11
Mar
09

Orang Minangkabau, Orang Padang, Orang Melayu atau Orang Awak?

Lagu berikut adalah salah satu lagu dangdut kesukaan saya dari daerah Bangkinang, Kampar di propinsi Riau. Penyanyinya adalah Orang Ocu yang dikenal sebagai “Orang Melayu Riau” bernama David Astar. Lagu ini juga adalah ciptaannya sendiri.

Bahasa yang dipakai oleh David Astar untuk lagu ini dikenal sebagai “bahasa Ocu” (bahasa yang dipakai oleh orang Ocu), yang tidak ada bedanya dengan bahasa “Minangkabau” yang dikenal sebagai bahasa orang awak di Sumatra Barat. Di Sumatra Barat sendiri ada banyak sekali dialek-dialek dari bahasa yang dikenal sebagai “bahasa Minangkabau” ini, karena memang belum ada usaha-usaha untuk menstandardisasi cara pengucapan atau penulisan dari dialek-dialek ini. Sehingga banyak, kalau kita tidak dapat mengatakan hal itu sebagai sebagian besar, perbedaan dalam penulisan kata-kata dari tiap-tiap dialek ini.

Menurut keterangan seorang Ibu dari daerah Solok, dua kampung yang berdekatan saja memiliki dialek yang berbeda. Contohnya adalah kata pasar (Indon.). Ada kampung yang memakai kata “balai“, sementara kampung terdekatnya memakai kata “bolai“. Sementara itu, di daerah-daerah lain di Sumatra Barat, banyak orang yang memakai kata “pasa“. Jadi memang perbedaannya tidak banyak. Umumnya pebedaannya terletak pada huruf ataupun suku kata. Perbedaan cara penulisan adalah perbedaan yang paling sering ditemui. Orang Ocu misalnya menulis kata untuk “orang” sebagai “ughang“, sama dengan orang Silungkang di Sumatra Barat. Hal ini disebabkan karena banyak orang “awak” tidak bisa mengucapkan huruf “r”. Sementara itu di daerah lainnya kata “urang” yang dipakai.

Orang dari daerah Talawi di Sumatra Barat mengatakan bahwa, dialek “bahasa Minang” mereka sangat jauh berbeda daripada dialek-dialek “bahasa awak” lainnya di Sumatra Barat. Orang-orang dari daerah lainnya mengalami kesulitan untuk bisa mengerti sepenuhnya apa yang dimaksud karena perbedaan yang cukup jauh ini.

Sesungguhnya, banyak suku bangsa-suku bangsa di Sumatra Tengah yang kini masuk sebagai propinsi Riau, Bengkulu, Sumatra Selatan, Jambi, sampai ke Aceh yang berbahasa yang sama dengan bahasa yang dikenal sebagai “bahasa Minang”, hanya beda-beda sedikit saja. Kita bisa sebut saja misalnya orang Ocu, orang yang dikenal sebagai orang Kubu yang sebenarnya terdiri dari banyak suku-suku lainnya seperti misalnya, orang Talang Mamak atau orang Mamak, orang Sakai, orang Talang atau orang Petalangan dan lain-lain di Riau, serta orang Aneuk Jamee di Aceh. Kata Aneuk Jamee sendiri dalam bahasa Aceh kira-kira sama dengan “pendatang”. Mereka semua pada umumnya menyebut dirinya dengan “orang awak”. Ada yang menyebut dirinya, terutama yang tinggal di daerah Bukit Barisan, dengan sebutan “orang darat” atau dalam bahasa orang-orang di Sumatra Tengah sebagai “urang darek“.

Orang-orang ini berbahasa yang sama dengan “orang awak” di Sumatra Barat, menyebut dirinya dengan “orang awak” atau “orang darek” dan hampir seluruhnya masih berbudaya matrilineal. Akan tetapi di propinsi Riau mereka dikenal sebagai “orang Melayu“. Di luar Riau mereka dikenal sebagai “orang Melayu Riau“. Dan saudara mereka di Sumatra Barat tidak mengenal mereka, bahkan ikut-ikutan menyebut mereka sebagai “orang Melayu”. Padahal orang-orang ini kebanyakan tidak merasa menjadi “orang Melayu” melainkan “orang awak”, “orang darek” atau bahkan “orang asli”.

Pernyataan ini serupa dengan orang-orang awak di Sumatra Barat yang merasa diri mereka bukan “orang Melayu“, melainkan “orang awak“, atau “orang Minang“. Orang-orang Minang di daerah-daerah selain Padang, menyebutkan bahwa bahwa mereka “lebih Minang” daripada “orang Padang“, karena dari sejarahnya, Padang memang merupakan tempat bagi para pendatang, di mana perubahan maupun pemaksaan budaya juga dimulai dari daerah ini. Sampai sekarang, Padang tetaplah merupakan tempat di mana, gagasan-gagasan yagn bersumber daripada kekuasaan dimulai, dalam fungsinya sebagai tempat bagi “kaum pendatang” dan tempat kekuasaan (ibukota propinsi).

Dari kesamaan bahasa maupun budayanya secara umum, sebenarnya bisa dikatakan bahwa “orang Minang” di Sumatra Barat adalah bersaudara dengan orang-orang yang disebut sebagai orang Melayu atau orang pendatang ini (semisal Aneuk Jamee di Aceh). Seluruh suku-suku ini sama-sama menyebut diri mereka “orang awak“, memiliki budaya yang matrilineal, serta menolak disebut sebagai “orang Melayu“. Orang Talang Mamak misalnya mengatakan bahwa orang Talang Mamak yang masuk Islam, sebagai menjadi “orang Melayu“. Orang-orang yang disebut sebagai orang Kubu utamanya berasal dari orang-orang yang lari ke hutan pada saat berkobarnya penyerangan kelompok padri dengan kelompok orang awak yang dikenal sebagai kelompok adat. Hal yang sama juga dikatakan oleh “orang-orang awak” di Sumatra Barat, bahwa yang disebut sebagai orang Kubu adalah orang-orang yang tidak mau masuk Islam atau orang-orang yang ingin bertahan dengan kebudayaan mereka, dengan kata lain orang-orang yang tidak ingin menjadi “melayu“. Sama halnya dengan banyak “orang awak” di Malaysia, yang tidak mau menjadi “Melayu” karena mereka tidak mau masuk Islam, dan merasa mereka mendapat perlakuan yang tidak adil sebagai bukan “Muslim”. Mereka juga menyebut diri mereka sebagai “orang nagari” (dari asal kata nagari). Orang-orang ini juga menyebut diri mereka sendiri dengan sebutan “orang awak“.

Orang awak di Sumatra Barat sendiri mendasari identitas mereka sebagai orang Sumatra Barat, didasarkan pada identitas dari zaman Belanda sebagai orang dari daerah “Pantai Barat Sumatra“, jadi Sumatra Barat. Dan ditambah dengan pembatasan-pembatasan menjadi propinsi-propinsi menjadi propinsi Sumatra Barat (Sebelumnya hanya Sumatra Tengah), yang kemudian hanya mencakup sebagian kecil saja dari daerah yang dulu dikenal sebagai Sumatra Tengah. Dengan demikian juga memisahkan saudara-saudara sesama budaya di bagian Sumatra lainnya.

Memandang kenyataan mengenai budaya yang serupa ini, serta kenyataan bahwa di Riau sendiri, sebagian besar penduduknya adalah orang yang menyebut dirinya “orang awak” dan “berbahasa awak” sama seperti bahasa “orang awak” di Sumatra Barat, yang juga berarti masih bersaudara dengan orang awak di Sumatra Barat, semestinya orang awak di seluruh daerah-daerah di Sumatra dan Malaysia membentuk suatu Pan-Orang Awak untuk menyatukan kembali saudara-saudara kita dari keterpisahan politik oleh sekat-sekat yang bernama wilayah. Tidak usah dipermasalahkan lagi apakah “orang awak” itu beragama Islam atau tidak. Yang terpenting adalah kesamaan budaya, yang salah satunya adalah bahasa dan budaya yang matriarkal. Sudah cukuplah penderitaaan “orang awak” karena terpecah belah karena masalah pemaksaan agama ini. Orang-orang awak zaman dulu sudah cukup menderita karena harus lari ke hutan untuk menyelamatkan diri dari serangan-serangan kelompok Islam fundamentalis yang dikenal sebagai kelompok padri ini.

Perang orang awak melawan Belanda yang terjadi sesudah penyerangan kelompok padri terhadapa mereka, didasari pada dua hal yaitu perlawanan kelompok padri yang diperangi oleh Belanda karena penyerangan kelompok padri ini dianggap mengganggu perekonomian Belanda, dan perang orang awak sendiri melawan Belanda yang berdasarkan kesadaran bahwa Belandapun pada akhirnya hanya ingin mengambil keuntungan dari mereka. Bahwa kemudian “perang padri” ini disucikan menjadi hanya “perang kelompok padri melawan Belanda” adalah terlalu berlebihan. Kelompok padri pada mulanya tidak bermaksud menyerang Belanda melainkan “memurnikan” dan “mengislamkan” orang awak. Perang melawan Belanda yang terjadi sesudahnya adalah suatu konsekuensi karena penyerangan kelompok padri terhadap orang awak yang “tidak mau menjadi Islam” atau “tidak benar-benar Islam” ini menganggu roda perekonomian dan karenanya dianggap merugikan Belanda. Harus diingat pula bahwa perempuan-perempuan Minang berperan besar dalam perang lanjutan ini (baca: perang melawan Belanda dan bukannya penyerangan kelompok padri kepada orang-orang awak), yaitu sebagai pembuat mesiu (Rusli Amran) dan juga dalam perang itu sendiri. Akan tetapi yang ditonjolkan hanya “Imam Bonjol” saja, padahal boleh dikatakan dialah yang menyebabkan “orang awak” akhirnya benar-benar jatuh ke tangan penjajahan Belanda. “Perang padri” adalah perang yang diawali dengan penyerangan dan pembantaian kelompok padri terhadap orang awak yang tidak mau menjadi Islam, berlanjut dengan perang kelompok padri dan orang awak yang bukan termasuk kelompok padri untuk melawan Belanda dan yang akhirnya diakhiri dengan jatuhnya ranah Bundo Kanduang ke tangan penjajah Belanda. Jadi bisa dikatakan bahwa kelompok padrilah yang menyebabkan terjajahnya ranah Bundo Kanduang.

Kata Minangkabau atau Minang sendiri sebenarnya adalah kata yang dipakai atau disukai oleh peneliti-peneliti Barat untuk memberi nama “orang awak” di daerah yang dikenal sebagai Sumatra Barat, yang berdasarkan kepada cerita yang tampaknya bombastis mengenai peristiwa adu kerbau besar dengan kerbau kecil yang masih menyusu. Banyak juga peneliti lainnya yang memberi nama Minangkabau untuk orang-orang yang berbudaya matrilineal (baca matriarkal) yang mendiami sebagian terbesar daerah yang disebut sebagai Sumatra Tengah, sampai ke Sumatra Utara (Aceh).

Daerah Riau yang dikenal sebagai “Melayu yang asli” malahan penduduk terbesarnya adalah orang-orang yang berbudaya matriarkal dan berbahasa awak dan menyebut dirinya sendiri sebagai orang awak. Ibukota Riau, Pekan Baru, sebagian besar didiami oleh orang-orang awak dari Sumatra Barat. Kalau begitu, sebenarnya apa arti Melayu itu? Selama ini kita mengenal kata Melayu, tapi kata itu memiliki banyak arti dan dipergunakan sebagai sebuah penghormatan kepada identitas kemelayuan. Padahal orang-orang yang menyebut dirinya “orang asli” di Sumatra Tengah mengatakan bahwa menjadi “orang Melayu” berarti masuk Islam. Jadi, ke-Islam-anlah yang memberikan identitas “Melayu” ini. Peneliti-peneliti Barat sendiri lebih suka menyebut semua suku sebagai “Melayu“. Peneliti Barat sendiri bahkan dengan beraninya mengatakan bahwa “bahasa Minangkabau” adalah salah satu dialek dari “bahasa Melayu“. Seolah-olah “orang Melayu” dan “bahasa Melayu” yang dikenal sebagai “bahasa Melayu Riau” ataupun “bahasa Kebangsaan Malaysia” memiliki kedudukan lebih tinggi atau “ada terlebih dulu” daripada bahasa awak yang dikenal sebagai “bahasa Minangkabau“. Padahal istilah Melayu untuk orang asli di Sumatra Tengah yang berbahasa awak selalu diasosiasikan dengan Islam, berarti sebagai hal yang baru, sebagai hal yang datang yang dibawa oleh pendatang-pendatang Arab maupun orang-orang yang sudah terpengaruh dengan budaya Arab.

Karena alasan-alasan di atas bahasa Melayu baik di Riau di Malaysia ataupun Bahasa Indonesia selayaknya dipandang sebagai bahasa turunan daripada bahasa awak atau bahasa dari orang-orang awak di “Sumatra Tengah” sampai ke Aceh dan sebagainya yang berkembang lewat perpaduannya dengan entitas baru yaitu Arab/Islam.

Lebih lanjut soal Pan-Orang Awak, Melayu, bahasa Melayu dan “perang padri” pada postingan berikutnya.


7 Responses to “Orang Minangkabau, Orang Padang, Orang Melayu atau Orang Awak?”


  1. 1 ken
    Maret 12, 2009 pukul 12:08 pm

    mungkin rasa sukuisme yang tertanam yang membuat mereka seperti tiu uni

  2. 2 Vara
    Maret 21, 2009 pukul 2:03 am

    Uni rasa mungkin juga..tapi sepertinya lebih karena kurangnya penyebaran informasi…sebutan orang ini orang itu sebenarnya berasal bukan dari masyarakat itu sendiri melainkan umumnya diberikan oleh pihak luar…”orang Minangkabau” sendiri sebenarnya menyebut dirinya sendiri urang awak/ughang awak)…selama ini suku2 di Sumatra dan daerah2 lainnya di Indonesia hampir selalu “didefinisikan” oleh pihak luar…kemudian kita malah mengadopsinya..

    jadi hendaknya kajian2 seperti ini selayakna diimbangkan oleh orang2 dari tiap suku2 yang dimaksud..setelah kita mengetahui bahwa kita adalah bersaudara..kita bisa tahu apa dan bagaiman kita bertindak

  3. Desember 17, 2009 pukul 10:04 am

    Orang awak ramai di Malaysia. Semuanya datang dari Sumatera Barat. Saya juga asalnya dari orang awak. sangat rindu untuk mengetahui asal usul orang awak yang tinggal di batu ampar, sungai lolo. bahasa kami jauh bedanya dengan orang ocu, orang mendiling mau pun orang minang. contoh perkayaan “piring” kami sebut “cipir”, tetapi untuk perkataan “cepat” kami sebut “bangek”.

  4. 4 T.Bustamam
    Juni 23, 2010 pukul 6:05 am

    Dalam bahasa Minang sinonim untuk “piriang” adalah pinggan, cipia ( dialek Agam/ Bukittinggi), tadah (piring kecil) dan dulang (Piring besar).

    Tentang orang awak perlu saya beri komentar sbb.
    1. Terhadap orang dari suku lain mereka akan menyebut dirinya orang Minang atau orang
    Minangkabau atau orang Melayu Minangkabau.
    2. Dulu orang Minang hanya menyebut dirinya orang Awak jika bicara sesama orang Minang,
    dalam pengertian awak = kita. Akhirnya sekarang orang=orang dari suku lain ikut
    ikutan menyebut orang Minang, orang Awak.
    3. Orang-orang suku bangsa lain terutama yang dari pulau Jawa menyebut orang Minang, orang
    Padang.Seperti orang Batak mereka memnyebutnya orang Medan, tidak perduli apakah ia BTL
    (Batak Tembak Langsung) yang tidak pernah melihat Medan.
    4. Dulu orang dari suku-suku lain di Sumatera menyebut orang yg datang dari Sumatera Barat,
    orang Minang. Namun sekarang sudah ikut-ikutan memnyebutnya orang Padang.

  5. 5 uddin datuk limo puluh- siak
    Mei 4, 2011 pukul 9:12 am

    asalamualaikum.ww. dengan tidak merendahkan dan tidak meninggikan..minang dan melayu itu sama saja. dalam kesejarahan banyak bukti bahwa letak awal kerajaan melayu itu di jambi ini berkisar abd ke lima sesuai temuan candi, kemudian abad selanjutnya 7-11 berdiri srwijaya,,sesuai prasasti yang mengatakan berangkat dari minanga–tamvan(minanga kemungkinan besar awal letak kota kerajaan melayu).sesuai yang kita ketahui minangatamwan ini terletak di percabangan sungai kampar ini di buktikan adanya candi muara takus. ada dua penyebaran kerajaan ini ada yang ke barat dan ke selatan.kalau kita simak kerajaan sriwijaya(selatan) bercorak budha karena dlm sistem adat di sriwijaya tidak menggunakan matrilineal.karena adat matrilineal adalah adat yang berasal dari hi- malaya(benua hindia),dinasti ini sampai ke jawa tengah sesuai prasasti yang terpacak di daerah jawa sana yang menggunakan prasasti melayu kuno(malaya kuno).untuk di ketahui sistem prasasti di indonesia bisa kita turutkan,yang tertua berbahasa sanskerta,kemudian bahasa melayu/malayu/malaya kuno dan selanjutnya bahasa jawa kuno.termasuk bukti adanya candi borobudur.untuk ke barat..besar kemungkinan adanya perpecahan di kerajaan melayu karena besarnya pengaruh budha di kerajaan ini.hgg kini sistem adat melayu/malayu yang berada di pedalaman sumatera hingga ke barat menggunakan adat matrilineal yang jelas pengaruh adat hindu.terlebih jika kita meliohat pengaruh hidnu yang sangat kuat pada adat pariaman, juga terlihat dari kulit dan hidungnya.kita juga harus melihat situs batu batikam pertarungan perpatih nan sebatang/dlam hikayat bustanus salatin disebut patih suatang.yang membawa raja dari sriwijya.kemudian bukti selanjutnya faktor ketuaan bahasa.kalau sering menuruti sungai2 yang ada dari pesisir timur hingga ke barat dan sampai ke gunung kita akan menemukan perubahan dialek melayu itu.dari laut–pesisir–muara sungai–sungai–anak sunagi hgg ke pedalaman sungai dan menuju ke gunung>>malay berrt gunung.juga baru ada penemuan yang menyebtkan bukit sicincin bernama malayupura..terserah melayu/malayu/malaya itu merupakan arti yang sama beerti bukit.juga kita dapat menumukan prasasti di sumabr itu yang menggunakan bahasa melayu dan jawa.juga kitab uu tanjung tanah di temukan di kerinchi.jadi apa-apa yang disebut tadi itu adalah puak-puak kerajaan malayu yang pernah berkuasa hingga ke semananjung yang sesuai prasasti grahi di kedah(malaysia).kerajaan malayu awalnya terletak di muara jambi kemudian pindah ke pedalaman selanjutnya mendirikan kerajaan melayu darmsraya..selanjutnya berdirilah pagaruyung cikal bakal si sebut orang minang.pagaruyung berdiri sezaman dengan kerajaan malaka.besaar kemungkinan kedua kerajaan ini awalnya akibat ekspansi majaphit.sebab saat itu adalah awal kebangkitan majapahit.krajaan sriwijyaya bergeser ke tumasik..ke muar kemudian berdirilah kerajaan MALAKA.semntara kerajaan malayu darmasraya berdiri menjadi kerajaan pagaruyung.terlihat pergeseran arah barat ke utara adityawarman memindahkan kerjaan ini.kesimpulanya awal orang malayu/kerajaan malayu beragama hindu..terbukti masih bertahan adat matrilineal dan sistem kesukuan warisan hindu hingga kini.coba lihat pakaian ninik mamak kita yang hitam.setelah itu sebagian orang malayu beragama budha yang terutama wilayah selatan hingga ke sunda dan jawa tengah.kemudian setelah budha orang melayu/malayu memeluk agama islam.hingga sekarang apabila melayu PASTI ORANG ISLAM itulah gaya dakwah para pendahulu kita.shgg yang kedua kalinya pengaruh matrilineal berobah lagi akibat pengaruh agama kita ini sebab dalam islam tak boleh ashobiyah.sistem adat matrilineal ini juga ada dulunya pada adat langkasuka(patani,kedah,perlis,) dan juga kerajaan camap yang pada awalnya kerajaan ini adalah beragama hindu, kemudian setelah ekspansi sriwijaya yang menghilangkan idenstitas matyrlinealnya.coba tuan tengok bentuk PAGODA di thai sana….kemudian bentuk preah vihar yang jadi perebutan kamboja dan thai..thai saat ini itu bukan melayu lagi tapi ekspansi keturunan china dari utara.termasuk rumah-rumah dari indocina..kampong cham..sana…semoga kita tak mempersempit makna MALAYU ATAU MINANG sekarang tuan tinggal pilih…saja..nama itu karena saya sendiri merupakan keturunan dari dinasti-dinasti yang ada..wallahualam…

  6. 6 uddin datuk limo puluh- siak
    Mei 4, 2011 pukul 9:22 am

    aslkm. o ya..saya selaku keturnan datuk limopuluh.rela merubah lambang adat saya yang awalnya kuning, merah, hitam menjadi kuning,merah,hijau..hijau karena saya ingin mendakwahkan risalah..hitam adalah lambang suku semntara hijau adalah lambang rasulullah….pertalian inilah yang membawa kita menuju islamisasi di pagaruyung…masa lalu hingga dikenal datuk SIAK.kalau di siak kita dikenal DATUK LIMO PULUH….ayo tinggal pilih mana…sama saja kita memilih melayu atau minang…suai????ini bukti sejarah ni…wass..

  7. 7 Vara
    Mei 14, 2011 pukul 6:49 am

    Ah, inikan cuma soal nama saja. Terserahlah mau pakai apa.. Saya sendiri tidak sreg dengan nama “Minangkabau” apalagi “Padang”. Memang begitu kenyataannya. Nama-nama suku, negara dll biasanya yang memberi orang/masyarakat lain….
    Saya tahu bahwa apa yang disebut “Melayu” itu sangat kental pengaruh Hindu/Budha-nya…Kebetulan kali ini saya membahas dengan penekanan kepada pengaruh Islam. Tidak berarti saya menafikan pengaruh-pengaruh lainnya…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Maret 2009
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Blog Stats

  • 153,677 hits

%d blogger menyukai ini: