanhuri yang orang Oayobada ini adalah Bundo Kanduang Minangkabau yang selain mempunyai kesibukan membesarkan anak, juga bekerja sebagai dosen Matematika di salah satu universitas di Bengkulu, Sumatra. Menulis pantun dan merangkai kata-kata adalah salah satu hobi dari Uni Hanifah Oayobada disamping berjalan-jalan, membaca dan memasak.

Pantun Uni Hanifah Oayobada ini sangat rancak menggambarkan pandangan orang Minangkabau mengenai warung-warung maya seperti facebook.

***

Tulisan ini saya peruntukkan untuk para Bundo Kanduang Minangkabau yang telah berjasa dalam membangun kebudayaan, dalam mendidik anak-anak menjadi orang yang berjiwa merdeka dan peduli terhadap masyarakat, serta yang telah membangun hubungan dalam rumah gadang dan kaum.

Tulisan ini juga ditujukan untuk para Bundo KanduangBundo Kanduang lain di Indonesia dan seluruh dunia yang dipanggil dengan Inang, Bunda, Ibu, Buk’e, Simbok, Umi, Mama, Omak, Mande, Mandeh, Mother, Amma, Amai, Amak, Mamak, Mami, Mamih, Induak, Induah, Mutter, Maman, Mom, Mère, Mommy, Um dan Mata. Ini hanyalah sebagian saja dari nama-nama yang dipakai untuk menyebut perempuan yang telah mengandung dan melahirkan seluruh manusia yang ada di dunia ini.

Hanifah Oayobada, sebagaimana yang dilakukan oleh banyak orang Minangkabau lainnya, adalah salah seorang perempuan Minangkabau yang ditengah kesibukannya yang bertimbun, masih tetap bersibuk diri dengan apa yang menjadi kekuatan masyarakat matriarkal Minangkabau; bukan senjata, otot ataupun perang melainkan kepandaian merangkai kata-kata.

Pantun ini adalah tulisan kedua dari rangkaian tulisan yang khusus menampilkan perempuan-perempuan Minangkabau beserta karya-karya mereka ataupun kiprah mereka.

***

Baca juga:

Saya Bangga Jadi Perempuan Minangkabau

Emakku Hj. Nurma Abubakar Piliang-Perempuan Minang Tulen

Mamak-mamak Tidak Tahu Diuntung-Bagian 1

Meiy Piliang: Negeri Nurani Mati


0 Responses to “Hanifah Damanhuri Oayobada: Lapau Maya”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Februari 2010
S S R K J S M
« Jan   Mar »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

Blog Stats

  • 153,677 hits

%d blogger menyukai ini: