Arsip untuk Maret, 2009

31
Mar
09

Zeitgeist-Addendum

Berikut adalah lanjutan daripada video Zeitgeist the movie yang pernah saya tampilkan di blog ini. Video ini membahas mengenai banyak hal berkenaan dengan keadaan politik dunia terkini. Mitos mengenai Al Qaeda dan terorisme, World Bank dan IMF, free market system (sistem pasar bebas) dan globalisasi, penguasa dunia yang terdiri dari kekuatan-kekuatan bidang keuangan dan bisnis serta imperium global yang diwakili oleh Amerika Serikat, termasuk ke dalam masalah-masalah yg dibahas.

Keterangan di video ini mengenai teroris sebagai orang yang berjas seharga $ 5.000 dan duduk di lembaga-lembaga keuangan dunia, politik dan bisnis tidak berarti bahwa orang-orang Islam bisa cuci tangan dari kegiatan terorisme ini. Orang Islam sendiri ikut membunuhi bahkan merupakan pelaku pembunuhan utama orang Islam di Afghanistan, Arab Saudi, Pakistan, Irak dan Iran. Orang Islam juga ikut dalam bangunan politik bernama terorisme ini dan ikut bermain dalam konflik-konflik yang melibatkan kelompok Islam dan kelompok bukan Islam.

Mereka juga ikut membantu terbentuknya tatanan politik yang disebut sebagai fasisme Islam seperti yang sedang terbentuk di Indonesia lewat kerja sama antara pihak Islam Indonesia dan militer, dalam rangka menuju diktatur militer yang berdasarkan fasisme Jawa dan  fasisme Islam yang akan ditentukan lewat pemilu 2009 ini. Fasisme Jawa dan fasisme Islam termasuk dalam bangunan fasisme global yang dikenal sebagai globalisasi.

28
Mar
09

Macht und Dummheit

Berikut adalah lagu dari band Jerman yang paling saya suka yaitu in extremo. Judul lagunya adalah Macht und Dummheit (Indon. kekuasaan dan kebodohan). Video pertama adalah versi asli sedangkan yang kedua adalah versi konser. Saya sertakan juga liriknya, biar bisa ikut menyanyikannya kalau suka.

Lang schon bin ich auf der Welt
Als dass mir jeder Stand gefällt
Der König frisst, der Bettler hungert
Die Dirne vor dem Himmel lungert

Als Narr hab ich Spott und Zwietracht gesät
Hab als Priester um Erlösung gefleht
Weit haben mich die Füße getragen
Hört, hört mich sagen

Niemals
Ich werde nie ewig sein
Niemals
Dummheit wird mein Henker sein

Ich kenn’ Menschen mannigfalt
Klein und groß, jung und alt
Im Himmel röstet diese Brut
Ergebenheit die schürt die Glut

Wo Macht und Luge Wahrheit tritt
Tut die Dummheit meist den ersten Schritt
In der Hölle ist das Paradies
Reich an Tagen – hört mich sagen

Niemals
Ich werde nie ewig sein
Niemals
Dummheit wird mein Henker sein

Stumpfsinn wärmt des Thrones Lehne
Der Pfeil liegt auf der Sehne
Bereit zum Schuss mich zu strecken
Hab gewagt mein’ Stolz zu wecken

Der Schutze zittert schweißdurchnässt
Ein Fingerzeig ihn warten lasst
Die Augen zu, er hält inne
Der Sonne glanz durchfährt die Sonne

Niemals
Ich werde nie ewig sein
Niemals
Dummheit wird mein Henker sein

Niemals, Niemals
Ich werde nie unsterblich sein

25
Mar
09

Emakku Hj. Nurma Abubakar Piliang-Perempuan Minang Tulen

Aku mulai epic dari Bundoku ini tahun 1965, ketika aku berumur 5 tahun. Di sebelah tangan kiri dijinjingnya dalam tas rotan sabun ATK 50 batang, tangan kanan membawa 5 kaleng susu bagian tentara, dikepala dijunjungnya garam, gula, kopi, sardencis dll seberat 25 Kg. Semuanya dia dapatkan dari ibu-ibu asrama di Cicalengka untuk minta tolong dijualkan, sedangkan aku disuruhnya menenteng satu karung baju korsikan yang beliau dapatkan dari donsanaknya (baca: saudaranya), seorang panggaleh kaki limo (baca: pedagang kaki lima) di Bandung dengan sistim konsinyasi.

Tempat tinggal kami di Rancaekek didepan rumah H. Maksum yang meminta ayah kami tinggal untuk menjaga beliau karena sering ada rampok menyatroni rumahnya. Bapak haji ini kebetulan orang terkaya di Rancaekek waktu itu. Sampai sekarang , ayah kami dari bataliyon Pagaruyung yang ditugaskan untuk memberantas DI/TII, adalah seorang prajurut pait yang diistilahkan orang Sunda parab mariem (yang pertama kali dihantam meriam jika berperang).

Maka berjalanlah kami setelah sembahyang subuh dan sarapan ubi rebus menyusuri kampung kampung di sekitar warung cina, melambung berputar ke desa Sayang, tembus ke Cipacing dan berhenti sejenak di Cileunyi. Dalam perjalanan door to door tersebut, aku heran karena semua orang begitu menyayangi emakku. Sambil membuka barang dagangan ada yang membeli cash, ada juga yang berhutang, selalu menyediakan makanan untuk emak ku, ada ranginang, talas rebus, goreng pisang, dan sampai di Cileunyi ada yang menyediakan makan siang dengan goreng ikan mas, lalab dan sambel, dengan nasi merah yang bergizi tinggi.

Emak ku orang minang tulen dari desa Karanaur Pariaman yang rumah gadangnya dibakar tentara jepang karena tak mau berkolaborasi dengan mereka. Sepanjang jalan mancari pitih (baca: uang), beliau menceritakan padaku betapa pahitnya dijajah, sekarang kita harus saling bunuh antar bangsa sendiri. Orang Minang disuruh membunuh Kartosuwiryo dengan pasukan dan pendukungnya, sedangkan orang Sunda (bataliyon Siliwangi) disuruh membunuh Ahmad Husen beserta dunsana-dunsana (baca: saudara-saudara) kita yang mendukungnya sebagai gerombolan pemberontak PRRI, belum lagi PKI yang menusuk dari belakang. Sungguh kacau dan sia-sia perjuangan para pendahulu yang memerdekan Indonesia. Setelah merdeka kita malah bertengkar karena alasan politik.

Emak ku orang hebat, setidaknya bagiku yang masih berusia dini. Beban berat yang ditanggungnya dijalaninya dengan senang dan canda tawa sepanjang galengan(batas antar sawah). Sepanjang jalan dari rumah ke rumah, ada ada saja yang beliau ceritakan tentang keluhuran budaya Minang yang adiluhung, tentang perkasanya perempuan Minang yang tidak tergantung pada laki-laki seperti beliau, dimana penghasilan beliau dari berniaga seperti ini dapek labo (baca: laba/untung) dua kali lipat gajih abak ku.

Kau Bujang, jangan kalah sama emak. Emak dan abakmu tidak sempat mengecap pendidikan tinggi karena tak ada kesempatan dan biaya untuk itu. Hanya sampai SR (Sekolah Rakyat) dua tahun. Sekedar menulis dan membaca yang kami bisa. Bahkan abak mu masuk tentara pada usia muda agar tidak membebani ungku (kakek) dan inyik (nenek) kau karena yang hanya kusir bendi di Kuraitaji. Emak akan berusaha menyekolahkanmu walau badan emak remuk dengan baban barek (baca: beban berat) ini. Aku menangis sepanjang jalan dan dibentak dengan sayang oleh emak bahwa laki-laki tidak boleh cengeng, harus setegar batang karambi (baca: kelapa) yang ditiup badai pun tidak pernah rubuh.

Disetiap perhentian di berinya aku buku untuk dibaca. Beliau mengoleksi buku tentang petualangan Karl May, dengan tokoh Winetou dan Old Saterhand, Kho Ping Ho perpuluh puluh jilid, Maria Curie dan tokoh-tohoh dunia seperti Winston churcil, Abraham Lincoln dan buku-buku Balai Pustaka yang salah satunya adalah Tenggelamnya kapal van der Wijk karangan Buya HAMKA. Emak dan Abak mu, bagai laskar Salahudin al Ayubi yang membakar perahunya ketika sampai di pantai Gibraltar, untuk tidak kembali ke ranah minang sebelum kalian kakak baradik dapat emak pentaskan menjadi urang di rantau ini apapun yang terjadi. Pada hari tua emak nanti, emak ingin kalian dapat membangun kampung halaman, dan emak beristirahat dengan tenang di kampung, dan emak menghayalkan pagi-pagi emak bangun setelah sembahyang subuh emak makan katan jo (baca: dengan) pisang goreng, katupek (baca: ketupat) gulai paku dan kemudian emak main ka pasir Karanaur menyaksikan bagan kanai dengan ikan yang berlimpah, dan itu bagan emak sendiri.

Sungguh itu telah dicapainya. Anak-anak beliau semuanya sarjana, dan menyebar di seluruh Indonesia dan manca negara, ada yang di Bandung, di Jakarta, di Lombok, di Jambi, Swedia, Amerika Serikat dan yang paling besar di Karanaur menemani beliau sampai akhir hayatnya di Karanaur. Banyak cerita tentang emakku, dan ini hanya sepenggal dari episode yang beliau lalui yang membekas dalam di sanubariku. Emakku orang Minang tulen yang tidak lekang oleh panas dan tak lapuk kehujanan dan aku bangga jadi anaknya. Lain kali aku akan ceritakan bagaimana beliau menempa kami menjadi mandiri dan berani tampil ke depan, baik dalam bermasyarakat maupun menggali ilmu pengetahuan.

Catatan:

Kisah di atas adalah kisah nyata daripada Bunda dari Ir. Sukardiman yang pernah menulis pengakuan mengenai orang Batak di blog ini. Kisah ini merupakan kisah pertama dari rangkaian kisah-kisah mengenai para Bundo Kanduang di ranah Minang yang akan saya tampilkan di blog ini. Kisah ini bisa dijadikan pelajaran bagi orang-orang yang telah, sedang merencanakan atau akan “merevolusi” tatanan kekeluargaan matrilineal atau bahkan melecehkan Bunda dan merendahkan Bunda mereka sendiri. Kisah ini membuktikan bahwa para Bunda memang merupakan super hero sejati bagi setiap pribadi-pribadi manusia yang lahir ke dunia ini. Apakah kisah di atas adalah mengenai “kekuasaan Ibu” seperti yang banyak diklaim oleh beberapa pihak, ataukah perbuatan yang berdasarkan rasa kasih Ibu untuk anak-anaknya? Saya rasa kita semua bisa menilainya sendiri.

22
Mar
09

Menuju Republik Indonesia

Bagi yang belum pernah membaca tulisan Tan Malaka mengenai Menuju Republik Indonesia bisa dibaca di web site marxists.org.

21
Mar
09

Saya Bangga Jadi Perempuan Minangkabau

Karena perempuan-perempuan Minangkabau telah, bisa dan selalu melawan kekuasaan-kekuasaan yang datang silih berganti yang berusaha menghancurkan ranah Minang entah itu atas nama jihad Islam kaum padri, Barat, pemerintah daerah ataupun pemerintah pusat, yaitu para Bundo Kanduang, para Niniak/Niniek/Ninik (nenek), atau nama-nama seperti Siti Manggopoh, Rohana Kudus, Rasuna Said , Yeni Rosa Damayanti, Prof. Dr. Dewi Fortuna Anwar, Rahmah El Yunusiyah, Aisyah Amini dan banyak lagi perempuan-perempuan Minangkabau lainnya.

Karena perempuan Minangkabau telah terbiasa memimpin masyarakat sebagai Bundo Kanduang dan juga mengambil alih kepemimpinan dari tangan laki-laki ketika laki-laki tidak berdaya apa-apa lagi seperti Siti Manggopoh yang memimpin penyerangan bersenjata terhadap Belanda bahkan ketika anaknya masih menyusu.

Karena perempuan Minangkabau dihargai kemampuan reproduksinya dan diakui hubungannya yang alami dengan anak dimana perempuan-perempuan lain dalam budaya patriarkal Indonesia maupun dunia hanya diperlakukan sebagai “mesin pembuat anak” atau “pengasuh anak daripada seorang laki-laki” dan diputuskan hubungan alaminya dengan anak-anak yang telah dikandungnya dan dilahirkannya.

Karena perempuanlah yang menjadi pemilik tanah dan harta kaum, yang telah terbukti berjasa dalam mempertahankan budaya Minangkabau dan identitas Minangkabau yang membuat kaum tetap memiliki kampung halaman ke mana mereka pulang sejauh apapun mereka merantau dan di mana dalam budaya lain, hampir seluruh tanah telah diperjual-belikan oleh pihak laki-laki dan telah beralih ke tangan para elit yang utamanya adalah laki-laki.

Karena perempuan-perempuan Minangkabaulah yang mengatur dan mengurus keluarga dan berhasil mencetak anak-anak menjadi pribadi-pribadi yang percaya diri dan kuat, yang bisa memimpin masyarakat dan menjadi orang-orang yang perannya terkenal di Indonesia dan negeri-negri Melayu seperti Malaysia, Singapura dan Brunei dan maupun dunia.

Karena perempuan Minangkabau selalu berhasil melawan kekuasaan daripada budaya-budaya patriarkal yang datang dari luar yang berusaha dan cenderung meminggirkan perempuan dari perannya dalam kehidupan masyarakat entah itu kekuasaan yang bernama Islam (fundamentalis ataupun tidak), kekuasaan Belanda atau Barat secara umum, kekuasaan yang bernama pemerintah daerah atau pusat serta kekuasaan yang berbentuk hukum yang menindas perempuan serta kekuasaan-kekuasaan patriarkal dunia lainnya.

Karena perempuan Minangkabaulah yang menjadi perempuan-perempuan pertama di banyak bidang kehidupan “modern” mulai dari jurnalisme/pers/media, dunia usaha, organisasi, pendidikan, seni/budaya, bidang-bidang intelektual dan lain-lain bidang.

Karena perempuan Minangkabulah yang menjadi perempuan pertama yang menjadi pendiri partai pertama di Indonesia, yaitu H.R. Rasuna Said.

Karena perempaun Minangkabaulah yang mendirikan surat kabar khusus perempuan pertama yaitu Rohana Kudus yaitu surat kabar Sunting Melayu.

Karena perempuan Minangkabaulah yang menjadi pendiri organisasi perempuan pertama di Indonesia yaitu Rohana Kudus yaitu organisasi Kerajinan Amai Setia pada tahun 1911.

Karena perempuan Minangkabaulah yang memelopori bidang usaha modern untuk kaum perempuan di Indonesia yaitu Rohana Kudus dengan bidang usaha Kerajinan Amai Setianya.

Karena perempuan Minangkabaulah yang mendirikan sekolah perempuan modern pertama yaitu Rohana School yaitu Rohana Kudus.

Karena perempuan-perempuan Minangkabau adalah perempuan-perempuan kuat yang juga memilki banyak kemampuan dan ketrampilan serta tetap dapat menjalankan fungsinya sebagai Bunda Penyayang bagi anak-anaknya.

Karena perempuan-perempuan Minangkabau bisa melakukan apa saja tanpa harus pusing-pusing belajar dan berkutat dengan “teori feminisme“/”teori pembebasan perempuan“/”teori pemberdayaan perempuan” dan lain sebagainya yang sebenarnya hanya berlaku untuk dan diperlukan oleh perempuan-perempuan dalam budaya patriarkal yang memang dilecehkan, ditindas dan dipinggirkan. Yang perlu dilakukan oleh perempuan Minangkabau adalah melawan pengaruh-pengaruh buruk dan merusak dari budaya-budaya patriarkal dunia yang masuk lewat satuan-satuan budaya dengan label agama, ideologi ataupun kekuasaan.

Karena ketika anak gadis-anak gadis lain diajarkan oleh Ibunya untuk menjerat laki-laki kaya walaupun sudah tua dan menjijikkan sekalipun, Bunda saya dan Bunda-Bunda Minang lain mengatakan kepada gadis-gadis Minang untuk bersama dengan laki-laki yang baik dan penyayang.

Karena perempuan-perempuan Minangkabau tidak dijarkan untuk patuh dan menurut kepada laki-laki lain yang dikenal sebagai “sang suami”, ketika gadis-gadis lainnya diajarkan untuk “melayani laki-laki yang menjadi suaminya” dan patuh tanpa syarat, dikarenakan tanggung jawab perempuan Minangkabau adalah terhadap anak dan keluarganya. Walaupun konsep-konsep seperti ini sudah mulai masuk ke dalam budaya Minangkabau lewat budaya-budaya patriarkal lokal maupun internasional yang berusaha menguasai ranah Minang.

Ketika anak gadis-anak gadis lain dipingit dan tidak dapat melakukan apa-apa perempuan Minangkabau bisa melakukan apa saja karena tidak pernah ada pemisahan yang jelas antara “pekerjaan laki-laki” atau “pekerjaan perempuan” pada masyarakat Minangkabau.

Karena perempuan Minangkabau diakui peranannya sebagai Bundo Kanduang (Bunda Penyayang), atau dalam perannya sebagai kekuatan untuk meneruskan generasi manusia di dunia. Oleh karenanya perempuan-perempuan Minangkabau yang telah memiliki keturunan diberi gelar Bundo Kanduang.

Ketika perempuan-perempuan lain dalam budaya patriarkal diberi tugas untuk harus dapat “melahirkan anak laki-laki”, “menyembah anak laki-laki” dan memdiskriminisakikan anak perempuannya bahkan kalau perlu membunuhnya di kandungan ataupun setelah di luar kandungan seperti banyak terjadi di India dan Cina serta di dalam budaya-budaya patriarkal zaman dulu, perempuan-perempuan Minangkabau mengandung dan melahirkan anak-anak tanpa memandang jenis kelamin.

Karena menjadi “perempuan” dalam budaya Minangkabau tidaklah hina seperti menjadi perempuan dalam budaya-budaya patriarkal baik di Indonesia maupun dunia.

Kerena ketika perempuan-perempuan dalam karya sastra (dan film) dari banyak budaya patriarchal lainnya hampir selalu digambarkan sebagai pelacur, perempuan yang diperkosa, perempuan yang dipukuli, perempuan yang dibunuh, perempuan yang dijual orang tuanya ke laki-laki lainnya, perempuan yang diberikan ke laki-laki yang berkuasa seperti nasib yang harus dijalani oleh RA Kartini yang disebut-sebut sebagai “pembebas perempuan Indonesia” itu, dan lain-lain perbuatan biadab terhadap perempuan, perempuan Minangkabau digambarkan sebagai Ibu Ratu bijaksana dalam tambo alam Minangkabau yaitu Bundo Kanduang dan juga sebagai perempuan-perempuan kuat dan mandiri dalam kaba (cerita klasik Minang). Sastra Minangkabau tidak mengenal perempuan sebagai pelacur atau tema-tema cerita-cerita lainnya yang melambangkan pelecehan, penindasan, kekerasan dan penghinaan serta penistaan terhadap kaum perempuan yang menjadi tema-tema utama di dalam budaya patriarkal baik lokal maupun dunia.

Karena budaya Minangkabau tidak mengenal perempuan sebagai pelacur, sebagai budak, baik dalam lembaga yang bernama “rumah tangga” maupun sebagai pembantu rumah tangga murah, sebagai anak yang dijual orang tuanya kepada laki-laki kaya, perempuan sebagai “obyek seks” dan lain-lain posisi perempuan yang rendah dan tertindas.

Karena perempuan Minangkabau sangat dihormati dalam fungsi keibuannya dan diberi gelar sama dengan gelar Ibu Asal Minangkabau yaitu Bundo Kanduang.

Karena perempuan Minangkabau dihormati dalam fungsinya sebagai cerdik pandai dan diberi gelar sama dengan gelar Ibu Asal Minangkabau yaitu Bundo Kanduang.

Karena budaya Minangkabau telah dan selalu melahirkan perempuan-perempuan hebat yang melawan begitu banyak kekuasaan patriarchal yang datang silih berganti ke ranah Bundo Kanduang dan yang berusaha menghancurkan ranah maupun budaya Bundo Kanduang seperti Siti Manggopoh, Rasuna Said, Rahmah El Yunusiyah, Rohana Kudus, Puti Reno Raudha Thaib, Yeni Rosa Damayanti, Prof. Dr. Dewi Fortuna Anwar, Dr. Ranny Emilia, Lany Verayanti dan masih banyak lagi lainnya.

Karena budaya Minangkabau banyak melahirkan perempuan-perempuan yang keras hati, teguh pendirian, dan kuat kemauan, kuat dalam menghadapi cobaan hidup, mandiri, dan memainkan peranan penting dalam keluarga, masyarakat baik di ranah Minang, Indonesia maupun dunia.

Karena perempuan Minangkabau sebagai janda tidak dipandang rendah atau bahkan harus mati dipanggang api karenanya, seperti yang umum terjadi dalam budaya-budaya yang dipengaruhi oleh Hindu seperti di India dan Jawa/Sunda. Perempuan Minangkabau akan didorong untuk kawin lagi sehingga tidak perlu menderita karena harus “bobok sendirian” ;)

Karena perempuan Minangkabau tidak dipandang dari sisi kelaminnya seperti perempuan-perempuan dalam budaya patriarkal, melainkan dari segi fungsinya sebagai Bunda bagi anak-anaknya, perannya dalam keluarga besar dan dalam masyarakat.

Karena ketika perempuan-perempuan lain dalam budaya patriarkal harus menelan hinaan-hinaan yang menyakitkan hati dan sangat merendahkan seperti kata-kata berikut dalam bahasa Jawa/Sunda/Jakarta (sundal, pelacur, perek, ayam, perempuan murahan, dll), Inggris (whore, slut, bitch, chick, cunt, dll), Jerman (Schlampe, Nutte, Flittchen, Hure, dll), Perancis (putain, pute) dan banyak lagi lainnya dalam berbagai bahasa-bahasa daripada bangsa-bangsa patriarkal lokal maupun dunia, budaya Minangkabau tidak mengenal cacian dan hinaan serupa itu. Satu panggilan untuk perempuan Minangkabau yang melambangkan penghormatan dan penghargaan yang tinggi yaitu  Bundo Kanduang. Lewat pengaruh-pengaruh budaya-budaya patriarkal baik lokal maupun internasional, sudah ada laki-laki dan juga sebagain kecil perempuan Minangkabau yang telah mulai menggunakan kata-kata hinaan dan cacian tersebut. Tapi hal itu masih bukan merupakan hal yang umum.

Karena perempuan Minangkabaulah yang menjadi pandeka Silat yang dikenal dunia yaitu Inyiak Upiak Palatiang.

Karena perempuan-perempuan Minangkabau adalah perempuan-perempuan pelopor dalam bidangnya masing-masing di Indonesia.

Karena perempuan-perempuan Minangkabau adalah pelopor-pelopor dalam bidang puisi di Indonesia.

Karena peremuan-perempuan Minangkabau adalah perempuan-perempuan menonjol dalam bidang penulisan seperti Saadah Alim, Leila S. Choidori dan banyak lagi lainnya.

Karena perempuan-perempuan Minangkabau adalah perempuan-perempuan yang berperan penting dalam dunia film dan theater seperti Eva Arnaz, Jajang Pamoentjak, Gusmiati Suid dan Sherina.

Karena perempuan Minangkabaulah yang menjadi penulis cerita pendek perempuan pertama di Indonesia yaitu Saadah Alim.

Karena perempuan Minangkabaulah yang aktif memperkenalkan budaya-budaya Indonesia ke manca negara yaitu Elly Kasim.

Karena perempuan Minangkabaulah yang aktif membela perempuan yang ditinda oleh para penguasa Islam seperti Inul yaitu Jajang Pamoentjak dan Yeni Rosa Damayanti.

Karena perempuan Minangkabaulah yang menjadi Ibu Pers Indonesia yaitu Rohana Kudus.

Karena perempuan Minangkabaulah yang menyelamatkan per-film-an Indonesia setelah sekarat hampir 20 tahun lamanya yaitu artis kecil Sherina, yang menyelamatkan per-film-an Indonesia pada saat ia baru berumur 10 tahun lewat film-nya yang sangat terkenal yaitu Petualangan Sherina.

Karena perempuan Minangkabaulah yang menjadi anggota kehormatan dari lembaga hak-hak asasi manusia untuk pemberitaan mengenai senjata pemusnah masal yaitu The Weapons of Mass Destruction Commission, yang berkedudukan di Swedia yaitu  Prof. Dr. Dewi Fortuna Anwar.

Karena perempuan Minangkabaulah yang menjadi Ibu dari dunia tari kontemporer Indonesia, yang membuat nama Indonesia diakui di dunia Internasional dengan tari kontemporernya yang berdasarkan pada budaya Minangkabau Silek (silat) yaitu Gusmiati Suid, pendiri sanggar tari Gumarang Sakti.

Karena perempuan Minangkabaulah yang merupakan aktivis mahasiswa yang ditakuti Suharto yaitu Yeni Rosa Damayanti yang dipenjarakan olehnya lebih dari satu tahun lamanya dalam kasus “21 mahasiswa” dan yang diasingkan olehnya di negri Belanda setelah peristiwa di kota Dresden, Jerman.

Karena Ibu saya ada banyak, saya panggil mereka Mak Gaek, Uwo, Mama dan Etek.

Karena saya tidak pernah diajarkan oleh Ibu saya dan budaya saya untuk menyembah laki-laki dan memasrahkan kehidupan saya ditangan laki-laki seperti nasib banyak perempuan-perempuan lainnya dalam budaya patriarkal.

Karena saya sebagai perempuan bisa jauh merantau, dan karenanya bisa tau banyak hal dan bisa melihat banyak hal. Karena Ibu saya tidak pernah mengatakan hal-hal berikut ini: “Ah, kamukan perempuan tidak usah sekolah tinggi-tinggi”, “sebagai perempuan kamu harus melayani suami”, dan lain-lain ucapan yang merendahkan anak perempuan dan menghilangkan semangat anak perempuan yang biasa dilakukan oleh ibu-ibu pemuja phallus (kelamin laki-laki) pada budaya patriarkal.

Karena masyarakat Minangkabau adalah masyarakat matriarchat terbesar di dunia.

Karena masyarakat Minangkabau adalah masyarakat matriarchat yang “termodern” di dunia.

Karena masyarakat Minangkabau adalah masyarakat matriarchat yang paling stabil di dunia.

Karena Minangkabau menjadi lambang perlawanan budaya matriarchat yang diperangi oleh budaya patriarchat selama ribuan tahun.

Karena perempuan-perempuan Minangkabau berhasil bertahan dan selalu melakukan perlawanan atas penindasan dan usaha-usaha memerangi perempuan dan budaya Minangkabau. Sampai sekarang.

Karena perempuan-perempuan Minangkabau memainkan peranan penting dalam melawan arus kekuatan-kekuatan patriarkal besar dunia, Hindu/Budha-India, Hindu/Budha-Jawa, Konfusianisme/Budha-Cina, Katolik-Portugis, Budha-Sriwijaya, Aceh-Islam, Arab-Islam, Kristen-Belanda, Kristen-Inggris, Budha-Jepang, Kristen/Globalisasi/Kapitalisme Turbo-Amerika Serikat/Inggris serta Kristen/Misionaris Barat.

Karena perempuan-perempuan Minangkabau memainkan peranan penting dan sangat berpengaruh di Indonesia (dalam arti yang baik tentunya) dalam bidang budaya, bahasa, sastra, politik, sejarah, pers, gastronomi, dan lain sebagainya, walaupun di dalam pemberitaan atau buku sejarah Indonesia hampir tidak disebutkan.Perempuan Minangkabau hilang dari lembaran-lembaran pemberitaan dan sejarah Indonesia lewat jawanisasi, Islamisasi, Arabisasi, Eropaisasi dan maskulinisasi sejarah.

Karena perempuan Minangkabaulah yang menjadi teladan bagi banyak gadis-gadis remaja di Indonesia untuk menggeluti dunia pertelevisian yaitu Desi Anwar yang menjadi presenter pertama perempuan dalam sebuah stasium televisi swasta pertama di Indonesia yaitu RCTI.

Karena walaupun banyak budaya-budaya patriarkal yang masuk dan mempengaruhi budaya Minangkabau, perempuan-perempuan Minangkabau tidak pernah kekurangan tokoh laki-laki yang memberitakan dan mendorong peran perempuan Minangkabau dalam masyarakat, seperti Tan Malaka, A.A. Navis dan lain-lain para cerdik pandai Minangkabau laki-laki lainnya.

Walaupun sepertinya terpinggirkan dan tidak dikenal jasa-jasanya di Indonesia dibandingkan dengan kaum laki-lakinya karena maskulinisasi sejarah dan pemberitaan, perempuan Minangkabau tetap memainkan peranan penting sampai saat kini. Malahan abad ke-21 ini tampaknya melambangkan kebangkitan kaum perempuan Minangkabau dengan munculnya tokoh-tokoh perempuan baru di ranah masyarakat.

Peran perempuan Minangkabau mengalami pasang surut, karena datangnya pengaruh dan penindasan budaya patriarkal baik lokal maupun dunia, akan tetapi perempuan-perempuan Minangkabau terus melawannya dan berhasil menghalau pengaruh-pengaruh buruk yang selalu bertujuan sama yaitu menindas dan menghilangkan peran perempuan Minang sebagai Bunda (baca: penghasil generasi baru manusia) dan di dalam masyarakat.

Mengatakan bahwa semua perempuan Indonesia bernasib sama atau seluruh perempuan di dunia bernasib sama adalah pernyataan tanpa dasar yang tidak berdasar pada kaji yang lengkap. Perempuan Minangkabau serta perempuan-perempuan dalam budaya matriarkal lainnya jelas tidak bernasib sama dengan perempuan-perempuan Jawa/Barat/Arab Saudi. Menyamaratakan segala sesuatu adalah hal yang berbahaya dan tidak bertanggung jawab. Tolok ukur barat mengenai kekuasaan, militerisme dan seksualitas tidak bisa dipakai untuk menilai peran serta dan keadaan perempuan pada budaya-budaya non-Barat atau non-patriarkal seperti budaya Minangkabau. Perempuan Minangkabau, sebelum tolok ukur barat dijadikan sebagai penafsir “kemajuan perempuan”, selalu memainkan peranan penting dalam masyarakat dan melakukan segala jenis pekerjaan yang ada di masyarakat Minang “tradisional” kala itu.

***

Tulisan ini saya persembahkan bagi Niniak, Uwo, Bunda, Etek, kakak perempuan kontan saya, dunsanak-dunsanak perempuan saya yang lain, kawan-kawan perempuan saya, cadiak pandai perempuan Minangkabau serta para Bundo Kanduang dan para Niniak yang telah berusaha merajut hubungan keluarga besar di rumah gadang dan kaum.

16
Mar
09

Militer Indonesia vs. Perempuan Aceh

Hati saya pilu, setiap kali saya mendengar kisah-kisah tentang masyarakat di Aceh dan penindasan oleh kelompok militer Indonesia. Lebih pilu lagi mendengar bagaiman perempuan diperlakukan dengan sewenang-wenang oleh tentara Indonesia, diperkosa, ditendang, dan lain-lain perbuatan biadab. Masalahnya cerita ini jarang sekali muncul di media di Indonesia. Hal ini cuma bisa diketahui dari LSM-LSM baik dalam dan luar negeri, orang Aceh sendiri ataupun orang bukan Aceh yang berkecimpung dalam masalah Aceh.

Satu lagi cerita pilu dari seorang perempuan Aceh yang dibakar kampungnya dan ditendang wajahnya oleh tentara Indonesia. Saya lihat perempuan ini tidak ada bedanya dengan Ibu-Ibu di ranah Minang, baik kain penutup kepalanya, raut mukanya maupun senyumnya. Serupa kalau kita tidak bisa bilang sama. Lebih lanjutnya klik link berikut ini: Cerita Pilu Perempuan Aceh

16
Mar
09

Bulgaria dan Para Dewi

Berikut adalah lagu-lagu menarik yang saya pilihkan dari budaya Bulgaria dari Desi Slava, Anelia, Sofi Marinova dan Valia Balkanska.


Valia Balkanska – Izlel e Delio Haidutin

Bulgaria adalah negara kecil yang indah di wilayah Balkan di Eropa Timur yang berpenduduk hanya 7,8 juta jiwa. Meskipun begitu mereka tidaklah termasuk negara miskin. Dengan letak negaranya yang strategis di Laut Hitam, Bulgaria mendapat pemasukan yang besar dari sektor pariwisatanya yang menawarkan tempat-tempat liburan yang beraneka ragam mulai dari pantai-pantai indah sepanjang laut hitam, daerah pegunungan seperti pegunungan Rila, Rodopen dan pegunungan Balkan, sungai-sungai maupun danau serta tempat-tempat untuk olahraga musim dingin seperti ski.


Aneliq – Vsichko vodi kim teb

Bulgaria merupakan pusat daripada budaya matriarkal Eropa Kuno sebelum datangnya berlapis-lapis penyerangan bangsa-bangsa patriarkal dari berbagai masa. Bulgaria berada di bawah kekuasaan kekhalifahan Usmaniah selama kurang lebih 500 tahun. Kekhalifahan Usmaniah dibangga-banggakan oleh orang-orang Islam dunia sebagai “masa keemasan Islam”. Entah apa yang dimaksud dengan “keemasan” itu tampaknya harus diperjelas. “Zaman Keemasan” untuk siapa dan “zaman keemasan” seperti apakah yang dimaksud?

Kekhalifahan dalam bahasa Arab adalah bentuk kekuasaan yang sama dengan istilah-istilah lainnya seperti kekaisaran, imperium, kerajaan dan lainnya. Kekuasaan ini ditopang oleh perbuatan-perbuatan biadab dan tidak manusiawi seperti pembunuhan, pembantaian, peperangan, pemerkosaan, penghancuran, pemaksaan pandangan hidup dan lain-lain, yang sekali lagi adalah merupakan perilaku daripada budaya patriarkal apapun namanya dan bangsa manapun yang melakukannya. Kalau kita mendengarkan orang Bulgaria berbicara akan terlihat kebencian daripada orang-orang ini terhadap orang-orang Turki yang telah menjajah tanah Bulgaria selama 500 tahun, memperkosai perempuan-perempuan Bulgaria, dan lain-lain perbuatan biadab.


Desi Slava — Prosto Zabravi

Bulgaria sebagai sebuah satuan budaya tidaklah benar-benar tercerabut dari warisan budaya matriarkalnya yang berasal dari budaya matriarkal Eropa kuno. Jejak-jejak kekuasaan yang datang silih berganti ke tanah Bulgaria memang terlihat bercampurnya budaya patriarkal dari banyak bangsa di Eurasia yang bercampur dengan jejak-jejak budaya matriarkal Eropa kuno ini. Sofia, ibukota Bulgaria, diberi nama berdasarkan nama Dewi Sofia, yaitu Dewi Ilmu Pengetahuan dalam budaya Eropa yang juga dikenal sebagai nenek (niniak) daripada Jehovah atau Jahwe yang dikenal oleh banyak orang sebagai Tuhan daripada orang Yahudi. :) Di pusat kota Sofia dapat dilihat patung Dewi Sofia yang menjadi lambang negara ini.


Sofi Marinova – Buryta v Sirceto Mi

Para Diva Bulgaria di atas adalah dewi-dewi modern di mata saya, yang melambangkan dewi kecantikan, dewi keindahan maupun dewi cinta. Dewi-dewi bersuara emas dari dua generasi dan dua jenis musik, tradisional dan modern. Chalga adalah jenis musik di Bulgaria serupa dengan dangdut yang merupakan musik pop tradisional yang terasa pengaruh Turkinya dan oleh karenanya pengaruh Arabnya. Pengaruh budaya Arab di Bulgaria masuk lewat penjajahan Turki. Akan tetapi Bulgaria sebagai satuan budaya berdiri sendiri dan tidak berusaha menjiplak budaya Turki tidak seperti segelintir orang Indonesia yang menunduk-nunduk dan membungkuk-bungkuk di depan budaya Arab dan orang Arab.

11
Mar
09

Orang Minangkabau, Orang Padang, Orang Melayu atau Orang Awak?

Lagu berikut adalah salah satu lagu dangdut kesukaan saya dari daerah Bangkinang, Kampar di propinsi Riau. Penyanyinya adalah Orang Ocu yang dikenal sebagai “Orang Melayu Riau” bernama David Astar. Lagu ini juga adalah ciptaannya sendiri.

Bahasa yang dipakai oleh David Astar untuk lagu ini dikenal sebagai “bahasa Ocu” (bahasa yang dipakai oleh orang Ocu), yang tidak ada bedanya dengan bahasa “Minangkabau” yang dikenal sebagai bahasa orang awak di Sumatra Barat. Di Sumatra Barat sendiri ada banyak sekali dialek-dialek dari bahasa yang dikenal sebagai “bahasa Minangkabau” ini, karena memang belum ada usaha-usaha untuk menstandardisasi cara pengucapan atau penulisan dari dialek-dialek ini. Sehingga banyak, kalau kita tidak dapat mengatakan hal itu sebagai sebagian besar, perbedaan dalam penulisan kata-kata dari tiap-tiap dialek ini.

Menurut keterangan seorang Ibu dari daerah Solok, dua kampung yang berdekatan saja memiliki dialek yang berbeda. Contohnya adalah kata pasar (Indon.). Ada kampung yang memakai kata “balai“, sementara kampung terdekatnya memakai kata “bolai“. Sementara itu, di daerah-daerah lain di Sumatra Barat, banyak orang yang memakai kata “pasa“. Jadi memang perbedaannya tidak banyak. Umumnya pebedaannya terletak pada huruf ataupun suku kata. Perbedaan cara penulisan adalah perbedaan yang paling sering ditemui. Orang Ocu misalnya menulis kata untuk “orang” sebagai “ughang“, sama dengan orang Silungkang di Sumatra Barat. Hal ini disebabkan karena banyak orang “awak” tidak bisa mengucapkan huruf “r”. Sementara itu di daerah lainnya kata “urang” yang dipakai.

Orang dari daerah Talawi di Sumatra Barat mengatakan bahwa, dialek “bahasa Minang” mereka sangat jauh berbeda daripada dialek-dialek “bahasa awak” lainnya di Sumatra Barat. Orang-orang dari daerah lainnya mengalami kesulitan untuk bisa mengerti sepenuhnya apa yang dimaksud karena perbedaan yang cukup jauh ini.

Sesungguhnya, banyak suku bangsa-suku bangsa di Sumatra Tengah yang kini masuk sebagai propinsi Riau, Bengkulu, Sumatra Selatan, Jambi, sampai ke Aceh yang berbahasa yang sama dengan bahasa yang dikenal sebagai “bahasa Minang”, hanya beda-beda sedikit saja. Kita bisa sebut saja misalnya orang Ocu, orang yang dikenal sebagai orang Kubu yang sebenarnya terdiri dari banyak suku-suku lainnya seperti misalnya, orang Talang Mamak atau orang Mamak, orang Sakai, orang Talang atau orang Petalangan dan lain-lain di Riau, serta orang Aneuk Jamee di Aceh. Kata Aneuk Jamee sendiri dalam bahasa Aceh kira-kira sama dengan “pendatang”. Mereka semua pada umumnya menyebut dirinya dengan “orang awak”. Ada yang menyebut dirinya, terutama yang tinggal di daerah Bukit Barisan, dengan sebutan “orang darat” atau dalam bahasa orang-orang di Sumatra Tengah sebagai “urang darek“.

Orang-orang ini berbahasa yang sama dengan “orang awak” di Sumatra Barat, menyebut dirinya dengan “orang awak” atau “orang darek” dan hampir seluruhnya masih berbudaya matrilineal. Akan tetapi di propinsi Riau mereka dikenal sebagai “orang Melayu“. Di luar Riau mereka dikenal sebagai “orang Melayu Riau“. Dan saudara mereka di Sumatra Barat tidak mengenal mereka, bahkan ikut-ikutan menyebut mereka sebagai “orang Melayu”. Padahal orang-orang ini kebanyakan tidak merasa menjadi “orang Melayu” melainkan “orang awak”, “orang darek” atau bahkan “orang asli”.

Pernyataan ini serupa dengan orang-orang awak di Sumatra Barat yang merasa diri mereka bukan “orang Melayu“, melainkan “orang awak“, atau “orang Minang“. Orang-orang Minang di daerah-daerah selain Padang, menyebutkan bahwa bahwa mereka “lebih Minang” daripada “orang Padang“, karena dari sejarahnya, Padang memang merupakan tempat bagi para pendatang, di mana perubahan maupun pemaksaan budaya juga dimulai dari daerah ini. Sampai sekarang, Padang tetaplah merupakan tempat di mana, gagasan-gagasan yagn bersumber daripada kekuasaan dimulai, dalam fungsinya sebagai tempat bagi “kaum pendatang” dan tempat kekuasaan (ibukota propinsi).

Dari kesamaan bahasa maupun budayanya secara umum, sebenarnya bisa dikatakan bahwa “orang Minang” di Sumatra Barat adalah bersaudara dengan orang-orang yang disebut sebagai orang Melayu atau orang pendatang ini (semisal Aneuk Jamee di Aceh). Seluruh suku-suku ini sama-sama menyebut diri mereka “orang awak“, memiliki budaya yang matrilineal, serta menolak disebut sebagai “orang Melayu“. Orang Talang Mamak misalnya mengatakan bahwa orang Talang Mamak yang masuk Islam, sebagai menjadi “orang Melayu“. Orang-orang yang disebut sebagai orang Kubu utamanya berasal dari orang-orang yang lari ke hutan pada saat berkobarnya penyerangan kelompok padri dengan kelompok orang awak yang dikenal sebagai kelompok adat. Hal yang sama juga dikatakan oleh “orang-orang awak” di Sumatra Barat, bahwa yang disebut sebagai orang Kubu adalah orang-orang yang tidak mau masuk Islam atau orang-orang yang ingin bertahan dengan kebudayaan mereka, dengan kata lain orang-orang yang tidak ingin menjadi “melayu“. Sama halnya dengan banyak “orang awak” di Malaysia, yang tidak mau menjadi “Melayu” karena mereka tidak mau masuk Islam, dan merasa mereka mendapat perlakuan yang tidak adil sebagai bukan “Muslim”. Mereka juga menyebut diri mereka sebagai “orang nagari” (dari asal kata nagari). Orang-orang ini juga menyebut diri mereka sendiri dengan sebutan “orang awak“.

Orang awak di Sumatra Barat sendiri mendasari identitas mereka sebagai orang Sumatra Barat, didasarkan pada identitas dari zaman Belanda sebagai orang dari daerah “Pantai Barat Sumatra“, jadi Sumatra Barat. Dan ditambah dengan pembatasan-pembatasan menjadi propinsi-propinsi menjadi propinsi Sumatra Barat (Sebelumnya hanya Sumatra Tengah), yang kemudian hanya mencakup sebagian kecil saja dari daerah yang dulu dikenal sebagai Sumatra Tengah. Dengan demikian juga memisahkan saudara-saudara sesama budaya di bagian Sumatra lainnya.

Memandang kenyataan mengenai budaya yang serupa ini, serta kenyataan bahwa di Riau sendiri, sebagian besar penduduknya adalah orang yang menyebut dirinya “orang awak” dan “berbahasa awak” sama seperti bahasa “orang awak” di Sumatra Barat, yang juga berarti masih bersaudara dengan orang awak di Sumatra Barat, semestinya orang awak di seluruh daerah-daerah di Sumatra dan Malaysia membentuk suatu Pan-Orang Awak untuk menyatukan kembali saudara-saudara kita dari keterpisahan politik oleh sekat-sekat yang bernama wilayah. Tidak usah dipermasalahkan lagi apakah “orang awak” itu beragama Islam atau tidak. Yang terpenting adalah kesamaan budaya, yang salah satunya adalah bahasa dan budaya yang matriarkal. Sudah cukuplah penderitaaan “orang awak” karena terpecah belah karena masalah pemaksaan agama ini. Orang-orang awak zaman dulu sudah cukup menderita karena harus lari ke hutan untuk menyelamatkan diri dari serangan-serangan kelompok Islam fundamentalis yang dikenal sebagai kelompok padri ini.

Perang orang awak melawan Belanda yang terjadi sesudah penyerangan kelompok padri terhadapa mereka, didasari pada dua hal yaitu perlawanan kelompok padri yang diperangi oleh Belanda karena penyerangan kelompok padri ini dianggap mengganggu perekonomian Belanda, dan perang orang awak sendiri melawan Belanda yang berdasarkan kesadaran bahwa Belandapun pada akhirnya hanya ingin mengambil keuntungan dari mereka. Bahwa kemudian “perang padri” ini disucikan menjadi hanya “perang kelompok padri melawan Belanda” adalah terlalu berlebihan. Kelompok padri pada mulanya tidak bermaksud menyerang Belanda melainkan “memurnikan” dan “mengislamkan” orang awak. Perang melawan Belanda yang terjadi sesudahnya adalah suatu konsekuensi karena penyerangan kelompok padri terhadap orang awak yang “tidak mau menjadi Islam” atau “tidak benar-benar Islam” ini menganggu roda perekonomian dan karenanya dianggap merugikan Belanda. Harus diingat pula bahwa perempuan-perempuan Minang berperan besar dalam perang lanjutan ini (baca: perang melawan Belanda dan bukannya penyerangan kelompok padri kepada orang-orang awak), yaitu sebagai pembuat mesiu (Rusli Amran) dan juga dalam perang itu sendiri. Akan tetapi yang ditonjolkan hanya “Imam Bonjol” saja, padahal boleh dikatakan dialah yang menyebabkan “orang awak” akhirnya benar-benar jatuh ke tangan penjajahan Belanda. “Perang padri” adalah perang yang diawali dengan penyerangan dan pembantaian kelompok padri terhadap orang awak yang tidak mau menjadi Islam, berlanjut dengan perang kelompok padri dan orang awak yang bukan termasuk kelompok padri untuk melawan Belanda dan yang akhirnya diakhiri dengan jatuhnya ranah Bundo Kanduang ke tangan penjajah Belanda. Jadi bisa dikatakan bahwa kelompok padrilah yang menyebabkan terjajahnya ranah Bundo Kanduang.

Kata Minangkabau atau Minang sendiri sebenarnya adalah kata yang dipakai atau disukai oleh peneliti-peneliti Barat untuk memberi nama “orang awak” di daerah yang dikenal sebagai Sumatra Barat, yang berdasarkan kepada cerita yang tampaknya bombastis mengenai peristiwa adu kerbau besar dengan kerbau kecil yang masih menyusu. Banyak juga peneliti lainnya yang memberi nama Minangkabau untuk orang-orang yang berbudaya matrilineal (baca matriarkal) yang mendiami sebagian terbesar daerah yang disebut sebagai Sumatra Tengah, sampai ke Sumatra Utara (Aceh).

Daerah Riau yang dikenal sebagai “Melayu yang asli” malahan penduduk terbesarnya adalah orang-orang yang berbudaya matriarkal dan berbahasa awak dan menyebut dirinya sendiri sebagai orang awak. Ibukota Riau, Pekan Baru, sebagian besar didiami oleh orang-orang awak dari Sumatra Barat. Kalau begitu, sebenarnya apa arti Melayu itu? Selama ini kita mengenal kata Melayu, tapi kata itu memiliki banyak arti dan dipergunakan sebagai sebuah penghormatan kepada identitas kemelayuan. Padahal orang-orang yang menyebut dirinya “orang asli” di Sumatra Tengah mengatakan bahwa menjadi “orang Melayu” berarti masuk Islam. Jadi, ke-Islam-anlah yang memberikan identitas “Melayu” ini. Peneliti-peneliti Barat sendiri lebih suka menyebut semua suku sebagai “Melayu“. Peneliti Barat sendiri bahkan dengan beraninya mengatakan bahwa “bahasa Minangkabau” adalah salah satu dialek dari “bahasa Melayu“. Seolah-olah “orang Melayu” dan “bahasa Melayu” yang dikenal sebagai “bahasa Melayu Riau” ataupun “bahasa Kebangsaan Malaysia” memiliki kedudukan lebih tinggi atau “ada terlebih dulu” daripada bahasa awak yang dikenal sebagai “bahasa Minangkabau“. Padahal istilah Melayu untuk orang asli di Sumatra Tengah yang berbahasa awak selalu diasosiasikan dengan Islam, berarti sebagai hal yang baru, sebagai hal yang datang yang dibawa oleh pendatang-pendatang Arab maupun orang-orang yang sudah terpengaruh dengan budaya Arab.

Karena alasan-alasan di atas bahasa Melayu baik di Riau di Malaysia ataupun Bahasa Indonesia selayaknya dipandang sebagai bahasa turunan daripada bahasa awak atau bahasa dari orang-orang awak di “Sumatra Tengah” sampai ke Aceh dan sebagainya yang berkembang lewat perpaduannya dengan entitas baru yaitu Arab/Islam.

Lebih lanjut soal Pan-Orang Awak, Melayu, bahasa Melayu dan “perang padri” pada postingan berikutnya.

08
Mar
09

Lagu Untuk Cinta

Sedikit selingan menarik dari tulisan-tulisan di blog ini yang kata beberapa orang “bikin merinding”. Berikut adalah lagu Rusia berjudul Pesen pro Lubov atau Lagu Untuk Cinta. Penyanyinya sangat seksi bernama Bianka. Judul lagunya membuat hati tergugah cinta. Yang lain dari negeri terbesar di dunia yang terdiri dari banyak suku bangsa dan budaya ini dan yang merupakan negara dengan penduduk ke-5 terbesar di dunia, setelah Indonesia tentunya. Kita layaklah menengok budaya-budaya lainnya di dunia, agar tidak melulu berpatokan pada Amerika atau Arab :)

Catatan:

Mulai hari ini, saya akan menulis lebih sering. Mungkin setiap hari, mungkin sekali dua hari. Selamat membaca :)

05
Mar
09

Fasisme Jawa-Bagian 1

Berikut adalah kritik atas fasisme Jawa dari seorang pemikir dan sastrawan Jawa terkenal Pramudya Ananta Tour. Pramudya telah menghasilkan banyak sekali karya sastra yang diantaranya adalah tetraloginya yang terkenal yaitu Bumi manusia. Pramudya selain dikenal sebagai sastrawan juga dikenal karena keterlibatannya dalam LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakjat) yang ditengarai sebagai pro PKI (Partai Komunis Indonesia) dan konflik antara LEKRA vs. Manikebu (Manifesto Kebudayaan).

Saya Terbakar Amarah Sendirian:

Pramoedya Ananta Toer Dalam Perbincangan dengan Andre Vltchek & Rossie Indira

PRAMOEDYA Ananta Toer kembali angkat bicara. Kini Pram menggugat apa yang disebutnya sebagai “fasisme Jawa” atau ”Jawanisme” –faham yang berkembang di kepulauan ini sejak ratusan tahun silam hingga hari ini.

Jawanisme adalah taat dan setia membabi buta pada atasan,” kata Pram. Kesetiaan dan ketaatan ini membuat orang mudah bertekuk lutut kepada rezim Belanda, Jepang dan sekarang Indonesia. Fasisme Jawa ini mengakar. Fasisme Jawa ini membuat orang Indonesia hanya berdiam diri saat dijajah dan dijarah.

Dulu bangsawan-bangsawan Jawa membantu pemerintah Hindia Belanda mengatur dan mengisap kekayaan alam dan manusia di Jawa, Sumatera, Borneo, Ambon, Celebes dan sebagainya. Selama berpuluh-puluh tahun, kata Pram, Jawa mengirimkan serdadu-serdadu bayaran ke luar Jawa. Pasukan ”kumpeni” ini ikut membantai para pejuang Aceh dan lainnya yang melawan Belanda.

Keluar mulut harimau, masuk mulut buaya. Belum bebas dari kolonialisme Belanda, kuku-kuku Jepang datang mencengkeram. Cuma dalam tempo tiga hari setelah mendarat di Pulau Jawa, nyaris semua serdadu Nippon terlibat pemerkosaan massal perempuan lokal. Jepang merekrut 700 ribu petani dalam program romusha. Mereka jadi tenaga kerja paksa dan sekitar 300 ribu orang mati.

Lalu Indonesia merdeka. Tapi kenangan Pram terkait erat dengan kudeta militer di tanah Jawa pada 1965. Hiruk-pikuk Jakarta berubah menjadi sunyi. Di Sungai Brantas mayat-mayat mengapung.

Naiknya Jenderal Soeharto ke kursi presiden Indonesia dibayar nyawa dua juta penduduk di Jawa. Itu menurut versi Laksamana Sudomo, Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban ketika itu. Hitungan komandan Para Komando Angkatan Darat Jenderal Sarwo Edhi Wibowo (mertua Susilo Bambang Yudhoyono), yang langsung memimpin operasi, jumlahnya lebih mengerikan: tiga juta jiwa!

Jumlah korban itu belum ditambah lagi yang dibui, hilang entah di mana rimbanya, atau terpaksa mengasing ke negeri orang. Sedangkan Pram, dia ditangkap dua minggu setelah peristiwa pembunuhan enam jenderal.

Dari keseluruhan tahanan Pulau Buru yang berjumlah 14.000, Pram termasuk 500 orang tahanan pertama. Dia menjalani kerja paksa selama sepuluh tahun di kamp konsentrasi tersebut. Di sanalah lahir empat novel sekuel dengan judul Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Mahakarya yang dikenal dengan Tetralogi Pulau Buru ini mensejajarkan Pram penulis kelas dunia.

Sadar bahwa pemerintah akan merampas tulisannya, di Pulau Buru Pram mengetik naskahnya dalam beberapa salinan. Satu salinan disebarkan di antara para tahanan, yang lain dilayangkan ke gereja. Nah, rupanya salinan naskah inilah yang kemudian diselundupkan ke luar Pulau Buru dan dikirim ke Eropa, Amerika dan Australia.

Sampai sekarang Pram masih merasa marah bila mengingat peristiwa pembakaran perpustakaan pribadi dan delapan naskahnya oleh segerombolan tentara Indonesia. ”Pembakaran buku sama dengan perbuatan setan!” ungkapnya, geram.

Amarah Pram ini direkam dalam wawancara selama empat bulan dengan pasangan suami-isteri Andre Vltchek, jurnalis dan pembuat film asal Amerika, serta Rossie Indira, mantan seorang aktivis Partai Komunis Indonesia, yang bekerja sebagai arsitek dan kolumnis. Mereka merekam jawaban atas 150 pertanyaan yang diajukan Vltchek-Indira dari Desember 2003 hingga Maret 2004.

Sebelum diterbitkan di Jakarta, versi Inggris muncul duluan dengan judul Exile: Conversations With Pramoedya Ananta Toer. Dalam edisi bahasa Melayu, buku ini disunting Linda Christanty, penerima Khatulistiwa Literary Award.

Pram memaparkan bagaimana Jawanisme masih dominan Indonesia hari ini. Rezim Soeharto telah merontokkan cita-cita pendiri bangsa dan menggantinya dengan Jawanisme. Sejak terhentinya ”revolusi nasional” pada 1965, Pram melihat proses pembusukan yang terus-menerus. Korupsi di birokrasi kian berurat akar. Para elit dan penguasa dibiarkan menjarah sumber daya alam milik masyarakat di Aceh, Riau, Kalimantan, Papua dan sebagainya. Sedangkan para pembunuh dan jenderal-jenderalnya bebas pelesiran.

Pram mendukung Timor Leste untuk menjadi negeri yang merdeka dari Indonesia. Sekitar 180,000 jiwa terbunuh selama perang Timor. Dan Soeharto, kata Pram, harus bertanggung jawab atas kebiadaban itu.

Soeharto juga bertanggung jawab atas pembantaian ribuan orang di Aceh. Ini menunjukkan ketidakmampuan Belanda maupun Jawa menundukkan Aceh. Apalagi, seperti Pram bilang, ”Orang Aceh punya keberanian individu.”

Berbicara tentang Indonesia, diakui Pram, membuatnya kebakaran sendirian. Dia menyesali tak lahirnya pemimpin di Indonesia sejak Soekarno. Saat ini tak ada calon presiden yang bisa dipilih karena tak ada seorang pun memiliki wawasan keindonesiaan dan prestasi individu. Begitupun masyarakatnya. Konsumtif dan cenderung acuh terhadap keadaan bangsanya.

“Yang mereka lakukan dari hari ke hari hanyalah beternak, konsumsi dan mengemis tanpa melakukan produksi!” dia geram.

Argumentasi Pram soal fasisme ini sama dengan ide kritisi terhadap Prof. Soepomo, salah satu arsitek negara Indonesia. Marsillam Simanjuntak dalam buku “Pandangan Negara Integralistik: sumber, unsur, dan riwayatnya dalam persiapan UUD 1945,” menerangkan bahwa Soepomo mengagumi fasisme Jerman dan Jepang. Adnan Buyung Nasution dalam tesisnya juga mengatakan rezim Soeharto lebih kejam dan membunuh lebih banyak orang dari Belanda dan Jepang.

Lebih lengkapnya di sini

Catatan:

Seperti layaknya orang-orang yang menjadi anggota PKI ataupun pendukung PKI, Pramudya menampakkan “pemujaan” kepada tokoh Sukarno yang dibibir orang-orang ini menjadi layaknya orang suci yang tidak ada cela. Hal ini bukan tanpa sebab. Sukarno dianggap “memberi angin segar” bagi PKI. Walaupun mengenai bila waktu kekuasaan akan diserahkan kepada PKI tidak pernah jelas. Yang terbukti adalah Sukarno berkuasa selama 20 tahun, dan itupun harus dijatuhkan dulu oleh Suharto lewat kudeta militer 1965.

Pramudya juga mempercayai konsep “revolusi dari titik nol“. Suatu konsep untuk menghancurkan tiang-tiang kemasyarakatan dengan sepenuhnya sebelum kemudian membangun hal yang “benar-benar baru” dari awal. Konsep ini telah dipakai oleh rezim-rezim komunis dunia untuk membunuhi jutaan manusia dengan alasan-alasan seperti “revolusi budaya” di China yang sama sekali tidak merubah”mental China” dari cara-cara mental budak dan kaisar. Mao Tze Dong berkuasa di China layaknya seorang Kaisar China yang “telah dijatuhkannya“.




 

Maret 2009
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Blog Stats

  • 48,659 hits

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.