
Blog ini berisikan tulisan-tulisan saya dalam tema-tema yang menarik perhatian saya seperti Budaya Matriarchaat, Patriarchaat, Minangkabau (yang berbudayakan Matriarchaat), nilai-nilai kemanusiaan, politik, pandangan-pandangan kritis mengenai masyarakat dan hidup bersama di atas dunia ini, alam, budaya-budaya dunia, tempat-tempat indah di dunia dan juga tema lainnya yang tak kalah menariknya: anak-anak.
Sedikit info mengenai saya:
Perempuan Minang dari suku (klan) Jambak, sudah 5 tahun tinggal di Berlin sampai sekarang, asal kampung Solok, Sumatra Barat, sejak kecil sampai dewasa tinggal di Jakarta. Pernah tinggal di tiga kota di Perancis, yaitu kota Montpellier, Quimper dan Brest. Fasih berbahasa Indonesia dan Minangkabau tentunya serta Inggris, Perancis dan Jerman, sedang memperdalam bahasa Spanyol, dan sudah beberapa tahun terakhir ini mempelajari bahasa Arab, Hindi, Bulgaria, dan bahasa-bahasa suku bangsa Indonesia lainnya seperti bahasa-bahasa di Sumatra dan bahasa Jawa.
Pekerjaan yang saya geluti utamanya adalah dalam bidang IT. Kegiatan lainnya adalah sebagai penterjemah dan penulis. Sekarang sedang menulis tentang Minangkabau untuk pembaca-pembaca Jerman.
Ketertarikan kepada budaya dan bahasa sudah lama. Mungkin karna orang Minang banyak yang poliglote (fasih berbicara banyak bahasa). Mungkin terpengaruh oleh orang awak lainnya seperti Tan Malaka, Agus Salim, serta Ibu saya sendiri atau mungkin juga karena budaya merantau dan budaya lisan yang sangat maju pada budaya Minangkabau.
Selalu hidup dalam dua dunia, dunia orang-orang ilmu alam dan dunia orang-orang dari ilmu-ilmu sosial. Hal inilah yang membuat saya berusaha memahami sangkut paut diantara kedua-dua tema besar dalam hidup manusia ini.
Filsafat dan budaya berfilsafat bukan hanya milik barat. Filsuf tidak hanya sederet nama-nama barat seperti Karl Marx, Friedrich Nietzsche, Simone de Beauvoir, atau lainnya. Melainkan juga para Cadiak Pandai dan orang-orang tua di Minangkabau dan tempat-tempat lainnya di dunia. Mereka hanya berangkat dari titik yang berbeda. Filsuf barat berangkat dari budaya patriarchat barat yang tertanam kuat-kuat pada diri setiap orang barat. Karena itulah cara berfikir mereka berbeda dari orang-orang seperti di Nusantara yang berkenalan dengan Patriarchaat relatif baru. Pemikiran-pemikiran Karl Marx terhadap penindasan orang bermodal terhadap kelompok miskin, tidak berpunya dan tidak memiliki tanah, Nietsche terhadap moral kristen, Simone de Beauvoir mengenai penindasan terhadap perempuan oleh kalangan penguasa dalam masyarakat yang berjenis kelamin laki-laki, bersumber pada nilai-nilai patriarchaat masyarakat barat yang sudah berusia ribuan tahun. Tetapi apakah itu niscaya berlaku untuk semua ras, dan suku bangsa dunia? Tidak!
Oleh karena itulah weblog ini dibuat, untuk mencoba menerangi permasalahan-permasalahan dari kelompok-kelompok masyarakat dunia yang beraneka ragam.
Komentar Terakhir