28
Des
08

Anak-anak korban paedophile dan pederasty – Bagian 1

X, sebut saja namanya begitu, laki-laki Minang berusia di atas 30, bercerita dengan sedih mengenai awal mula dia menjadi “hombreng“. Saya diperkosa oleh beberapa bencong (hombreng yang “seperti perempuan”) di kamar ganti kolam renang. Saya waktu itu masih SMP lanjutnya lagi. Ketika saya sedang ganti baju, beberapa bencong, yang adalah laki-laki dewasa, memaksa masuk ke dalam kamar ganti di mana dia sedang mengganti baju. Dua laki-laki memegang tangannya agar dia tidak bisa bergerak. Seorang laki-laki mulai melakukan oral sex kepadanya. Dia mencoba meronta tapi pegangan dua laki-laki lainnya begitu kuat dibandingkan dengan tenaga seorang anak laki-laki yang sedang berangkat remaja. Dia mengatakan, walaupun saya masih remaja, kemaluan saya sudah terbilang “besar”. Setelah kemaluan saya tegak, laki-laki tersebut dengan paksa memasukkan batang kelamin saya ke anusnya. Rasanya sakit sekali. Kemudian dia memperkosa saya sementara kedua orang laki-laki lainnya memegang tangan saya erat-erat agar saya tidak bisa bergerak. Dia kemudian berhenti bercerita dan memandang ke arah kejauhan dengan sedih. Dia tidak menceritakan apakah kedua laki-laki lainnya juga ikut memperkosanya.

Setelah kejadian itu, dia mendendam terhadap semua “bencong“. Dia berusaha menggoda mereka dan berhubungan seks dengan mereka. Dia mengaku bahwa dia memperlakukan pasangan-pasangan bencongnya dengan kasar, sampai anusnya berdarah-darah. Petualangan itu dilakukannya setelah peristiwa perkosaan yang menimpanya ketika dia masih duduk dibangku SMP. Dia mengaku bahwa dia “membenci” para bencong. Dilain kesempatan dia mengkau selalu bangkit gairahnya setiap dia melihat para bencong yang banyak berprofesi sebagai penari latar di televisi ketika mereka menari meliuk-liuk dengan gerakan yang “menonjolkan pantat”. Dia mengaku bahwa sampai sekarangpun dia acap kali memperlakukan “kekasihnya”, seorang bencong, dengan kasar dan bahwa kekasihnya itu juga sering digaulinya sampai anusnya berdarah-darah.

Tidak ada air mata yang keluar dari matanya, ketika dia bercerita. Tentu dia sudah menghabiskan air matanya itu ketika dia baru saja menjadi korban perkosaan pada saat dia masih belia. Akan tetapi terasa bahwa bermacam-macam perasaan yang campur aduk seperti berperang dalam dirinya sementara dia bercerita. Kesedihan, dendam, sesal dan lain-lain adalah perasaan yang harus dideritanya sejak peristiwa itu. Sakit, itulah kesan yang dapat ditangkap dari cara dia bercerita dan dari air mukanya. Kesakitan seorang bocah yang sedang berangkat remaja yang menjadi korban perkosaan terhadap anak laki-laki remaja  (pederasty) yang dilakukan oleh laki-laki dewasa yang merupakan kaum homosexual (dalam hal ini bencong) yang tidak tahu apa yang harus dilakukan, yang tidak tahu kepada siapa dia harus mengadu.

Dia bercerita lebih lanjut lagi mengenai artis penyanyi terkenal yang sempat menjadi “kekasihnya”, Tentang pesta-pesta kaum homosexual yang dihadirinya, tentang perilaku seksualnya yang tidak bisa setia dengan satu pasangan, tentang kekasih bencongnya yang sering mengancam bunuh diri, setiap kali dia berhubungan seks dengan pasangan bencongnya yang lain, tentang ibunya yang berusaha menjodohkannya dengan seorang perempuan karena dia “belum juga punya pasangan” walaupun sudah cukup umur. Orang Minang katanya, cantik. Tapi saya tidak ada “selera”. Tentang Ibu kosnya yang memberlakukan larangan bagi penghuni kos (yang hanya terdiri dari kaum laki-laki) untuk menerima perempuan di rumah kosannya, karena tidak mau ada “perbuatan mesum”. Si X ini dengan mesem-mesem bilang, yah peraturan itu “cocok” buat saya. Kan tamu saya “laki-laki” semua. Tentang kawan-kawannya sesama orang Minang yang juga homoseksual. Homoseksualitas di ranah Minang berkembang luas lewat surau, tambahnya lagi. Ternyata dia banyak memiliki kawan-kawan Minang yang menjadi homoseksual lewat proses “sosialisasi” di surau. Pernyataannya menarik dikaji, karena selama ini fungsi “surau” di ranah Minangkabau sepertinya terlalu diagung-agungkan. Surau di ranah Minang berfungsi sebagai tempat di mana “guru agama” mengajarkan “ajaran agama” kepada anak laki-laki di bawah umur ataupun yang masih remaja. Apakah “ajaran agama” itu termasuk kegiatan homoseksual oleh para guru agama terhadap murid-muridnya, tampaknya perlu diteliti lebih lanjut. Menurut keterangan X, ya.

Untuk X yang masih menderita di Jakarta dan untuk para korban-korbannya dari kaum bencong.


7 Responses to “Anak-anak korban paedophile dan pederasty – Bagian 1”


  1. Desember 30, 2008 pukul 8:19 am

    uni vara,,, apa betul keterangan beliau,, dan kenapa sampao ke surau pula ya??

    sangat memprihatinkan!

  2. Januari 1, 2009 pukul 7:34 am

    Uni Vara, apa tidak ada ulasan mengenai Genosida oleh Zionis Israel yang tengah berlangsung di Tanah Gaza? Atau, menurut Anda topik tsb tidak menarik untuk dibahas?

  3. 4 ken
    Januari 5, 2009 pukul 3:25 am

    uni… yo lah sabana dakek kiamat mah…. tapi apa benar seperti itu?
    saya juga pernah mengaji di surau, tapi alhamdulillah sampai saat sekarang tidak menemui hal halk yang aneh…. mudah mudahan tidak semua surau yang uni sampaikan seperti itu..
    semua tergantung dari didikan dan pribadi masing2… dalam bidang kedokteran kecendrungan orang menjadi homo/gay atau menjadi lesbi merupakan suatu kelainan kejiwaan..
    tidak semua orang akan seperti itu

  4. 5 Vara
    Januari 5, 2009 pukul 7:48 pm

    Soal benar atau tidak itu masalah kepercayaan. Bisa dipaparkan banyak bukti, tapi kalau tetap tidak mau percaya yah tetap saja tidak percaya. Baca saja postingan Uni berikutnya. Lihat sangkut pautnya. Bukti2nya terlalu banyak. Akan Uni bahas dari segala segi.

    Cita-cita para pendukung dari “Islam fundamentalis” adalah meuwujudkan sebuah negara Islam yang idenya sama seperti “Yunani kuno”. Seperti apa budaya Yunani kuno itu. Akan Uni paparkan di postingan berikutnya. Tidaklah mengherankan karena Arab sangat dipengaruhi oleh budaya Yunani kuno. Uni akan bahas juga dari segi seksualitas.

    Seluruh ilmu pengetahuan yang ada sekarang adalah sangat bias dengan budaya patriarkat. Karena ilmuwan2nya berasal dari budaya patriarkat. Termasuk ilmu kedokteran. Sejarah ilmu kedokteran dalam budaya patriarkat juga sangatlah tidak manusiawi.

    Apapun dipengaruhi oleh siapa yang berkuasa. Sebagaimana layaknya sejarah yang ditulis untuk dan oleh “para pemenang” alias yang berkuasa, ilmu kedokteran juga sering ditulis untuk kepentingan kelompok2 tertentu.
    Kalau memang teori yang menyatakan bahwa homoseksualitas disebabkan oleh “kelainan jiwa” seperti yang diklaim oleh “para ilmuwan” pendukung homoseksualitas, maka di setiap masa dan setiap masyarakat akan ada orang yang homoseksual.

    Klaim ini tidak bisa menjelasakan kenapa sampai sekarang ada masyarakat2 yang tidak pernah mengenal homoseksualitas, sampai sekarang Dan masyarakat-masyarakat ini adalah masyarakat matriarkat, dimana hubungan laki-laki dan perempuan ditinggikan sebgaiman hal-hal alami lainnya.

    Klaim ini serupa dengan klaim bahwa perang adalah suatu keniscayaan, padahal menurut pernelitian, banyak masyarakat yang tidak pernah mengenal perang, bahkan tidak pempunyai kosa kata seperti “perang”, “membunuh”, dlsb. Coba baca lagi tulisan Uni soal ciri2 masyarakat matriarchal dan ciri-ciri masyarakt patriarchal.

    Apa yang Uni tulis bukan klaim, tapi hasil riset. Riset bertahun-tahun, dari bermacam2 sisi, termasuk bahasa. Jadi tidak main2.

  5. 6 Arum
    April 8, 2010 pukul 9:26 am

    kak, saya ingin tahu… apa semua korban pederasty akankah selalu berakhir jadi bencong atau pelaku homoseksual?

  6. 7 Vara
    April 12, 2010 pukul 12:25 pm

    karena jawabannya agak panjang, saya akan jadikan tulisan saja. Ditunggu ya🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Desember 2008
S S R K J S M
« Nov   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Blog Stats

  • 153,675 hits

%d blogger menyukai ini: