Pengait kata (tags) tulisan ‘ patriarchat

14
Agu
10

Sang Patriarch Jawa dan Upacara Ngabekten – Bagian 2

Upacara Sungkeman Sultan Berlangsung Sakral

Dari : Suara Merdeka, 23 September 2009

YOGYAKARTA – Upacara ngabekten sungkeman Sri Sultan Hamengku Buwono X, 1 Syawal 1430 H berlangsung di Bangsal Tratag, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat digelar Senin dan Selasa (21-22/9) kemarin.

Upacara sungkeman abdi dalem kakung dimulai Senin, sedangkan untuk upacara ngabekten sungkeman putri dilakukan Selasa. Dalam hitungan keraton, Idul Fitri tahun ini jatuh pada Senin, bukan Minggu.

Upacara ngabekten sungkeman dikuti Adipati Pakualaman KGPAA Sri Paduka Paku Alam IX dan putra wayah, bupati, wali kota serta permaisuri GKR Hemas dan seluruh abdi dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Upacara dilaksanakan seusai shalat Idul Fitri, dan telah berlangsung sejak keraton tersebut berdiri. Namun untuk memudahkan upacara, dilaksanakan dua hari. Senin khusus abdi dalem kakung (laki-laki) dan hari kedua untuk abdi dalem putri.

Upacara sungkeman dimulai pukul 09.30. Namun para abdi dalem keraton sudah kumpul di Bangsal Tratak mulai pukul 08.00.

Tepat pukul 09.20, Sri Sultan Hamengku Buwono X yang mengenakan sorjan warna dasar gelam dan kembang-kembang cerah dengan kombinasi kain batik Parangkusumo marak (datang) di Bangsal Tratak, para abdi dalem langsung memberi hormat.

Setelah Raja Keraton Yogyakarta duduk di singgasana, kemudian Sri Sultan Hamengku Buwono X mempersilahkan para abdi dalem maju ke depan untuk memberi salam sebagai tanda upacara ngabekten sungkeman dimulai.

Sungkeman diawali Adipati Pakualaman, KGPAA Sri Paduka Paku Alam IX, lalu diikuti KGPH Hadiwinoto, GBPH H Joyokusumo, GBPH Prabukusumo, GBPH Yudaningrat selaku pangeran keraton.

Setelah itu baru disusul di belakangnya, empat bupati dan wali kota Yogyakarta yang mengenakan surjan putih atau lebih dikenal dengan sebutan abdi dalem pametakan. Berikutnya baru para abdi dalem keraton yang mengenakan pakaian pranakan.

Untuk upacara hari kedua, Selasa (22/9) khusus sungkumen putri, diawali permaisuri GKR Hemas, disusul kelima putri Sri Sultan Hamengku Buwono X, dilanjutkan garwa dalem pangeran keraton. Setelah itu baru abdi dalem putri. Upacara sungkeman itu berlangsung sangat sakral.

***

Tulisan dari Suara Merdeka di atas menggambarkan upacara Ngabekten dari kaum laki-laki yang disebut sebagai abdi dalem kakung yang melambankgkan kekuasaan Sultan Hamengku Buwono X atas masyarakat Jawa yang berada di bawah kekuasaannya. Mengenai upacara Ngabekten yang khusus diperuntukkan untuk kaum perempuan yang disebut abdi dalem putri, bisa dibaca pada postingan terdahulu mengenai Sang Patriarch Jawa dan Upacara Ngabekten – Bagian 1.
Postingan kali  ini adalah tulisan kelima dari rangkaian tulisan yang saya tampilkan di blog ini yang membahas tentang para patriarch (Bapak-bapak penguasa masyarakat) dan polemik yang sedang terjadi dalam masyarakat Minangkabau sekarang mengenai penyelenggaraan Kongres Kebudayaan Minangkabau 2010 atau yang lebih dikenal dengan KKM 2010 yang diselenggarakan secara sepihak oleh para patriarch Minangkabau seperti Saafroeddin Bahar dan Mochtar Naim.
23
Jul
10

Sang Patriarch Jawa dan Upacara Ngabekten – Bagian 1

Tradisi “Ngabekten”, Ratu Hemas Cium Lutut Sultan

TEMPO Interaktif, YogyakartaKeraton Yogya menggelar acara tradisi Ngabekten, khusus untuk abdi dalem perempuan di Tratag Proboyekso, Selasa (22/9). Acara diawali oleh GKR Hemas dengan cara mencium lutut Sultan Hamengku Buwono X sebagai tanda berbakti kepada raja sekaligus meminta maaf berkait dengan hari raya Idul Fitri.

Setiap hari raya Idul Fitri, keraton Yogya selalu menggelar dua kali acara tradisi Ngabekten, yakni untuk abdi dalem laki-laki dan kemudian untuk abdi dalem prempuan. Ngabekten untuk abdi dalem laki-laki digelar di Bangsal Kencono, Senin (21/9). Sedangkan Ngabekten untuk abdi dalem perempuan dilaksanakan di Tratag Proboyekso (sebuah bangunan yang terletak antara Bangsal Kencono dan Gedong Pusaka), Selasa (22/9).

Acara Ngabekten untuk abdi dalem perempuan ini dimulai seitar pukul 10.00, ditandai dengan kehadiran Sultan Hamengku Buwono X di kursi kebesaran yang telah di siapkan di Tratag Proboyekso. “Maju.” kata Sultan Hamengku Buwono X, sekaligus sebagai perintah dimulainya acara Ngabekten.

GKR Hemas mengawali acara Ngabekten, dengan cara “laku dhodhok” (berjalan dalam posisi jongkok) menuju Sultan Hamengku Buwono X yang duduk di kursi kebesarannya. Setelah menghaturkan sembah, GKR Hemas kemudian mencium lutut Sultan Hamengku Buwono X, dan kemudian kembali ke tempat duduk dengan cara “laku dhodhok” juga.

Usai GKR Hemas, kemudian diikuti kelima putri Sultan yakni GKR Pembayun, GRAy Condro Kirono, GRAy Nur Kamnari Dewi, GRAj Nurabra Juwita dan GRAj Nurwijareni. Setelah GKR Hemas dan kelima putrinya, kemudian diikuti para abdi dalem perempuan, termasuk istri walikota dan bupati di wilayah Provinsi DIY.

Acara Ngabekten ini berlangsung dalam suasana hening. Tak ada suara gamelan atau gendhing-gendhing Jawa. Hanya suara kicauan burung yang terdengar selama acara Ngabekten. Karena bersifat acara tradisi, semua peserta mengenakan pakaian tradisional Jawa. Sultan Hamengku Buwono X mengenakan busana Takwa (surjan bermotif bunga, kain dan blangkon), sementara para abdi dalem perempuan mengenakan kain, kebaya, rambut gelung tekuk dan tanpa mengenakan alas kaki.

Juga tidak ada acara pidato pada acara Ngabekten ini. Hanya ada dua kata yang keluar dari mulut Sultan Hamengku Buwono X, yakni “maju” untuk menandai dimulainya Ngabekten, dan kata “mundur” untuk mengakhiri acara Ngabekten.

***

Tulisan ini adalah tulisan pertama dari rangkaian tulisan yang membahas tentang para patriarch (Bapak-bapak penguasa masyarakat) dan polemik yang sedang terjadi dalam masyarakat Minangkabau sekarang yaitu penyelenggaraan Kongres Kebudayaan Minangkabau 2010 atau yang lebih dikenal dengan KKM 2010.

31
Mar
10

Obama, Penghargaan Nobel Perdamaian, dan Penghinaan Terhadap Kata Perdamaian Itu Sendiri

Obama mania dan kemenangan Obama yang menyusul sesudahnya, didorong salah satunya oleh harapan untuk melihat dunia yang lebih baik, dunia tanpa perang, dan dunia tanpa hiruk pikuk kekerasan. Dan ini banyak sedikitnya didorong oleh warna kulit hitam dari Obama. Banyak orang berharap bahwa dengan terpilihnya orang berkulit hitam, maka Amerika Serikat akan mengubah arah politiknya yang penuh dengan kekerasan dan perang, menjadi sebaliknya, sehingga perdamaian akan tercipta. Apakah itulah yang akan terjadi di dunia? Video dari youtube yang berjudul “Civilian National Security Force” di bawah ini memperlihatkan siapa sebenarnya Obama.

Dalam video ini Obama mengatakan hal berikut ini:

We cannot continue to rely only on our military in order to achieve the national security objectives that we’ve set. We got to have a civilian national security force that’s just as powerful, just as strong, just as well-funded.

Dan berikut terjemahan bebas dari saya:

Kita tidak bisa terus-menerus mengandalkan hanya pada angkatan bersenjata (baca: tukang perang dan pembunuh) kita untuk mencapai tujuan-tujuan dalamm bidang keamanan yang telah kita tetapkan. Kita harus memiliki angkatan bersenjata nasional untuk bidang keamanan yang diangkat dari orang-orang sipil yang sama berkuasanya, sama kuatnya dan sama pembiayaannya.

Pendapat bahwa “Obama adalah lebih baik dari George Bush” adalah suatu pendapat yang sangat keliru. Terpilihnya Obama hanya membuktikan keengganan tatanan politik dari Amerika Serikat yang sangat seksis untuk bisa menerima presiden perempuan (Hillary Clinton) sebagai pemimpin mereka. Kemenangan Obama terhadap Hillary juga hanya membuktikan kenyataan rendahnya posisi perempuan di Amerika Serikat dan bahwa tempat posisi perempuan tetaplah  berada di bawah laki-laki. Perempuan kulit putih tetaplah berada di bawah laki-laki; apakah itu laki-laki berkulit hitam sekalipun. Dan tempat perempuan kulit hitam dan latin berada di bagian paling bawah dalam hirarki masyarakat di AS. Lagipula, Obama tidaklah sepenuhnya keturunan daripada orang kulit hitam belaka, melainkan adalah anak seorang perempuan kulit putih.

Ketertindasan masyarakat kulit hitam di Amerika Serikat tidak berarti bahwa orang kulit hitam itu pencinta kedamaian dan bahwa orang kulit hitam akan bisa membawa perdamaian. Orang kulit hitam sendiri ikut bermain dalam ketertindasan orang kulit hitam di AS dan Amerika pada umunya. Orang kulit hitam ikut membantu orang-orang kulit putih Eropa dalam menangkapi orang-orang kulit hitam di Afrika untuk dibawa ke benua Amerika dan dijadikan budak. Banyak orang-orang kulit hitam yang mempunyai posisi yang tinggi dalam hirarki kekuasaan di Amerika Serikat mengeluarkan kebijakan untuk menindas orang-orang kulit hitam sendiri. Banyak pula orang-orang kulit putih yang berjuang untuk perdamaian dan perbaikan nasib orang-orang kulit hitam.

Perdamaian tidak mempunyai warna kulit. Perdamaian tidak berwarna hitam. Perdamaian tidak pula berwarna putih. Perdamaian hanya berarti perdamaian. Apakah yang menyuarakannya berwarna hitam ataupun putih. Apakah yang menyuarakannya diberi label Islam, Kristen, Hindu, Budha, Yahudi, komunis, sosialis, kapitalis, anarkis, religius, atheis, animis, kiri, kanan, Barat, Timur, Utara, Selatan dan lain sebagainya.

Ketertindasan, tidak pernah berarti perdamaian. Hanya karena seseorang atau suatu masyarakat tertentu tertindas, tidak berarti bahwa mereka adalah orang baik atau orang-orang pencinta kedamaian. Orang-orang tertindas di seluruh dunia, yang tidak bisa melawan ketertindasannya, cenderung untuk mengadopsi budaya daripada orang, kelompok ataupun masyarakat yang menindasnya. Itulah yang selalu terjadi di seluruh dunia. Masyarakat Jawa yang ditindas oleh tukang-tukang perang dari daerah yang disebut India sekarang ini, mengadopsi budaya penindasnya dan mengulang-ngulang cerita-cerita raja-raja dan cerita-cerita perang bangsa penindasnya, bangsa-bangsa Jerman yang ditindas oleh kekaisaran Romawi mengulang-ngulang dan membangga-banggakan cerita-cerita “kebesaran”, cerita-cerita perang dan cerita-cerita para kaisar daripada kekaisaran Romawi, masyarakat Minang yang ditindas oleh kesultanan Aceh mengelu-ngelukan Aceh dan selalu ingin seperti Aceh dalam hal ke-Islam-annya, masyarakat Minang yang ditindas masyarakat Jawa dengan budaya kerajaannya, mengelu-ngelukan budaya raja-raja Jawa dan berusaha untuk juga membesar-besarkan “kerajaan Minang” yang “tidak kalah dengan kerajaan Jawa“, masyarakat Minang yang ditindas oleh para fundamentalis Wahabi, mengelu-elukan cerita-cerita perang bangsa Arab dan hal-hal yang berbau Arab Saudi. Ini hanyalah sebagian contoh saja daripada masyarakat-masyarakt tertindas di dunia ini. Banyak lagi contoh -contoh lainnya dari seluruh dunia.

Pemberian penghargaan Nobel perdamaian kepada Obama membuktikan bahwa dunia Barat tidak mengerti mengenai kata perdamaian. Sekalipun mengerti, maka kata perdamaian ini dijungkirbalikkan artinya menjadi dalam arti perang. Kebijakan Obama yang bahkan membangun kekuatan perang dari masyarakat sipil, membuktikan Obama dan orang-orang yang ada di belakangnya adalah kelompok fasis pencinta kekerasan dan perang. Hanya kelompok fasislah yang membangun kelompok tukang perang, kasta tukang perang ataupun kelas tukang perang. Entah itu bernama kaisar-kaisar Romawi, raja-raja India, raja-raja Eropa, sultan-sultan dan khalifah-khalifah Arab/Timur Tengah/Turki, kaisar-kaisar Cina, para Tsar Rusia, para Daimyo, Shogun dan kaisar Jepang, para diktator masa kini (baik kiri maupun kanan), para penguasa agama, para penguasa ekonomi dan keuangan, raja-raja Jawa, Sukarno, Suharto maupun Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Dunia Barat tampaknya perlu belajar mengenai arti kata perdamaian dan untuk itu mereka perlu banyak belajar pada masyarakat-masyarakat pencinta kedamaian yang sesungguhnya ataupun masyarakat-masyarakat yang tidak mengenal kekerasan dan perang. Obama, panitia pemberi penghargaan Nobel “perdamaian” dan dunia Barat harus belajar lagi mengenai arti kata perdamaian dan cara-cara memperdamaikan masyarakat kepada masyarakat-masyarakt dunia yang dikenal sebagai masyarakat egaliter, masyarakat cinta damai, masyarakat utopis, masyarakat matrilinear ataupun masyarakat matriarchal. Dunia Barat bisa belajar kepada masyarakat-masyarakat matriarchal yang bahkan kata membunuh saja mereka tidak punya, karena membunuh tidak pernah menjadi bagian daripada budaya mereka. Atau kalaupun mereka telah mengenal kata-kata yang melambangkan kekerasan tersebut sebagai hasil persentuhan dengan masyarakat-masyarakat patriarkal yang menjajah meraka, tetaplah jiwa kekerasan tesebut tidak menjadi bagian dari budaya mereka.

Dunia Barat juga bisa belajar kepada masyarakat Minangkabau mengenai cara-cara penyelesaian konflik dan cara-cara untuk menyusun dan merangkai kata-kata untuk menyelesaikan masalah. Dunia Barat bisa belajar kepada masyarakat Minangkabau, bahwa perdamaian bisa dicapai ketika anak laki-laki utamanya diajari dan dilatih untuk menyusun kata-kata  dalam bentuk entah berpantun, berbalas pantun, bersilat lidah dan lain sebagainya, bukannya melatih mereka untuk tidak menggunakan lidahnya dan otaknya untuk merangkai kata-kata dalam kehidupan bermasyarakat dan malahan melatih mereka untuk menggunakan ototnya dan senjata untuk membunuh, membantai, merampok, menyiksa dan memperkosa.

Pemberian penghargaan Nobel perdamaian membuktikan penghinaan terhadap kata perdamaian itu sendiri oleh lembaga pemberi penghargaan Nobel khususnya dan oleh dunia Barat pada umumnya. Hal ini juga membuktikan bahwa lembaga-lembaga pemberi penghargaan Barat tidak layak dipercaya dan bahwa dunia Barat, sama halnya dengan dunia-dunia patriarchal lainnya, tetaplah dunia yang penuh dengan  budaya ultra-kekerasan dan peperangan.

Kebijakan Obama dan orang-orang yang berperan penting dibelakangnya, membuktikan bahwa Obama bahkan lebih fasis daripada seorang George Bush yang berkulit putih. Anak laki-laki siapakah yang akan dikorbankannya untuk mati di medan perang? Anak laki-laki dari perempuan kulit hitamkah? Dari perempuan Amerika Latin-kah? Atau dari perempuan-perempuan Eropa Timur-kah? Dan negara-negara atau daerah-daerah manakah yang akan menjadi sasaran serbuan dari kelompok-kelompok tukang perang  (pembunuh dan pembantai) baru buatan Obama dan para patriarch (Bapak-bapak penguasa) Amerika Serikat ini? Indonesia-kah? Afrika-kah? Asia-kah? atau bahkan Amerika Serikat?

07
Jun
09

Antara SARA, rasisme dan gugatan terhadap fasisme Jawa

Berbicara mengenai fasisme Jawa, yang lebih banyak dikenal sebagai Jawanisme atau Jawaisme di Indonesia, adalah suatu keharusan dan tanggung jawab moral bagi seluruh masyarakat Indonesia. Gugatan kepada fasisme Jawa harus dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab orang Indonesia terhadap korban-korban daripada fasisme Jawa itu sendiri. Selama ini, gugatan terhadap fasisme Jawa ataupun terhadap pelaku daripada tatanan politik fasis ini dibungkam dengan dalih-dalih ataupun sebutan-sebutan yang telah dikenal oleh banyak orang, yaitu anti Negara Kesatuan Republik Indonesia (anti NKRI), anti Jawa, SARA maupun dengan sebutan rasis.

Tuduhan-tuduhan ini, sebagaimana layaknya tuduhan-tuduhan yang ditimpakan kepada orang-orang yang menggugat penguasa-penguasa fasis di banyak negara lainnya di dunia, bertujuan untuk membungkam dan menjelek-jelekkan nama baik orang-orang tersebut. Tuduhan-tuduhan ini juga tidak beralasan dan tidak layak digunakan, karena tidak ada satupun daripada pemakaian daripada tuduhan-tuduhan ini yang sesuai dengan kenyataannya.

Kata rasis jelas tidak layak dipakai, karena walaupun orang-orang yang menguggat fasisme Jawa ini adalah orang-orang Indonesia dari suku bukan Jawa, mereka tidaklah rasis dan bukan pemuja rasisme. Tambahan lagi, penggugat daripada fasisme Jawa ini bukan hanya orang bukan Jawa saja. Pramudya Ananta Tour, seorang sastrawan dan pemikir Jawa, merupakan salah satu penggugat fasisme Jawa yang disebutnya sebagai Jawanisme. Walaupun pendapat Pramudya mengenai fasisme Jawapun masih bias -karena pernyataannya mengenai fasisme Jawa yang seolah-olah terputus pada zaman Sukarno. Pramudya merupakan salah satu tokoh yang tidak sungkan-sungkan mengkritisi praktek-praktek fasisme Jawa ini. Selain daripada itu, kata rasis hanya layak dipakai untuk orang-orang yang memang benar-benar berbeda rasnya. Akan tetapi kenyataannya adalah, orang-orang Indonesia apapun sukunya tidaklah berbeda secara ras. Baik orang Jawa maupun orang dari suku-suku lainnya yang bukan Jawa adalah berasal dari dua ras atau yang menjadi satuan utama orang Indonesia, apapun suku bangsanya, yaitu ras mongoloid -lewat suku bangsa-suku bangsa Austronesia dari daerah yang disebut Taiwan sekarang ini dan ras negroid (orang kulit hitam yang telah lebih dahulu mendiami alam Indonesia). Banyak dari suku-suku di Indonesia merupakan hasil percampuran daripada kedua ras ini, yang menghasilkan orang-orang Indonesia yang berkulit coklat ataupun sawo matang. Yang membedakan mereka hanyalah budaya asli mereka maupun budaya asing yang datang yang mempengaruhi budaya asli ini, sekaligus seberapa jauh budaya asli ini menggantikan budaya-budaya “orang asli Indonesia” ini.

Orang-orang yang disebut sebagai orang-orang yang anti Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) malahan pada umumnya adalah orang-orang yang sangat peduli dengan keutuhan Republik Indonesia ini. Contoh nyata adalah orang Minang yang merupakan pendiri daripada Republik Indonesia ini. Kenyataan sejarah daripada peran orang-orang Minang dalam mendirikan Republik Indonesia, Tan Malaka sebagai pendiri dan arsitek daripada Republik Indonesia lewat tulisannya di tahun 1925, yaitu Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) dan perjuangan-perjuangannya yang hanya berhenti bersama dengan kematiannya, serta peran-peran daripada orang Minang disegala bidang, tidak bisa disangkal dan juga tidak pernah dibantah oleh orang-orang Minang sendiri. Orang-orang Minang sangat menyadari akan peran orang-orang tua mereka dulu, baik laki-laki maupun perempuan, demi terwujudnya tatanan masyarakat yang bernama Republik Indonesia. Karena itulah mereka menjadi orang-orang yang merasa paling bertanggung jawab akan kelangsungan Republik Indonesia ini. Lewat gerakan politik Sukarno, mereka dijadikan sebagai “pemberontak”, dan dihancurkan semangat politiknya dan semangat untuk membangun masyarakat -yang merupakan ciri utama masyarakat Minangkabau yang matriarchal ini- serta dicemarkan nama baiknya serta identitas kesukuannya. Perempuan-perempuannya diperkosa oleh tentara Sukarno dan lain-lain perbuatan biadab. Istilah NKRI kemudian dijadikan jargon untuk mengesahkan proses sentralisasi dan Jawanisasi. Kata kesatuan pada NKRI dan kata bersatu hampir selalu diartikan sebagai penyatakan setuju pada praktek-praktek sentralisasi dan Jawanisasi.

Jargon SARA (suku, agama, ras dan antar golongan) adalah jargon yang dipakai pada zaman kekuasaan Suharto untuk membungkam kelompok oposisi yang menentang kebijakan-kebijakan dan kekejaman rezim orba. Lewat jargon ini, wacana mengenai suku dan agama menjadi tidak dimungkinkan dan terlarang. Padahal wacana dan diskusi mengenai suku, agama dan golongan (kelompok-kelompok dalam masyarakat) adalah sangat penting pada masyarakat majemuk seperti Indonesia. Kata ras dalam jargon ini jelas tidak layak dipakai karena seperti telah disebut di atas, hanya ada dua ras besar yang menjadi pembentuk masyarakat Indonesia dan sebagian terbesar daripada kedua ras besar ini sudah bercampur menghasilkan manusia-manusia Indonesia baru. Sifat asli masyarakat Indonesia sebenarnya juga tidak membesar-besarkan urusan ras ini. Jargon ini malahan membuat masyarakat Indonesia takut untuk menyebut istilah seperti “suku Jawa“, “orang Jawa“, “orang Papua” dan lain-lain. Padahal istilah-istilah ini dan masyarakat-masyarakat yang mewakilinya ada. Tambahan lagi, wacana maupun pembahasan mengenai istilah-istilah ini adalah sangat penting untuk terciptanya suatu kondisi saling memahami dari satuan-satuan masyarakat yang berbeda yang membentuk keseluruhan masyarakat Indonesia.

Tuduhan anti Jawa misalnya adalah salah satu tuduhan yang paling tidak bertanggung jawab. Karena dari arti kata saja sudah berbeda. Anti Jawa dan anti fasisme Jawa adalah dua ungkapan yang berbeda. Menyamakan kedua ungkapan ini adalah sama dengan menyamakan kata “Jawa” dengan ungkapan “fasisme Jawa“. Kedua hal ini jelas berbeda. Sebagaimana layaknya fasisme Jerman yang tidak sama dengan Jerman sebagai satuan budaya, ataupun fasisme Islam yang tidak sama dengan Islam yang merupakan satuan budaya/agama, fasisme Jawa sebagai tatanan politik tidak sama dengan Jawa yang merupakan satuan budaya. Anti Jawa jelas tidak sama dengan anti fasisme Jawa sama halnya dengan anti Jerman yang tidak sama dengan anti fasisme Jerman (Nazisme) ataupun anti Islam yang tidak sama dengan anti fasisme Islam.

Orang-orang yang menggugat fasisme Jerman ataupun yang anti fasisme Jerman tidak dapat dikatakan anti Jerman karena mereka umumnya adalah orang Jerman sendiri yang mengkritik kebiadaban daripada fasisme Jerman yang dikenal dengan Nazisme ini. Umumnya, mereka adalah orang-orang yang peduli terhadap budaya dan masyarakat Jerman. Demikian pula halnya dengan orang-orang yang menggugat fasisme Islam. Mereka pada umumnya adalah para cerdik pandai dalam ilmu-ilmu ke-Islam-an dan mereka juga sangat peduli terhadap negara-negara, budaya dan masyarakat Arab serta negara-negara dan masyarakat dengan pengaruh Islam lainnya yang bukan merupakan negara Arab. Orang-orang yang menggugat fasisme Jawa, justru kebanyakan adalah orang-orang cerdik pandai yang peduli dengan Republik Indonesia dan yang prihatin dengan korban-korban daripada fasisme Jawa. Korban–korban fasisme Jawa, tidak hanya terdiri dari orang-orang dari suku-suku bukan Jawa saja, melainkan orang-orang dari suku Jawa sendiri, yang merupakan masyarakat dengan jumlah terbesar di Indonesia.

Jawa adalah nama yang terdiri dari satu kata dan berarti secara umum dalam hal ini adalah “budaya Jawa“. Fasisme Jawa adalah sebuah istilah atau ungkapan yang mempunyai arti suatu tatanan politik fasis yang bersumber dari roh budaya Jawa ataupun yang lahir dari kandungan budaya Jawa, dan yang memakai simbol-simbol budaya Jawa dimana kelompok elit kekuasaannya terdiri dari orang Jawa atau orang yang berbudaya Jawa dan yang dalam perkembangannya mendapat pengaruh dan dukungan dari budaya-budaya fasis dunia lainnya.

Usaha-usaha untuk menggugat fasisme Islam dan fasisme Jerman misalnya telah dilakukan oleh para cerdik pandai dari masing-masing budaya itu sendiri. Di Indonesia, usaha-usaha untuk menggugat fasisme Indonesia yang dikenal dengan sebutan Jawanisme ini hampir selalu menemui jalan buntu. Seandainyapun dilakukan, orang-orang yang berusaha untuk melakukannya dikenai tuduhan dan diberi gelar penghianat negara dan bangsa, orang yang rasis, anti Jawa, SARA, maupun anti NKRI. Salah satunya yang telah melakukan gugatan terhadap fasisme Jawa seperti telah disinggung sebelumnya adalah Pramudya Ananta Tour. Itupun masih bias, karena Pramudya sebagaimana banyak orang-orang PKI ataupun pro PKI pada zaman Sukarno, adalah orang-orang yang memuja Sukarno. Bagi Pramudya, masa fasisme Jawa terputus pada masa Sukarno dan dilanjutkan kembali pada masa Suharto. Suatu analisis yang tidak jujur dan tidak bijaksana. Pendapat Pramudya ini jelas menyimpang karena Suharto jelas-jelas hanya melanjutkan dan menyempurnakan kebijakan-kebijakan fasis Sukarno. Mengenai Pramudya dan fasisme Jawa bisa dibaca pada tulisan terdahulu mengenai fasisme Jawa.

Walaupun Sukarno adalah seorang fasis, ia dilihat sebagai orang suci tanpa cela oleh orang-orang pro PKI, orang-orang PKI ataupun orang-orang yang mengaku dirinya sebagai “kelompok kiri“. Hal ini bukanlah hal yang aneh, karena itu adalah kecenderungan para “cerdik pandai” yang termasuk ke dalam “kelompok kiri”. Banyak orang-orang “kelompok kiri” adalah juga pemuja fanatik daripada diktator-diktator “kiri”, “merah”, “kekiri-kirian”, “pseudo kiri”, “pseudo merah” ataupun “kemerah-merahan” seperti Mao Zedong, Lenin, Stalin, Sukarno, ataupun Fidel Castro.

Masyarakat Jerman telah melakukan kritisi terhadap fasisme Jerman yang dikenal sebagai Nazisme ini. Ribuan laporan yang berupa tulisan, buku, film dokumenter, acara televisi dan lainnya dibuat, didiskusikan, diseminarkan dan diperdebatkan, oleh orang-orang Jerman sendiri sebagai bentuk oto-kritik. Bahkan oleh orang-orang Jerman yang merupakan bekas tentara fasis Jerman, orang-orang yang menjadi korban daripada Nazisme, orang-orang yang dahulunya dikenal sebagai kelompok rasis yang menjadi pendukung Nazisme itu sendiri maupun para cerdik pandai Jerman dari segala bidang. Negara Jerman boleh disebut sebagai “berhasil”, dalam usaha otokritiknya ini. Jerman yang dulu ditakuti sebagai “negara paling rasis” di dunia, kini boleh dikatakan menjadi negara yang telah sedikit banyaknya menghargai keragaman budaya atau yang berdasarkan istilah Jerman dikenal sebagai “multi-kulti” (beragam budaya).

Kemajuan diperoleh dari kemauan melakukan otokritik. Indonesia tampaknya bisa mencontoh Jerman untuk melakukan otokritik ini. Tidak ada yang perlu ditabukan untuk dibicarakan selagi hal itu menyangkut hajat hidup dan kemaslahatan orang banyak di Indonesia, termasuk kesalahan-kesalahan politik dan kekejaman-kekejaman dari tokoh-tokoh politik di masa lalu. Dan penulis yakin, orang Indonesia bisa melakukannya.

Catatan:

Asal-usul mengenai masyarakat Indonesia, masih harus ditelusuri lebih lanjut. Versi terakhir yang berlaku adalah suku bangsa-suku bangsa Austronesia dari Taiwan serta suku bangsa-suku bangsa Melanesia yang mendiamai daerah Timur Indonesia dan bahwa seluruh manusia diyakini berasal dari bangsa berkulit hitam yang dulunya mendiami benua Afrika dan pergi menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Pandangan mengenai ras sebenarnya sudah tidak relefan di zaman sekarang ini. Ilmu genetika telah menjawab hal-hal mengenai warna kulit, warna mata, warna rambut  dan lainnya yang selama ini dipakai sebagai dasar dari “teori ras”. Rambut pirang, merah dan coklat serta mata biru, mata hijau ataupun mata coklat muda, tidaklah melulu milik orang yang disebut sebagai “ras caucasoid” atau “ras orang kulit putih”; melainkan juga milik orang yang dikenal sebagai “ras negorid” dan “ras mongoloid”.

Tulisan ini adalah tulisan ketiga dari rangkaian tulisan mengenai fasisme Jawa. Baca juga tulisan terkait:

28
Des
08

Anak-anak korban paedophile dan pederasty – Bagian 1

X, sebut saja namanya begitu, laki-laki Minang berusia di atas 30, bercerita dengan sedih mengenai awal mula dia menjadi “hombreng“. Saya diperkosa oleh beberapa bencong (hombreng yang “seperti perempuan”) di kamar ganti kolam renang. Saya waktu itu masih SMP lanjutnya lagi. Ketika saya sedang ganti baju, beberapa bencong, yang adalah laki-laki dewasa, memaksa masuk ke dalam kamar ganti di mana dia sedang mengganti baju. Dua laki-laki memegang tangannya agar dia tidak bisa bergerak. Seorang laki-laki mulai melakukan oral sex kepadanya. Dia mencoba meronta tapi pegangan dua laki-laki lainnya begitu kuat dibandingkan dengan tenaga seorang anak laki-laki yang sedang berangkat remaja. Dia mengatakan, walaupun saya masih remaja, kemaluan saya sudah terbilang “besar”. Setelah kemaluan saya tegak, laki-laki tersebut dengan paksa memasukkan batang kelamin saya ke anusnya. Rasanya sakit sekali. Kemudian dia memperkosa saya sementara kedua orang laki-laki lainnya memegang tangan saya erat-erat agar saya tidak bisa bergerak. Dia kemudian berhenti bercerita dan memandang ke arah kejauhan dengan sedih. Dia tidak menceritakan apakah kedua laki-laki lainnya juga ikut memperkosanya.

Setelah kejadian itu, dia mendendam terhadap semua “bencong“. Dia berusaha menggoda mereka dan berhubungan seks dengan mereka. Dia mengaku bahwa dia memperlakukan pasangan-pasangan bencongnya dengan kasar, sampai anusnya berdarah-darah. Petualangan itu dilakukannya setelah peristiwa perkosaan yang menimpanya ketika dia masih duduk dibangku SMP. Dia mengaku bahwa dia “membenci” para bencong. Dilain kesempatan dia mengkau selalu bangkit gairahnya setiap dia melihat para bencong yang banyak berprofesi sebagai penari latar di televisi ketika mereka menari meliuk-liuk dengan gerakan yang “menonjolkan pantat”. Dia mengaku bahwa sampai sekarangpun dia acap kali memperlakukan “kekasihnya”, seorang bencong, dengan kasar dan bahwa kekasihnya itu juga sering digaulinya sampai anusnya berdarah-darah.

Tidak ada air mata yang keluar dari matanya, ketika dia bercerita. Tentu dia sudah menghabiskan air matanya itu ketika dia baru saja menjadi korban perkosaan pada saat dia masih belia. Akan tetapi terasa bahwa bermacam-macam perasaan yang campur aduk seperti berperang dalam dirinya sementara dia bercerita. Kesedihan, dendam, sesal dan lain-lain adalah perasaan yang harus dideritanya sejak peristiwa itu. Sakit, itulah kesan yang dapat ditangkap dari cara dia bercerita dan dari air mukanya. Kesakitan seorang bocah yang sedang berangkat remaja yang menjadi korban perkosaan terhadap anak laki-laki remaja  (pederasty) yang dilakukan oleh laki-laki dewasa yang merupakan kaum homosexual (dalam hal ini bencong) yang tidak tahu apa yang harus dilakukan, yang tidak tahu kepada siapa dia harus mengadu.

Dia bercerita lebih lanjut lagi mengenai artis penyanyi terkenal yang sempat menjadi “kekasihnya”, Tentang pesta-pesta kaum homosexual yang dihadirinya, tentang perilaku seksualnya yang tidak bisa setia dengan satu pasangan, tentang kekasih bencongnya yang sering mengancam bunuh diri, setiap kali dia berhubungan seks dengan pasangan bencongnya yang lain, tentang ibunya yang berusaha menjodohkannya dengan seorang perempuan karena dia “belum juga punya pasangan” walaupun sudah cukup umur. Orang Minang katanya, cantik. Tapi saya tidak ada “selera”. Tentang Ibu kosnya yang memberlakukan larangan bagi penghuni kos (yang hanya terdiri dari kaum laki-laki) untuk menerima perempuan di rumah kosannya, karena tidak mau ada “perbuatan mesum”. Si X ini dengan mesem-mesem bilang, yah peraturan itu “cocok” buat saya. Kan tamu saya “laki-laki” semua. Tentang kawan-kawannya sesama orang Minang yang juga homoseksual. Homoseksualitas di ranah Minang berkembang luas lewat surau, tambahnya lagi. Ternyata dia banyak memiliki kawan-kawan Minang yang menjadi homoseksual lewat proses “sosialisasi” di surau. Pernyataannya menarik dikaji, karena selama ini fungsi “surau” di ranah Minangkabau sepertinya terlalu diagung-agungkan. Surau di ranah Minang berfungsi sebagai tempat di mana “guru agama” mengajarkan “ajaran agama” kepada anak laki-laki di bawah umur ataupun yang masih remaja. Apakah “ajaran agama” itu termasuk kegiatan homoseksual oleh para guru agama terhadap murid-muridnya, tampaknya perlu diteliti lebih lanjut. Menurut keterangan X, ya.

Untuk X yang masih menderita di Jakarta dan untuk para korban-korbannya dari kaum bencong.

09
Agu
08

Eropa dan Amerika Serikat di antara Patriarchat dan Matriarchat

Saya mendapat pertanyaan dari seorang pembaca blog ini. Berikut ini adalah pertanyaannya:

Vara, saya tertarik dengan essai anda mengenai Matriarki ini, menurut anda Eropa dan US itu patriarki atau matriarki? Saya tinggal di Eropa dan menurut saya Eropa itu matriarki lho karena posisi wanita jauh lebih kuat disini. Bagaimana menurut anda ?

Sebelum saya ke pokok persoalan, saya akan bahas sedikit tentang istilah matriarchat. Matriarchat adalah istilah yang diberikan untuk memberi nama system masyarakat yang ada sebelum berkembangnya budaya perang dan penindasan yang dikenal sebagai patriarchat. Nama lain yang diberikan untuk tatanan masyarakat ini diantaranya adalah adalah masyarakat egaliter dan masyarakat tanpa tingkatan (kasta/kelas/hirarki) yang bertumpu pada pandangan hidup mengenai kasih Ibu dan kasih alam.

Sekarang ini tidak ada masyarakat di dunia yang bisa dikatakan “Matriarchal sepenuhnya” atau “patriarchal sepenuhnya”. Lewat penyerangan-penyerangan, pembantaian-pembantaian dan penghancuran yang dilakukan oleh masyarakat patriarchat terhadap masyarakat matriarchat serta pemaksaan pandangan hidup (agama-agama dan kepercayaan-kepercayaan) dari bangsa-bangsa patriarchat ini misalnya Katolik/Kristen/Islam/Hindu/Budha, semua masyarakat yang ada sekarang memiliki pandangan hidup yang merupakan campuran daripada nilai-nilai masyarakt matriarchat dan patriarchat. Kita katakan masyarakat matriarchat kalau lebih banyak pandangan hidup mereka yang belum banyak berubah karena serangan dari masyarakat patriarchat. Masyarakat-masyarakat Indian Amerika, Mosuo di Yunnan, Cina Selatan dan masyarakat Minangkabau, Indonesia, termasuk masyarakat-masyarakat yang masih mempertahankan nilai-nilai dan pandangan-pandangan hidup masyarakat matriarchat. Masyarakat Mosuo bisa dikatakan masih mencerminkan masyarakat matriarchat yang sepenuhnya, karena sedikit sekali aspek-aspek kehidupan patriarchal yang ada dalam masyarakat Mosuo ini.

Masyarakat Eropa dan Amerika Serikat dalam kaitan ini adalah sangat patriarchat. Berikut kita lihat mengapa.

Suatu masyarakat bisa dikatakan matriarchat atau tidak, tidak bisa dilihat dari apakah posisi perempuan “jauh lebih kuat”. Pada masyarakat matriarchat posisi laki-laki, perempuan dan anak-anak adalah “kuat”. Kesejahteraan anak sebagai calon individu, yang di masa depan akan menjadi orang dewasa dianggap sebagai paling penting. Dalam masyarakat Patriarchat, posisi laki-laki, perempuan dan anak-anak “lemah” dan tertindas. Mungkin dipermukaan tidak terlihat. Karena kekerasan tidak hanya berbentuk fisik saja melainkan juga mental dan emosional. Kekerasan terhadap laki-laki, perempuan dan anak-anak bentuknya bisa berbeda-beda.

Di negara-negara barat posisi perempuan sangatlah rendah. Sejak dari zaman Romawi (dan juga sebelumnya), abad pertengahan, zaman Napoleon, “zaman revolusi industri”, zaman Hitler, sampai sekarang. Karena itu tidaklah mengherankan kalau gerakan “pemberdayaan perempuan” atau “feminisme” muncul dan berkembang di masyarakat barat. Keadaan perempuan barat baru berubah agak baik menjelang tahun 1970-an. Bukan karena perempuan pada dasarnya dihormati, tapi karena hal-hal berikut ini:

1. Gerakan-gerakan sosial politik daripada para cerdik pandai barat yang menuntut perbaikan kondisi perempuan yang umumnya diilhami oleh masyarakat-masyarakat matriarchat dunia dengan siapa, masyarakat barat di Amerika Serikat dan para cerdik pandai barat Eropa, mengalami persentuhan budaya. Contohnya adalah gerakan suffragist dan women’s lib di Amerika Serikat yang diilhami oleh masyarakat Indian Amerika yang matriarchal di mana posisi perempuan sama dihormati dengan laki-laki dan dimana perempuan memainkan peranan penting di dalam kehidupan masyarakat. Tapi karena pada dasarnya patriarchal (berbudaya merampok), mereka ambil semua yang baik dari orang Indian (tanah, nilai-nilai pandangan hidup dll), tapi orang Indian dibantai terus-terusan dan dipinggirkan. Sampai sekarang. Seluruh dunia tahunya bahwa Amerika Serikat adalah “awal dari kebangkitan gerakan perempuan”. Seakan-akan barat adalah pelopor kebangkitan perempuan. Padahal kenyataannya barat (AS dan Eropa) adalah penyebab kemunduran peran dan posisi perempuan di seluruh benua jajahannya. Jadi dapat dikatakan bahwa “keberdayaan” perempuan barat dicapai diatas ketertindasan perempuan-perempuan “non-barat”.

2. Posisi perempuan menjadi baik seiring dengan semakin kayanya masyarakat barat dari hasil-hasil merampok (kolonialisme dan neokolonialisme). Perempuan barat bisa bekerja dan diijinkan keluar rumah karena industri (yang merupakan lanjutan dari hasil perampokan zaman kolonialisme dan neokolonialisme) membuat dibutuhkannya tenaga-tenaga kerja baru. Karena itu perempuan dibutuhkan, bukan karena pandangan mereka terhadap perempuan dan fungsi reproduksinya membaik. Tapi karena kebutuhan akan tenaga kerja.

3. Syndrom negara kaya. Dimanapun kalau kaya dan cukup sandang, makan dan papan, maka sepertinya posisi perempuan baik. Padahal tidak. Konsepnya tetap sama. Cuma dialihkan ke negara-negara “miskin”, “non-barat”, “negara-negara sapi perah”. Perang tidak lagi dilakukan “di rumah”, tapi di luar. Di Afrika, di Timur Tengah. Sekarang tidak melulu secara langsung dengan bantuan tentara dari negara sendiri, tapi dari negara-negara lain (lewat resolusi PBB misalnya) dan tentara-tentara bayaran (misalnya Gurkha, tentara Islam) dll. Orang-orang barat secara mental tetap tertindas oleh para raja-rajanya, penguasa-penguasanya, dan para pengusaha-pengusahanya. Mereka diberi sedikit “cipratan” dari hasil perampokan di luar negri, dan tidak perlu lagi harus menghadapi dan menghadirkan perang di negara sendiri. Tapi roh daripada patriarchat tetap ada, semakin menguat. Dan tetap paling kuat di dunia.

Kalau kaya (dan mau belajar dan mau mengkaji mengenai permasalahan-permasalahan dalam masyarakat), maka bisa berpikir lebih jernih, bisa tau kalau diri ditindas, dll.

4. Penindasan di luar negri cukup memakai agen dari tiap-tiap negara itu sendiri yang berbentuk diktator-diktator dan junta-junta yang cukup dipasok dukungan media, senjata, dll

5. Banyak perempuan-perempuan dan laki-laki barat menyadari bahwa mereka adalah bagian daripada penjajahan para elit laki-laki (dan sedikit perempuan) barat dalam menjajah seluruh dunia, sebagai hasil daripada pendidikan yang “baik” karena kaya. Dan mereka berjuang melawannya, demikian pula perempuan-perempuan dan laki-laki dari berbagai macam budaya/negara/suku bangsa di seluruh dunia.

Masyarakat barat adalah masyarakat yang sangat patriarchat. Sampai sekarang mereka masih memiliki hampir semua ciri-ciri masyarakat patriarchal seperti yang tertulis didalam “ciri-ciri masyarakat patriarchal”. Banyak diantara ciri-ciri ini justru bersifat ekstrim.

Masyarakat Barat juga tidak bisa dipandang sebagai satu kesatuan. Kalau kita ambil Roma sebagai awal budaya patriarchat barat (walaupun sebenarnya sudah dimulai jauh hari sebelumnya), maka bisa kita lihat bahwa negara-negara barat yang paling dekat dengan Roma (Italia) adalah paling patriarchal, sedangkan yang letaknya relatif sangat jauh, misalnya negara-negara Skandinavia seperti Norwegia, Swedia, dan Denmark, relatif tidak. Oleh karenanya, seperti pernyataan di atas, posisi perempuan adalah lebih baik.

Kalau dilihat di permukaan, sepertinya memang masyarakt barat matriarchat, tapi kalau kita telah, tidak. Karena mereka memberlakukan demokrasi semu di negara sendiri dan mengekspor praktek-praktek patriarchal yang biadab itu ke luar negri. Banyak cerdik pandai barat dan orang-orang barat yang sudah sadar akan tema matriarchat ini dan mencita-citakan untuk kembali ke khitah: yaitu kembali ke matriarchat, karena mereka tahu bahwa nenek moyang mereka dulu adalah juga masyarakat Matriarchat.

Sementara di pusat-pusat matriarchat dunia, diktator-diktator dan junta-junta dan kelompok-kelompok patriarchal ekstrim dipelihara dan disokong oleh kekuasaan-kekuasan barat dan dihisap sumber dayanya. Hal ini menjadikan pusat-pusat budaya matriarchat ini menjadi miskin dan patriarchal.

05
Agu
08

Persamaan orang Islam fundamentalis dengan orang rasis barat

Kalau saya perhatikan berita-berita dunia tentang negara-negara yang mewakili Islam fundamentalis, kristen fundamentalis dan fundamentalis barat, terutama tentang orang Islam fundamentalis dengan orang Jerman rasis dan orang Amerika Serikat yang rasis, saya sering tercengang-cengang melihat begitu banyak kemiripannya. Berikut ini kemiripan-kemiripan yang saya pantau sampai sekarang. Kalau pembaca ada menemukan lain-lain kemiripan, bisa ditambahkan lewat komentar.

  • sama-sama pembenci orang Yahudi
  • sama-sama banyak dapat uang dari jualan minyak bumi
  • sama-sama berbudaya patriarchat
  • sama-sama absolutis dan otoriter
  • sama-sama punya pemimpin absolutis/otoriter/kejam/biadab (Raja-raja Arab Saudi, Hitler, Bush)
  • sama-sama pembenci perempuan
  • sama-sama rasis terhadap orang kulit hitam
  • sama-sama seksis terhadap perempuan
  • sama-sama doyan memainkan agama
  • sama-sama doyan kekuasaan
  • sama-sama (sempat) berkuasa di dunia
  • sama-sama (sempat) sangat kaya
  • sama-sama tidak menyukai pemimpin perempuan
  • sama-sama bersahabat erat satu sama lain (AS dan Arab Saudi, AS dan Iran, Jerman dan Iran, dst)
  • sama-sama dibantu oleh kelompok agama dalam mempertahankan kekuasaannya (Hitler oleh kaum penguasa Katolik/Protestan, Bush oleh kaum penguasa Kristen Evangelis/Protestan, raja-raja Arab Saudi oleh kaum penguasa Islam)
  • sama-sama suka membakar buku dan melarang buku (kelompok Islam fundamentalis di Arab Saudi, Iran dan Afghanistan, kelompok para rasis Jerman di zaman Hitler, kelompok para rasis di Amerika Serikat)
24
Jun
08

Ciri-ciri Masyarakat Patriarchal

Masyarakat Patriarchat mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

  • Pembagian masyarakat dalam tingkatan-tingkatan atau kelas-kelas atau kasta-kasta yang bersifat menindas dari kasta yang atas ke kasta yang di bawahnya. Masyarakat Hindu adalah masyarakat yang menerapkan konsep ini secara ekstrim, dan memberi nama kepada setiap kelas-kelas/kasta-kasta tersebut dari kasta Brahmana yang setingkat Dewa/Tuhan sampai kepada kasta Pariah yang dinistakan dan tidak ada hak apa-apa.
  • Keluarga adalah keluarga “kecil” yang “dikepalai” oleh seorang Bapak yang dianggap sebagai “pemilik” keluarga dan berhak melakukan hal-hal apapun juga terhadap hak “miliknya” yaitu istri dan anak-anaknya. Di dalam konsep Hindu bahkan Bapak dianggap sebagai Tuhan/Dewa dari istri dan anak-anaknya. Apa yang dikatakan oleh Bapak adalah hukum bagi istri dan anak-anak.
  • Kata Ibu hanya terbatas pada Ibu yang melahirkan kita saja. Anak adalah milik Bapak dan Ibu adalah yang harus mengurus “anak si Bapak”.
  • Anak adalah cuma terbatas pada yang dilahirkan oleh seorang perempuan. Anak dari saudara perempuan Ibu/Bapak dikenal dengan sebutan sepupu.
  • Perkawinan biasanya dalam bentuk, perkawinan tetap, dimana pihak perempuan tinggal di rumah keluarga suaminya atau di rumah suaminya di mana dalam bentuk ekstrimnya perempuan sebagai istri tidak mempunyai hak apa-apa di rumah ini dan seringkali harus menerima perlakuan buruk dan siksaan dari keluarga suaminya atau dari suaminya.
  • Anak yang dilahirkan digolongkan ke dalam klan Bapak atau dianggap sebagai hanya “anak dari si Bapak” dan akan dinamakan berdasarkan nama Klan Bapaknya atau nama keluarga Bapaknya.
  • Budaya yang tidak egaliter (hirarkis) dan tidak demokratis. Bentuk ekstrimnya adalah kediktatoran dan budaya otoriter.
  • Pengambilan keputusan adalah tidak demokratis/demokratis semu/demokratis tapi untuk segolongan orang saja (kelompok elitis) dan tidak melibatkan semua pihak. Biasanya hanya melibatkan dan berlaku hanya untuk kelompok laki-laki elitis dan mengenyampingkan kelompok-kelompok laki-laki lainnya, kelompok perempuan, kaum muda. Semua tidak dapat menyuarakan pendapatnya
  • Masyarakat yang akrab dengan golongan-golongan (hirarki) dan mempunyai kelas/kasta/kelompok penguasa yang dikenal sebagai raja/ratu (tapi jarang sekali), kaisar, sultan, pangeran dll. Kelompok penguasa inilah yang merupakan kelompok pemilik dari semua harta/kekuasaan/hukum/ yang ada di masyarakat, dan seringkali merupakan perlambang daripada kekuasaan Tuhan di dunia seperti di Arab Saudi dan kerajaan-kerajaan Eropa di Abad Pertengahan. Budaya jilat-menjilat pantat penguasa dan budaya “menginjak ke bawah” menjadi keharusan yang harus diikuti untuk bisa hidup dalam tingkatan-tingkatan (hirarki)/kelas-kelas/kasta-kasta yang sangat kejam ini.
  • Masyarakat yang menyukai peperangan dan kekerasan. Mempunyai kelas/kasta/kelompok tukang perang/ksatria dan mengenal budaya pembentukan tentara/ksatria/tukang perang sebagai bagian dari kekuasaan dan pembentukan kekuasaan. Budaya kekerasan dan perang dianggap “biasa” dan lumrah serta “kodrat manusia”. Budaya-budaya kekerasan seperti pembunuhan, perang, perampokan, pemerkosaan berkembang dan sangat membudaya. Kata-kata seperti “membunuh”, “memperkosa”, dan lain-lain kata-kata yang merupakan perlambang daripada kekerasan dan penindasan berasal daripada masyarakat ini. Dan lagi-lagi konsep-konsep ini dianggap sebagai “biasa”/”lumrah”/”sudah kodrat manusia”.
  • Mengenal kelompol penguasa perdagangan/ekonomi yang menguasai seluruh aspek pertukaran barang dan ekonomi dalam masyarakat
  • Memuja seorang/beberapa Dewa atau seorang Tuhan yang dipuja sebagai Bapak Dewa/Tuhan di surga yang biasanya merupakan Dewa perang dan bersifat menghukum atau mengesahkan perilaku kekerasan kepada “yang tidak memujanya”.
  • Mempunyai pandangan mengenai “kepemilikan pribadi”/oran perorang, yang bersifat pemumpukan harta dan diturunkan dari Bapak ke anak laki-lakinya.
  • Mempunyai konsep kepala-kepala dan lain-lain kedudukan yang bertumpu pada kekuasaan yang pada bentuk ekstrimnya berupa kekuasaan absolutis yang sama sekali tidak demokratis dan tidak egaliter. Hitler, Suharto dan Raja Arab Saudi adalah contoh-contoh daripada kekuasaan absolut ini.
  • Mempunyai kelompok penguasa agama yang mengatur segala perizinan tentang urusan-urusan dalam masyarakat yang biasanya mengaku-ngaku serbagai perwakilan penguasa langit (Tuhan) yang merasa berhak menghukum dan mengadili masyarakat. Kelompok agama ini biasanya tidak mau bekerja, biasanya mengemis dan hanya menjual kata-kata yang mereka klaim sebagai “berasal dari Tuhan” atau kata-kata yang berharga karena “mereka adalah perwakilan Tuhan”, sang penguasa langit.
  • Sangat membenci hubungan kasih sayang antara laki-laki dan perempuan. Memuja budaya “asketisme” (mengharamkan hubungan laki-laki dan perempuan/anti hubungan antara laki-laki dan perempuan/anti hubungan lawan jenis), akan tetapi besifat mendua akan hubungan seksual sesama jenis (homoseksual) terutama antara laki-laki dengan laki-laki. Perkawinan adalah merupakan urusan kelompok agama dan harus mendapatkan “izin” dari kelas “penguasa agama” dan keluarga seringkali tidak berwenang menentukan hal ini. Hubungan badan antara laki-laki dengan perempuan dianggap suatu yang hina atau “mesum” atau sebagai salah satu ungkapan daripada “perbuatan setan”. Akan tetapi hubungan badan antara laki-laki tidak mendapatkan tantangan dan sama sekali tidak dibahas atau bahkan diberlakukan sikap mendua untuk hal tersebut seperti banyak yang terjadi di kalangan kelompok penguasa-penguasa agama dan kelompok-kelompok tukang perang/ksatria. Karena itulah masyarakat patriarchal akrab dengan perilaku seksual yang aneh-aneh, tidak alamiah ataupun brutal/biadab seperti seperti “pelacuran” (baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak), istri/suami simpanan (konkubin), homoseksualitas, pederasty/paedophile (seks dengan anak kecil), harem/poligami, bestialitas (seks dengan binatang), nekrofilia (seks dengan mayat), sadomasokisme (seks dengan menggunakan kekerasan) dan pemerkosaan (terhadap laki-laki/perempuan dan anak-anak).
  • Anak adalah mahluk yang tidak dihargai dan dihormati keberadaannya. Mereka dijadikan budak/sebagai obyek seksual perkosaan dan paedophile/pederasty. Kalau tidak mempunyai “Bapak”, tidak diakui keberadaannya dan dianggap sebagai “anak haram” dan dinistakan. Dibunuh pada saat dilahirkan atau di dalam kandungan karena mereka adalah anak perempuan atau karena Ibu yang mengandung mereka dinistaka oleh masyarakat karena “tidak ada suami”. Masyarakat Patriarchal akrab dengan konsep-konsep yang menistakan anak-anak seperti anak haram, anak tidak ber-Bapak. Anak sangat tidak dihormati kelahiran dan keberadaannya, dihormati hanya karena “siapa Bapaknya”. Ketika “siapa Bapaknya” tidak jelas maka ternistalah mereka. Masyarakat patriarchal akrab dengan budaya pembunuhan anak-anak, karena kekejian masyarakat terhadap perempuan hamil yang menyebabkan sang Ibu menggugurkan bayi dengan paksa atau karena konsep anak perempaun yang tidak ada harganya jika dibandingkan dengan anak laki-laki.
  • Akrab dengan konsep anak berdasakan kelaminnya. Karena itulah anak laki-laki maupun perempuan adalah tidak sama dihormati dan tidak sama dihargai. Akrab dengan budaya pembunuhan anak perempuan karena kelamin anak laki-laki lebih dihargai daripada kelamin anak perempuan. Anak adalah “siapa Bapaknya” dan tidak dihargai sebagai bakal individu.
  • Perempuan dalam bentuk ekstrimya adalh “siapa suaminya” (siapa yang memilikinya). Dalam budaya Hindu India yang sangat membenci perempuan, kalau suami dari seorang perempuan meninggal dunia, maka si perempuan (sebagai hak milik suami) harus ikut mati juga. Sang janda ini berdasarkan filsafat Hindu, dibunuh setelah suaminya mati. Ketika budaya ini dicoba dihapuskan oleh penjajah Inggris, pembunuhan perempuan janda ini mulai hilang. Akan tetapi sampai sekarang tetap saja janda-janda Hindu di India harus menerima nasib dinistakan karena status “janda”nya.
09
Jun
08

Poligami dan Korban-korbannya

Kalau kita berbicara soal Islam, maka hampir otomatis yang dimaksud adalah peremuan berjilbab dan keharusan berpoligami bagi “laki-laki gatal” atau laki-laki soleh. Berbusa-busa sudah mulut para cendekiawan muslim dalam menerangkan soalan mengenai “ayat tentang poligami” dan berjuta-juta lembar buku, artikel dan tulisan-tulisan mengenai poligami dan kerudung (jilbab, abaya, burqa dan kawan-kawannya), yang menyatakan bahwa hal itu bukan hakikat atau ajaran Islam, tetap saja para fundamentalis Islam dan para pengikut bertahan pada “aturan kerudung dan poligami” ini. Saya tidak akan memasuki debat kusir yang cuma akan menghabiskan tenaga dengan orang-orang tidak punya otak yang hanya berfikir tentang pemuasan alat kelamin laki-laki ini, tetapi saya akan berbicara mengenai korban-korban poligami dan budaya poligami pada suku bangsa-suku bangsa dunia lainnya. Tidak hanya perempuan menjadi korban daripada poligami, laki-laki dan anak-anak justru yang menjadi korban utama dari tatanan “perkawinan” patriarchat ini. Dan tidak seperti anggapan orang banyak yang selama ini kita dengar bahwa poligami adalah budaya khas Islam, budaya-budaya patriarchat dunia lainnya mengenal praktek poligami ini. Saya tidak akan terlalu banyak berbicara tentang budaya-budaya patriarchat dunia yang menerapkan poligami melainkan korban-korban daripada poligami.

Laki-laki korban poligami

Laki-laki, tidak dapat disangkal lagi, adalah korban utama daripada poligami. Ah, kok bisa? Laki-laki yang tidak menyetujui poligami kebanyakan tidak berdaya untuk menyatakan ketidak setujuannya karena tidak punya alasan untuk itu. Menurut pendapat “hampir semua orang”, laki-laki selayaknya tidak memprotes kampanye poligami ini, karena “laki-laki adalah pihak yang diuntungkan”. Bukannya enak bisa berhubungan badan dengan lebih dari satu perempuan? Tapi, apa bisa semua laki-laki berhubungan badan dengan lebih dari satu perempuan? Jawabannya ternyata adalah tidak. Berikut kita lihat mengapa.

75% Laki-laki Tidak Akan Mendapatkan Pasangan

Menurut banyak laki-laki (dan juga perempuan) pendukung poligami, yang masih malu-malu menyatakan dukungannya untuk poligami, poligami diperlukan karena jumlah perempuan lebih banyak daripada jumlah laki-laki. Jadi untuk menghindarkan perempuan yang tidak mempunyai suami, maka perlulah poligami ini dijalankan. Pendapat ini misalnya diyakini dengan sangat oleh “penguasa PKS”, Hidayat Nur Wahid. Ternyata mereka mendasari pendapat gila ini dari hasil penghitungan jumlah penduduk laki-laki dan perempuan. Jumlah perempuan daripada hasil statistik ini memang sedikit lebih tinggi, walaupun kadang-kadang lebih rendah. Jumlah prosentasi perempuan di Indonesia berkisar antara 48%-52%, dibanding jumlah laki-lakinya. Ini tidaklah aneh. Dari hasil penelitian-penelitian dalam bidang ilmu biologi terutama ilmu genetika menunjukkan bahwa jumlah laki-laki dan perempuan akan selalu berkisar sekitar 50%-50%. Jadi jumlah statistik ini adalah normal, karena tidak beda jauh.

Sekarang pertanyaannya adalah apa yang menyebabkan perbedaan statistik jumlah laki-laki dan perempuan di dunia? Dari hasil penelitian ilmu-ilmu alam dan sosial ditemukan bahwa perempuan adalah mahluk yang lebih kuat daripada laki-laki. Pengertian kuat disini adalah bukan dalam pengertian bertinju cara petinju kelas berat seperti Mike Tyson, melainkan dalam hal menahan sakit, mental dan ketahanan tubuh. Perempuan mungkin “lemah” dalam hal tinju-bertinju seperti berusaha ditekankan para pendukung ideologi perempuan adalah mahluk lemah, akan tetapi mereka “kuat” dalam hal hal yang berhubungan dengan penderitaan hidup, rasa sakit dan emosi. Perempuan sejak haid pertama, telah terbiasa (dan akhirnya terlatih) dengan rasa sakit melalui haid yang datang tiap bulan, mengandung dan melahirkan anak. Secara mental perempuan juga lebih bisa menghadapi stress dan tidak mudah terjerumus ke dalam kebiasaan buruk yang menyebabakan ketagihan dan kerusakan mental dan tubuh. Karena itulah mereka umunya, kalau tidak sengaja dibunuh atau karena kecelakaan, biasanya masa hidupnya lebih panjang. Di Indonesia belum ada budaya membunuh bayi atau anak-anak perempuan seperti banyak terjadi di India dan Cina yang berbudaya Ultra-Patriarchat. Dari sinilah asal kelebihan dalam statistik di atas. Nilai lebih sekitar 2% ini datang dari perempuan-perempuan tua atau “nenek-nenek metal” :) yang masih kuat hidup, bahkan sampai di atas usia 100 tahun, seperti Inyiak Upiak Palatiang yang sampia sekarang masih hidup dalam usianya yang menjelang 106 tahun, dan yang terkenal sebagai pandeka silek (Indon. pendekar silat) dan masih aktif bekerja di sawah, mengarang lagu dan menggubah musik serta sebagai dukun anak. Jadi dengan alasan perempuan lebih banyak daripada laki-laki semestinya laki-laki gatal ini kawin dengan nenek-nenek kuat ini :) . Karena perempuan muda jumlahnya hampir selalu persis sama dengan laki-lakinya, yaitu 50%-50%. Kalau laki-laki gatal ini mengatkan bahwa mereka berhak atas 4 istri, maka calon istri daripada laki-laki lainnya akan mereka ambil. Karena laki-laki cuma bisa berpasang-pasangan karena prosentasi yang sama. Kalau 25% laki-laki Indonesia berpoligami atau beristri 4 seperti katanya “diharuskan” oleh Islam, maka tidak ada lagi perempuan yang tersisa. Semua sudah dikawini oleh laki-laki gatal yang cuma terdiri dari 25% dari keseluruhan laki-laki yang ada. Jadi para laki-laki, sekitar 75%, harus siap-siap untuk tidak mendapatkan istri atau pasangan hidup. Dan siap-siaplah untuk mencari istri di luar negri, atau menjadi homoseksual, bila poligami jadi diterapkan, yang tampaknya akan terjadi kalau Partai Islam seperti PKS (Partai Keadilan Sejahtera) menang dan bekerja sama dengan tentara.

Laki-laki Tidak Kaya

Para laki-laki yang tidak sanggup membiayai 4 istri dan entah berapa banyak anak-anak yang akan lahir dari “perkawinan gila” ini jelas cenderung tidak akan mendapatkan istri karena laki-laki beruanglah yang akan mendapatkan 4 istri karena bsia membiayainya. Hamzah Haz, Gymnastiar, Puspo Wardoyo, Rhoma Irama dan presiden Sukarno adalah contoh-contoh daripada “laki-laki beruang” yang bisa membiayai lebih dari satu istri. Hamzah Haz lewat korupsi, Gymnastiar lewat jualan dakwah, Puspo Wardoyo lewat usaha jualan ayam gorengnya (yang herannya masih dikunjungi orang), Rhoma Irama lewat “jualan suaranya” serta Sukarno sebagai “penguasa Indonesia” selama sekitar 20 tahun. Laki-laki yang penghasilannya pas-pasan atau hanya cukup untuk membiyai 1 istri atau bahkan cukup untuk membiayai diri sendiri atau bahkan yang dibiayai oleh istri, harus siap-siap gigit jari, karena tidak akan ada perempuan lagi yang tersisa.

Seharusnya para laki-laki memboikot laki-laki egois penghianat kaum laki-laki ini dengan jalan tidak memilih partai yang diwakili Hamzah Haz, tidak membeli lagi dagangan Gymnastiar, atau tidak lagi berkunjung ke restoran Puspo Wardoyo.

Dan memang dari sejarahnya poligami adalah hampir selalu hak istimewa dari kalangan pen guasa, baik itu sultan-sultan di Arab dan di Turki yang haremnya bisa berjulah ribuan perempuan, atau kaisar Cina yang haremnya hampir sama dengan sultan-sultan Arab, atau sultan-sultan dan raja-raja Jawa yang beristri banyak. Dalam budaya-budaya ini, laki-laki tidak beruanglah atau yang terpaksa bekerja untuk laki-laki elite dan penguasalah yang akan menjadi korban. Di keraton Cina, laki-laki yang berkerja untuk kaisar Cina harus dipotong buah pelir dan kemaluannya agar “tidak menganggu atau berhubungan badan” dengan istri-istri kaisar. Demikian pula yang terjadi pada kesultanan-kesultanan Arab dan kerajaan-kerajaan di India. Jadi wahai laki-laki, kalau solider dengan sesama laki-laki dan ingin mendapatkan pasangan, boikotlah laki-laki gatal, egois dan penghianat laki-laki ini. Bekerjasamalah dengan perempuan yang juga akan menjadi korban poligami untuk memerangi perkawinan setan ini.

“Adil” dan “Tidak Zina”

Alasan daripada diberlakukannya poligami adalah kalau bisa adil terhadap ke 4 istri maka boleh berpoligami dan untuk menjaga agar tidak terjadi “zina”. Pengertian zina juga tidak jelas. Jadi laki-laki gatal seperti Hamzah Haz, Gymnastiar dan Puspo Wardoyo menganggap dirinya adil! Padahal adil adalah suatu ideal yang ingin dicapai ileh manusia, tapi tidak seorangpun di dunia yang bisa adil. Bahkan Islam sendiri menyatakan bahwa hanya Tuhan yang bisa adil dan maha adil. Manusia adalah mahluk yang seringkali khilaf. Kalau begitu siapa mereka ini. Apakah mereka berfikir bahwa mereka sudah sama dengan Tuhan, yang bisa adil? Berarti mereka sirik, menganggap dirinya setara dengan Tuhan yang Adil. Padahal di hati mereka tersimpan buah dada, dan tubuh yang montok dari istri yang lebih muda dan biasanya yang lebih sering dikunjungi adalah istri yang muda. Adil? Ah, cuma gatal-gatal saja kemaluan bapak-bapak ini. Istri Gymnastiar sampai pingsan-pingsan, karena ketidakadilan dan dusta Gymnastiar, istri-istri dari Puspo Wardoyo jelas-jelas perempuan bodoh, terlihat dari air mukanya, yang cuma bisa menurut saja dan tidak bisa mengartikan apa itu adil. Hamzah Haz, wah jelas-jelas laki-laki berkuasa di salah satu partai Islam, istrinya harus tutup mulut dong kalau ada urusan mengenai keadilan. Apakah itu yang menyangkut soal-soal jatah kelamin Hamzah Haz sampai jatah keuangan perbulannya. daripada bikin malu.

Satu lagi alasan yag paling menggelikan adalah poligami perlu adalah agar tidak “zina”. Kalau kita bertanya kepada mereka apa arti “zina”, jawabannya tidak pernah jelas. Tapi kira-kira pengertian zina seperti ini: kalau laki-laki dan perempuan berhubungan badan dengan izin penguasa agama walaupun untuk cuma beberapa jam seperti banyak terjadi di Iran (yang dikenal dengan istilah kawin mut’ah) atau di Arab Saudi (yang dikenal dengan kawin “Al Misyar”), maka itu tidak dianggap “zina”. Kawin “mut’ah” atau “al misyar” ini saya lihat sebagai pelacuran. Demikian juga penilaian daripada orang-orang lainnya yang mendasarkan perkawinan pada cinta dan kekeluargaan. Jadi bapak-bapak pengikut kepercayaan ini, bisa saja pergi ke tempat pelacuran, seperti di Iran, di Arab Saudi dan di negara-negara Arab lainnya, dan berhubungan dengan pelacur tersebut. Syaratnya cuma satu, sebelum masuk ke kamar dan berhubungan dulu, harus meminta “restu” dari penguasa agama, apapun namanya. Dan memang inilah yang diterapkan di tempat-tempat pelacuran di Arab Saudi. Ternyata prinsipnya sama saja, pergi ke pelacuran dan berhubungan seks sebebas-bebasnya bagi pihak laki-laki beruang (termasuk dengan pelacur dan anak-anak). Cuma tampaknya alasannya perlu diper-suci-kan dengan dukungan Tuhan. Laki-laki yang masih memiliki cinta kepada pasangan dan masih memiliki moral tampaknya harus waspada dengan pengertian mengambang “zina”, “mut’ah” dan “al misyar” ini. Buat saya jelas-jelas poligami adalah zina, karena tidak berdasarkan cinta kasih antara pasangan yang terdiri dari 1 laki-laki dan 1 perempuan.

Bahaya Homoseksualitas di antara Laki-laki

Para cendekiawan ilmu-ilmu sosial di Cina menghawatirkan akan meningkatnya budaya homoseksualitas yang dipercepat dengan menurunnya jumlah perempuan di Cina sebanyak 25%. Cina yang menerapkan kebijakan anak satu bagi seluruh orang Cina, telah menyebabkan calon bayi-calon bayi perempuan dibunuh sejak masih di dalam kandungan atau ketika baru dilahirkan. Alasannya adalah karena anak laki-laki di Cina jauh lebih berharga daripada dibandingkan dengan anak perempuan. Bagi keluarga-keluarga kaya, calon bayi perempuan digugurkan secara kedokteran oleh dokter setelah diketahui bahwa si calon bayi berjenis kelamin perempuan, ini banyak terjadi di kota-kota Cina yan kaya seperti Hong Kong. Pada keluarga.keluarga miskin, biasanya bayi perempuan dibunuh pada saat baru dilahirkan, atau dibiarkan mati kepanasan atau kedinginan di jalanan. Budaya membunuh anak perempuan adalah budaya yang sudah lama ada pada masyarakat Cina dan India yang menganut budaya Ultra-Patriarchat, di mana anak laki-laki lebih dihargai daripada anak perempuan. Jadi kebijakan 1 anak ini bukanlah pemicu asal daripada budaya membunuh anak-anak perempuan. Beberapa tahun yang lalu ketika jumlah laki-laki diperhitungkan sudah 25% lebih banyak daripada jumlah perempuanya, ilmuwan di Cina mengkhawatirkan meningkatnya homoseksualitas karena 25% laki-laki tidak akan mendapatkan pasangan. Indonesia mungkin belum memiliki budaya membunuh bayi perempuan, juga tidak pada masyarakat Jawa yang tergolong sangat patriarchal di Indonesia, akan tetapi dengan kebijakan poligami dan beristri 4, apalagi kalau sampai disahkan oleh negara Indonesia, maka akan ada 75% lebih banyak laki-laki yang tidak akan mendapatkan pasangan, 3 kali lebih banyak daripada Cina. Coba bayangkan kemungkinan meningkatnya budaya homoseksualitas di kalangan laki-laki. Yah, daripada sendirian…..

Jadi para laki-laki, waspadalah!!!

Anak-anak korban poligami

Sudah jadi rahasia umum, bahwa anak dari istri tua, adalah anak yang paling menderita. Karena biasanya si bapak hanya mengunjungi istri(-istri) mudanya dan tentunya anak-anak istri(-istri) mudanya. Sering kali bahkan, si bapak sama sekali tidak mengunjungi istri tuanya dan akhirnya tidak mengunjungi mereka. Masalah keuangan juga menjadi masalah utama daripada anak-anak daripada bapak-bapak gatal ini. Biasanya mereka harus hidup miskin, karena umumnya si bapak tidak lagi membiayai ibu-ibu mereka yang berlaku sebagai istri tua. Saya sendiri kenal dengan keluarga-keluarga beberapa istri tua ini. Mereka jadi miskin karena biasanya perempuan-perempuan yang mau dimadu ini adalah mereka-mereka yang tidak memiliki pekerjaan atau tergantung secara ekonomi kepada suami mereka. Yang kemudian beristri lagi.

Mereka juga harus menderita secara emosional karena pertengkaran antara orang tua mereka karena masalah-masalah soal keadilan ini, yaitu masalah kunjugan si bapak dan masalah keuangan yang tidak adil. Mereka juga harus menderita karena pertengkaran orang tua mereka, pada saat si bapak “mau kawin lagi”. Penderitaan emosional ini juga berlaku bagi anak-anak dari si istri muda.

Penderitaan mereka menjadi lebih lengkap lagi, karena mereka harus diberi panggilan: “anak istri tua” atau “anak istri muda”, yang biasanya juga mengandung penghinaan.

Perempuan Korban Poligami

Perempuan mungkin terlihat “lebih beruntung” daripada para laki-laki yang harus menghadapi bahaya homoseksualitas karena “budaya istri 4″ ini. Mereka sedikitnya “masih mempunyai suami”, walaupun untuk 1 hari 3/4 per minggunya. Kalau adil. Tapi kalau sendag rindu dengan badan suamai dan alat kelamin laki-laki, apa daya harus menderita sendirian, karena kerinduan ini datanganya tidak bisa diatur ketika “jatah kunjungan” yang 1 hari 3/4 itu tiba. Yah akhirnya kalau tidak makan hati karena cemburu (karena membayangkan alat kelamin si suami sedang berada di dalam alat kelamin istri lain dari sang suami) dan gelisah karena ingin bemesraan dengan suami, pilihan lainnya yah masturbasi sendirian atau serong. Jadi buat apa dong punya suami, kalau musti mastrubasi sendirian atau makan hati? Jadi para perempuan hati-hati kalau bilang poligami adalah ajaran agama. Dengan pernyataan ini anda menggali lubang sendiri dan juga lubang kubur perempuan-perempun lainnya yang bernasib sama.

Suami yang berpoligami biasanya juga pergi ke pelacuran, atau serong. Kan dilarang agama? Kata siapa? Kan ada “nikah mut’ah atau al masyar”, yang cuma perlu beberapa jam, cukup untuk berhubungan seks saja. Dan itu sudah sempat jadi trend kok di Indonesia. Jadi alat kelamin suami anda sudah masuk ke alat kelamin perempuan lainnya yang berisiko punya penyakit kelamin. Jadi kalo tidak mau kena penyakit kelamin jangan mau di poligami. Penyakit kelamin juga bisa berasal dari “madu” anda sendiri. Kalau mereka tidak higienis dengan alat kelamin mereka, mereka akan menularkannya kepada anda lewat kelamin suami anda. Masakan anda tidak takut? Kelamin suami anda sudah masuk ke 3 kelamin perempuan lainnya dan mungkin juga ke kelamin pelacur yang kemungkinan besar sudah kena penyakit kelamin? Ah, coba pikir-pikir lagi deh. Mungkin ada “tidak cemburu” karena dijanjikan surga, tapi anda harus pikir soal penyakit kelamin ini. Ini masalah serius.

Kemungkinan besar para perempuan akan frustasi seumur hidup karena tidak mendapatkan kepuasan sangat besar. Pertama sebagian besar laki-laki menderita penyakit ejakulasi prematur (hasil dari penelitian di bidang kedokteran). Dan walaupun ini “bisa disembuhkan”, karena budaya patriacrhat yang menyebabkan laki-laki sangat egois dan menganggap bahwa perempuan adalah alat seks dan tidak perlu mendapatkan orgasme, tidak banyak laki-laki yang mau menyembuhkan dirinya, walupun mereka nyata-nyata sakit secara seksual. Sekarang ditambah lagi dengan “berhubungan seks dengan 4 istri. Sudah loyo tapi punya istri 4! Yah, akhirnya seumur hidup (kalau anda tetap mau kawin terus dengan laki-laki gatal ini), anda dan madu-madu anda cuma jadi pemuas nafsu suami anda yang gatal dan egois.

Saya juga tidak yakin anda bisa “tidak cemburu” dan bahwa tidak akan ada pertengkaran dengan madu-madu anda soal waktu, kunjungan dan masalah keuangan, dan lain-lain. Kalau anda masih juga ingin dimadu, karena ingin masuk surga, masih banyak cara untuk bisa masuk surga. Dimadu adalah jalan paling hina dan rendah untuk masuk surga, masih banyak cara-cara lain. Menolong orang banyak yang miskin, yatim piatu dan lain-lain kegiatan sosial. Masuk surga karena dimadu juga tidak jelas asal-usulnya. Yang jelas alam/Tuhan menciptakan perempuan tidak 4 kali lebih banyak dari laki-laki yang memungkinkan Tuhan menyuruh anda untuk berbagi satu laki-laki dengan 3 perempuan lainnya. Akan tetapi sudah jelas Tuhan menciptakan manusia, laki-laki dan perempuan untuk hidup berpasang-pasangan karena hanya ada 1 perempuan untuk 1 laki-laki agar semuanya bisa berpasang-pasangan.

Kalau anda tetap berkeras untuk di poligami, maka saya cuma akan katakan anda adalah perempuan yang berbahaya untuk perempuan lainnya, untuk kebanyakan laki-laki dan untuk anak-anak.

Penutup

Susilo Bambang Yudhoyono tampaknya akan mencoba mendapatkan dukungan dari kelompok Islam fundamentalis yang salah satu isu utamanya adalah mengesahkan poligami. Dia sudah menunjukkan “restunya” akan budaya poligami ini lewat komentarnya yang memuji-muji propaganda poligami daripada film “ayat-ayat cinta”, yang buat saya judulnya adalah ayat-ayat setan, karena akibat-akibat menyeramkan yang akan terjadi terhadap laki-laki, anak-anak dan perempuan. Penguasa PKS sendiri yang jelas-jelas memiliki link ke setan dunia Arab Saudi, dan ke kelompok Fundamentalis Islam Mesir, Muslim Brotherbood, Hidayat Nurwahid, telah mengatakan jelas-jelas bahwa dia menyukai buku “ayat-ayat setan”.

Dan seperti telah ditunjukkan oleh Pakistan, Arab Saudi, Iran, dan lain-lain negara Islam, kombinasi antara kelompok penguasa negara dengan kelompok penguasa Islam adalah sangat berbahaya. Akan semakin berbahaya lagi apabila kombinasi ini ditambah dengan pengusa dari militer, yang sedang terbentuk di Indonesia, dibantu dari dana dan kampanye lewat media luar negri.

Laki-laki tidak gatal dan tidak egois serta perempuan normal harus hati-hati menyikapi isu poligami, pemilu 2009 dan partai Islam. Anda akan menjadi korban, baik anda laki-laki atau perempuan, apabila tentara dan kelompok Islam fundamentalis menguasai panggung politik.

Bagi orang-orang Minangkabau haru diingat bahwa apapu hsailnya ternd yang terjadi sekrang ini adalah bisa merupakan akhir dari Budaya Minangkabau. Kombinasi Islam fundamentalis (Jawa), tentara (Jawa)dan Arabisme/Wahabisme adalah sangat berbahaya. Kita semua telah tahu bahwa politik tidak bisa diserahkan kepada partai politik, karena permainan setan dan busuk yang terjadi di dalamnya. Politik adalah merupakan tanggung jawab kita semua, bukan milik partai politik, apalagi partai politik Islam yang mewakili kepentingan Arb Saudi/Arabisme/Wahabisme dan karenanya juga penguasa dunia, walaupun mereka berdalin apapun ataupun bermuka manis seperti Hidayat Nurwahid.

Harus diingat bahwa didalam orang-orang PKS ada agenda untuk menghancurkan budaya matriarchat Minangkabau dan menghancurkan “Islam versi Minangkabau” yang katanya tidak sejalan dengan hukum Islam. Perlu diingat bahwa Islam, Jawa dan Arab Saudi adalah budaya-budaya patriarchat dunia yang kejam yang selalu bertujuan untuk menghabisi budaya matriarchat.

Media nasional maupun internasional telah dipelintir untuk “cuma
“meliput urusan-urusan kelamin dan kekerasan dan “agama”, seperti kasus Inul dan Undang Undang Anti Pornografi, pembiaran kekerasan dari kelompok-kelompok Islam fundamentalis seperti FPI dan lainnya, pelarangan kelompok agama tertentu dan “pengharaman oleh negara” karena desakan satu kelompok ynag merasa mewakili “Islam yang benar” pada kelompok Ahmadiyah yang baru-baru ini terjadi, serta kasus “ganyang Malayisa”. Kita tahu bahwa alasan “Islam yang benar” telah depergunakan untuk membunuh jutaan orang Islam di seluruh dunia. Semestinya Indonesia mengatakan “ganyang Arab Saudi” yna gtelah membunuhi perempuan-perempuan Indonesia yang bekerja di sana, dan ynag telah membiayai para fundamentalis Islam di Indonesia.

Urusan-urusan ynag benar-benar penting seperti masalah kekurangn pangan, nasib Indonesia setelah perdagangan bebas di terapkan, kembalinya kekuasaan militer di Indonesia, kekerasan oleh negara di Universitas Nasional, “deal-deal” tentara dengan penguasa dunia Amerika Serikat, dikesampingkan begitu saja.

Semua harus menderita karena ada sekelompok laki-laki yang beruang dan “berkuasa” yang ingin memuaskan alat kelaminnya saja. Contohnya sudah jelas: Arab Saudi.




 

Mei 2012
S S R K J S M
« Agu    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 48,659 hits

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.