05
Des
08

Perempuan Minangkabau sebagai Mamak dan Penghulu

Berikut adalah artikel yang dimuat di Rubrik, Harian Kompas, tanggal 6 Agustus 2001 dengan judul Vitalnya Partisipasi Politik Wanita Minang. Artikel ini berisi kenyataan sejarah mengenai perempuan-perempuan Minangkabau yang berperan sebagai mamak dan penghulu dan kaitannya dengan posisi wali nagari atau bahkan presiden serta anggapan banyak orang Minangkabau (terutama laki-lakinya) bahwa penghulu dan wali nagari tidak boleh dijabat oleh perempuan, walaupun A.A. Navis sendiri telah menyatakan pendapatnya mengenai tidak ada larangan dalam budaya Minangkabau bagi perempuan Minangkabau untuk menjadi wali nagari.

Vitalnya Partisipasi Politik Wanita Minang

Dalam era otonomi daerah, Sumatera Barat sejak awal Januari 2001 kembali ke sistem pemerintahan nagari (institusi terendah dalam sistem pemerintahan, menggantikan desa), menyusul keluarnya Peraturan Daerah (Perda) Nomor 9 Tahun 2000.

“Nagari dalam tradisi masyarakat Minangkabau merupakan identitas kultural yang menjadi lambang mikrokosmik sebuah tatanan makrokosmik lebih luas. Di dalam dirinya terkandung sistem yang memenuhi persyaratan embrional sebuah sistem negara. Nagari adalah negara dalam artian miniatur, dan merupakan republik kecil yang sifatnya self contained, otonom, dan mampu membenahi diri sendiri,” kata Drs Yulrizal Baharin, MSi, ahli pakar nagari.

Yang menjadi sorotan luas di kalangan masyarakat Sumatera Barat adalah, bila Indonesia sekarang dipimpin seorang perempuan, Megawati Soekarnoputri, apa tidak mungkin nagari juga dipimpin perempuan? Pertanyaan ini sangat mendasar dan beralasan, karena dalam kaba (cerita tradisi yang memasyarakat dan tumbuh subur di Minangkabau) peran vital perempuan di Minangkabau sering diungkapkan. Menurut pakar sastra dari Universitas Negeri Padang, Prof Dr Mursal Esten, pada umumnya pengungkapan permasalahan perempuan dalam kaba adalah permasalahan perempuan di dalam nagari-nagari. Peranan perempuan di dalam masyarakat Minangkabau, sebagaimana diungkapkan dalam kaba, besar sekali.

Bundo Kanduang

Di dalam kaba, Rancak di Labuah misalnya, digambarkan laki-laki lebih banyak merusak masyarakat yang akhirnya diselamatkan perempuan. Seolah-olah rumah tangga itu dikendalikan perempuan.

“Banyak kaba lain memperlihatkan perempuan menyelamatkan masyarakat, anak, putra-putri. Sedangkan mamak-nya atau bahkan bapaknya kadang-kadang malah tidak muncul dalam kaba,” ujar Mursal.

Bahkan, dalam kaba Cindua Mato, sebagaimana dikemukakan budayawan Edy Utama, Bundo Kanduang (sebutan untuk perempuan Minang) digambarkan sebagai orang yang sangat berkuasa. Tidak saja karena sistem sosial matrilineal, tetapi juga punya kekuasaan memerintah. Posisi Bundo Kanduang begitu sentral dan amat menentukan.

“Dalam banyak hal, secara realitas, perempuan Minangkabau dari dulu sampai sekarang sudah banyak berperan dalam bidang ekonomi, sosial-budaya, politik, dan sebagainya. Bahkan, perempuan-perempuan Minang juga membuat perubahan, seperti yang dilakukan Rohana Kuddus. Hanya saja karena dominasi kaum lelaki, peran wanita tersebut tidak begitu mencuat ke permukaan,” katanya.

Fungsi Politik Wanita Minang

Sementara itu, pakar politik dari Universitas Andalas, Padang, Ranny Emilia, dalam suatu diskusi menegaskan, perempuan Minangkabau memiliki fungsi politik dan telah menjalani peranan itu sejak lama.

Penelitian yang dilakukan Ranny tentang peranan politik perempuan Minangkabau semakin memperjelas bahwa meskipun laki-laki diberikan kepercayaan sebagai pemimpin politik dalam komunitas nagari, tetapi sistem politik Minangkabau tidak bersifat patrialistik, tidak disusun berdasarkan fondasi yang membedakan laki-laki dan perempuan di dalam sistem itu.

“Saya melihat susunannya atau pengaruh seseorang di dalam sistem politik Minangkabau memang tidak didasarkan jender, tetapi dilihat dari kemampuan dan pengalaman seseorang menyediakan perlindungan serta pengawasan dari kerusakan kultural dan material kelompok yang diwakilinya,” katanya.

Menurut Ranny, berdasarkan logika matrilineal, sangatlah mungkin perempuan dan laki-laki sama pentingnya dalam struktur sosial dan politik Minangkabau. Karena beberapa kewenangan yang diberikan kepada perempuan, merupakan dasar bagi perempuan memiliki peranan dan pengaruh dalam struktur politik Minangkabau.

Dari fakta yang ditemukan, perempuan memiliki posisi dan peranan dalam struktur politik Minangkabau. Dan sesungguhnya, partisipasi politik perempuan Minangkabau bersifat vital.

Ranny menjelaskan, peranan aktif perempuan di dalam formasi politik Minangkabau bersifat integral dalam setiap proses pengambilan keputusan dan kebijaksanaan. Karena perempuan Minangkabau, berdasarkan fakta yang ada, dapat menggunakan peranan dan politiknya secara efektif, kalau kondisi material cukup untuk melaksanakan kekuasaan tersebut secara baik.

“Jadi, di sinilah letaknya kenapa perempuan tidak bisa dipisahkan sama sekali dari fungsi dan struktur politik Minangkabau. Dan, di sini pula letaknya kenapa perempuan bisa saja secara natural mengambil alih posisi dan kekuasaan laki-laki,” tegasnya.

Bahkan, dalam beberapa hal yang dijumpai oleh Dr VE Korn, demikian Ranny, sesungguhnya perempuan Minangkabau itu bisa menjadi pemimpin. Dalam perhitungan Korn, atau dalam perhitungan Belanda tahun 1930, ada 1.908 perempuan Minangkabau menganggap dirinya mamak, dan ini aneh buat orang Belanda. Karena orang Minangkabau sendiri bilang, perempuan tidak boleh menjadi mamak, perempuan tidak boleh menjadi penghulu. Akan tetapi, ternyata dia juga menemukan perempuan menjadi penghulu di Desa Pianggu.

Kerajaan Pararuyung

Dengan demikian, artinya perempuan Minangkabau sangat mungkin menjadi elite politik atau menjadi pimpinan politik Minangkabau. “Jadi, seorang perempuan Minangkabau – sebagaimana laki-laki Minangkabau – kalau ia memiliki kualifikasi materi yang kuat maka ia tidak akan dapat dihalangi menjadi pemimpin politik di dalam kaumnya. Ia tidak akan dihambat karena ia perempuan. Saya kira begitulah kenyataanya dulu,” katanya.

Buktinya, seperti yang dilakukan Gadih Reno Ranti. Karena mamak, ayah, dan saudara laki-lakinya yang lain tidak dapat melakukan tugas sebagai pemimpin, maka ia mengambil alih tugas kepemimpinan politik tersebut. Ia kemudian memimpin Kerajaan Pagaruyung yang telah hancur karena serangan Belanda. Dengan contoh ini, artinya perempuan memang bisa menjadi pimpinan politik yang efektif di Minangkabau.


5 Responses to “Perempuan Minangkabau sebagai Mamak dan Penghulu”


  1. Desember 6, 2008 pukul 8:14 am

    semoga saja nagari bisa dipimpin oleh perempuan
    presiden aja pernah, kok nagari gak bisa

  2. Desember 9, 2008 pukul 6:33 am

    wah,,wah, memang sangat mengagungngkan perempuan nampaknya!

    aku setuju2 aja sih bu, tapi apakah di mingkabau sebagai mamak itu bisa di flexiblekan artinya?
    mungkin fungsinya bisa di ambil alih.

  3. 3 putirenobaiak
    Desember 11, 2008 pukul 6:43 am

    vote for women🙂

    aku selalu merasa beruntung jaid padusi minang yg memiliki kebebasan sama seperti lelaki

  4. Desember 12, 2008 pukul 5:43 pm

    Memang sejarah menuliskan baitu, bahwa perempuan minang telah lama mengenal poltik dan berkecimpung di dalamnya. Tetapi fakta dewasa ini menunjukkan peran dan fungsi politik perempuan minang itu sangat minim sekali, hal ini misalnya terlihat dari sedikitnya perempuan minang yang tertarik dicalonkan atau mencalonkan dirinya menjadi calon legislatif (caleg), bahkan banyak partai yang eksis di ranah minang mengaku sangat kesulitan untuk memenuhi kuota 30% keterwaklan perempuan dalam daftar Calegnya. Terpaksa mereka akhirnya mencalonkan istri, anak dan keponakan mereka untuk memenuhi kuato tersebut. Ini kan ironis sekali jika menurut artikel tersebut di atas bahwa perempuan minang cukup dominan dalam perpolitikan.

    Bahkan bagaimana kita dapat menjelaskan jika saat ini, terutama setelah Sumbar menerapkan sistem sistem pemerintahan nagari, tidak satu pun perempuan minang saat ini yang menjadi Bupati, Walikota, dan kepala nagari. Baitupun dalam Pilkada jarang kita mendengar ado perempuan minang yang maju bertarung memperebutkan posisi2 penting tersebut. Apalagi di level nasional…. Jangan2 fungsi dan peran perempuan minang seperti yang dituliskan artikel tersebut di atas hanyo ado dalam kaba sajo. Atau jangan2 kaba nyo, sedang terjadi kemunduran yang hebat pada diri perempuan minang saat ini.

    Wassalam
    Restianrick Bachsjirun

  5. 5 ~padusi~
    Desember 17, 2008 pukul 8:14 am

    Assalamualaikum, Wr. Wb

    Mendudukan peran wanita di Ranah Minang dan di Kancah Nasional, kita memang harus menilai secara obyektif, apa sebenarnya dan bagaimana sesuangguhnya peran wanita minang. Walaupun dulu ada ” Kaba ” sekali ” kaba ” atau hikayat yang menempatkan bahwa ada wanita minang yang memiliki posisi yang dimuliakan sehingga ia dianggap sebagai pemimpin, seperti riwayat Bundokanduang dalam Kaba Cindua Mato. Sesudah itu data – citera wanita Minang sebagai pemimpin sesungguhnya sangatlah minim sekali.

    Akan tetapi dalam ranah domestik – sistem kekerabatan – berkeluarga – maka benar-benar wanita Minang ditempatkan sebagai ” Limpapeh rumah nan gadang, umbun puro pegangan kunci”. Artinya setiap kesepakatan didalam kekerabatan – hidup antar keluarga – wanita lah yang didahulukan selangkah. Disinilah kaum wanita minang berperan sebagai Mamak dan Penghulu Kaum. Kaum pria ada supporting atas kesepakatan yang dibuat.

    Bagi wanita yang berkarir – menjadi tokoh di lingkungan masyarakat – nasional – internasional, mustahil sekali dia menjadi wanita sempurna – karena ada kodrat wanita yang menghalangi kiprahnya. Sudah dipastikan ia akan menjadi ” wonder woman ” yang secara hakikinya akan meninggalkan kewajiban- kewajibannya sebagai wanita sejati.

    Bagi saya – kedudukan, peran dan posisi wanita minang adalah sebagai komplementer. Melengkapi peran dan posisi pria, sehingga ia akan berjalan berdampingan.

    ” janganlah engkau berjalan didepan pria, engkau tak sanggup mengarahkan biduk kehidupan ini sebaiknya.
    ” janganlah engkau berjalan di belakang pria, karena engkau tak akan sanggup mengikuti tujuan hidupnya.
    ” Berjalanlah engkau disisi pria, maka engkau akan bersama mencapai suatu tujuan dengannya.

    Wassalam,

    ~ Padusi Minang ~


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Desember 2008
S S R K J S M
« Nov   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Blog Stats

  • 153,675 hits

%d blogger menyukai ini: