10
Okt
08

Kebanggaan Orang Minang di ranah

Ada tanggapan dari seorang dokter bedah muda RS dr M Djamil / FK Unand Padang yaitu dr Rixendo terhadap tulisan saya mengenai kebanggaan sebagai orang Minangkabau. Berikut ini tanggapannya:

saya salut dengan kelugasan uni, ada salah satu postingan uni yang saya ambil “bangga menjadi orang minang” jadi perdebatan hangat oleh beberapa teman, di RS salah satunya oleh dr hardi salah seorang kawan (seorang dosen) juga sedang belajar di negri orang (australi), dia mengatakan bahwa orang minang yang tinggal di kampuang halaman kini ” takah mangapik daun kunyik” dalam arti kata kalau ada hal yang baik semuanya atas nama kita tapi kalo yang jelek orang lain yang punya. sebagai contoh seberapa banyak mamak mamak kita yang mengaku kemenakan hanya jika kita berhasil dirantau, tanpa peduli sebelumnya bagaimana keadaan kita, bagaimana perjuangan kita… menurut uni bagaimana?

Kebanggaan terhadap budaya dan adat istiadat dari nenek moyang adalah ciri khas daripada masyarakat matriarchat, di manapun mereka berada. Merasa diri rendah dan hina, adalah gejala-gejala masyarakat tertindas, yaitu masyarakat patriarchat. Dalam hal ini kebanggaan berarti sehat apabila dilihat dari segi kejiwaan. Kebanggaan akan budayalah yang menyebabkan suku bangsa Minangkabau bisa bertahan dari gempuran budaya bertubi-tubi dan penyerangan-penyerangan dari sekian banyak kekuasaan yang datang silih-berganti ke pusat budaya Minangkabau, baik yang berasal dari orang-orang luar Minangkabau ataupun dari orang-orang “Minangkabau” sendiri yang sebenarnya tidak layak lagi disebut sebagai orang Minangkabau karena budaya yang mereka anut bukan lagi budaya Minangkabau. Contoh-contoh daripada rasa bangga dari masyarakat matriarchal:

1. Contohnya saya🙂 Karena saya tahu apa yang telah diperbuat oleh orang Minangkabau. Orang Minangkabau (dan suku bangsa-suku bangsa matriarkal lainnya) tahu apa yang baik dari raso dan pareso (rasa/perasaan dan rasio/logika). Kita tahu bahwa melukai badan apalagi sampai mebunuh mendatangkan rasa sakit yang tak terkira (raso), dan akibta-akibat menyedihkan lainnya (pareso). Karena itulah melukai/membunuh adalah perbuatan buruk. Orang-orang yang berjuang agar sesutau perbuatan buruk tidak terjadi, atau yang melakukan gugatan terhadap perbuatan itu jadinya termasuk orang yang baik. Dan itulah yang dilakukan oleh banyak sekali orang-orang Minangkabau. Hal itu dimungkinkan oleh pandangan hidup matriarchal yang dianut oleh orang Minangkabau (yang benar-benar Minangkabau). Sementara orang-orang dari suku bangsa lain menganggap bahwa makin banyak seseorang atau suatu suku bangsa dalam melakukan perampokan, pembunuhan dan pembantaian maka makin besar “nilai” dan “kekuasaan” orang atau suku bangsa tersebut, maka semakin dihormatilah mereka. Hal ini berdasar kepada pandangan daripada masyarakat patriarkat yang mendasarkan pandangan hidupnya tidak pada raso dan pareso melainkan pada kekuasaan dan kedigdayaan (dalam banyak hal berarti berapa banyak orang yang mati, termiskinkan, menjadi kelaparan, dan berapa banyak air mata yang keluar dst, yang disebabkan oleh orang berkuasa tersebut). Kebanggan berangkat dari sesuatu hal yang dibanggakan. Baik dan buruk pada masyarakat matriarkal tidaklah ditentukan oleh konsep-konsep yang ditentukan oleh penguasa baik itu penguasa agama, perang, ataupun negara/kerajaan, melainkan dari akibat-akibat yang ditimbulkan dari suatu perbuatan. Pada masyarakat Minangkabau hal itu jelas asalnya dan jelas dalih apa yang dipakai.

2. Banyak orang Minangkabau berbangga dengan tatanan matriarkat Minangkabau, karena dengan tatanan ini, kesejahteraan anak terjamin karena Bunda mereka yang nota bene adalah yang paling dekat dengan mereka karena mengandung dan melahirkan mereka serta keluarga besar Bunda mereka selalu ada mendampingi mereka. Rumah gadang selalu menjamin mereka terlindung dari hujan, panas dan angin, serta ekonomi keluarga besar yang menjadi dasar dari tatanan keluarga Minangkabau yang menjamin kesejahteraan seluruh keluarga dimana seluruh anggota keluarga bekerja untuk seluruh anggota keluarga. Setelah tatanan keluarga patriarchat mulai banyak dianut oleh orang Minang, yaitu bentuk keluarga kecil dengan anggota yang hanya terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak, dimulailah zaman dimana banyak perempuan Minangkabau karena perceraian dan hal-hal lain sebagainya menjadi termiskinkan, tidak mempunyai rumah. Hal ini pada gilirannya menyebabkan anak-anaknya juga ikut termiskinkan dan tidak mempunyai rumah. Oleh karenanya, fenomena anak gelandangan (anak-anak tidak berumah) dan lain-lain mulai muncul di ranah Bundo Kanduang. Hal ini bisa kita baca langsung di surat-surat kabar di Sumbar sendiri. Budaya Minangkabau yang tidak mengenal pelacuran baik itu laki-laki, perempuan dan anak-anak karena keluarga besar yang bekerja bahu-membahu untuk kesejahteraan seluruh anggota keluarga, sedikit demi sedikit mulai sudah berubah. Padaumumnya, di desa-desa (atau nagari-nagari) Minangkabau belum ada budaya pelacuran dan “rumah remang-remang” seperti banyak dijumpai di hampir seluruh tempat di pulau Jawa. Tapi sudah mulai ada perempuan Minangkabau (dan juga laki-lakinya) yang mulai berprofesi sebagai pelacur, karena desakan penghidupan walaupun masih sangat sedikit jumlahnya. Untuk masalah ini tampaknya masih perlu dilakukan penelitian seberapa jauh dampak patriarkalisasi budaya Minangkabau mempengaruhi ekonomi dan perilaku orang Minangkabau.

3. Laki-laki dari suku bangsa Mosuo di Yunnan, Cina Selatan merasa bangga karena mereka memperlakukan kekasih-kekasih mereka dengan baik dan penuh kasih sayang walaupun mereka sering dihina oleh masyarakat-masyarakat dari suku bangsa patriarkal lainnya di Cina sebagai “laki-laki yang diatur oleh perempunannya” (walaupun kenyataannya tidaklah begitu). Mereka hanya menjawab dengan bangga: ya kami bangga menjadi laki-laki Mosuo dibandingkan dengan kalian yang memperlakukan kekasih-kekasih (istri-istri) kalian seprerti memperlakukan binatang! (bangsa Cina terkenal sebagai bangsa yang memperlakukan perempuan-perempuannya dengan buruk, dan orang Mosuo tahu akan hal itu). Hinaan mengenai “laki-laki diatur oleh perempuan” ini juga pernah menimpa Prof. Dr. Emil Salim, pakar nasional dan internasional dalam bidang lingkungan hidup. Tapi oleh beliau tidak diambil pusing, malahan beliau tetap berkonsultasi dengan Bunda-nya ketika ditawari jabatan oleh Suharto dalam pemerintahannya.

Contoh-contoh daripada rasa rendah diri yang berlebihan adalah merupakan perwujudan daripada mental orang-orang terkalahkan dan tertindas, yaitu mental bangsa-bangsa patriarkal. Contoh:

1. Orang Jawa (yang sangat patriarkal) sering sekali menyebut dirinya orang kecil (wong cilik), orang hina apabila merujuk kepada orang yang lebih kaya, orang yang “kedudukannya” lebih tinggi, pejabat, orang berkuasa, orang penting dsb, tapi terhadap orang-orang yang dalam hal uang, kekuasaan, posisi dsb berada dibawahnya sangat memandang rendah. Semua yang berasal dari Belanda atau Barat atau Amerika adalah bagus, sedangkan yang asal Indonesia semuanya adalah buruk

2. Orang Jerman ketika masih berjaya pada zaman Hitler memandang rendah semua bangsa-bangsa lainnya, sekarang apa-apa yang berbau Amerika (sebagai “penguasa dunia”), adalah “cool”.

3. Orang Minangkabau (yang sebenarny sudah bukan Minangkabau lagi) yang berusaha merubah budaya matriarchat Minangkabau ke budaya Arab Sudi karena berpikir budaya Minangkabau tidaklah “cool” sedangkan budaya Arab Saudi adalah “cool”.

4. Dll. Saya rasa kita bisa melihat contoh-contoh itu sehari-hari.

Mengenai soal orang-orang di kampung yang “takah mangapik daun kunyik” dan hubungannya dengan mamak-mamak yang tidak mempunyai peran dalam “keberhasilan” kita di rantau dan kemudian berbangga-bangga dengan keberhasilan kita, saya rasa tidak ada hubungannya.

Budaya Minangkabau sekarang ini sedang berada di ambang kehancuran karena, seperti telah disebut di atas, telah mengalami serangan bertubi-tubi dan berlapis-lapis dari berbagai macam arah, tidak saja dari luar Minangkabau tapi yang paling menyedihkan adalah upaya menggerogoti budaya Minangkabau dari dalam oleh “orang-orang Minangkabau” sendiri dan oleh para Malin KundangMalin Kundang Minangkabau. Sekarang ini kata Niniak hampir tinggal nama dan susah hampir terhapuskan perannya.  Mamak laki-laki tidak bisa menjalankan fungsinya sebagai mamak karena dituntut menjadi “ayah” dalam konsep keluarga kecil patriarchat yang menjadi trend atau sebagai lambang “kemodernan”. Para panghulu tidak dapat menjalankan tugasnya karena harus berhadapan dengan kekuasaan negara. Kesepakatan bersama yang dicapai dengan perundingan panjang yang melibatkan semua pihak yang menjadi dasar hidup bersama masyarakat Minangkabau telah digantikan oleh fasisme Islam yang didukung oleh kekuasaan negara oleh sekelompok “orang-orang Minangkabau” yang merasa berhak “mengkafirkan” atau menyatakan bahwa seseorang bukan Minangkabau karena orang-orang Minangkabau tersebut tidak mau menggantikan budaya Bundo Kanduang dengan budaya Arab atau orang-orang Minangkabau yang menggugat fasisme Islam yang sedang menggerogoti akar-akar budaya Minangkabau dst.

Kalau mamak-mamak kita masih berbangga tentang keberhasilan kita, berbahagialah anda (dr Hardi), karena itu berarti masih ada anggota keluarga kita yang mengakui “pencapaian” kita. Banyak orang-orang dalam budaya patriarchat yang frustasi/bunuh diri/menjadi gila karena “pengakuan sosial” yang sangat penting dalam perkembangan jiwa seseorang tidak mereka dapatkan. Dan anda tetap harus berterima kasih kepada mamak anda dan dunsanak anda yang lain, sebagai penerus budaya Minangkabau yang mempunyai budaya merantau dan yang memungkinkan anda merantau sampai ke Australia, sehingga “menjadi orang berhasil” yang dibangga-banggakan mamak-mamak anda, yang nota bene adalah keluarga kontan anda. Orang-orang di kampaung sekarang ini hidup susah dan lebih miskin daripada orang-orang Minangkabau seperti saya dan anda yang hidup di rantau. Perjuangan hidup telah menyebabkan mereka tidak bisa “membantu dunsanak-dunsanak” dan kamanakan mereka. Mereka hanya bisa berbangga. Itupun, menurut saya, sudah lebih dari cukup. Kita yang berhasil di rantau inilah yang selayaknya membantu mereka.

Saya sendiri bekerja keras untuk mencapai apa yang saya capai sekarang dengan dukungan budaya Minangkabau yang saya kenal sejak kecil.

Saya merasa bahagia ketika dunsanak-dunsanak saya berbangga akan perantauan saya dan pencapaian intelektual saya. Hal itu dimungkinkan oleh budaya Minangkabau dimana niniak-mamak dan dunsanak-dunsanak saya adalah juga pembawa dan penerus budaya tersebut. Ketika perempuan-perempuan lain sibuk berkutat pada masalah-masalah kecantikan untuk bisa menjerat laki-laki kaya, saya diajarkan oleh Bunda saya dan dunsanak-dunsanak saya untuk membangun diri saya sendiri dan untuk bersama dengan laki-laki yang baik dan menyayangi saya dan tidak untuk menjerat laki-laki.

Saya merasa tidak membutuhkan modal lainnya seperti modal uang “dari mamak”, karena modal budaya yang saya terima tidak terkira nilainya. Itu karena budaya Minangkabau yang dibawa secara turun-temurun oleh orang-orang yang menyebut dirinya Urang Awak yang diantaranya adalah mak gaek saya dan “mamak” saya yang “tidak ada peran apa-apa” dalam keberhasilan saya, yang tentu saja tidak benar. Keluarga besar saya dan anda termasuk mak gaek/niniak dan mamak berjasa karena peran budaya mereka yang memungkinkan saya dan anda menjadi “orang” di rantau. Setahu saya tujuan kita merantau adalah untuk mencari pengalaman, menimba ilmu dan kalau berhasil membantu dunsanak-dunsanak di kampuang? Apakah hal itu telah dr Hardi lakukan? Atau dr Hardi telah mengikuti jejak begitu banyak perantau-perantau Minangkabau lainnya yang mengambil manfaat dari budaya Bundo Kanduang tapi kemudian tidak melakukan hal-hal yang berguna untuk keluarga besar mereka dan masyarakat darimana mereka berasal atau bahkan jejak para Malin Kundang Minangkabau yang malah menistakan budaya Bundo yang telah “membesarkan” mereka?😦

Janganlah anda ikut-ikutan menistakan budaya Bundo Kanduang hanya karena kekhilafan manusia yang sangat bisa dimaklumi dan menafikan sisi-sisi baik dari kebudayaan itu untuk kehidupan manusia. Lagipula, budaya Minangkabau terdiri dari banyak sisi, dan tidak hanya bertumpu kepada “peran mamak”. Mamak bukan merupakan inti budaya Minangkabau. Jadi kalau mamak-mamak “tidak menjalankan perannya”, bukan berarti budaya Minangkabau itu lalu menjadi buruk sepenuhnya.


17 Responses to “Kebanggaan Orang Minang di ranah”


  1. Oktober 10, 2008 pukul 6:02 am

    Saya tergelitik dengan poin ke 3 contoh di atas, saya melihat realita belakangan ini (pasca reformasi), sepertinya Sumatera Barat diarahkan menuju provinsi dengan syariat Islam yang kental, padahal sebenarnya saya perhatikan. Banyak hal-hal yang bertentangan antara adat minangkabau dan agama, dalam hal ini agama islam. Seperti pembagian warisan, dan banyak lagi. (seperti nya disini telah dibahas secara lengkap) Di minangkabau Wanita berada di atas segalanya, Bundo Kanduang kita, tapi dalam agama derajat pria sedikit lebih tinggi daripada wanita

    Sepertinya budaya2 asli minangkabau akan segera berganti dengan budaya2 arab.

    regard

  2. 2 Vara
    Oktober 11, 2008 pukul 2:59 pm

    Ya memang benar. Saya juga lihat begitu. Conothnya sudah banyak. Banyak laki-laki “Minangkabau” yang merasa berhak mebentak-bentak perempuan yang tidak memakai kerudung di muka umum. (kejadian di kampung saya dan di tempat-tempat lain). Di Pesisir Selatan telah diberlakukan kewajiban berpakain “muslim”, yang jelas-jelas adalah pakaian Arab. Orang-orang fasis Islam Minangkbau ini, tidak jelas sumbangannya terhadap masyarakat dan budaya Minangkabau. Tahunya hanya menuntut, mebentak, membunuh, memaksakan kerudung di kepala perempuan, memaksakan pengesahan poligami, memaksakan syariah yang tidak jelas konsepnya. Yang diperbuat untuk Minangkabau? Nol besar.

  3. 3 ~padusi~
    Oktober 23, 2008 pukul 3:23 am

    Assalamualaikum, Wr.wb,
    Vara… apa kabar. Uni sudah coba email Vara pada beberapa waktu yang lalu, namun hingga saat ndak pernah dapat balasan. Uni ada berbagi bagaimana uni menulis dalam blog bundokanduang – yang tujuannya ingin menunjukkan kepada khalayak tentang keanggunan ~ padusi ~ minang yang cerdas dan terampil.

    Uni tunggu kabar dari Vara melalui email address Uni : hyvny@yahoo.com

    Wassalam

    ~padusi~

  4. 4 ~padusi~
    Oktober 23, 2008 pukul 6:59 am

    Assalamualaikum, wr. wb

    Vara.. apakabar. Apakah email saya sudah diterima. Saya ada menuliskan sedikit mengapa saya banyak menulis dan menyampaikan artikel mengenai adat dan budaya minang. Semuanya tidak lain dari keingin saya untuk menunjukkan kepada pembaca bahwa ~padusi~ minang itu memiliki pemikiran dan dapat dijadikan renungan oleh generasi muda.
    Apakah Vara jadi ingin menulis artikel seperti yang Vara minta pada saya ? Silahkan kirim pertanyaan ke email saya hyvny@yahoo.com

    Salam ~padusi~

  5. November 4, 2008 pukul 7:10 am

    Yth : Vara

    Bulan Juli 2008, saya pulang kampung ke pariaman sebanyak 2 kali minggu pertama mengurus emak ku yang sakit keras, minggu berikutnya emak ku meninggal dunia, selain kesedihan ditinggal bunda, sayapun sedih melihat perangai anak muda di kampung, sudah berubah 360 derajat dibanding dulu waktu saya masih kecil di kampung setelah sekolah ngumpul di surau belajar mengaji, berdiskusi, bersilat, dan mendengarkan petatah-petitih mamak ninik tentang keluhuran adat minagkabau, namun coba lihat sekarang, anak muda mengaji kartu di balai, bermabuk-mabukan, mamak ninik dilecehkan, tradisi ilmiah sirna sudah.
    Beruntunglah anak2 di rantau yang orang tuanya berpendidikan dan dapat mengarahkan anak kemenenakannya untuk menuntut ilmu dan mencontoh laskar pelangi dalam meraih cita2 masa depannya.

    Di kampung saya sungguh sangat menyedihkan orang tua sudah tidak dihormati anak muda, anak muda tak punya prestasi yang dapat dibanggakan, apa yang salah dengan dengan kondisi ini, kekrabatan sudah begitu rapuh segalanya di ukur dengan berapa banyak anda membawa uang untuk dibagi-bagikan, bukan akhlak dan pengetahuan yang dihormati, semuanya sudah hedonis, ngak perduli uang yang dibawa hasil korupsi atau menipu orang, asal kebagian anda kan dihormati.na udzu billah himindalak.

    Surau-surau megah baik yang baru atau yang bersejarah, kosong melompong ditinggal anak muda, yang ada orang-orang yang sudah udzur entah mati besok.

    Aku ingin berbuat sesuatu, tapi secara sosiologis agak sulit untuk merobah karakter mereka, sebab yang utama adalah apakah anda membawa uang untuk dibagikan atau tidak, kalau tidak jangan harap kata anda di dengar…. sungguh menyedihkan !

    Kami di bandung mengadakan perkumpulan untuk bertemu sebulan sekali, malah dapat menerapkan kaidah-kaidah minang yang memang kalau diikuti dengan seharusnya dapat meringankan beban hidup dari anggotanya, bahkan dapat berbuat lebih untuk orang lain dengan salaing membantu dalam hal menyekolahkan anak, membangun masjid, dan menolong secara gotong royong bagi anggota yang mengalami musibah atau baban barek mengawinkan anak.

    Saya tidak habis pikir kenapa kampung saya menjadi demikian menyedihkan, sementara yang merantau dapat lebih survive, salah satunya adalah mereka-mereka yang gagal di rantau dan kembali ke kampung dengan membawa kekecewaan dan menularkan budaya negatif yang mereka lakukan di rantau, bukannya memberikan kontribusi positif atas hikmah kegagalan yang mereka rasakan, tapi menghancurkan kampung sendiri dengan budaya narkotika, maksiat , perjudian dan konflik-konflik yang tidak perlu.

    Kelihatannya kita perlu bergandengan tangan untuk membenahi kualitas SDM di minangkabau karena begitu sudah terpuruk sekali, lantas apa yang bisa kita perbuat ?

    Salam
    Ir. Sukardiman
    sukardi@indonesian-aerospace.com
    Production Assembly Senior Engineer
    Aircraft Integration Directorat
    Indonesian-Aerospace.

  6. 6 Vara
    November 5, 2008 pukul 12:57 am

    Da Sukardiman, saya bisa memahami keresahan Uda. Saya juga resah melihat keadaan ranah, karena itulah saya bekerja keras untuk mengkaji tentang budayo awak tu, lah hampia 15 tahun.. Di blog ambokolah ambo tuankan hasilnyo..

    Semua yang terjadi sekarang adalah hasil daripada perbenturan budaya, dan masalah ekonomi yang ambo lihat disebabkan oleh lagi-lagi perbenturan budaya…

    ambo ndak bisa manjawek langsung dalam kommentar ko, tapi ambo bajanji akan menuangkannya dalam bentuk tulisan di blogko. Mungkin akan ambo jadikan 2/3 tulisan, karano banyak bana yang harus dibahas. Memang sudah ambo rencanakna untuk menulis tentang keresahan Uda jo ambo jo banyak lagi urang Awak di ranah jo di rantau… Dengan komentar Uda-ko ambo tambah samangaik menyelesaikan tulisan itu..

    Soal perlunya kita bergandengan tanagn untuk membenahi kualitas SDM di Minangkabau karena begitu sudah terpuruk sekali, ambo setuju…ambo seh lah bausaho mengumpulkan informasi-informasi jo kenalan-kenalan dari ikatan-ikatan Minangkabau nan ado..

    Patamo-tamo ambo raso, paralu awak mambuek “ikatan cadiak pandai Minangkabau”. urang awak kan ado di hampia seluruh Universita di Indonesia, jo di luar negri, banyak nan jadi urang hebat, jadi dosen bagai, Guru Besar, Profesor dsb.. Ambo caliek di hampir seluruh Universitas Indonesia, ado UKM Minangkabau. Awak bisa bekerja sama dengan mereka untuk informasi trend-trend Uni versitas,perndidikan dlsb…

    untuk lain-lainyna ambo bahas di tulisan ambo seh.. biar labiah lengkap..

    tarimo kasiah Da, jo komentar Uda… manambah samangaik ambo..:)

  7. 7 Vara
    November 5, 2008 pukul 1:30 am

    @Uni Hyvni..
    ya email Uni sudah saya terima…saya sudah menyiapakan bahan wawancaranya, hanya saja belum selesia.. masih perlu penyempurnaan (saya maunya serba panjang dan serba baik, tapi jadinya lama karena diseling kesibukan lainnya🙂 )..kalau sudah selesai saya hubungi Uni..oh ya saya mau muat tulisan Uni tentang Huriah Adam di blog saya.. tentu saya akan muat sebagai tulisan Uni, saya muat agar dibaca oleh yang membaca blos saya… tapi saya perlu pic-nya Huriah Adam… bisa Uni kirim ke email saya.. kalau bisa yang ukurang asli..saya ingin gambarnya terlihat besar..
    salam,

  8. 8 paremansantiang
    November 28, 2008 pukul 11:02 pm

    salam kenal

  9. 9 edwar
    Januari 20, 2009 pukul 10:26 pm

    kalau saya pulang kampung ke tempat amak (nenek) saya, jarang ditemui anak mudanya😆 karena kebanyakan dari mereka tamat SMU langsung pergi merantau ke Jakarta atau Pekanbaru, sekarang dikampung tsb jarang ditemui anak-anak muda yang berusia antara 20-25 tahun😐

  10. 10 Vara
    Januari 21, 2009 pukul 12:09 am

    @Edwar…
    kalau boleh tahu, Edwar dari mana asalnya? Memang, di beberapa daerah saya dengar sudah jarang lagi anak mudanya..mungkin para perempuan muda yang masih ada…sebenarnya merantau dimaksudkan untuk mencari pengalaman/pengetahuan/modal/dll untuk kemudia membangun ranah ketika “sudah berhasil”…tapi sekarang yang lebih banyak dijalani adalah merantau Cino seperti kata Mochtar Naim…

  11. Januari 21, 2009 pukul 6:16 pm

    @Vara
    lahir di Padangpanjang tapi kampungnya di Pariaman🙂
    memang iya, sekarang kebanyakan orang kita merantau Cino, tapi adahal yang menggelitik dikalangan orang kita, kalau seseorang pulang kampung dan buka usaha atau lain-lain, itu sering diartikan kalau dia telah gagal dirantau:mrgreen: padahal belum tentu benar kan

  12. 12 Vara
    Januari 22, 2009 pukul 12:06 am

    Itu mungkin yang perlu dirembukkan, bagaimana memberi dukungan kepada para perantau yang ingin menyumbangkan pengetahuan dan pengalaman yang didapat di rantau untuk pembangunan di ranah. Dan juga bagaimana ranah dan rantau bisa saling mendukung..

    Anggapan bahwa kalau setelah merantau lalu pulang berarti gagal bisa kita coba untuk hilangkan..kalau tidak begitu, ranah akan tambah terbelakang karena ditinggal yang muda-muda yang berkarya🙂 Dan pembangungan ranah malah jadi terhenti…

  13. 13 Khudri
    Februari 4, 2009 pukul 8:56 am

    Subananyo… klo di liek2 awak rang minang ko lah ndak punyo jati diri lai do (malu jd rang minang)… makono ba parangai co itu….

  14. 14 AOP
    Februari 13, 2009 pukul 8:54 am

    Kepada Yang Terhormat Uni Vara Jambak,

    Saya orang batak toba, protestan, lahir di Pulau Jawa.
    Saya sungguh salut pada kemampuan menulis Anda!

    Setelah membaca artikel anda, saya jadi ingin berbagi sedikit tentang pandangan saya yang mungkin mewakili banyak orang batak toba khususnya yang Protestan/Katolik terhadap orang Minangkabau/Minang atau yang lebih sering disebut: orang Padang (walaupun Padang hanyalah salah satu wilayah yang relatif kecil dibandingkan Provinsi Sumatera Barat).

    Pandangan saya pada orang Padang adalah hal-hal yang tak lain merupakan hasil “doktrinasi” yang sejak kecil ditanamkan orang tua batak (bahkan secara turun temurun diwariskan juga oleh orang batak kelahiran luar tanah batak), yaitu WASPADA dan kalau perlu JAUHI orang Padang sebab orang Padang itu (butir-butir di bawah ini yang paling sering disebut):
    – bengkok
    – fanatik Islam
    – mengincar orang batak (apalagi yang non muslim) untuk dijelek-jelekkan dan dijatuhkan, misalnya lewat isu agama atau isu-isu kejelekan etnis lainnya.
    – persahabatannya tergantung ekonomi/duit

    Hampir tak ada orang Padang yang hadir dalam sanubari orang Batak tanpa disertai rasa curiga. Kalaupun ada, paling orangnya adalah Proklamator kita, Bung Hatta, tapi kalau yang lainnya, tunggu dulu. Pandangan orang batak terhadap orang Padang sangat berbeda dibandingkan terhadap orang Jawa walaupun yang paling punya andil besar dalam rusaknya Indonesia masih orang Jawa juga.

    Saya yakin Uni Vara Jambak pasti pernah tahu akan hal ini.

    Nah, bolehkah saya tahu pandangan Uni Vara Jambak akan fenomena pada orang batak ini dan kalau boleh apa pandangan Uni pada orang batak?

    Terima kasih dan mohon maaf sebelumnya jika ada yang tersinggung.

    Salam.

  15. 15 Vara
    Februari 13, 2009 pukul 4:15 pm

    Saudara AOP…

    karena tanggapan Uni agak panjang…Uni akan jadikan komentar saudara dan tanggapan Uni menjadi satu artikel…tunggu beberapa hari lagi ya🙂
    salam

  16. Februari 21, 2009 pukul 8:50 am

    @ AOP

    yang terhormat mas AOP. Saya seorang mahasiswa berdarah Minangkabau (maaf bukan padang) yang lagi menuntut ilmu di Jawa. Sepertinya pendapat anda tidak sepenuhnya benar. Tidak semua orang Batak yang berusaha untuk menjauhi orang Minang. Saya kuliah di kampus yang plural. hampir semua suku di Indonesia ada di kampus saya. Saya punya banyak teman dari suku2 lain termasuk orang Batak. Nah, yang bikin saya salut sama orang batak di kampus saya, mereka tidak pernah membeda-bedakan asal usul (SARA). Mereka sangat sportif dan saling menghargai. bahkan saya lebih dekat denagn mereka, dibandingkan teman2 saya yang lain yang dari suku lain. Mereka (orang2 batak) juga senang dekat dengan saya dan teman2 saya yang lain.

    jadi saya rasa pendapat anda cuma pendapat segelintir orang yang tidak general, dan tidak umum. Maaf uni vara saya berkomentar di blog anda. maaf juka salah tempat!

  17. 17 Rabil Tanjuang
    Desember 20, 2010 pukul 10:28 pm

    Matriarki ataupun patriarki sebenarnya hanyalah budaya..
    Di Islam tidak ada yang begitu2an 33:35
    Perlu dianalisis lagi tentang perempuan dalam al-quran.. memang al-quran dan buku tafsir nyaris ditulis semua oleh laki-laki, jadi pemahamannya berdasarkan pemikiran, pengalaman, kehendak, bahkan kebutuhan laki-laki, terkadang al-quran itu diterjemahkan dan ditafsirkan sesuai selera (contohnya kata “dzawwj” di Al-Quran kadang diterjemahkan pasangan, kadang istri, pernah juga suami–biasanya para penafsir laki2 suka menterjemahkannya menjadi istri agar sampai pada pengertian ketundukan istri terhadap suami), apalagi memang banyak bermunculan hadis-hadis palsu ttg perempuan yang menjurus kepada penindasan dan pelecehan.. tidak mungkin Tuhan bermaksud menindas salah satu jenis makhluknya, setelah Ia menciptakan manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi.. saya kira perempuan dan laki-laki setara dalam al-quran 33:35..

    Mengenai derajat, orang yang derajatnya tinggi di mata Tuhan adalah orang2 yang beriman, berilmu, dan beramal shaleh.. jadi perbedaannya adalah taqwa..
    karna di akhirat nanti, semua orang akan diadili dan dibalas setiap perbuatannya tanpa memandang jenis kelamin..

    Kemudian banyak sekali orang yang mengadopsi budaya arab, yaitu ketika seorang anak lahir, maka namanya hanya boleh dicantumkan nama ayahnya saja di belakangnya, mereka menganggap itu adalah ajaran Islam.. Tetapi ada satu yang menarik dalam Al-Quran bahwa Nabi Isa, namanya sering sekali diungkapkan dengan nama ibunya “Isa bin Maryam”..
    Kita tahu bahwa nabi Isa tidak mempunyai ayah, padahal satu ayat saja sudah sangat jelas sekali menceritakan bahwa Maryam mengandung dan melahirkan Nabi Isa.. Tapi kenapa Nabi Isa sering sekali ditemukan dengan nama ibunya dalam Al-Quran “Isa bin Maryam”??
    Artinya gaya “bin ibu” ini tidak ditolak oleh Al-Quran !!!

    Satu lagi mengenai kepemimpinan perempuan, ketika Al-Quran menceritakan tentang adanya seorang wanita yang memerintah suatu negri, yaitu “Ratu Balqis”, pada zaman Nabi Sulaiman.. Al-Quran sama sekali tidak mengatakan atau menentang bahwa perbuatan wanita itu adalah perbuatan yang salah atau hina.. Artinya kepemimpinan tidak dipandang dari jenis kelamin..
    Melainkan begitu penceritaan tentang kepemimpinan Fir’aun (seorang laki2), Al-Quran menentang perbuatannya tersebut..

    Demikian agama kita sudah banyak korupsii..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Oktober 2008
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Blog Stats

  • 153,675 hits

%d blogger menyukai ini: