26
Feb
09

Orang Batak, Orang Minang, Orang Jawa

Saudara AOP yang orang Batak memberi tanggapan berikut ini mengenai tulisan-tulisan saya di blog ini.

Kepada Yang Terhormat Uni Vara Jambak,

Saya orang batak toba, protestan, lahir di Pulau Jawa. Saya sungguh salut pada kemampuan menulis Anda!

Setelah membaca artikel anda, saya jadi ingin berbagi sedikit tentang pandangan saya yang mungkin mewakili banyak orang batak toba khususnya yang Protestan/Katolik terhadap orang Minangkabau/Minang atau yang lebih sering disebut: orang Padang (walaupun Padang hanyalah salah satu wilayah yang relatif kecil dibandingkan Provinsi Sumatera Barat).

Pandangan saya pada orang Padang adalah hal-hal yang tak lain merupakan hasil “doktrinasi” yang sejak kecil ditanamkan orang tua batak (bahkan secara turun temurun diwariskan juga oleh orang batak kelahiran luar tanah batak), yaitu WASPADA dan kalau perlu JAUHI orang Padang sebab orang Padang itu (butir-butir di bawah ini yang paling sering disebut):

– bengkok

– fanatik Islam

- mengincar orang batak (apalagi yang non muslim) untuk dijelek-jelekkan dan dijatuhkan, misalnya lewat isu agama atau isu-isu kejelekan etnis lainnya.

- persahabatannya tergantung ekonomi/duit

Hampir tak ada orang Padang yang hadir dalam sanubari orang Batak tanpa disertai rasa curiga. Kalaupun ada, paling orangnya adalah Proklamator kita, Bung Hatta, tapi kalau yang lainnya, tunggu dulu. Pandangan orang batak terhadap orang Padang sangat berbeda dibandingkan terhadap orang Jawa walaupun yang paling punya andil besar dalam rusaknya Indonesia masih orang Jawa juga.

Saya yakin Uni Vara Jambak pasti pernah tahu akan hal ini.

Nah, bolehkah saya tahu pandangan Uni Vara Jambak akan fenomena pada orang batak ini dan kalau boleh apa pandangan Uni pada orang batak?

Terima kasih dan mohon maaf sebelumnya jika ada yang tersinggung.

Salam.

Pertama-tama, Uni ingin katakan, agar lebih baik sejak saat ini kita tidak usah mengatakan maaf apabila kita mengatakan orang Batak, orang Minang, orang Jawa, dll. Tidak usah dipikirkan soal jargon atau tuduhan-tuduhan seperti “SARA“, rasis dan lain-lain. Minang, Jawa, Batak, Inggris, Kristen, Islam dan lain-lain adalah budaya. Kritik terhadap budaya tidak sama dengan rasisme atau “SARA” yang mempunyai konotasi menjelek-jelekkan. Kritik terhadap suku bangsa tertentu tidak lantas berarti “rasisme“. Kalau kita berbicara mengenai ras, maka baik orang Minang, Batak maupun Jawa sebenarnya berasal dari ras yang sama, yaitu Asia dan lebih spesifik lagi, Austronesia yang sebagian sudah bercampur dengan orang dari ras Melanesia yang sudah mendiami Bumi Indonesia ini sebelumnya, ditambah dengan orang India, orang Arab, orang Cina dan lain-lain yang datang kemudian. Perbedaan daripada kebudayaan dari masing-masing suku bangsa di Indonesia tidak saja diakibatkan oleh tempat tinggal yang berjauhan, akan tetapi juga diakibatkan dari pengaruh-pengaruh budaya lainnya yang masuk ke Bumi Indonesia lewat pendatang-pendatang dari berbagai belahan dunia, dan seberapa kuat budaya tersebut menggantikan budaya sebelumnya.

Mengenai fasisme Jawa atau Jawaisme itu, kita tidak usah sungkan-sungkan lagi untuk membahas hal tersebut karena hal itu nyata dan memang terjadi. Kritik budaya harus dilakukan, baik dari pihak Jawa maupun bukan Jawa, karena hal tersebut melibatkan nyawa dan kehidupan puluhan juta orang, sama seperti bentuk-bentuk fasisme di dunia lainnya seperti fasisme Inggris, fasisme Jerman maupun fasisme Islam. Sebagai seorang peneliti mengenai budaya Minangkabau Uni tahu banyak sekali kata-kata makian atau cacian yang ditujukan terhadap orang Padang (atau lebih tepatnya orang Minang). Uni akan bahas pada postingan berikutnya tentang serangan-serangan terhadap orang Minang ini, karena ada banyak sekali. Terutama yang menyangkut budaya orang Minang yang matriarkat. Serangan itu bahkan kerap langsung ditujukan kepada Uni yang merupakan orang Padang (orang Minang). Untuk kali ini Uni akan bahas mengenai pendapat yang beredar di kalangan orang Batak. Serta pendapat Uni mengenai orang Batak secara umum.

Padang sebagai kata atau nama sebenarnya tidak hanya milik orang Minang saja melainkan milik orang Batak atau orang-orang Sumatra lainnya. Di Sumatra banyak kota atau tempat yang bernama “Padang” atau diawali dengan Padang seperti Padang Sidempuan, ataupun kota Padang di Sumatra Barat. Padang sendiri sebagai kata berarti tempat yang luas dan terbuka seperti dalam kata padang rumput. Kata lain adalah alat pemangkas yang berbentuk bengkok atau arit (Jawa) seperti dalam lambang kelompok komunis yaitu palu arit. Dari sinilah istilah padang bengkok itu berasal. Adapun sampai kata itu digunakan untuk memberi nama yang jelek pada orang Minang ada beberapa versi. Salah satu yang Uni pikir lebih mewakili kenyataan sebenarnya adalah mengenai orang Belanda yang mencari orang-orang komunis di Sumatra Barat. Yang ditanyakan adalah apakah ada “padang bengkok”. Padang bengkok  di sini mengacu kepada “padang yang bengkok” atau arit dalam lambang kelompok komunis. Jadi, istilah padang bengkok itu sebenarnya mengacu kepada arit (padang bengkok) daripada lambang komunis palu arit, sebagai kata lain untuk “orang komunis” di Minangkabau pada zaman Belanda yang dianggap sebagai perusuh. Dan memang, pada zaman pergerakan komunis dulu orang Minang sangat aktif sampai ke tingkat desa.

Cerita ini yang paling bisa dipercaya karena hanya kata Padang tidak berarti orang Minang, karena bahasa Indonesia menggunakan kata “orang” ditambah dengan kata keterangan darimana orang itu berasal seperti orang Padang, orang Batak, orang Jawa dan lain-lain ketika yang dimaksud adalah orang dan bukan benda. Kata Padang yang berdiri sendiri berarti padang dalam artian tempat atau dalam artian alat pemangkas. Dalam sejarah Bahasa Melayu, Minangkabau atau Bahasa Indonesia yang merupakan bahasa serumpun, hanya kata Padang tidak pernah dipakai untuk menggantikan orang Minang. Akan selalu dikatakan orang Padang, atau orang Padang Sidempuan. Kata “orang” tidak pernah lepas. Orang Minang sendiri hanya menggunakan istilah “orang Padang” agar tidak repot menjelaskan bahwa Padang adalah sebagian kecil saja daripada ranah Minang. Jadi bisa disimpulkan bahwa penggunaan ini berasal dari orang yang tidak benar-benar mengenal bahasa Melayu/Minang/Indonesia atau tidak bisa berbahasa Indonesia yang benar atau yang bermaksud melecehkan.

Mengenai pendapat orang Batak bahwa orang Minang sebagai orang Islam yang fanatik, kemungkinan itu berasal pada saat berkobarnya penyerangan kelompok Islam fanatik yang melakukan pembantaian terhadap orang Minang di daerah Sumatra Barat yang akhirnya juga merambat ke daerah orang Batak dengan bantuan orang Batak tentunya. Tapi memang mereka asalnya dari “orang-orang Minang” yang fanatik yang awalnya bertujuan untuk menghapuskan budaya Minang dan menggantinya dengan Islam versi Arab Saudi pada waktu itu yang dikenal sebagai Islam Wahabi. Jadi dalam hal ini baik orang Minang maupun orang Batak adalah korban daripada kelompok orang fanatik ini. Tapi hendaklah tidak dilupakan bahwa para pemimpin perang yang menggila di tanah Batak juga banyak diantaranya adalah orang Batak yang telah memeluk Islam Wahabi ini. Hal seperti ini memang kisah menyedihkan yang terjadi dibanyak tempat di dunia yang berkenaan dengan serangan kelompok agama kepada orang-orang yang dianggap “tidak beragama yang benar”. Tapi secara umum, orang Minang tidak dapat dikatakan sebagai orang Islam yang fanatik, karena ke-Islam-an orang Minang itu sendiri selalu dihadapakan dengan perdebatannya dengan budaya Minang yang matriarkat serta dengan ide-ide lainnya sebagai hasil daripada orang-orang Minang perantauan.

Mengenai orang Minang yang mengincar orang Batak untuk dijelek-jelekkan menurut saya ini hanya “ekses” daripada kasus di atas, terkait dengan penyerangan kelompok Padri di tanah Batak. Orang Minang sendiri setahu Uni tidak punya kata-kata miring untuk suku-suku lain dan tidak pernah berkata jelek tentang suku-suku yang ada di Indonesia. Kritik budaya memang dilakukan oleh orang Minang terhadap budaya Jawa dan orang Jawa yang merupakan pelaku daripada budaya Jawa. Diskusi-diskusi orang Minang sudah penuh dengan diskusi-diskusi politik, filsafat, budaya, ekonomi dan lain-lain. Orang Minang hampir tidak punya waktu untuk menjelek-jelekkan suku-suku lainnya di Indonesia karena orang Minang tahu bahwa pendahulu-pendahulu mereka berjuang untuk Indonesia, dan itu berarti untuk seluruh suku bangsa di Indonesia.

Mengenai persahabatan tergantung duit, ini sepertinya memang sudah berlebihan :) Orang Minang yang Uni tahu mendasarkan persahabatan pada hal-hal lain selain uang, karena “nilai gengsi” seorang Minang biasanya dilihat dari seberapa jauhnya orang tersebut merantau, keberhasilan dirantau, apa yang telah diperbuat untuk masyarakat banyak, keberhasilan intelektual dan lain-lain. Uang sebagai “tanda keberhasilan di rantau” bisa menjadi tolok ukur keberhasilan di rantau, tapi bukan uang itu sendiri yang dianggap penting. Mungkin sudah banyak orang Minang yang berubah sekarang, tapi setahu Uni sebagian besar orang Minang masih seperti itu, kalau kita tidak bisa mengatakan semuanya.

Mengenai pendapat Uni mengenai orang Batak, Uni rasa mungkin sama seperti banyak orang Minang lain, yaitu bahwa orang sama seperti orang Minang hanya dengan budaya yang berbeda. Uni pernah dengar hal-hal yang buruk mengenai orang Batak, seperti bahwa orang Batak itu tukang copet atau kanibal. Mengenai orang Batak kanibal di zaman dahuku, Uni selain pernah mendengar juga pernah membaca dari buku. Budaya kanibalisme itu kemungkinan berasal dari budaya Hindu India, sebelum Kristen datang dibawa oleh penjajah Belanda ke tanah Batak. Mengenai tukang copet, Uni walaupun pernah dicopet, tapi Uni tidak tahu orang mana yang mencopet. Jadi tidak pernah terfikir benar-benar bahwa orang Batak itu benar “tukang copet”. Orang Minang setahu Uni, tidak pernah berfikir buruk terhadap orang dari suku-suku lainnya di Indonesia, karena seperti Uni telah sebut di atas, diskusi-diskusi orang Minang sudah sangat-sangat padat dengan tema-tema lainnya yang lebih menguras daya intelektual seperti politik dan Islam :) Seandainya kita mendengar tentang kata-kata miring tersebut, baik mengenai orang Minang maupun orang dari suku-suku lainnya, maka akan diusahakan ditemukan asal-usulnya. Diskusi orang Minang lebih jujur, tidak hanya membicarakan “kebaikan” orang Minang saja, akan tetapi juga banyak kritik terhadap orang Minang sendiri.

Uni sendiri ada kawan-kawan orang Batak, tidak ada Uni temukan keanehan dibandingkan dengan teman-teman Uni dari suku-suku lain. Ada orang Batak yang berasal dari Medan, berbicara sudah dengan logat Melayu. Selebihnya Uni kenal nama-nama Batak seperti Eddy Silitonga dan Viktor Hutabarat yang sudah mengeluarkan album lagu Minang dengan gaya Batak :)

Uni sebenarnya tidak melihat perbedaan yang mendasar antara orang Minang dan Batak selain budayanya yang matrilineal dan patrilineal atau agama mayoritas Islam dan Kristen. Budaya patrilineal Batak berasal dari budaya Hindu ditambah dengan pengaruh Kristen. Selebihnya, tidak ada perbedaan yang hakiki pada orang Minang dan orang Batak. Rumahnya, bahkan ada baju dan penutup kepala perempuan Minang yang Uni lihat sama dengan baju dan penutup kepala perempuan Batak. Dan banyak lagi hal-hal yang sama lainnya.

Orang Batak, Uni lihat masih pada tahap awal dari proses patriarkalisasi. Hanya nilai-nilai patrilineal (garis keturunan Bapak) dan pewarisan patrilineal (warisan ke anak laki-laki) yang sangat kental. Selebihnya, Uni lihat perempuan Batak, seperti layaknya perempuan Minang sangat mandiri dan dihormati dilingkungan keluarga serta bisa berperan dalam masyarakat tanpa ada hambatan yang berarti dibandingkan dengan masyarakat lainnya yang sudah sangat patriarkat seperti masyarakat Jawa (yang juga tidak bisa kita samaratakan).

Yang terasa mengganjal di hati Uni ada tiga hal, yaitu soal orang Batak yang banyak menjadi rentenir, sistem pewarisan patrilineal yang sangat ektrim yang memperlihatkan konsep pemujaan phallus (batang kelamin laki-laki) yang kental, serta profesi pengacara-pengacara Batak sebagai pengacara Suharto. Mengenai profesi orang Batak sebagai rentenir, Uni saksikan sendiri. Bagaimana sebuah keluarga karena berutang kepada seorang Batak sampai kehilangan rumah dan hidup miskin walaupun jumlah uang yang dipinjam jauh lebih kecil dari nilai rumah. Di pasar-pasar tradisional di Jakarta misalnya, rentenir-rentenir Batak sangat ditakuti tapi juga “diperlukan” oleh pada pedagang kecil yang tidak punya modal dan membutuhkan modal berdagang.

Kedua adalah sistem pewarisan patrilineal yang menurut Uni sangat ekstrim. Uni kenal sendiri dengan keluarga Batak yang walaupun mempunyai anak perempuan, tapi tetap mengangkat anak lainnya hanya karena anak tersebut laki-laki untuk diberikan seluruh harta warisan dan untuk meneruskan “nama keluarga”. Menurut Uni praktek ini sangat berlebihan, karena merendahkan anak perempaun dalam keluarga dan menunjukkan pemujaan “phallus” yang kental. Praktek ini juga menunjukkan bahwa anak kandung sendiri tidak ada artinya hanya karena mereka perempuan, sementara anak orang lain menjadi sangat berharga hanya karena laki-laki (baca: memilki phallus). Menurut Uni konsep ini absurd.

Nama keluarga Hutabarat misalnya tidak akan hilang hanya karena seorang keluarga tidak mempunyai anak laki-laki, karena banyak lagi laki-laki lainnya yang bermarga Hutabarat, dan harta keluarga ini akan lebih bermanfaat apabila dipergunakan oleh keluarga besar dairpada orang itu sendiri. Orang Minang tidak mengenal konsep warisan yang ekstrim seperti itu, karena harta adalah harta seluruh keluarga, yang dikelola oleh pihak perempuan dengan bantuan pihak laki-laki. Bahwa memang nama suku (Batak: marga) diturunkan lewat anak perempuan, tapi tidak ada praktek mengangkat anak perempuan, hanya karena seorang Ibu tidak memiliki anak perempuan, karena sudah ada banyak orang perempuan dalam keluarga besar. Memang sistem kekeluargaan patriarkal yang merupakan keluarga kecil yang terdiri dari hanya Bapak, Ibu dan anak menyebabkan praktek tersebut mungkin. Tapi tetap saja Uni pandang absurd. Hal ini menimbulkan perasaan tidak berharga sebagai perempuan kepada para anak-anak perempuan di dalam keluarga Batak.

Soal anak laki-laki yang lebih bernilai daripada anak perempuan dalam keluarga Batak bisa kita lihat dalam kasus berikut. Ada seorang Ibu Batak yang menangis mengerung-gerung karena anak laki-lakinya yang pertama, karenanya anak yang terpenting, meninggal dunia. Berhari-hari dia mengangis, meraung-raung sampai semua tetangga mendengarnya. Kebetulan tetangga Uni. Hal ini menunjukkan pemujaan yang tak terkira Ibu-Ibu Batak terhadap anak laki-lakinya. Hal ini jelas-jelas mendorong rasa rendah diri sebagai perempuan dalam keluarga Batak yang sangat nyata dan tidak dapat dipungkiri. Bagaimana perasaan anak perempuannya terhadap kenyataan itu, Uni tidak bisa bayangkan. Dalam budaya Minang tidak dikenal pembeda-bedaan anak perempuan dengan anak laki-laki yang ekstrim seperti itu. Karena itu, laki-laki Minangkabau tumbuh menjadi orang yang sangat percaya diri “walaupun hidup dalam budaya matriarkat”, karena budaya matriarkat Minangkabau yang mendukung anak-anak baik mereka itu anak perempuan maupun anak laki-laki. Hal ini terlihat daripada peran laki-laki Minang di segala bidang yang menandakan kepercayaan diri yang tinggi. Hal ini tidak bisa dibantah.

Dan yang ketiga, ketika kebanyakan orang Minang menentang Suharto, pengacara-pengacara Batak malah menjadi pengacara Suharto, seperti Juan Felix Tampubolon. Akan tetapi nipun tidak bisa digeneralisasi. Uni banyak kenal juga dengan orang-orang Batak penentang Suharto. Perempuan-perempuan Batak seperti Ratna Sarumpaet dan Dolorosa Sinaga adalah perempuan-perempuan Batak yang masih mencerminkan kekuatan dan kemandirian perempuan-perempuan yang berasal dari Sumatra pada umumnya. Hubungan orang Minang dengan orang Batak sebenarnya jauh lebih dekat karena budaya yang masih serumpun walaupun “perbedaan agama”, daripada dengan orang Jawa yang sudah sangat Hindu sekali. Dan seperti orang Minang yang tidak semuanya Muslim, demikian halnya dengan orang Batak, tidak semua orang Batak Kristen walaupun dicitrakan begitu. Jadi dengan alasan agama dan lain-lain, sebenarnya tidak ada alasan bagi orang Batak untuk tidak berteman dengan orang Minang. Kesan yang Uni tangkap memang bahwa orang Batak lebih suka berteman dengan orang Cina, orang Jawa dan orang Barat. Dengan orang Cina dan orang Barat bisa dimaklumi, karena anggapan mengenai bahwa orang Cina dan orang Barat mewakili “agama yang sama”, sedangkan dengan orang Jawa mungkin karena orang Jawa dianggap mewakili “kelompok ynag berkuasa” oleh karenanya mungkin dianggap “lebih beradab”.


7 Responses to “Orang Batak, Orang Minang, Orang Jawa”


  1. 1 alfia
    Maret 9, 2009 pukul 4:29 am

    Bismillah…..
    singkat saja…saya bersyukur di lahirkan dari perempuan dan lelaki minang sehingga membentuk saya gadis minang khususnya.siapa pun ‘Anda’ yang berpandangan dari butir-butir di atas ADALAH salah…Berarti ‘Anda’ belum mengenal about minang dan orang minang tetapi ‘Anda’ baru mengenal orang padang yang belum tentu ‘Minang’.so mari kita saling mengenal dan belajar di dalam blog Uni Vara Jambak.
    selain itu saya dan keluarga juga memiliki silahturahm dengan orang batak asli : dimulai saat dia baru menikah hingga beranak 3,mulai saya anak-anak hingga dewasa saat ini.bersyukur beliau dan keluarganya tetap mau bersilahturhm dengan keluarga saya.disini intinya kenali dahulu orang-orang yang baru anda kenal sendiri ‘empat mata’. bukan hanya mendengar, mengenal sesaat ataupun berpendapat dari omongan orang lain..:-)
    Nan baik cinto di hati
    Ka nan elok tunggang niatan
    Nafsu dikungkuang akal budi
    Pandang ka dunia baukuran
    terimakasih
    love, peace, frndshp

  2. 2 Zul Azmi Sibuea
    Maret 12, 2009 pukul 10:35 am

    saya setuju alfia alfia, tapi beda lingkup, diskusi diatas sedang membicarakan typologi, pada umumnya suku bangsa ini, punya sifat seperti ini , seperti itu – alfia betul bahwa ada perlunya juga menggunakan referensi kenalan, kawan, intensitas perkawanan, pengamatan seprti yang dilakukan oleh uni vara – makin banyak data akan memperkaya pemahaman kita.

  3. Maret 13, 2009 pukul 2:55 am

    Testimoni
    Tapi hari demi hari, saya makin simpati pada barisan Batak ini. Saya melihat kejayaan orang Minangkabau masa lalu pada kaum pemakan celeng ini. Cerita kesuksesan kaum minoritas Minangkabau di masa lalu, terulang pada kaum Batak.
    Saya berharap ada kaum Batakkabau yang menerima saya menjadi bagiannya, dengan senang hati saya rubah suku Piliang ini menjadi marga Simatupang.
    Si Batak, from Anjing to Kerbau
    SEPERTI banyak orang Minang yang tumbuh dan besar di Bandung, saya naturally tidak punya kesan dan persepsi yang bagus tentang orang Batak.
    Batak adalah kafir pemakan anjing. Tentu juga makan babi, tidak beradat, maling, perampok, mabuk, dan ujung titit tidak dipotong, adalah hal-hal lainnya yang worth to mention.
    Tentu berbeda sekali dengan orang Minangkabau yang islami, beradat dan santun, serta berbudaya.. Berbeda sekali dengan orang Minang yang katanya berpendidikan dan berpengaruh dalam sejarah Indonesia. Orang Batak adalah kaum yang malang berbudaya rendah dan sayangnya juga mantiko, menyebalkan dan berpeluang besar jadi sampah masyarakat.
    Mungkin tidak hanya saya, banyak Batak sendiri yang mencoba membangun jarak dengan kebatakan mereka. Lihatlah, betapa Mandailing, Angkola, dan juga sebagian Karo atau Dairi-Pakpak mencoba memutuskan asosiasi dengan kebatakan mereka. Bahkan, banyak yang terang-terangan di pantai timur menjelma menjadi Melayu.
    Namun, belakangan, banyak hal-hal baru tentang orang Batak yang saya ketahui. Nggak semua batak jadi kernet bus, banyak yang jadi sopir juga, dan sekaligus pemiliknya. Banyak juga Batak yang motong ujung tititnya, nggak makan anjing, nggak makan celeng. Banyak batak yang rajin ke mesjid, bernama arab, dan berjilbab ria. Banyak Batak yang mentereng, wangi, mengkilat, dan gak berjigong. Banyak batak jadi camat, lurah, menteri, bupati, gubernur, rektor, dan pengusaha. Banyak Batak yang cantik jelita, tampan rupawan, ganteng rumanteng.
    Di Bandung, saat nyasar sekolah di jurusan dan fakultas top di kampus yang katanya paling top se-Indonesia, saya baru menyadari betapa banyak Batak cerdas berseliweran. Kalau minang perantauan diexcluded, surely lebih banyak si Batak pintar di kampus ini daripada si minang. Batak-batak ini tak hanya senang bergitar, mereka juga pintar bernyanyi bersama dalam paduan suara harmonis. Dan saya nggak sempat lihat mereka makan anjing, malah pada rajin ke restoran padang.
    Selain berambut hitam, berjakun, dan berpantat dua, banyak kenalan dekat Batak saya yang berhati lembut, santun, dan pemurah hati. Ingin rasanya saya menuliskan nama-nama teman lama Batak itu di sini.
    The reality is… tertinggal beratus-ratus kilometer di belakang, Batak melaju kencang, dan dengan mantap menyalip Minang yang senang berlenggak-lenggok seperti banci dengan pantun-pantun dan ayat-ayat al quran berhahasa arab kuno itu.
    Di Jakarta, Batak menyelip di antar ratusan pedagang Minang, dan menggeser pelan-pelan, bahkan mendominasi di beberapa titik. Lebih banyak pengusaha baru sukses Batak daripada Minang. Lebih banyak insinyur berkualitas Batak daripada Minang. Lebih banyak eksekutif baru batak daripada minang. Jangan ditanya pengacara, hakim dan jaksa Lebih banyak Batak jadi politikus dan birokrat daripada Minang. O iya, ada Hatta, Sjahrir, Agus Salim, dll…iya, di abad lalu…
    Penulis dan sastrawan? Chairil Anwar, Sutan Takdir Alisjahbana, Idris, Adinegoro, etc? Masih untung masih ada Pak Habe dan Pak Edizal. Dan yang jelas semakin banyak perempuan cantik lebih tergila-gila pada Batak sukses, regardless ujung titit mereka dipotong atau tidak, daripada Padang bau rendang.
    Ada beberapa nama Minang yang mencoba terseok-seok menyaingi Batak, tapi mereka lebih Minang perantauan yang tidak terikat pada nilai-nilai primitif Minang.
    Yang tersisa? yang tersisa bagi orang Minang adalah keirian, setidaknya bagi Minang seperti saya. Tidak gampang mengubah perspective yang sudah built-in tentang kaum inferior bernama Batak, pemakan anjing, titit berujung, perampok, pemabok, dan yes kafir…Yang ada adalah keirian. Ini sangat berat bagi orang Minang, menghadapi kenyataan menyakitkan ini.
    Tapi hari demi hari, saya makin simpati pada barisan Batak ini. Saya melihat kejayaan orang Minangkabau masa lalu pada kaum pemakan celeng ini. Cerita kesuksesan kaum minoritas Minangkabau di masa lalu, terulang pada kaum Batak.
    Menolak adat dan kebiasaan yang tidak sesuai jaman dan tidak produktif; belajar dan mengadopsi peradaban, kebudayaan, dan pengetahuan baru dari Eropa atau Timur Tengah; kritis, berani berbicara dan bertindak; membuka mata, telinga, dan hati lebar-lebar… semuanya adalah pondasi kesuksesan orang Minangkabau di masa lalu.
    Hal yang dilupakan telak-telak oleh orang Minangkabau sekarang, diambil alih dengan mantap oleh orang Batak. Orang Minang senang meringkuk dalam tempurung adat bersyandi syarak, dan syarak bersandi kitabullah itu. Rajin menghapal pantun-pantun dan ayat alquran berbahasa arab, dan berpegang padanya erat-erat, very tightly.Tidak punya nyali dan titit untuk melangkah keluar dari tempurung kecil berselimut sabut kelapa jamuran itu.
    Setiap kali saya membaca koran, majalah, internet, dan menonton tivi..saya seperti melihat Muhammad Hatta dengan marga Situmorang sedang berbicara atau dibicarakan, saya seperti melihat Sutan Sjahrir dengan marga Panggabean; M Natsir Simbolon, M Yamin Pangaribuan, Agus Salim Butar-Butar, Adinegoro Hutabarat, Chairil Anwar Harahap, Sutan Takdir Alisjahbana Simanjuntak, Marah Rusli Siagian, Rohana Kudus Napitupulu, Rasuna Said Siregar, Abdul Muis Tobing, Tan Malaka Marpaung, Buya Hamka Pardede….
    Menurut majalah Tempo, 6 dari 10 tokoh Indonesia paling berpengaruh di abad 20 adalah kaum minoritas Minangkabau. Quite possibly, untuk abad 21, enam dari sepuluh tokoh itu adalah dari kaum minoritas Batak.
    Nampaknya, mimpi saya untuk melihat orang Minangkabau membangkit batang terendam, mengulangi kejayaan masa lalu tercapai sudah, melalui kaum Batak kafir pemakan anjing ini.
    Tapi, sebaiknya saya berhenti mengasosikan Batak dengan anjing, baiknya lah dengan kabau alias kebo. Kerbau adalah simbol kemenangan orang Minang di masa lalu = ‘Minangkabau’. Namun, kini orang Batak jelas lebih berhak memanggulnya…Batakkabau!
    Saya berharap ada kaum Batakkabau yang menerima saya menjadi bagiannya, dengan senang hati saya rubah suku Piliang ini menjadi marga Simatupang.

  4. 4 bedulkabau
    Maret 21, 2009 pukul 11:31 am

    Orang yang suka mengakfirkan org lain adalah orang yg paling rendah derajatnya di antara binatang pula! Kerbau adalah binatang sengsara yg seumur hidupnya dicucuk menjadi budak penggerek selamanya, malang nian dikau!

  5. 5 RANG AWAK
    Desember 31, 2009 pukul 11:21 am

    Assw…. saya juga sangat sepakat dengan alfia bahwa “memandang dunia baukuran”

    Basuluah mato hari, bagalanggang mato rang banyak.
    Bajalan paliharolah kaki, bakato paliharolah lidah.
    Bakato bapikiri dulu, ingek-ingek sabalun kanai, samantang kito urang
    nan tahu, ulemu padi nan kadipakai.

    kuek rumah krn sandi kuek baso krn budi

    Saya salut dengan kepandaian dan keahlian serta ilmu pengetahuan kamu, teruskan tulis2an ini

    Saya masih menunggu tulis2 kamu yang lebih kreatif lagi, yg bisa menambah lemu pengetahuan dan membangun untuk nagari minangkabau nan tacinto.

    wass……..

  6. April 13, 2010 pukul 1:41 am

    halah …. halah warakadalah markus pajak, dari mulai pelaku,pengacara,jaksa sampai hakimn semuanya orang batak … ada apa rupanya dengan halak kita ini …. ampun pemerintah.

  7. Agustus 14, 2010 pukul 6:47 pm

    Asslmkm wr. wb…
    Saya seorg anak perantau dari Bumi Bengkulu, saat ini sejak 16 tahun yg lalu berada di tanah batak…
    Bagi saya ketika dulu saya mau berangkat ke tanah batak ini, saya sgt was-was krn batak identik dgn kekerasan dan agama kristen..
    Setelah saya tinggal di tanah batak, bnyk hal yg bisa saya kenal ttg dunia batak, mulai dari budaya dan tata cara mrk memandang org lain selain suku batak..
    Dari segi agama, saya melihat org batak ini sgt taat beragama. Jika ia kristen maka ia sgt rajin ke gereja dan hampir seminggu sekali mrk ada acara kristen di rumah2 anggota mrk, dan sgt terlihat ketika mrk mau menyambut hari raya natal. Mereka begitu kompak dan antusias dlm menyambut dan merayakan natal serta tahun baru…
    Bagi yg beragama islam org batak juga termasuk deretan org2 yg taat beragama, terlihat dari cara mrk dgn rutinitas melakukan perintah agama, baik sholat, berpusa wajib dan sunat, zakat, infaq dan sedekah. Orang batak islam sangat termasuk org yg alim atau taat menjalankan agamanya, bahkan saya melihat mrk juga penjaga tembok agama mrk masing2…

    Dari sekian lama sampai saat ini ada beberapa kejelekan bagi saya melihat pola laku dan sikap org batak yang bagi kami org melayu atau lebih cendrung penganut agama islam, menilai prilaku dan sikap org batak yg tdk terpuji..
    Bukan saja pemakan Anjing, atau binatang haram lainnya bagi umat agama islam, tapi ada kecendrungan hal2 negatif yg dihalalkan dalam rumah tangga mrk padahal itu kurang baik, Misalnya MINUM minuman keras yg diperbolehkan pada moment2 tertentu, bahkan satu keluarga besar bisa berpesta pora minum2an keras, seperti Minum Tuak, Minum Bir dll nya…
    Pesta natal yg cendrung kebablasan, membuat terkadang kita penganut kepercayaan lain terganggu dgn pola laku ini, pesta isap ganjah dan minuman keras tdk jarang terjadi kerusuhan akibat tdk terkenndalinya situasi pesta itu..

    HIDUP BERDAMPINGAN DENGAN ORANG BATAK, jujur di Sumatera Utara kebanyakan Suku daerah lain yg datang lebih menghindar utk berdampingan dgn suku batak, apalagi kita tinggal di daerah mrk. Kecendrungan ingin menjadi pengusa dan menguasai daerah setempat, adalah model prilaku org tua dan anak muda batak, menjadi preman setempat, yg lazim disebut PS/Pemuda Setempat, cendrung melakukan penindasan dan mengancam jika sdh ada maunya, apalagi sdh malam minggu Pemuda Setempat tdk jarang melakukan pengompasan/kutipan paksa pada warga yg bukan suku batak…
    Tidak jarang terjadi perselisihan, perselisihan yg terjadi antara org batak dan bukan org batak. ini pasti menimbulkan ketidaknyamanan org yg bukan batak, kita kan terintimidasi oleh org batak yg mayoritas, walau sejujurnya yg salah itu adalah org batak…
    Melawan org batak di daerah batak TIDAK AKAN PERNAH MENANG, walau sejujurnya kita pada pihal yg benar baik secara norma bertetangga atau norma hukum sekalipun…
    Watak keras org batak sgt terlihat kental disaat mrk berada di daerahnya/jago kandang…

    ORANG BATAK SANGAT KOMPAK, saya juga pernah punya pengalaman pengelihatan secara langsung kehidupan org batak di luar daerah tanah batak, misalnya org batak di Bumi Bengkulu. Awalnya mrk membuat kelompok perkampungan kecil, dan mrk tdk pernah memperlihatkan watak kerasnya di daerah org lain, mala cendrung diam dan manggut2 aja, tdk pernah buat onar dan lain sebagainya..
    Akan tetapi terbalik jika mrk sdh besar dan banyak, org batak akan memperlihatkan tajinya bahkan ingin mengusai daerah tersebut…
    Kekompakan org batak diperlihatkannya ketika mrk ingin menguasai hal tertentu, amkanya org batak bnyk yg jadi Pengacara, Polisi, TNI dan Perawat Kebidanan serta Guru…
    Krn bagi mrk inilah cara mrk ingin menguasai kekuatan tertentu di daerah lain, dan ini adalah politik presure yg dilakukan Mantan Menpan Era Soeharto saat itu, mrk memaksa pemuda pemudi batak masuk Polri dan TNI, masuk sekolah kesehatan dan jadi Guru pendidikan.., bisa kita lihat saat ini hasil dari keinginan mrk mengusai lini2 itu..

    ORANG BATAK ITU SEMBRAUT, kota medan dan beberapa kota lainnya di SUMUT. sgt terlihat kota sembrautnya, selain jorok juga tdk teratur “INI MEDAN BUNG”. inilah istilah mrk jika mrk diolok ttg kesembrautan mrk. Bukan saja lalu lintas akan tetapi pemukiman org batak cendrung jorok dan tdk teratur..

    Kolusi, Korupsi, Nepotsme Orang Batak Sangat Luar Biasa…, sdh tdk heran kita saat ini bnyk sekali org batak terlibat KKN, baik di Institusi Polri, Kejaksaan, Kehakiman, bahkan Pengacara itu sendiri, bahkan di Bank Indonesia sekalipun.. maka jika dulu org bilang suku yg paling bnyk bertanggungjawab atas rusaknya bangsa ini adalah SUKU JAWA, tapi saat ini mungkin sdh tepat juga jika kita bilang TERMASUK ORANG BATAK yg sdh termasuk yg membuat negara ini semakin bangkrut. Hampir semua yang bermasalah di negeri ini saat ini ada org batak atau lebel2 marga batak dibelakangnya…

    Demikian sedikit ulasan saya ttg rasa saya tinggal di negeri batak..tq


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Februari 2009
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

Blog Stats

  • 100,836 hits

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: