Posts Tagged ‘Arab Saudi

23
Nov
10

Pangeran Homoseksual dari Arab Saudi, Sang Pembunuh dan Penganiaya Pembantu Laki-laki

Dibawah ini bisa disaksikan rekaman CCTV daripada pemukulan dan penganiayaan yang dilakukan oleh seorang pangeran Arab Saudi yang bernama Saud Abdulaziz Bin Nazzer Al Saud terhadap pembantu laki-lakinya yang bernama Bandar Abdulaziz yang berakhir dengan penganiayaan seksual dan pembunuhan sang pembantu. Sang pangeran adalah cucu daripada raja Arab Saudi Ibn Saud dan anak laki-laki dari kemenakan Raja Arab Saudi, Abdullah.


Gay Saudi Prince Murder Black Lover

Untuk lebih jelasnya, tulisan dari VIVANews berikut memberitakan rinican mengenai peristiwa pembunuhan, penyiksaaan serta penganiayaan seksual dari seorang pangeran gay yang berasal dari negara yang termasuk negara-negara yang telah dan selalu menjalankan Syariat Islam.

VIVAnews - Seorang pangeran dari Arab Saudi dinyatakan bersalah membunuh seorang pembantunya, yang juga menjadi korban kekerasan seksual, di London, Inggris. Maka, terpidana bernama Saud Abdulaziz Bin Nasser Al Saud itu terancam hukuman penjara seumur hidup di Inggris.

Demikian keputusan dewan juri sidang pengadilan di London, Selasa 19 Oktober 2010, seperti yang diungkapkan stasiun televisi CNN. Pada sidang Rabu, 20 Oktober 2010, hakim akan menentukan hukuman bagi Saud, yang bersalah atas dakwaan pembunuhan dan penganiayaan fisik secara memilukan. Namun, menurut undang-undang di Inggris, hukuman maksimal bagi pelaku kasus pembunuhan adalah penjara seumur hidup.

Saud masih punya hubungan kerabat dengan keluarga penguasa Kerajaan Arab Saudi. Pria berusia 34 itu merupakan putra dari keponakan Raja Arab Saudi, Abdullah, sehingga bergelar pangeran.

Pembantu Saud yang menjadi korban bernama Bandar Abdulaziz. Berusia 32 tahun, Abdulaziz adalah yatim piatu yang diadopsi oleh seorang keluarga kaya dan bekerja untuk Saud dalam tiga tahun terakhir.

Abdulaziz ditemukan tewas dengan luka pukulan dan cekikan di dalam kamar hotel Landmark di distrik Marylebone, London, pada 15 Februari 2010. Aksi kekerasan pelaku kepada korban terekam dalam kamera CCTV yang dipasang di suatu elevator hotel pada Januari 2010. Tayangan CCTV itu turut menjadi alat bukti untuk memberatkan Saud.

Dalam sidang Selasa lalu, terdakwa tidak menyangkal kasus pembunuhan yang menjeratnya. Dia pun tidak menunjukkan reaksi saat juri membacakan putuan.

Pejabat Kepolisian Metropolitan London, John McFarlane, mengungkapkan bahwa Saud berupaya mengarang cerita mengenai kematian korban saat ditanya selama sidang. “Saat dipastikan bahwa keterangannya tidak berdasar, dia lalu berupaya mendapatkan kekebalan diplomatik, namun dia tidak layak mendapatkannya,” kata McFarlane.

Salah satu kebohongan yang dilontarkan Saud adalah menyatakan bahwa korban sempat diserang oleh perampok tiga pekan sebelumnya sehingga di tubuhnya terdapat luka lebam.

Namun, laporan pengadilan menyebutkan bahwa Abdulaziz ditemukan di tempat tidur dengan luka pada mata, bibir, gigi, telinga, otak, leher, pungung, dada, dan perutnya. Pada pipinya juga terdapat bekas gigitan yang disebut pengadilan sebagai bukti bentuk pemaksaan seksual.

Jaksa penuntut, Jonathan Laidlaw, mengatakan bahwa luka tersebut kebanyakan disebabkan oleh pukulan keras pada kepala dan wajahnya. Pukulan yang mengakibatkan luka parah ini diduga dilakukan sebelum dia mati.

Bekas darah yang ditemukan di kamarnya jelas menunjukkan bahwa korban telah menjadi sasaran penyiksaan sebelum dia akhirnya terbunuh,” ujar Laidlaw.

***

Tulisan ini merupakan postingan ke-13 di blog ini mengenai rencana pelaksanaan Kongres Kebudayaan Minangkabau 2010 atau yang dikenal sebagai KKM 2010 oleh para patriarch Minangkabau seperti Saafroeddin Bahar dan Mochtar Naim.

Tulisan ini juga berkenaan dengan perbuatan-perbuatan biadab kaum Padri sekitar 200 tahun yang lalu terhadap orang Minangkabau dan budaya Minangkabau, serta usaha-usaha patriarkalisasi budaya Minangkabau yang berlangsung secara terus menerus, yang sudah dimulai jauh-jauh hari sebelum masa kaum Padri dan yang masih terus berlanjut sampai sekarang. Kini usaha-usaha itu menjadi semakin intensif dan memiliki beragam motif; mulai dari penjinakan masyarakat Minangkabau oleh bapak-bapak penguasa Republik Indonesia sampai kepada isu-isu seperti penerapan Syariat Islam, kekhalifahan Islamiyah , arabisasi, arab-saudisasi maupun peng-Islam-an orang Minangkabau lebih lanjut yang dianggap belum menjalankan “Islam yang benar”, “orang Minangkabau dan budaya Minangkabau yang Jahiliyah” dan lain-lain ungkapan penistaan terhadap budaya Minangkabau dan orang Minangkabau.

Kajian mengenai masyarakat Arab Saudi akan membantu dalam penyelesaian kasus-kasus penganiayaan, penyiksaan, pembunuhan, pemerkosaan serta perbuatan-perbuatan biadab terhadap Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi serta negara-negara Arab lainnya yang dikenal sebagai TKW (Tenaga Kerja Wanita) Indonesia seperti kasus Sumiati dan Kikim yang baru-baru ini terjadi

19
Nov
10

Patrialis Akbar: Penganiaya TKI di Arab Biadab

Patrialis mengingatkan pentingnya seleksi terhadap para majikan di Arab Saudi.

VIVAnews – Kasus kekerasan Tenaga Kerja Wanita yang berujung pembunuhan sudah sangat di luar batas kemanusiaan. Pemerintah mengusulkan dilakukan seleksi majikan.

“Perbuatan penganiayaan dan pembunuhan itu biadab semua,” kata Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar sebelum rapat membahas TKI dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Kantor Presiden, Jakarta, Jumat 19 November 2010.

Pernyataan Patrialis ini terkait tewasnya Kikim Komalasari binti Uko Marta, TKW asal Cianjur, Jawa Barat, yang diduga tewas dibunuh majikannya di kota Abha, Arab Saudi. Jenazah korban ditemukan tiga hari sebelum Idul Adha di sebuah tong sampah umum.

Menurut Patrialis, pemerintah Arab Saudi juga mengutuk perbuatan biadab itu. Patrialis mengingatkan pentingnya seleksi terhadap para majikan di Arab Saudi.

Sakit saraf apa tidak. Kalau mereka ingin TKI dari Indonesia semestinya harus memperoleh rekomendasi dari pemerintahnya bahwa ini cocok punya pembantu. Jangan mereka anggap pembantu sebagai budak,” kritik Patrialis.

Patrialis belum mengetahui status terakhir majikan korban. Yang jelas, kata dia, perlindungan maksimal dari negara harus diberikan. Tidak hanya kepada TKI, tapi juga seluruh warga negara RI dimanapun berada.

***

Tulisan ini merupakan postingan ke-12 di blog ini mengenai rencana pelaksanaan Kongres Kebudayaan Minangkabau 2010 atau yang dikenal sebagai KKM 2010 oleh para patriarch Minangkabau seperti Saafroeddin Bahar dan Mochtar Naim.

Tulisan ini berkenaan dengan perbuatan-perbuatan biadab kaum Padri sekitar 200 tahun yang lalu terhadap orang Minangkabau dan budaya Minangkabau, serta usaha-usaha patriarkalisasi budaya Minangkabau yang berlangsung secara terus menerus, yang sudah dimulai jauh-jauh hari sebelum masa kaum Padri dan yang masih terus berlanjut sampai sekarang. Kini usaha-usaha itu menjadi semakin intensif dan memiliki beragam motif; mulai dari penjinakan masyarakat Minangkabau oleh bapak-bapak penguasa Republik Indonesia sampai kepada isu-isu seperti penerapan Syariat Islam, kekhalifahan Islamiyah , arabisasi, arab-saudisasi maupun peng-Islam-an orang Minangkabau lebih lanjut yang dianggap belum menjalankan “Islam yang benar”, “orang Minangkabau dan budaya Minangkabau yang Jahiliyah” dan lain-lain ungkapan penistaan terhadap budaya Minangkabau dan orang Minangkabau.

Patrialis Akbar adalah orang Minangkabau asal kota Padang yang kini menjabat sebagai Mentri Hukum dan HAM. Ia juga adalah seorang politisi dari PAN.

01
Okt
10

Islam, Afghanistan dan Pedofilia/Pederasty

Beberapa video berikut ini memperlihatkan industri seks di Afghanistan yang dikenal sebagai Bacha Bazi. Bacha Bazi dalam bahasa Afghanistan berarti anak laki-laki penari (en. dancing boys). Industri seks ini melibatkan anak laki-laki di Afghanistan  yang belum memiliki brewok/bulu di wajah dan laki-laki dewasa yang memiliki brewok/bulu muka yang menjadi pelanggannya.

Bacha bazi

Ignored by society, Afghan dancing boys suffer centuries-old tradition

Tidak diurus oleh masyarakat Afghanistan, anak laki-laki penari di Afghanistan menderita karena tradisi yang telah berumur ratusan tahun

***

Sebenarnya tidak ada salahnya jika anak laki-laki menari. Dalam budaya matriarkat yang tidak mengenal „konsep pemisahan gender“ dan tidak berasarkan kepada „konsep gender“ yang ekstrim dalam menilai segala sesuatu, baik laki-laki maupun perempuan mengenal tari-tarian dan menari. Masyarakat matriarkat baik Minangkabau di Indonesia maupun Mosuo di Cina mengenal budaya tari yang dilakukan oleh kedua-dua jenis kelamin.

Lalu apa yang membedakan Bacha Bazi Afghanistan ini dengan anak laki-laki lainnya yang juga menari? Bacha Bazi tidak hanya berarti „anak laki-laki penari“ melainkan anak laki-laki penari dengan “embel-embel tertentu”. Embel-embel di sini termasuk di antaranya menari dengan berpakaian perempuan dan ber-makeup, menari di hadapan laki-laki dewasa berjanggut dan berbrewok, bekerja untuk sekelompok laki-laki yang berfungsi sebagai „germo“ atau mucikari, serta melayani nafsu seks laki-laki dewasa berjanggut dan berbrewok. Perilaku seksual ini di dunia Barat disebut sebagai pedofilia atau pederasty. Adapun polanya adalah hubungan seksual antara „bearded men“ atau laki-laki dewasa berjanggut/berbewok dengan „boys without a beard“ atau anak laki-laki yang belum berjanggut/berbewok.

Bacha Bazi di Afghanistan bukanlah hal baru, sebagaimana layaknya praktek-praktek pedofilia dan pederasty di dunia-dunia patriakal lainnya di seluruh dunia. Tradisi pedofili dan pederasty ini sudah dikenal sejak masa dunia Afghanistan beragamakan Budha dan sebelum itu. Tradisi ini berlanjut sampai sekarang di bawah kekuasaan kelompok-kelompok Islam yang dikenal dengan berbagai nama seperti Mujahidin, Taliban dan Aliansi Utara. Nama boleh berbeda, akan tetapi konsepnya tetap sama yaitu „bearded men“ dengan „boys without a beard“. Tentu saja kelompok-kelompok ini tidak bisa begitu dalam mencengkeramkan kukunya ke dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat Afghanistan, seandainya dunia Barat yang diwakili Amerika Serikat tidak memberi dukungan kepada kelompok-kelompok ini atau seandainya tidak ada dukungan-dukungan dari kelompok-kelompok Islam, termasuk -kelompok-kelompok Islam Indonesia- yang begitu mengelu-elukan kelompok-kelompok Islam di Afghanistan ini sebagai kelompok Islam yang „telah berjasa melawan Amerika Serikat“.

Akan tetapi benarkah tentara-tentara Islam ini „bertempur melawan Amerika Serikat“ untuk „kejayaan Islam“ seperti yang didengung-dengungkan selama ini? Kenyataan di lapangan tidaklah demikian. Amerika Serikat berperan serta dalam memberikan bantuan pelatihan tentara-tentara Islam yang tentunya bermanfaat untuk menjaga kepentingan Amerika Serikat di Asia Tengah khususnya dan di Eurasia pada umumnya. Tentara-tentara Islam di Afghanistan dan daerah sekitarnya seperti Pakistan bekerja sebagai kekuatan Amerika Serikat untuk melawan Uni Soviet, sebagai penjaga jalur pipeline (jaringan pipa penyalur minyak) dari Asia Tengah yang melewati Afghanistan, serta menjaga ladang-ladang opium milik AS di Afghanistan.

Afghanistan dikenal sebagai salah satu negara yang menganut Syariah Islam sebagai dasar negaranya, disamping negara-negara Islam lainnya seperti Arab Saudi, Iran dan Pakistan . Di negara-negara ber-syariat Islam ini pulalah, yang menunjukkan kebencian dan penistaan yang mendalam terhadap perempuan, tubuh perempuan, serta hubungan kasih sayang antara perempuan dan laki-laki yang alami, homoseksualitas dalam segala bentuk termasuk pedofilia dan pederasty tumbuh subur dan menjamur.

Seluruh dunia-dunia yang beragamakan agama-agama patriarkal pernah mengenalnya. Pemeluk-pemeluk agama-agama Indo-Arya atau Indo-Iran yang kini diantaranya dikenal sebagai agama Hindu dan Budha (termasuk yang dikenal sebagai agama Budha versi Tibet yang disebut Lamaisme), serta agama-agama Semitis seperti Yahudi, Kristen dan Islam juga mengenalnya. Mengapa harus berjenggot, karena bangsa-bangsa perampok, tukang perang dan penghancur yang membawa kebiasaan ini, yang dikenal sebagai bangsa Arya yang berasal dari daerah Utara, adalah bangsa-bangsa berjenggot dan berbrewok lebat yang mempunyai kelainan seksual dengan anak laki-laki yang belum berjenggot dan berbrewok (baca: belum dewasa). Perlu dicatat bahwa tidak semua ras di dunia memiliki laki-laki yang memiliki bulu muka yang tebal. Kebanyakan mereka seperti orang-orang Indonesia bagian Barat dan Tengah, hanya memiliki sedikit (atau bahkan sama sekali tidak ada) kumis dan janggut/jenggot. Kelainan seksual ini menyebar bersamaan dengan penjajahan dari bangsa-bangsa patriarkal barbar terhadap masyarakat-masyarakat matriarkal yang memiliki kebudayaan yang maju. Pandangan hidup dan budaya daripada masyarakat matriarkal-pun diadopsi, diselewengkan dan disalahartikan oleh bangsa-bangsa barbar ini. Nilai-nilai dan pandangan hidup daripada masyarakat barbar ini kemudian lambat laun menggantikan nilai-nilai dan pandangan hidup masyarakat matriarkal yang mereka jajah. Seringkali pula, nilai-nilai serta pandangan hidup daripada masyarakat matriarkal yang terjajah ini tetap hidup berdampingan dengan nilai-nilai masyarakat patriarkal yang datang dengan maksud merampok dan menghancurkan masyarakat matriarkal yang berbudaya lebih tinggi dan lebih maju daripada mereka. Sebenarnyalah, masyarakat patriarkal tidak mengenal „budaya“ lain selain perbuatan-perbuatan biadab seperti perampokan, pembunuhan, pembantaian, peperangan, penyiksaan, phallokrasi (penyembahan alat kelamin laki-laki), dan bermacam-macam kelainan seksual. Salah satu diantaranya adalah homoseksual laki-laki dalam bentuk yang paling asalnya yaitu pedofilia/pederasty. Tentu saja kelainan seksual ini, tidak pernah dianggap sebagai kelainan seksual di dunia-dunia patriarkal seperti dunia Barat dan dunia Islam yang sejak masa awal masa penaklukannya sangat kental dengan praktek-praktek pedofilia dan pederasty.

Pedofilia sendiri adalah istilah yang berlaku secara umum untuk penyimpangan seksual daripada orang dewasa terutama laki-laki dewasa yang memakan korban baik anak laki-laki maupun anak perempuan yang masih kecil. Sedangkan pederasty merupakan istilah yang dipakai untuk praktek homoseksualitas kaum laki-laki dewasa yang memiliki bewok/bulu muka terhadap anak laki-laki remaja yang belum atau sedang beranjak dewasa dan belum memiliki bewok. Dengan menyebarnya perilaku pederasty ini ke bangsa-bangsa lainnya di dunia dimana laki-lakinya tidak memiliki bewok/bulu muka, persyaratannya hanya menjadi laki-laki dewasa berjenggot saja.  Pada masyarakat yang brewok atau janggut lebat sudah dianggap tidak indah lagi, kebiasaan ini berubah hanya menjadi pedofilia/pederasty antara laki-laki dewasa dengan anak laki-laki kecil/remaja.  Karena itulah tidak aneh, apabila kelompok-kelompok Islam yang dikenal sebagai (1) pembenci dan peleceh perempuan, tubuh perempuan terutama bagian-bagian yang berkenaan dengan fungsi reproduksi yang tidak dimiliki oleh kaum laki-laki, (2) pembenci dan penista hubungan kasih sayang dan cinta berahi antara laki-laki dan perempuan yang alami (3) orang yang berambisi menutupi seluruh tubuh perempuan dan memenjarkan/mengkandangkan perempuan di rumah (4) orang yang berambisi menyebarkan poligami (lebih tepatnya poligini) di kalangan orang Islam, tidak mengatakan apa-apa melawan perilaku homoseksualitas -terutama ditengah-tengah kaum laki-laki-,  dalam segala bentuknya di negara-negara Islam, negara-negara yang telah menerapkan syariat Islam, maupun kesultanan-kesultanan dan dan kekhalifahan-kekhalifahan Islam masa lalu. Poligami (baca: poligini), diperlukan dalam masyarakat yang kental dengan praktek homoseksualitas di kalangan laki-lakinya, untuk menghindarkan persoalan-persoalah masyarakat karena banyaknya kaum perempuan yang sakit karena tidak mempunyai pasangan  serta untuk menutupi kecurigaan masyarakat mengenai adanya praktek-praktek tidak senonoh yang sedang berlangsung di tengah masyarakat yang dilakukan oleh kaum laki-lakinya. Oleh karena itulah, seperti halnya Afghanistan, di negara Arab Saudi yang juga menganut syariah Islam, yang menistakan hubungan antara laki-laki dan perempuan dan dimana poligami (poligini) juga sangat didukung, tingkat homoseksualitas di kalangan laki-laki, menurut keterangan seorang penduduk Arab Saudi, sudah mencapai 50%.

Dunia Islam bukannya tidak mengenal praktek pedofilia dan pederasty pada khususnya dan homoseksual laki-laki pada umumnya. Karya-karya sastra Islam banyak memuat cerita-cerita homoseksual laki-laki. Kaum Sufi Islam mengenal praktek-praktek penyimpangan seksual yang dikenal sebagai pedofilia/pederasty, dengan pola hubungan antara guru agama yang memilki brewok (bearded men) dengan anak didiknya yang belum memiliki brewok (boys without a beard). Catatan perjalanan duta besar daripada khalifah al Muktadir yang bernama Ahmad ibn-Fadlan atau Ahmad bin Fadlan, yang dikirim untuk menemui raja Bulgaria pada zaman itu, menunjukkan praktek pedofili/pederasty yang dikenal sebagai „bearded men“ dengan „boys without a beard yang umum pada masyarakat Islam masa itu. Ahmad bin Fadlan menyatakan keheranannya terhadap perempuan-perempuan di kerajaan Bulgaria masa itu yang tidak ditutupi dengan kain (yang serupa dengan yang sekarang dikenal sebagai Abaya), dan bagaimana usahanya untuk menggoda seorang anak laki-laki yang tidak/belum memiliki bewok „boy without a beard“, menemui jalan buntu. Islam, sejak zaman kekhalifahan Islam zaman dahulu yang dibangga-banggkan oleh sekelompok orang Islam, termasuk orang Islam di Indonesia, dan yang sedang dicoba dibangkitkan kembali, ternyata adalah sistim yang sama, sistim dimana perempuan dipenjarakan dibalik kain pembungkus yang berfungsi sebagai penjara dengan dalih „moral“ atau „akhlak“, agar kaum laki-laki (baca: para patriarch) bebas berasyik-masyuk dengan sesama laki-laki dan melakukan perilaku seks menyimpang dengan anak laki-laki kecil/remaja yang dikenal sebagai  Bacha Bareesh (boys without a beard) dan Bacha Bazi (dancing boys yang berfungsi sebagai pelacur) di Afghanistan atau secara umum sebagai pedofilia/pederasty. Karena ketika perempuan yang berfungsi sebagai Ibu tidak terpenjara dan bukan termasuk para penyembah phallus, mereka akan berdaya upaya untuk menyelamatkan anak laki-laki mereka dari siksaan jahanam daripada alat kelamin laki-laki dewasa di liang dubur mereka, di mulut mereka, di tubuh kecil dan ringkih mereka serta di jiwa polos mereka. Inilah salah satu contoh daripada perbuatan biadab yang dilakukan oleh laki-laki dewasa  yang disebut kaum patriarch atau Bapak-bapak penguasa dalam masyarakat.

Dibalik kebencian terhadap perempuan, terhadap tubuh perempuan yang berkenaan dengan fungsi ke-Ibuan atau fungsi reproduksi perempuan ataupun terhadap hubungan kasih sayang dan cinta berahi yang alami antara laki-laki dan perempuan, tersimpan praktek-praktek penyimpangan seks yang biadab yang bersumber kepada penyembahan alat kelamin laki-laki (phallokrasi) yang ekstrim serta biadab dengan mengorbankan mahluk kecil yang bernama anak laki-laki, yang semestinya masih berada di pelukan Bunda mereka.

Di negara-negara Arab, sama halnya dengan di Afghanistan, laki-laki dengan laki-laki lainnya yang merupakan pasangan homoseksual bebas berpegangan tangan dan bermesraan di tempat umum, sementara kaum perempuan dipenjara di balik pakaian hitam-hitam dari atas kepala sampai ke kaki yang dikenal sebagai abaya ataupun pakaian abu-abu kebiruan di Afghanistan yang dikenal dengan nama burqa. Mereka dikandangkan di rumah, dilarang berkasih-kasihan dengan laki-laki kecuali dengan perempuan lainnya dan mendapat hukuman penjara apabila diketahui melakukan aktifitas seksual dengan laki-laki yang tidak “dengan sepengetahuan para penguasa agama”. Kenyataan ini membuat kita bertanya-tanya, apakah orang-orang Minangkabau yang tinggal di Arab Saudi dan negara-negara Arab/Timur Tengah lainnya tidak mengetahuinya? Tentu saja mereka tahu dan sangat tahu. Akan tetapi keengganan untuk mengakui bahwa Islam dan Syariat Islam tidaklah „benar“ seperti yang mereka dengung-dengungkan selama inilah, yang mendorong mereka tutup mulut dan tidak beruaha untuk memberi informasi terhadap nilai-nilai sesungguhnya yang diwakili oleh kata “Islam” di negara-negara asalnya.

Gambar laki-laki tua berbrewok dan bersorban serta anak laki-laki di atas menggambarkan hubungan yang lazim dikenal dalam Islam dan agama-agama patriarkal lainnya, yaitu pedofili/pederasty antara „bearded men„ dengan „boys without a beard“. Gambar ini telah cukup lama beredar dari grup facebook yang satu ke grup facebook lainnya dan dari pengguna facebook yang satu ke pengguna lainnya terutama di grup-grup bernafaskan Islam maupun pengguna-pengguna beragama Islam. Tidak diketahui siapa yang pertama kali menyebarkan gambar ini. Satu hal yang jelas; gambar ini dipakai untuk membiasakan orang Islam dengan gambar/konstelasi bearded men (laki-laki tua berjenggot/berbewok) dengan boys without a beard (anak laki-laki muda/remaja yang belum berjenggot). Usaha-usaha untuk menerapkan syariat Islam, meng-Islam-kan suatu masyarakat sejak zaman yang disebut sebagai zaman kekhalifahan Islam serta zaman keemasan Islam, sampai sekarang selalu mengikuti pola yang sama. Pemenjaraan perempuan di balik pakaian-pakaian yang bersifat penjara bagi aktifitas-aktifitas daripada kasih sayang yang  alami, penistaan tubuh perempuan, penistaan bagian-bagian tubuh perempuan yang berhubungan dengan fungsinya sebagai Ibu, pemenjaraan perempuan di rumah, penyebarluasan poligami, penistaan hubungan laki-laki dengan perempuan yang alami yang kemudian diakhiri dengan penyebarluasan gambar-gambar dan konsep-konsep mengenai pedofilia/pederasty secara khususnya dan homoseksualitas di kalangan laki-laki pada umumnya.

Ketika orang-orang Islam dan kelompok-kelompok Islam mengklaim bahwa Islam adalah agama yang „benar“ dan bahwa Islam adalah „korban“, sudahkah mereka mempelajari dan mengkaji sejarah Islam, pemikiran-pemikiran daripada “pemikir-pemikir Islam” termasuk para penganut pedofilia/pederasty, kebiadaban-kebiadaban yang dilakukan oleh orang Islam sejak zaman kekhalifahan dulu, terhadap orang-orang bukan Islam maupun terhadap orang-orang Islam sendiri, versi-versi dalam Islam, serta budaya-budaya yang mempengaruhi Islam baik yang membawa pengaruh buruk maupun yang membawa pengaruh baik? Tampaknya jawabannya sudah bisa terbaca.

***

Tulisan ini merupakan postingan ke-11 di blog ini mengenai rencana pelaksanaan Kongres Kebudayaan Minangkabau 2010 atau yang dikenal sebagai KKM 2010 oleh para patriarch Minangkabau seperti Saafroeddin Bahar dan Mochtar Naim.

Tulisan ini berkenaan dengan perbuatan kaum Padri sekitar 200 tahun yang lalu, serta usaha-usaha patriarkalisasi budaya Minangkabau yang berlangsung secara terus menerus, yang sudah dimulai jauh-jauh hari sebelum masa kaum Padri dan berlanjut terus sampai sekarang. Kini usaha-usaha itu menjadi semakin intensif dan memiliki beragam motif; mulai dari penjinakan masyarakat Minangkabau oleh bapak-bapak penguasa Republik Indonesia sampai kepada isu-isu seperti penerapan Syariat Islam, kekhalifahan Islamiyah maupun peng-Islam-an orang Minangkabau lebih lanjut yang dianggap belum menjalankan “Islam yang benar”, “orang Minang yang masih Jahiliyah ” dan lain-lain ungkapan penistaan terhadap budaya Minangkabau dan orang Minangkabau.


31
Mar
10

Obama, Penghargaan Nobel Perdamaian, dan Penghinaan Terhadap Kata Perdamaian Itu Sendiri

Obama mania dan kemenangan Obama yang menyusul sesudahnya, didorong salah satunya oleh harapan untuk melihat dunia yang lebih baik, dunia tanpa perang, dan dunia tanpa hiruk pikuk kekerasan. Dan ini banyak sedikitnya didorong oleh warna kulit hitam dari Obama. Banyak orang berharap bahwa dengan terpilihnya orang berkulit hitam, maka Amerika Serikat akan mengubah arah politiknya yang penuh dengan kekerasan dan perang, menjadi sebaliknya, sehingga perdamaian akan tercipta. Apakah itulah yang akan terjadi di dunia? Video dari youtube yang berjudul “Civilian National Security Force” di bawah ini memperlihatkan siapa sebenarnya Obama.

Dalam video ini Obama mengatakan hal berikut ini:

We cannot continue to rely only on our military in order to achieve the national security objectives that we’ve set. We got to have a civilian national security force that’s just as powerful, just as strong, just as well-funded.

Dan berikut terjemahan bebas dari saya:

Kita tidak bisa terus-menerus mengandalkan hanya pada angkatan bersenjata (baca: tukang perang dan pembunuh) kita untuk mencapai tujuan-tujuan dalamm bidang keamanan yang telah kita tetapkan. Kita harus memiliki angkatan bersenjata nasional untuk bidang keamanan yang diangkat dari orang-orang sipil yang sama berkuasanya, sama kuatnya dan sama pembiayaannya.

Pendapat bahwa “Obama adalah lebih baik dari George Bush” adalah suatu pendapat yang sangat keliru. Terpilihnya Obama hanya membuktikan keengganan tatanan politik dari Amerika Serikat yang sangat seksis untuk bisa menerima presiden perempuan (Hillary Clinton) sebagai pemimpin mereka. Kemenangan Obama terhadap Hillary juga hanya membuktikan kenyataan rendahnya posisi perempuan di Amerika Serikat dan bahwa tempat posisi perempuan tetaplah  berada di bawah laki-laki. Perempuan kulit putih tetaplah berada di bawah laki-laki; apakah itu laki-laki berkulit hitam sekalipun. Dan tempat perempuan kulit hitam dan latin berada di bagian paling bawah dalam hirarki masyarakat di AS. Lagipula, Obama tidaklah sepenuhnya keturunan daripada orang kulit hitam belaka, melainkan adalah anak seorang perempuan kulit putih.

Ketertindasan masyarakat kulit hitam di Amerika Serikat tidak berarti bahwa orang kulit hitam itu pencinta kedamaian dan bahwa orang kulit hitam akan bisa membawa perdamaian. Orang kulit hitam sendiri ikut bermain dalam ketertindasan orang kulit hitam di AS dan Amerika pada umunya. Orang kulit hitam ikut membantu orang-orang kulit putih Eropa dalam menangkapi orang-orang kulit hitam di Afrika untuk dibawa ke benua Amerika dan dijadikan budak. Banyak orang-orang kulit hitam yang mempunyai posisi yang tinggi dalam hirarki kekuasaan di Amerika Serikat mengeluarkan kebijakan untuk menindas orang-orang kulit hitam sendiri. Banyak pula orang-orang kulit putih yang berjuang untuk perdamaian dan perbaikan nasib orang-orang kulit hitam.

Perdamaian tidak mempunyai warna kulit. Perdamaian tidak berwarna hitam. Perdamaian tidak pula berwarna putih. Perdamaian hanya berarti perdamaian. Apakah yang menyuarakannya berwarna hitam ataupun putih. Apakah yang menyuarakannya diberi label Islam, Kristen, Hindu, Budha, Yahudi, komunis, sosialis, kapitalis, anarkis, religius, atheis, animis, kiri, kanan, Barat, Timur, Utara, Selatan dan lain sebagainya.

Ketertindasan, tidak pernah berarti perdamaian. Hanya karena seseorang atau suatu masyarakat tertentu tertindas, tidak berarti bahwa mereka adalah orang baik atau orang-orang pencinta kedamaian. Orang-orang tertindas di seluruh dunia, yang tidak bisa melawan ketertindasannya, cenderung untuk mengadopsi budaya daripada orang, kelompok ataupun masyarakat yang menindasnya. Itulah yang selalu terjadi di seluruh dunia. Masyarakat Jawa yang ditindas oleh tukang-tukang perang dari daerah yang disebut India sekarang ini, mengadopsi budaya penindasnya dan mengulang-ngulang cerita-cerita raja-raja dan cerita-cerita perang bangsa penindasnya, bangsa-bangsa Jerman yang ditindas oleh kekaisaran Romawi mengulang-ngulang dan membangga-banggakan cerita-cerita “kebesaran”, cerita-cerita perang dan cerita-cerita para kaisar daripada kekaisaran Romawi, masyarakat Minang yang ditindas oleh kesultanan Aceh mengelu-ngelukan Aceh dan selalu ingin seperti Aceh dalam hal ke-Islam-annya, masyarakat Minang yang ditindas masyarakat Jawa dengan budaya kerajaannya, mengelu-ngelukan budaya raja-raja Jawa dan berusaha untuk juga membesar-besarkan “kerajaan Minang” yang “tidak kalah dengan kerajaan Jawa“, masyarakat Minang yang ditindas oleh para fundamentalis Wahabi, mengelu-elukan cerita-cerita perang bangsa Arab dan hal-hal yang berbau Arab Saudi. Ini hanyalah sebagian contoh saja daripada masyarakat-masyarakt tertindas di dunia ini. Banyak lagi contoh -contoh lainnya dari seluruh dunia.

Pemberian penghargaan Nobel perdamaian kepada Obama membuktikan bahwa dunia Barat tidak mengerti mengenai kata perdamaian. Sekalipun mengerti, maka kata perdamaian ini dijungkirbalikkan artinya menjadi dalam arti perang. Kebijakan Obama yang bahkan membangun kekuatan perang dari masyarakat sipil, membuktikan Obama dan orang-orang yang ada di belakangnya adalah kelompok fasis pencinta kekerasan dan perang. Hanya kelompok fasislah yang membangun kelompok tukang perang, kasta tukang perang ataupun kelas tukang perang. Entah itu bernama kaisar-kaisar Romawi, raja-raja India, raja-raja Eropa, sultan-sultan dan khalifah-khalifah Arab/Timur Tengah/Turki, kaisar-kaisar Cina, para Tsar Rusia, para Daimyo, Shogun dan kaisar Jepang, para diktator masa kini (baik kiri maupun kanan), para penguasa agama, para penguasa ekonomi dan keuangan, raja-raja Jawa, Sukarno, Suharto maupun Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Dunia Barat tampaknya perlu belajar mengenai arti kata perdamaian dan untuk itu mereka perlu banyak belajar pada masyarakat-masyarakat pencinta kedamaian yang sesungguhnya ataupun masyarakat-masyarakat yang tidak mengenal kekerasan dan perang. Obama, panitia pemberi penghargaan Nobel “perdamaian” dan dunia Barat harus belajar lagi mengenai arti kata perdamaian dan cara-cara memperdamaikan masyarakat kepada masyarakat-masyarakt dunia yang dikenal sebagai masyarakat egaliter, masyarakat cinta damai, masyarakat utopis, masyarakat matrilinear ataupun masyarakat matriarchal. Dunia Barat bisa belajar kepada masyarakat-masyarakat matriarchal yang bahkan kata membunuh saja mereka tidak punya, karena membunuh tidak pernah menjadi bagian daripada budaya mereka. Atau kalaupun mereka telah mengenal kata-kata yang melambangkan kekerasan tersebut sebagai hasil persentuhan dengan masyarakat-masyarakat patriarkal yang menjajah meraka, tetaplah jiwa kekerasan tesebut tidak menjadi bagian dari budaya mereka.

Dunia Barat juga bisa belajar kepada masyarakat Minangkabau mengenai cara-cara penyelesaian konflik dan cara-cara untuk menyusun dan merangkai kata-kata untuk menyelesaikan masalah. Dunia Barat bisa belajar kepada masyarakat Minangkabau, bahwa perdamaian bisa dicapai ketika anak laki-laki utamanya diajari dan dilatih untuk menyusun kata-kata  dalam bentuk entah berpantun, berbalas pantun, bersilat lidah dan lain sebagainya, bukannya melatih mereka untuk tidak menggunakan lidahnya dan otaknya untuk merangkai kata-kata dalam kehidupan bermasyarakat dan malahan melatih mereka untuk menggunakan ototnya dan senjata untuk membunuh, membantai, merampok, menyiksa dan memperkosa.

Pemberian penghargaan Nobel perdamaian membuktikan penghinaan terhadap kata perdamaian itu sendiri oleh lembaga pemberi penghargaan Nobel khususnya dan oleh dunia Barat pada umumnya. Hal ini juga membuktikan bahwa lembaga-lembaga pemberi penghargaan Barat tidak layak dipercaya dan bahwa dunia Barat, sama halnya dengan dunia-dunia patriarchal lainnya, tetaplah dunia yang penuh dengan  budaya ultra-kekerasan dan peperangan.

Kebijakan Obama dan orang-orang yang berperan penting dibelakangnya, membuktikan bahwa Obama bahkan lebih fasis daripada seorang George Bush yang berkulit putih. Anak laki-laki siapakah yang akan dikorbankannya untuk mati di medan perang? Anak laki-laki dari perempuan kulit hitamkah? Dari perempuan Amerika Latin-kah? Atau dari perempuan-perempuan Eropa Timur-kah? Dan negara-negara atau daerah-daerah manakah yang akan menjadi sasaran serbuan dari kelompok-kelompok tukang perang  (pembunuh dan pembantai) baru buatan Obama dan para patriarch (Bapak-bapak penguasa) Amerika Serikat ini? Indonesia-kah? Afrika-kah? Asia-kah? atau bahkan Amerika Serikat?

25
Agu
09

Anak-anak Korban Paedofili dan Pederasty-Bagian 2

G sebut saja namanya begitu adalah seorang pemuda asal Gorontalo yang dikenal oleh masyarakat sebagai bencong. G menjadi bencong lewat proses paedofili yang termasuk kedalam golongan pedofili homoseksual karena dilakukan oleh laki-laki dewasa terhadap anak kecil laki-laki. Pelecehan seksual yang dialami oleh G ini termasuk juga ke dalam incest karena dilakukan oleh pamannya sendiri. Oleh pamannya, ia dan saudaranya yang juga laki-laki menjadi pemuas nafsu pamannya yang homoseksual yang menyukai anak laki-laki kecil. Ia bersama saudaranya ini diperintahahkan menghisap batang kemaluan pamannya atau yang dikenal jgua sebagai oral sex.

G tidak menjelaskan berapa lama hal ini berlangsung, tapi tampaknya cukup lama untuk mengubahnya menjadi seorang homoseksual atau hombreng yang bersifat “pasif” yang dikenal sebagai bencong.

Raut muka daripada G ini terlihat aneh karena menunjukkan jiwa yang sakit. Dan memang ia jelas menderita kelainan jiwa, karena tidak pernah menerima perawatan kejiwaan atas kejadian pelecehan seksual yang menimpanya ketika ia masih kecil dan masih hijau. Ia juga seringkali mengalami depresi, pernah beberapa kali mencoba dan mengancam akan bunuh diri. Dari pernyataan-pernyataannya, ia tampaknya menginginkan hidup normal seperti sepasang kekasih yang bisa berkasih-kasihan dengan leluasa seperti layaknya pasangan kekasih yang terdiri dari laki-laki dan perempuan lainnya. Ia juga tidak bisa menerima kenyataan karena harus berbagi kekasih dengan banyak laki-laki lainnya. Ya, ia memang harus berbagai kekasih dengan para bencong-bencong lainnya, karena entah suatu sebab yang tidak begitu jelas, kekasihnya ini berfungsi seperti “pejantan” bagi banyak bencong-bencong lainnya dan kekasihnya inipun tidak bisa “setia”. Ia sering mengeluh, protes, dan mengancam akan bunuh diri terhadap kekasihnya ini. Akan tetapi, di ruang publik, si G inipun dengan agresifnya mencari calon-calon “korban”. Ia selalu melayangkan matanya ke arah laki-laki yang membangkitkan gairahnya dan mencoba bermain mata dengan mereka. Jadi, ia sendiripun sebenarnya tidak “setia” dengan satu pasangan. Menurut kawan dari si G ini, memang dunia para homoseksual (setidaknya laki-laki homoseksual) ini adalah dunia yang tidak mengena kata “setia” dan “kesetiaan”.

Lebih lanjut lagi ia bercerita tentang protesnya kepada kekasihnya karena kekasihnya ini tidak pernah mau melakukan oral sex kepadanya, walaupun ia selalu melakukan oral sex kepada kekasihnya itu. Ia mengatakan bahwa ia menyukai melakukan oral sex kepada laki-laki yang menjadi pasangannya. Ini sebenarnya tidak aneh, karena itulah pengalaman seksual pertama yang dialaminya sebagai akibat dari incest, pedofili yang dilakukan pamannya kepadanya. Pengalaman seksual pertama meninggalkan bekas yang tidak akan pernah hilang seumur hidup. Seorang laki-laki yang mengalamai pelecehan seksual oleh laki-laki lainnya, tidak akan otomatis menjadi homoseksual, apabila ia sudah mendapatkan pengalaman seksual dengan perempuan sebelumnya. Ia akan mengalami sakit jiwa, akan tetapi apabila ia mendapatkan perawatan kejiwaan, hal ini masih bisa ditolong. Lain halnya dengan laki-laki masih kanak-kanak atau remaja yang belum pernah mengalami persentuhan dengan perempuan, mereka umumnya otomatis akan menjadi homoseksual. Mereka juga akan sakit jiwa. Jikapun mereka mendapatkan perawatan kejiwaan, maka hal itu hanya akan meyembuhkan sakit jiwanya, tapi tidak kecenderungannya untuk menjadi homoseksual. Karena itulah, para orang tua hendaknya menjaga agar pengalaman seksual pertama bagi anak-anak mereka adalah suatu hal yang indah dan tidak menimbulkan rasa sakit maupun rasa terhina yang ditimbulkan oleh pelecehan seksual baik dalam bentuk incest (homoseksual ataupun heteroseksual), perkosaan, pedofili (homoseksual maupun heteroseksual), pederasty, seks dengan pasangan yang tidak diinginkan dan hal lainnya. Tanggung jawab orang tua tidak terbatas hanya pada memberi makan, minum dan biaya pendidikan saja, akan tetapi dalam menjaga kesejahteraan daripada kebutuhan seorang anak yang beranjak dewasa, yaitu kebutuhan yang didorong oleh fungsi reproduksi manusia.

Si G menyatakan bahwa pasangannya adalah orang yang keterlalulan karena tidak pernah mau melakukan oral sex kepadanya. Ia mencontohkan seorang bintang film porno untuk kalangan homoseksual, yang tidak cuma menerima oral sex akan tetapi juga melakukannya kepada pasangannya dalam film. Ia juga menceritakan soal pesta-pesta homoseksual yang didatanginya, di mana pasangan homoseksual bebas berasik-masuk. Ia bercerita juga tentang kekasihnya seorang model ganteng yang menurutnya, “selalu ejakulasi prematur”. Ia bercerita pula tentang posisi pada saat ia melakukan hubungan seks dengan pasangannya yaitu kira-kira sebagai berikut: ia akan melakukan oral sex kepada pasangannya, kemudian pasangannya ini akan memasukkan batang kelaminnya ke anusnya, sementara pasangannya ini akan merangsang batang kelaminnya dengan tangan dengan cara “dikocok”.

Menyimak ceritanya, membuat kita layak memikirkan kenyataan betapa bebasnya orang-orang homoseksual di Indonesia melakukan aktifitasnya juga yang berhubungan dengan pornografi dalam arti sebenarnya tanpa ada halangan dari siapapun termasuk orang-orang Islam dengan brand-brand tertentu yang begitu anti hubungan seksual (baca: hanya hubungan badan antara laki-laki dan perempuan). Mereka ternyata, setelah ditelaah lebih lanjut, tidak anti hubungan seksual, melainkan hanya anti tubuh perempuan dan fungsi reproduksi perempuan serta satuan-satuan budaya yang memperlihatkan tubuh perempuan. Hubungan homoseksual antara laki-laki dibiarkan sebebas-bebasnya. Akan tetapi, budaya Indonesia yang berhubungan dengan tubuh perempuan dikebiri, badan perempuan dibenci dan dilecehkan, walaupun para perempuan tersebut tidak melakukan aktifitas seksual apa-apa. Perempuan, menurut mereka, harus dibungkus rapat-rapat, sementara para homoseksual laki-laki yang dikenal sebagai bencong dan hombreng dapat bebas sebebas-bebasnya, tanpa bungkus apa-apa, bahkan mereka bisa bebas menunjukkan diri di ruang publik, menjadi mentri (seperti pada zaman Suharto), atau para penari latar yang menggoyang-goyangkan pantatnya secara erotis dengan tujuan, disengaja atau tidak, untuk menggoda para laki-laki seperti yang diakui sendiri oleh si X, dalam “Anak-anak korban pedofili dan pederasty-Bagian 1”. Sementara Julia Perez, Inul, Dewi Persik dan lainnya dihujat, karena tubuh perempuannya. Apalagi yang lebih erotis bagi para homoseksual selain pantat dari “para bencong” yang merupakan sasaran dari batang kelamin dari “para pejantan homoseksual”? Apa yang dilakukan oleh MUI, Hidayat Nur Wahid ataupun Yusril Ihza Mahendra yang merupakan para pembenci tubuh perempuan dan hubungan badan yang alami dan normal antara laki-laki dan perempuan? Selayaknyalah yang harus dilakukan oleh Yusril Ihza Mahendra dan penguasa-pengausa Islam lainnya itu adalah menanggulangi oral sex, anal sex dan hubungan badan daripada para homoseksual ini terlebih dahulu yang jelas-jelas tidak alami, dengan cara-cara yang baik dan bukan dengan cara-cara fasis Islam seperti yang dilakukan oleh kelompok-kelompok Islam terhadap tubuh perempuan Indonesia, budaya Indonesia dan hubungan badan yang alami dan normal antara laki-laki dan perempuan.

Diskriminasi antara laku homoseksual dan heteroseksual di Indonesia ini banyak sekali contohnya dan bentuknya. Banyak mahasiswa yang dipukuli massa samapai babak belur dan bengkak-bengkak wajahnya hanya karena menerima pacar perempuannya di kos-kosannya. Ada pasangan yang digelandang dan diarak dengan telanjang bulat di kampung, karena “tertangkap basah” sedang bermesraan di kos-kosan masing-masing. Kos-kosan perempuan dibuat layaknya penjara, dengan jeruji yang mengingatkan kepada penjara dan dengan jam masuk dan jam keluar yang juga menyerupai penjara dengan ketentuan menerima tamu yang lagi-lagi mengingatkan kita akan suatu penjara. Sementara kos-kosan laki-laki bebas terbuka, bebas sebebas-bebasnya termasuk untuk menerima pelacur dan laki-laki homoseksual. Laki-laki dan perempuan yang sudah akil-balik dilarang berciuman, dilarang bersama-sama, padahal itu adalah sudah menjadi kebutuhan bagi orang yang sudah memasuki tahapan reproduksi. Sementara laki-laki homoseksual bebas hidup bersama, berasyik-masuk, berpesta seks, menonton film porno untuk kaum homoseksual, menjadi pelacur untuk kalangan homoseksual, melakukan hubungan seks yang sangat menyimpang dan aneh-aneh, saling kunjung mengunjungi dan lainnya. Hal ini dikarenakan semua mata tertuju kepada tubuh perempuan, bagaimana memenjarakan tubuh perempuan, menjaga agar laki-laki dan perempuan tidak bersama-sama dan tidak bisa berkasih-kasihan, dan bersiap-siap mempermalukan para pasangan laki-laki dan perempuan yang sebenarnya merupakan hal yang alamiah dan normal.

Si G yang sebenarnya merupakan korban laku pedofili homoseksual yang juga merupakan incest karena dilakukan oleh pamannya ini, tumbuh menjadi pribadi yang depresif, yang memusuhi perempuan dan satu lagi, ia adalah merupakan salah seorang homoseksual yang mewakili apa yang disebut sebagai fundamentalisme homoseksual. Suatu pandangan yang menganggap bahwa homoseksualitas adalah bentuk hubungan seksual “yang terbaik” dan layak disebarluaskan. Fundamentalisme homoseksual ini biasanya diiringi dengan ajaran-ajaran kebencian terhadap perempuan dan terhadap hubungan badan antara laki-laki dan perempuan, pemujaan tokoh-tokoh homoseksual dan budaya-budaya yang mengedepankan homoseksualias seperti Sparta, Samurai, kaum Sufi Islam, Arab Saudi, Afghanistan ataupun Warok dan mengklaim bahwa kaum homoseksualitas adalah kaum terpilih dan intelektual dengan tingkat intelektualitas yang melebihi laki-laki heteroseksual yang hanya merupakan “laki-laki kebanyakan”. Si G misalnya menyatakan bahwa, semua laki-laki adalah homoseksual dan bahwa semua laki-laki lebih senang berhubungan seks dengan kaum laki-laki karena perempuan harus menstruasi setiap bulannya, sementara laki-laki tidak alias laki-laki selalu “siap sedia” untuk berhubungan seks. Pernyataan ini jelas terlihat sebagai sebuah pernyataan fanatik akan kehomoseksualitasannya dan menafikan bahwa lebih banyak laki-laki yang bahkan merasa jijik untuk menjadi homoseksualitas dan tidak pernah membayangkan untuk menjadi seorang homoseksual. Di Arab Saudi, memang banyak kasus-kasus para suami yang pergi ke “para kekasih” mereka yang homoseksual atau bencong, ketika istri mereka sedang haid. Dengan pernyataannya ini, si G tampaknya lupa bahwa ia sendiri menjadi homoseksual karena peristiwa pelecehan seksual yang dialaminya sewaktu kecil. Dan memang, banyak tokoh-tokoh fundamentalis homoseksual yang menjadi homoseksual karena mengalami pelecehan seksual pada masa kanak-kanak yang berupa pedofili/pederasty homoseksual. Ia mengatakan bahwa ia “lebih senang berteman dengan perempuan” dan bahwa “perempuan adalah kawan setianya”. Tapi tampaknya pernyataan ini tidak berdasar, melihat dari kebencian yang ditunjukkannya kepada hal-hal yang berhubungan dengan fungsi reproduksi perempuan seperti proses menstruasi dan bahwa semua laki-laki adalah homoseksual dan hanya menyukai laki-laki. Ia juga sering memperlihatkan rasa persaingannya terhadap kamu perempuan, karena sebagaiman kaum perempuan, ia adalah juga “pencinta laki-laki” dan ia sering menyatakan bahwa ia lebih baik dari perempuan karena ia laki-laki dan tidak harus menstruasi.

31
Mar
09

Zeitgeist-Addendum

Berikut adalah lanjutan daripada video Zeitgeist the movie yang pernah saya tampilkan di blog ini. Video ini membahas mengenai banyak hal berkenaan dengan keadaan politik dunia terkini. Mitos mengenai Al Qaeda dan terorisme, World Bank dan IMF, free market system (sistem pasar bebas) dan globalisasi, penguasa dunia yang terdiri dari kekuatan-kekuatan bidang keuangan dan bisnis serta imperium global yang diwakili oleh Amerika Serikat, termasuk ke dalam masalah-masalah yg dibahas.

Keterangan di video ini mengenai teroris sebagai orang yang berjas seharga $ 5.000 dan duduk di lembaga-lembaga keuangan dunia, politik dan bisnis tidak berarti bahwa orang-orang Islam bisa cuci tangan dari kegiatan terorisme ini. Orang Islam sendiri ikut membunuhi bahkan merupakan pelaku pembunuhan utama orang Islam di Afghanistan, Arab Saudi, Pakistan, Irak dan Iran. Orang Islam juga ikut dalam bangunan politik bernama terorisme ini dan ikut bermain dalam konflik-konflik yang melibatkan kelompok Islam dan kelompok bukan Islam.

Mereka juga ikut membantu terbentuknya tatanan politik yang disebut sebagai fasisme Islam seperti yang sedang terbentuk di Indonesia lewat kerja sama antara pihak Islam Indonesia dan militer, dalam rangka menuju diktatur militer yang berdasarkan fasisme Jawa dan  fasisme Islam yang akan ditentukan lewat pemilu 2009 ini. Fasisme Jawa dan fasisme Islam termasuk dalam bangunan fasisme global yang dikenal sebagai globalisasi.

21
Mar
09

Saya Bangga Jadi Perempuan Minangkabau

Karena perempuan-perempuan Minangkabau telah, bisa dan selalu melawan kekuasaan-kekuasaan yang datang silih berganti yang berusaha menghancurkan ranah Minang entah itu atas nama jihad Islam kaum padri, Barat, pemerintah daerah ataupun pemerintah pusat, yaitu para Bundo Kanduang, para Niniak/Niniek/Ninik (nenek), atau nama-nama seperti Siti Manggopoh, Rohana Kudus, Rasuna Said , Yeni Rosa Damayanti, Prof. Dr. Dewi Fortuna Anwar, Rahmah El Yunusiyah, Aisyah Amini dan banyak lagi perempuan-perempuan Minangkabau lainnya.

Karena perempuan Minangkabau telah terbiasa memimpin masyarakat sebagai Bundo Kanduang dan juga mengambil alih kepemimpinan dari tangan laki-laki ketika laki-laki tidak berdaya apa-apa lagi seperti Siti Manggopoh yang memimpin penyerangan bersenjata terhadap Belanda bahkan ketika anaknya masih menyusu.

Karena perempuan Minangkabau dihargai kemampuan reproduksinya dan diakui hubungannya yang alami dengan anak dimana perempuan-perempuan lain dalam budaya patriarkal Indonesia maupun dunia hanya diperlakukan sebagai “mesin pembuat anak” atau “pengasuh anak daripada seorang laki-laki” dan diputuskan hubungan alaminya dengan anak-anak yang telah dikandungnya dan dilahirkannya.

Karena perempuanlah yang menjadi pemilik tanah dan harta kaum, yang telah terbukti berjasa dalam mempertahankan budaya Minangkabau dan identitas Minangkabau yang membuat kaum tetap memiliki kampung halaman ke mana mereka pulang sejauh apapun mereka merantau dan di mana dalam budaya lain, hampir seluruh tanah telah diperjual-belikan oleh pihak laki-laki dan telah beralih ke tangan para elit yang utamanya adalah laki-laki.

Karena perempuan-perempuan Minangkabaulah yang mengatur dan mengurus keluarga dan berhasil mencetak anak-anak menjadi pribadi-pribadi yang percaya diri dan kuat, yang bisa memimpin masyarakat dan menjadi orang-orang yang perannya terkenal di Indonesia dan negeri-negri Melayu seperti Malaysia, Singapura dan Brunei dan maupun dunia.

Karena perempuan Minangkabau selalu berhasil melawan kekuasaan daripada budaya-budaya patriarkal yang datang dari luar yang berusaha dan cenderung meminggirkan perempuan dari perannya dalam kehidupan masyarakat entah itu kekuasaan yang bernama Islam (fundamentalis ataupun tidak), kekuasaan Belanda atau Barat secara umum, kekuasaan yang bernama pemerintah daerah atau pusat serta kekuasaan yang berbentuk hukum yang menindas perempuan serta kekuasaan-kekuasaan patriarkal dunia lainnya.

Karena perempuan Minangkabaulah yang menjadi perempuan-perempuan pertama di banyak bidang kehidupan “modern” mulai dari jurnalisme/pers/media, dunia usaha, organisasi, pendidikan, seni/budaya, bidang-bidang intelektual dan lain-lain bidang.

Karena perempuan Minangkabulah yang menjadi perempuan pertama yang menjadi pendiri partai pertama di Indonesia, yaitu H.R. Rasuna Said.

Karena perempaun Minangkabaulah yang mendirikan surat kabar khusus perempuan pertama yaitu Rohana Kudus yaitu surat kabar Sunting Melayu.

Karena perempuan Minangkabaulah yang menjadi pendiri organisasi perempuan pertama di Indonesia yaitu Rohana Kudus yaitu organisasi Kerajinan Amai Setia pada tahun 1911.

Karena perempuan Minangkabaulah yang memelopori bidang usaha modern untuk kaum perempuan di Indonesia yaitu Rohana Kudus dengan bidang usaha Kerajinan Amai Setianya.

Karena perempuan Minangkabaulah yang mendirikan sekolah perempuan modern pertama yaitu Rohana School yaitu Rohana Kudus.

Karena perempuan-perempuan Minangkabau adalah perempuan-perempuan kuat yang juga memilki banyak kemampuan dan ketrampilan serta tetap dapat menjalankan fungsinya sebagai Bunda Penyayang bagi anak-anaknya.

Karena perempuan-perempuan Minangkabau bisa melakukan apa saja tanpa harus pusing-pusing belajar dan berkutat dengan “teori feminisme“/”teori pembebasan perempuan“/”teori pemberdayaan perempuan” dan lain sebagainya yang sebenarnya hanya berlaku untuk dan diperlukan oleh perempuan-perempuan dalam budaya patriarkal yang memang dilecehkan, ditindas dan dipinggirkan. Yang perlu dilakukan oleh perempuan Minangkabau adalah melawan pengaruh-pengaruh buruk dan merusak dari budaya-budaya patriarkal dunia yang masuk lewat satuan-satuan budaya dengan label agama, ideologi ataupun kekuasaan.

Karena ketika anak gadis-anak gadis lain diajarkan oleh Ibunya untuk menjerat laki-laki kaya walaupun sudah tua dan menjijikkan sekalipun, Bunda saya dan Bunda-Bunda Minang lain mengatakan kepada gadis-gadis Minang untuk bersama dengan laki-laki yang baik dan penyayang.

Karena perempuan-perempuan Minangkabau tidak dijarkan untuk patuh dan menurut kepada laki-laki lain yang dikenal sebagai “sang suami”, ketika gadis-gadis lainnya diajarkan untuk “melayani laki-laki yang menjadi suaminya” dan patuh tanpa syarat, dikarenakan tanggung jawab perempuan Minangkabau adalah terhadap anak dan keluarganya. Walaupun konsep-konsep seperti ini sudah mulai masuk ke dalam budaya Minangkabau lewat budaya-budaya patriarkal lokal maupun internasional yang berusaha menguasai ranah Minang.

Ketika anak gadis-anak gadis lain dipingit dan tidak dapat melakukan apa-apa perempuan Minangkabau bisa melakukan apa saja karena tidak pernah ada pemisahan yang jelas antara “pekerjaan laki-laki” atau “pekerjaan perempuan” pada masyarakat Minangkabau.

Karena perempuan Minangkabau diakui peranannya sebagai Bundo Kanduang (Bunda Penyayang), atau dalam perannya sebagai kekuatan untuk meneruskan generasi manusia di dunia. Oleh karenanya perempuan-perempuan Minangkabau yang telah memiliki keturunan diberi gelar Bundo Kanduang.

Ketika perempuan-perempuan lain dalam budaya patriarkal diberi tugas untuk harus dapat “melahirkan anak laki-laki”, “menyembah anak laki-laki” dan memdiskriminisakikan anak perempuannya bahkan kalau perlu membunuhnya di kandungan ataupun setelah di luar kandungan seperti banyak terjadi di India dan Cina serta di dalam budaya-budaya patriarkal zaman dulu, perempuan-perempuan Minangkabau mengandung dan melahirkan anak-anak tanpa memandang jenis kelamin.

Karena menjadi “perempuan” dalam budaya Minangkabau tidaklah hina seperti menjadi perempuan dalam budaya-budaya patriarkal baik di Indonesia maupun dunia.

Kerena ketika perempuan-perempuan dalam karya sastra (dan film) dari banyak budaya patriarchal lainnya hampir selalu digambarkan sebagai pelacur, perempuan yang diperkosa, perempuan yang dipukuli, perempuan yang dibunuh, perempuan yang dijual orang tuanya ke laki-laki lainnya, perempuan yang diberikan ke laki-laki yang berkuasa seperti nasib yang harus dijalani oleh RA Kartini yang disebut-sebut sebagai “pembebas perempuan Indonesia” itu, dan lain-lain perbuatan biadab terhadap perempuan, perempuan Minangkabau digambarkan sebagai Ibu Ratu bijaksana dalam tambo alam Minangkabau yaitu Bundo Kanduang dan juga sebagai perempuan-perempuan kuat dan mandiri dalam kaba (cerita klasik Minang). Sastra Minangkabau tidak mengenal perempuan sebagai pelacur atau tema-tema cerita-cerita lainnya yang melambangkan pelecehan, penindasan, kekerasan dan penghinaan serta penistaan terhadap kaum perempuan yang menjadi tema-tema utama di dalam budaya patriarkal baik lokal maupun dunia.

Karena budaya Minangkabau tidak mengenal perempuan sebagai pelacur, sebagai budak, baik dalam lembaga yang bernama “rumah tangga” maupun sebagai pembantu rumah tangga murah, sebagai anak yang dijual orang tuanya kepada laki-laki kaya, perempuan sebagai “obyek seks” dan lain-lain posisi perempuan yang rendah dan tertindas.

Karena perempuan Minangkabau sangat dihormati dalam fungsi keibuannya dan diberi gelar sama dengan gelar Ibu Asal Minangkabau yaitu Bundo Kanduang.

Karena perempuan Minangkabau dihormati dalam fungsinya sebagai cerdik pandai dan diberi gelar sama dengan gelar Ibu Asal Minangkabau yaitu Bundo Kanduang.

Karena budaya Minangkabau telah dan selalu melahirkan perempuan-perempuan hebat yang melawan begitu banyak kekuasaan patriarchal yang datang silih berganti ke ranah Bundo Kanduang dan yang berusaha menghancurkan ranah maupun budaya Bundo Kanduang seperti Siti Manggopoh, Rasuna Said, Rahmah El Yunusiyah, Rohana Kudus, Puti Reno Raudha Thaib, Yeni Rosa Damayanti, Prof. Dr. Dewi Fortuna Anwar, Dr. Ranny Emilia, Lany Verayanti dan masih banyak lagi lainnya.

Karena budaya Minangkabau banyak melahirkan perempuan-perempuan yang keras hati, teguh pendirian, dan kuat kemauan, kuat dalam menghadapi cobaan hidup, mandiri, dan memainkan peranan penting dalam keluarga, masyarakat baik di ranah Minang, Indonesia maupun dunia.

Karena perempuan Minangkabau sebagai janda tidak dipandang rendah atau bahkan harus mati dipanggang api karenanya, seperti yang umum terjadi dalam budaya-budaya yang dipengaruhi oleh Hindu seperti di India dan Jawa/Sunda. Perempuan Minangkabau akan didorong untuk kawin lagi sehingga tidak perlu menderita karena harus “bobok sendirian” ;)

Karena perempuan Minangkabau tidak dipandang dari sisi kelaminnya seperti perempuan-perempuan dalam budaya patriarkal, melainkan dari segi fungsinya sebagai Bunda bagi anak-anaknya, perannya dalam keluarga besar dan dalam masyarakat.

Karena ketika perempuan-perempuan lain dalam budaya patriarkal harus menelan hinaan-hinaan yang menyakitkan hati dan sangat merendahkan seperti kata-kata berikut dalam bahasa Jawa/Sunda/Jakarta (sundal, pelacur, perek, ayam, perempuan murahan, dll), Inggris (whore, slut, bitch, chick, cunt, dll), Jerman (Schlampe, Nutte, Flittchen, Hure, dll), Perancis (putain, pute) dan banyak lagi lainnya dalam berbagai bahasa-bahasa daripada bangsa-bangsa patriarkal lokal maupun dunia, budaya Minangkabau tidak mengenal cacian dan hinaan serupa itu. Satu panggilan untuk perempuan Minangkabau yang melambangkan penghormatan dan penghargaan yang tinggi yaitu  Bundo Kanduang. Lewat pengaruh-pengaruh budaya-budaya patriarkal baik lokal maupun internasional, sudah ada laki-laki dan juga sebagain kecil perempuan Minangkabau yang telah mulai menggunakan kata-kata hinaan dan cacian tersebut. Tapi hal itu masih bukan merupakan hal yang umum.

Karena perempuan Minangkabaulah yang menjadi pandeka Silat yang dikenal dunia yaitu Inyiak Upiak Palatiang.

Karena perempuan-perempuan Minangkabau adalah perempuan-perempuan pelopor dalam bidangnya masing-masing di Indonesia.

Karena perempuan-perempuan Minangkabau adalah pelopor-pelopor dalam bidang puisi di Indonesia.

Karena peremuan-perempuan Minangkabau adalah perempuan-perempuan menonjol dalam bidang penulisan seperti Saadah Alim, Leila S. Choidori dan banyak lagi lainnya.

Karena perempuan-perempuan Minangkabau adalah perempuan-perempuan yang berperan penting dalam dunia film dan theater seperti Eva Arnaz, Jajang Pamoentjak, Gusmiati Suid dan Sherina.

Karena perempuan Minangkabaulah yang menjadi penulis cerita pendek perempuan pertama di Indonesia yaitu Saadah Alim.

Karena perempuan Minangkabaulah yang aktif memperkenalkan budaya-budaya Indonesia ke manca negara yaitu Elly Kasim.

Karena perempuan Minangkabaulah yang aktif membela perempuan yang ditinda oleh para penguasa Islam seperti Inul yaitu Jajang Pamoentjak dan Yeni Rosa Damayanti.

Karena perempuan Minangkabaulah yang menjadi Ibu Pers Indonesia yaitu Rohana Kudus.

Karena perempuan Minangkabaulah yang menyelamatkan per-film-an Indonesia setelah sekarat hampir 20 tahun lamanya yaitu artis kecil Sherina, yang menyelamatkan per-film-an Indonesia pada saat ia baru berumur 10 tahun lewat film-nya yang sangat terkenal yaitu Petualangan Sherina.

Karena perempuan Minangkabaulah yang menjadi anggota kehormatan dari lembaga hak-hak asasi manusia untuk pemberitaan mengenai senjata pemusnah masal yaitu The Weapons of Mass Destruction Commission, yang berkedudukan di Swedia yaitu  Prof. Dr. Dewi Fortuna Anwar.

Karena perempuan Minangkabaulah yang menjadi Ibu dari dunia tari kontemporer Indonesia, yang membuat nama Indonesia diakui di dunia Internasional dengan tari kontemporernya yang berdasarkan pada budaya Minangkabau Silek (silat) yaitu Gusmiati Suid, pendiri sanggar tari Gumarang Sakti.

Karena perempuan Minangkabaulah yang merupakan aktivis mahasiswa yang ditakuti Suharto yaitu Yeni Rosa Damayanti yang dipenjarakan olehnya lebih dari satu tahun lamanya dalam kasus “21 mahasiswa” dan yang diasingkan olehnya di negri Belanda setelah peristiwa di kota Dresden, Jerman.

Karena Ibu saya ada banyak, saya panggil mereka Mak Gaek, Uwo, Mama dan Etek.

Karena saya tidak pernah diajarkan oleh Ibu saya dan budaya saya untuk menyembah laki-laki dan memasrahkan kehidupan saya ditangan laki-laki seperti nasib banyak perempuan-perempuan lainnya dalam budaya patriarkal.

Karena saya sebagai perempuan bisa jauh merantau, dan karenanya bisa tau banyak hal dan bisa melihat banyak hal. Karena Ibu saya tidak pernah mengatakan hal-hal berikut ini: “Ah, kamukan perempuan tidak usah sekolah tinggi-tinggi”, “sebagai perempuan kamu harus melayani suami”, dan lain-lain ucapan yang merendahkan anak perempuan dan menghilangkan semangat anak perempuan yang biasa dilakukan oleh ibu-ibu pemuja phallus (kelamin laki-laki) pada budaya patriarkal.

Karena masyarakat Minangkabau adalah masyarakat matriarchat terbesar di dunia.

Karena masyarakat Minangkabau adalah masyarakat matriarchat yang “termodern” di dunia.

Karena masyarakat Minangkabau adalah masyarakat matriarchat yang paling stabil di dunia.

Karena Minangkabau menjadi lambang perlawanan budaya matriarchat yang diperangi oleh budaya patriarchat selama ribuan tahun.

Karena perempuan-perempuan Minangkabau berhasil bertahan dan selalu melakukan perlawanan atas penindasan dan usaha-usaha memerangi perempuan dan budaya Minangkabau. Sampai sekarang.

Karena perempuan-perempuan Minangkabau memainkan peranan penting dalam melawan arus kekuatan-kekuatan patriarkal besar dunia, Hindu/Budha-India, Hindu/Budha-Jawa, Konfusianisme/Budha-Cina, Katolik-Portugis, Budha-Sriwijaya, Aceh-Islam, Arab-Islam, Kristen-Belanda, Kristen-Inggris, Budha-Jepang, Kristen/Globalisasi/Kapitalisme Turbo-Amerika Serikat/Inggris serta Kristen/Misionaris Barat.

Karena perempuan-perempuan Minangkabau memainkan peranan penting dan sangat berpengaruh di Indonesia (dalam arti yang baik tentunya) dalam bidang budaya, bahasa, sastra, politik, sejarah, pers, gastronomi, dan lain sebagainya, walaupun di dalam pemberitaan atau buku sejarah Indonesia hampir tidak disebutkan.Perempuan Minangkabau hilang dari lembaran-lembaran pemberitaan dan sejarah Indonesia lewat jawanisasi, Islamisasi, Arabisasi, Eropaisasi dan maskulinisasi sejarah.

Karena perempuan Minangkabaulah yang menjadi teladan bagi banyak gadis-gadis remaja di Indonesia untuk menggeluti dunia pertelevisian yaitu Desi Anwar yang menjadi presenter pertama perempuan dalam sebuah stasium televisi swasta pertama di Indonesia yaitu RCTI.

Karena walaupun banyak budaya-budaya patriarkal yang masuk dan mempengaruhi budaya Minangkabau, perempuan-perempuan Minangkabau tidak pernah kekurangan tokoh laki-laki yang memberitakan dan mendorong peran perempuan Minangkabau dalam masyarakat, seperti Tan Malaka, A.A. Navis dan lain-lain para cerdik pandai Minangkabau laki-laki lainnya.

Walaupun sepertinya terpinggirkan dan tidak dikenal jasa-jasanya di Indonesia dibandingkan dengan kaum laki-lakinya karena maskulinisasi sejarah dan pemberitaan, perempuan Minangkabau tetap memainkan peranan penting sampai saat kini. Malahan abad ke-21 ini tampaknya melambangkan kebangkitan kaum perempuan Minangkabau dengan munculnya tokoh-tokoh perempuan baru di ranah masyarakat.

Peran perempuan Minangkabau mengalami pasang surut, karena datangnya pengaruh dan penindasan budaya patriarkal baik lokal maupun dunia, akan tetapi perempuan-perempuan Minangkabau terus melawannya dan berhasil menghalau pengaruh-pengaruh buruk yang selalu bertujuan sama yaitu menindas dan menghilangkan peran perempuan Minang sebagai Bunda (baca: penghasil generasi baru manusia) dan di dalam masyarakat.

Mengatakan bahwa semua perempuan Indonesia bernasib sama atau seluruh perempuan di dunia bernasib sama adalah pernyataan tanpa dasar yang tidak berdasar pada kaji yang lengkap. Perempuan Minangkabau serta perempuan-perempuan dalam budaya matriarkal lainnya jelas tidak bernasib sama dengan perempuan-perempuan Jawa/Barat/Arab Saudi. Menyamaratakan segala sesuatu adalah hal yang berbahaya dan tidak bertanggung jawab. Tolok ukur barat mengenai kekuasaan, militerisme dan seksualitas tidak bisa dipakai untuk menilai peran serta dan keadaan perempuan pada budaya-budaya non-Barat atau non-patriarkal seperti budaya Minangkabau. Perempuan Minangkabau, sebelum tolok ukur barat dijadikan sebagai penafsir “kemajuan perempuan”, selalu memainkan peranan penting dalam masyarakat dan melakukan segala jenis pekerjaan yang ada di masyarakat Minang “tradisional” kala itu.

***

Tulisan ini saya persembahkan bagi Niniak, Uwo, Bunda, Etek, kakak perempuan kontan saya, dunsanak-dunsanak perempuan saya yang lain, kawan-kawan perempuan saya, cadiak pandai perempuan Minangkabau serta para Bundo Kanduang dan para Niniak yang telah berusaha merajut hubungan keluarga besar di rumah gadang dan kaum.

11
Feb
09

Deklarasi Balfour

Deklarasi Balfour (Ing. Balfour Declaration) adalah dokumen resmi yang ditengarai sebagai dukungan resmi atau “lampu hijau” bagi terbentuknya negara Israel. Ditandatangani pada tanggal 2 Nopember 1917  oleh Mentri Luar Negeri Inggris pada masa itu yaitu Arthur James Balfour, surat pernyataan ini disampaikan kepada Lionel Walter Rotschild seorang bangsawan Inggris yang merupakan salah seorang anggota daripada dinasti perbankan Inggris yaitu keluarga Rothschild (baca: para patriarch Rothschild).

Berikut adalah kutipan surat tersebut dalam bahasa Inggris (bisa dibaca di website BBC):

Foreign Office
November 2nd, 1917

Dear Lord Rothschild,

I have much pleasure in conveying to you. on behalf of His Majesty’s Government, the following declaration of sympathy with Jewish Zionist aspirations which has been submitted to, and approved by, the Cabinet:

His Majesty’s Government view with favour the establishment in Palestine of a national home for the Jewish people, and will use their best endeavours to facilitate the achievement of this object, it being clearly understood that nothing shall be done which may prejudice the civil and religious rights of existing non-Jewish communities in Palestine, or the rights and political status enjoyed by Jews in any other country.

I should be grateful if you would bring this declaration to the knowledge of the Zionist Federation.

Yours,
Arthur James Balfour

Dan berikut adalah terjemahan bebas dari saya:

Kantor kementrian Luar Negri
2 Nopember 1917

Yang terhormat Bapak Bangsawan Rothschild,

Dengan senang hati saya sampaikan, atas nama pemerintahan kerajaan daripada Yang Dipertuan Agung Raja Inggris (pada saat itu Raja George V), pernyataan simpati berikut atas harpan para Zionis Yahudi yang telah diserahkan kepada dan telah disetujui oleh Kabinet:

Pemerintahan yang Dipertuan Agung Raja Inggris memandang perlu dan menyetujui pembentukan kampung halaman bagi orang Yahudi di tanah Palestina, dan akan berusaha sebaik-baiknya untuk mempermudah pencapaian tujuan ini, dengan pengertian bahwa hal-hal yang membangkitkan prasangka-prasangka buruk terhadap terhadap hak-hak sipil dan keagamaan masyarakat bukan Yahudi di Palestina serta hak-hak dan status politik yang dimiliki orang Yahudi di negara-negara lainnya selayaknya tidak dilakukan.

Saya akan berterima kasih sekali apabila anda memberitahukan surat pernyataan ini kepada Serikat Zionis.

Dengan hormat,

Arthur James Balfour

Catatan:

Surat pernyataan ini sebaiknya tidak dipahami sebagaimana tertulis. Melainkan sebagai pernyataan politik dengan tujuan-tujuan politik yang berdasarkan kepada kepentingan ekonomi. Hal ini terlihat dari siapa yang menandatangani dan memberi persetujuan atas surat pernyataan ini. Pernyataan ini ditandatangani oleh dan sepengetahuan dari pihak yang paling berkuasa di Inggris yaitu mentri luar negeri Inggris Arthur James Balfour dan raja Inggris George V. Pada saat itu Palestina telah jatuh ke tangan kekuasaan Inggris atau dengan kata lain telah menjadi jajahan Inggris. Jadi adalah sesuatu yang alami apabila kerajaan Inggris menganggap tanah Palestina sebagai “miliknya” yang berada di bawah kekuasaannya dan berhak diperlakukan sebagaimana mereka kehendaki dan “diberikan” kepada pihak manapun yang dikehendaki.

Hasil yang kita lihat sekarang, bukanlah suatu hal yang kebetulan. Permusuhan daripada “Islam vs. Yahudi“, “Arab vs. Yahudi“, dan lainnya sudah diperhitungkan. Divide and Conquer (pecah-belah dan hancurkan) adalah pandangan hidup yang mendasari kekuasaan yang selayaknya dipahami dalam mengkaji suatu peristiwa politik dalam masyarakat patriarchal.

20
Jan
09

Mamak-mamak tidak tahu diuntung-Bagian 1

Ternyata selain masalah matrilinealitas (keturunan dari garis ibu) dan “warisan” (baca: harta bersama kaum), ulah-ulah para mamak yang tidak tahu diuntung, merupakan alasan daripada banyak orang Minangkabau untuk “membenci” budayanya atau bahkan untuk “keluar” dari budaya Bundanya tersebut.

Syech Achmad Chatib adalah contoh orang Minangkabau yang memilih keluar dari budaya Minangkabau dan masuk ke budaya Arab/Islam dan memilih untuk hidup di Arab Saudi dan tidak kembali lagi ke ranah Bundo Kanduang karena “jijik” dengan budaya matrilineal dan “pewarisan” matrilineal yang berlaku di ranah Bundo Kanduang.

Seorang bekas anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) dan wartawan di masa Sukarno berkuasa menyatakan kebenciannya kepada budaya Minangkabau karena tidak sesuai dengan budaya patrilineal (keturunan dari garis bapak) yang menurutnya merupakan budaya yang “modern” yang menjadi dasar acuan PKI dan karena mamaknya, tambahnya lagi,  bukannya membantunya malah menipunya.

Pernyataan serupa mengenai mamak yang tidak membantu diutarakan oleh dr. Hardy seperti tertulis dalam tulisan saya terdahulu yaitu Kebanggaan orang Minang di ranah. Berikut adalah kutipannya:

seberapa banyak mamak mamak kita yang mengaku kemenakan hanya jika kita berhasil dirantau, tanpa peduli sebelumnya bagaimana keadaan kita, bagaimana perjuangan kita… menurut uni bagaimana?

Mamak-mamak yang menjual tanah ulayat (tanah kaum), yang semestinya dikelola oleh pihak perempuan dalam kaum, tanpa izin dari Bundo Kanduang dan pihak anggota kaum yang lain  adalah kenyataan lain yang harus dihadapi oleh budaya dan orang Minangkabau dan yang menyebabkan berkurangnya kepercayaan kepada budaya mereke sendiri.

Mamak-mamak yang berlaku sewenang-wenang dan kejam terhadap kemenakannya adalah cerita lain lagi yang menambah ketidaksukaan dan kekecewaan orang Minangkabau terhadap para mamak. Yang dimaksud dengan mamak dalam hal ini adalah mamak laki-laki dalam keluarga yang semestinya membantu Niniak dan keluarga besar dalam masalah-masalah keluarga besar dan kaum dan melindungi harta keluarga besar/kaum (termasuk didalamnya harta pusaka). Mengenai mamak perempuan bisa dibaca dalam tulisan mengenai Perempuan Minangkabau sebagai Mamak dan Penghulu.

Berikut adalah kisah Uni Sabina Lucia mengenai bagaimana para mamak telah menipu dan menjual paksa tanah ulayat, dan kekecewaannya mengenai hal tersebut. Kisah ini dipostingkan di grup dengan nama Bundo Kanduang di facebook.

Bunda, saya mempunyai seorang nenek asli dari minang kabau yang sejak kecil sampai berangkat tua beliau (alm) tinggal di kampung halamanya. Beliau adalah anak perempuan satu-satunya yang dihasilkan dari kedua orang tuanya.

Kemudian lahir Ibu saya yang juga merupakan anak perempuan satu-satunya dari empat bersaudara. Ibu saya hanya tinggal di kampung semasa kanak-kanak saja, selanjutnya Ibu merantau utk bersekolah dan berkeluarga ke tanah Jawa.

Dari Ibu dan Ayah saya lahirlah saya yang kebetulan juga merupakan anak perempuan satu-satunya dalam keluarga dan saya sekeluarga juga menetap di tanah Jawa.
Alhamdulillah sekarang saya dikaruniai dua anak perempuan dan satu anak laki-laki.

Bunda, dua tahun sebelum Nenek wafat, beliau ingin “menyumbangkan” tanahnya untuk keperluan masyarakan . Dari hasil musyawarah dengan orang yang dituakan dikampung kami dan ninik mamak-ninik mamak (baca: mamak-mamak laki-laki) yang berada disana maka di putuskan akan didirikan sebuah “puskesmas” karena kebetulan tanah tersebut berlokasi di tempat yang strategis/pinggir jalan .

Maka pada suatu kesempatan ada upacara penobatan para ninik mamak di kampung kami, kami sekeluarga menyempatkan datang untuk melihat upacara tersebut sekaligus menyerahkan tanah kepada pemerintah daerah. Saya ingat pada saat upacara itu juga , penyerahan tanah dilakukan yang di wakilkan oleh kakak saya yang tertua dengan memberikan sepatah dua patah kata /menyampaikan amanah nenek untuk menyerahkan tanah tersebut. Hebat… semua hadirin meberikan tepuk tangan applause …..

Bunda, setelah kami kembali ke pulau jawa.. apa yang terjadi?….,

Orang yang kami tuakan di kampung kami meninggal dunia.., selanjutnya
Para ninik mamak (baca: mamak laki-laki) yang sudah memberikan kesaksian dan menyetujui serta menerima tanah nenek kami untuk keperluan mayarakat…, semua berubah haluan !!!!!…,

Hanya karena iming2 uang dan menurut kabar tanah tersebut bisa di beli oleh siapa (kami tidak jelas), mereka/beberapa ninik-mamak (baca: mamak laki-laki) mengadakan persekongkolan serta mengadakan pertemuan dan pertemuan (rapat-rapat adat)yang semuanya tidak bisa kami hadiri karena kami di pulau jawa…

Mereka menghasut seseorang yang ketika nenek masih hidup, orang tersebut itu sebetulnya di beri izin tinggal di tanah tersebut hanya untuk mengurus kebun/tanah tersebut saja. Sebetulnya penjaga kebun tersebut sudah menyerahkan kembali kembali hak mengurus tanah kepada nenek kami dan mengatakan terimakasihnya kepada nenek.

Hebatnya dan ajaib sekali… para ninik mamak (baca: mamak laki-laki) bisa merubah dan mempengaruhi pengurus kebun tersebut untuk mengakui bahwa dialah sebenarnya pemilik tanah itu..?!.

Saat itu nenek masih hidup, dan dia sangat sedih serta menyesali sekali perbuatan para ninik mamak (baca: mamak laki-laki) di kampung kami. Dia merasa sedih karena seumur hidupnya dia dan orang tua serta orang tua dari orang tuanya sudah memiliki ,tinggal dan mengelola tanah tersebut. Dan itu sudah diakui oleh seluruh penduduk isi kampung serta orang2 yang dituakan. Oleh karena itu mereka sangat gembira ketika nenek berniat memberikan tanahnya untuk keperluan mereka disana.

Hanya karena ulah sekelompok ninik mamak (baca: mamak laki-laki) yang baru-baru ini diangkat saja (atau yang mengangkat dirinya sendiri sebagai mamak), kami sekeluarga merasa sedih, dan orang-orang dikampung kami menjadi sangat kecewa .

Kami mendengar kabar bahwa mereka para ninik mamak (baca: mamak laki-laki) itu telah menerima uang dari hasil penjualan tanah nenek kami tersebut. ( Innalillahi wa innaillaihi rojiun..)

Sebelum nenek meninggal karena sedih, saya sempat berucap beliau:

Apapun yang sudah kita berikan kepada orang lain( dalam hal ini diberikan kepada penduduk kampung kami) adalah bukan milik kita lagi…, biarlah itu mungkin sudah Tuhan yang mengaturnya , jangan terlalu dirisaukan karena karena kami telah rela melepaskan dan memberikan tanah itu kepada masyarakat dengan niat agar bisa dipergunakan untuk kebaikan.

Dan itu bukan milik kita lagi.

Terserah lah para penjarah itu, mereka mereka yang menanam mereka pula yang akan menuainya ( itu sepertinya sudah hukum alam)

Kami keluarga besar dari kampung kami yang tinggal di pulau jawa tentunya kecewa dengan peristiwa itu dan kami sudah sepakat bahwa:

“Jangan ada ninik mamak (baca: mamak laki-laki) dari kampung kami datang ke pulau jawa dan minta sumbangan untuk pembangunan Puskesmas diatas tanah yang telah diberikan oleh nenek kami secara sukarela kepada penduduk kampung tersebut “

Dan kami tidak mengakui lagi ninik mamak kami itu” ( tapi nyatanya dia masih menjadi ninik mamak (baca: mamak laki-laki) tanpa persetujuan kami yang seharusnya menjadi anak buahnya).

Karena kemudian ternyata kami ketahui tanah tersebut telah diperjual belikan oleh sekelompok orang yang rakus yang di setujui dan “diatur” oleh ”rapat agung” (baca: rapat-rapat rahasia yang tidak melibatkan pihak-pehak terkait dan sama sekali tidak melibatkan Bundo Kanduang) para ninik mamak (baca: mamak laki-laki), demi mendapatkan sedikit uang haram.

Bunda, sebenarnya masih ada banyak lagi tanah pusako yang diturunkan kepada nenek dan ibu saya dan menurut mereka akan diturunkan kepada saya dan kedua puteri saya.

Tapi saya rasa saya tidak akan mewariskan budaya adat yang sekarang berlaku dikampung kami kepada kedua puteri saya.

Biarlah puteri kami hidup tenang tanpa mengharapkan atau mendapatkan kekecewaan demi kekecewaan lagi dari kampung halamannya.

Kami yang di rantau toh tidak akan dapat berbuat banyak lagi.

Bunda, sampai sekarang saya masih trauma kalau mendengar istilah “ninik mamak (baca: mamak laki-laki)”, dan anak saya sendiri pernah berucap “ seperti mafia ya?
(aha.. saya sendiri tidak tahu apa arti mafia itu?)

Catatan:

1. Yang dimaksud dengan ninik mamak di sini adalah “pengertian umum” yaitu kelompok para mamak laki-laki dan bukannya pengertian asalnya yaitu niniak (para nenek/nenek  bersama dengan para mamak/mamak sebagai suatu kesatuan).

2. Kisah ini memberi gambaran kepada kita betapa sewenang-wenangnya para mamak laki-laki yang semetinya membantu para Bundo Kanduang dalam mempertahankan harta kaum dan bukannya melakukan penipuan untuk isa menjual paksa tanah kaum tersebut untuk kepentingan pribadi. Kekuasaan mamak laki-laki di ranah Bundo Kanduang tampaknya semakin diperbesar dengan berbagai cara. Dalam hal ini tanah cuma diberikan kepada masyarakat sementara untuk pembangunan puskesmas untuk masyarakat, bukan untuk diperjual belikan.

3. Permasalahan mengenai tanah ulayat di ranah Minang merupakan permasalahan penting yang memerlukan penanganan yang menyeluruh. Tidak hanya para mamak mengambil tanah ulayat melainkan juga militer (untuk kepentingan bisnis mereka), negara atas nama penguasaan tanah, perusahaan swasta dengan bantuan pemerintah dan lain-lain. Ketika masyarakat Yahudi harus terhina karena diusir terus-menerus dari daerah manapun mereka tinggal, sampai peristiwa pembantaian besar-besaran di Jerman dan negara-negara lain di Eropa oleh penguasa fasis Jerman, sampai dijanjikan negara Israel di tanah Palestina oleh penguasa Inggris dan AS karena tidak mempunyai ranah Bundo Kanduang, seharusnya orang Minangkabau berfikir mengenai perjuangan para Bundo Kanduang untuk mempertahankan tanah ulayat agar tidak diperjualbelikan, agar supaya kaum selalu memiliki kampung halaman kemana mereka bisa pulang sejauh apapun mereka pergi merantau dan bukannya memberikan kekuasaan kepada penipu-penipu yang bernama mamak (laki-laki) untuk membuat orang Minangkabau di suatu saat tidak lagi memiliki ranah untuk pulang, seperti masyarakat Yahudi. Masyarakat Yahudi sekarang “memiliki ranah Bundo Kanduang, tapi sebagai imbalannya harus terus-menerus berperang dengan negara-negara Arab dan harus pula dinistakan oleh orang-orang dari seluruh dunia.

4. Uni Sabina Lucia adalah seorang Bundo Kanduang lulusan dari Universitas Salzburg di Austria dalam bidang Hotel dan Pariwisata dan sekarang mengasuh blog Dapur Sabina yang membahas mengenai aneka resep masakan. Sangat cocok untuk para mahasiswa dan mahasiswi yang hidup di kos-kosan ataupun para pekerja kantoran yang ingin memasak dengan cepat dan murah meriah.

5. Yang dimaksud oleh Uni Sabina Lucia dalam tulisannya dengan “ninik-mamak” adalah “penghulu” yang juga diangkat dari salah seorang mamak yang ada dalam kaum Uni Sabina Lucia. Orang yang menjadi penghulu ini tidak mesti “mamak langsung” yang dikenal juga sebagai “mamak rumah

02
Jan
09

Antara Pedofili, Pederasty dan Kelompok Zionis

Berikut adalah dua tanggapan terhadap tulisan saya sebelumnya yang berjudul Anak-anak korban paedophile dan pederasty.

1. Tanggapan dari Ichal:

uni vara,,, apa betul keterangan beliau,, dan kenapa sampai ke surau pula ya?? sangat memprihatinkan.

Banyak orang menanggapi keterangan dari korban perkosaan dengan malah meragukan keterangannya atau malah menyalahkannya. Dengan demikian, mereka malah menjadi korban dua kali: korban kekerasan seksual dan korban ketidakpercayaan masyarakat atas keterangan si korban. Perkosaan adalah kekerasan yang boleh dikatakan mecabik-cabik jiwa dan raga. Membuat seseorang merasa tidak berarti karena kediriannya ditiadakan, karena seseorang memperlakukan dirinya sesuka hati dan sewenang-wenang dengan tubuhnya dan dengan demikian dengan kediriannya.

Rasa tidak berdaya, terhina, direndahkan, ternoda, rendah diri dan lain sebagainya diderita oleh banyak korban perkosaan. Ketidakpercayaan dan biasanya ditambah dengan sikap/pernyataan menyalahkan menunjukkan bahwa masyarakat tidak menyukai seseorang dalam kedudukannya sebagai korban, dan si korban perkosaan malah merasa semakin ditindas. Karena itu dalam banyak kasus perkosaan, si korban perkosaan lebih memilih diam. Akibatnya mereka menjadi sakit jiwa, mengalami depresi dan banyak lagi. Padahal salah satu cara untuk bisa menyembuhkan “sakit jiwa” adalah dengan berbicara dan menerangkan peristiwa yang terjadi. Si pendengar haruslah pula mampu mendengarkan tanpa “ikut mengadili”.

Di negara-negara Islam seperti Arab Saudi, korban perkosaan malah dijadikan sebagai penjahat dan dijatuhi hukuman cambuk dan denda. Tidak itu saja keluarganya juga dipermalukan. Perkosaan dalam budaya patriarkat adalah suatu yang biasa terjadi, diantaranya dalam keluarga yang dikenal sebagai incest, pada saat perang,  dan seperti dalam artikel mengenai X ini: bentuk-bentuk paedophile dan pederasty yang banyak terjadi di seluruh dunia.

Cerita tentang X adalah cerita yang dituturkan pribadi kepada Uni.  Uni hanya pendengar dan penutur. Uni menuturkan kembali kisah ini agar kita belajar melindungi anak-anak yang merupakan kelompok yang paling rentan terhadap perkosaan, dan tentu saja semua orang yang menjadi korban perkosaan, agar hal tersebut tidak terulang kembali. Mungkin ada beberapa rincian yang tidak diceritakan karena malu atau hal lainnya. Tapi secara garis besar itulah yang terjadi. Harus diingat pula bahwa si X ketika menjadi korban masih sangat remaja. Jadi kejadian itu layaklah berbekas kuat diingatannya dan menimbulkan luka yang menganga.

Mengapa sampai ke surau? Karena setiap kelompok selalu mencari pembenaran akan identitas kelompoknya. Kelompok-kelompok homoseksual laki-laki biasanya merujuk ke kelompok-kelompok homoseksual dalam sejarah sebagai “pembenaran” aktivitas mereka. Biasanya kelompok-kelompok yang dirujuk adalah kelompok-kelompok dari kalangan tukang perang, penguasa agama dan penguasa negara semisal raja-raja serta kelompok-kelompok cerdik pandai semisal filsuf. Kelompok-kelompok tukang perang yang biasanya dirujuk misalnya Samurai di Jepang, Warok di Jawa, dan Sparta di Yunani kuno.

Warok di Jawa biasanya menjadi acuan dari tokoh kelompok homoseksual Indonesia yaitu Gaya Indonesia (organisasi homoseksual Indonesia: gaya diambil dari kata Inggris gay yang berarti laki-laki homoseksual).  Kelompok tukang perang di Sparta dan Samurai banyak menjadi acuan para homoseksual Barat. Film 300 yang membahas mengenai kelompok tukang perang dibuat berdasarkan komik untuk kalangan homoseksual di AS dengan mengambil setting daripada kelompok tukang perang di Sparta yang memang terkenal sebagai kelompok homoseksual.

Budaya Minangkabau yang matriarkat seperti layaknya budaya-budaya matriarkat lainnya di dunia tidak mengenal budaya homoseksual karena hubungan kasih dan hubungan badan antara laki-laki dan perempuan tidak dianggap sebagai sesuatu yang hina melainkan sebagai sesuatu yang alami. Dan memang demikianlah halnya.  Bukti bahwa budaya Minangkabau tidak mengenal budaya homoseksualitas bisa dilihat dari tidak dikenalnya lembaga homoseksual sebagai satuan budayanya. Homoseksualitas masuk ke Minangkabau lewat budaya-budaya patriarkat (yang umumnya diwakili oleh “agama-agama besar dunia” yang merupakan agama langit seperti Islam/Katolik/Kristen Protestan/Hindu/Budha) yang datang menyerang budaya Minangkabau. Pengaruh budaya patriarkat Islamlah yang paling nyata pengaruhnya.

Budaya homoseksual pada umumnya dibawa oleh para penguasa agama, dalam agama Islam dikenal dengan sebutan syech atau imam serta oleh kelompok-kelompok tukang perang. Mengenai homoseksualitas di surau saya sudah tahu dari berbagai sumber. Kaum laki-laki homoseksual Minangkabau biasa mengambil surau sebagai “acuan pembenaran”  perilaku seksualnya. Surau dalam masa-masa awal dan setelah “perang paderi” dikuasai oleh kelompok penguasa agama dan kelompok tukang perang yang dikenal sebagai kelompok paderi yang dikenal sebagai kelompok homoseksual. Dan budaya itu berlanjut terus sampai “runtuhnya surau” di Minangkabau.

Anak-anak adalah korban kekerasan seksual utama dalam tatanan masyarakat patriarkat (walaupun korban perempuan dan laki-laki dewasa juga banyak). Selama ini kalau kita berbicara perkosaan lebih ditekankan kepada perkosaan daripada laki-laki dewasa terhadap perempuan dewasa, sedangkan perkosaaan terhadap anak-anak (paedohile dan pederasty) dan terhadap laki-laki oleh kaum homoseksual hampir tidak diberitakan.

Artikel ini adalah artikel pertama dari seri tulisan Uni mengenai paedohile dan pederasty. Dalam artikel-artikel berikutnya Uni akan membahas mengenai paedohile dan pederasty dalam kelompok-kelompok penguasa agama, kelompok tukang perang, kelompok cerdik pandai dan lainnya. Kekerasan seksual terhadap anak-anak adalah masalah besar dan sangat pelik. Hanya satu artikel tidak cukup untuk membahasnya.

2. Tanggapan dari Akhiruddin Panyalai:

Uni Vara, apa tidak ada ulasan mengenai Genosida oleh Zionis Israel yang tengah berlangsung di Tanah Gaza? Atau, menurut Anda topik tsb tidak menarik untuk dibahas?

Masalah paedophile dan pederasty tidak kalah pentingnya dengan “Genosida oleh Zionis Israel“. Blog Uni membahas masalah-masalah mengenai budaya matriarchat dan patriarchat serta Minangkabau, Islam, politik dan budaya. Tentu saja masalah “Genosida oleh Zionis Israel” ini menjadi penting karena berhubungan dengan asal muasal agama samawi (agama langit) yang salah satunya Islam, dan asal-muasal agama samawi dari daerah Timur Tengah (Yahudi, Katolik, Kristen Protestan, Islam dan Bahai), agama-agama samawi yang merupakan agama masyarakat patriarkat, politik dunia dan budaya-budaya dunia. Masalah ini juga menjadi penting karena Minangkabau dan Islamnya.

Masalah  “Genosida oleh Zionis Israel” ini adalah masalah pelik dan tidak bisa diterangkan oleh satu tulisan saja atau oleh satu komentar “mengutuk” saja. Masalah ini juga tidak bisa dipandang hanya dari sudut “Islam vs. Yahudi” seperti yang sekarang berlangsung. Dari nada pertanyaan anda tampaknya anda berangkat dari semangat “Islam vs. Yahudi“. Negara Israel dan kejadian-kejadian politik yang terjadi sesudahnya adalah bukan hanya urusan “Islam vs. Yahudi” saja, akan tetapi urusan banyak negara, banyak kekuasaan dalam hal ini termasuk kekuasaan Barat seperti Inggris, fasisme Jerman, dan AS. Karena penting dan pelik tidak bisa selesai dengan satu artikel atau satu pembahasan atau hanya dari satu sudut pandang saja. Uni tahu banyak “orang Islam Indonesia” yang mendasari kajian mengenai hal ini dari tulisan-tulisan sampah di majalah doktrin “Sabili” atau selebaran-selebaran lainnya yang sama sekali tidak memecahkan masalah, malah hanya memperkeruh saja.

Khusus untuk masalah “negara Israel dan pembantaian masyarakat Palestina”  akan Uni bahas dari berbagai segi, mulai dari pandangan hidup Barat yang mendasari penggagasan pembentukan negara Israel, kelompok penggagas negara Israel, penyebab dan alasan, pemikiran Machiavelli, kekhalifahan Usmaniah, agama-agama samawi, budaya patriarkat, budaya matriarkat, dll, sehingga lebih lengkap. Siap-siap saja untuk membaca. Awalnya mungkin tidak ada hubungannya. Anda akan lihat hubungannya setelah beberapa tulisan. Selebihnya silahkan mengkaji sendiri. Jangan geram kalau Uni tidak membahasnya berdasarkan pandangan umum mengenai “Islam vs. Yahudi” yang menurut Uni terlalu digampangkan untuk mempermudah kajian dan membelokkan orang banyak dari permasalahan yang sesungguhnya. Uni berjanji akan menulis lebih sering lagi, minimal satu tulisan per minggu. Yang Uni lakukan selama ini seringkali hanya satu tulisan per bulan, karena kesibukan.

Tulisan-tulisan yang berhubungan dengan “Genosida oleh Zionis Israel” ini akan Uni selang-seling dengan tulisan-tulisan penting lainnya yang menjadi tema blog Uni, seperti mengenai paedophile/pederasty dan masalah kekerasan kelamin lainnya, presiden-presiden Indonesia dan capres pemilu 2009, perempuan-perempuan Minangkabau sebagai kelompok yang sengaja dipinggirkan oleh kelompok-kelompok yang mengaku sebagai “penafsir” budaya Minangkabau, negara-negara Islam di dunia, serta permasalahan-permasalahan di ranah Bundo Kanduang beserta usulan pemecahannya sebagai tanggapan atas postingan Uda Sukardiman terhadap tulisan Uni mengenai Kebanggaan orang Minang di ranah.




April 2014
S S R K J S M
« Agu    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Blog Stats

  • 82,118 hits

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.