Arsip untuk Oktober, 2008

23
Okt
08

Poligami dan laki-laki gatal – Bagian 2

Lagu berikut ini menyentuh perasaan saya. Lagu tentang protes seorang perempuan yang suaminya mabok janda. Dan judulnya juga memang mabok janda, dinyanyikan oleh Resty. Berikut ini video beserta liriknya:

sudah mabuk minuman, ditambah mabuk judi
masih saja kakang tergoda janda kembang
tak sudi ku tak sudi

sudah banyak buktinya suami mabuk janda
lupa kasih sayang juga tak pulang-pulang
istri disengsarakan

lara hati aduh lara hati
ku bobok sendiri suami kawin lagi

sudah mabuk minuman, ditambah mabuk judi
masih saja kakang tergoda janda kembang
tak sudi ku tak sudi

goyang maaaaas……

kang ku tak rela, bila cintamu dibagi dua
kang ku tak sudi, bila kakang mau kawin lagi

judi dan minuman,masih kumaffkan
tapi mabuk janda, aku tak terima
lebih baik kita bercerai saja

sudah mabuk minuman ditambah mabuk judi
masih saja kakang tergoda janda kembang

tak sudi ku tak sudi

lara hati aduh lara hati
ku bobok sendiri suami kawin lagi

sudah mabuk minuman ditambah mabuk judi
masih saja kakang tergoda janda kembang

tak sudi ku tak sudi

kang ku tak rela, bila cintamu dibagi dua
kang ku tak sudi, bila kakang mau kawin lagi

judi dan minuman,masih kumaafkan
tapi mabuk janda, aku tak terima

masih saja kakang tergoda janda kembang
tak sudi ku tak sudi

Saya suka lagu dangdut entah itu dangdut yang kemelayu-melayuan ataupun rock-dangdut. Alasannya sederhana karena syairnya banyak yang bagus, sederhana tapi berisi kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia dan sering kali bernada protes. Seperti lagu di atas, yang menggambarkan keegoisan seorang suami yang sudah mabuk judi dan mabuk minuman, walaupun sudah ditenggang oleh istrinya, malah ditambah lagi dengan mabuk janda. Didalam lagu jelas digambarkan kepiluan dan kesengsaraan seorang perempuan karena sendirian dan harus tidur sendirian tanpa ditemani suami yang semestinya menemani malam-malamnya, karena suaminya berada di kamar perempuan lainnya yaitu istri baru. Lagu ini juga menyatakan protes daripada perempuan yang memilih bercerai, daripada harus menanggung malam-malam kesepian tanpa suami.

Mirip cerita Gymnastiar (alias “A’a Gym”) dan istri pertamanya. Bedanya kalau tokoh laki-laki dilagu ini mabuk janda dan mabuk minuman, Gymnastiar itu mabuk sorban arab dan mabuk motor Harley. Persamaannya yah sama-sama mabuk janda. Kalau mabuk judi dan minuman kita tidak tahu, kalau berdasarkan keterangan pribadinya sih mungkin tidak, tapi siapa tahu. Laki-laki gatal penipu seperti Gymnastiar tidak layak untuk dipercayai kata-katanya. Satu lagi perbedaannya adalah kalau tokoh perempuan dalam lagu ini, meminta cerai, istri Gymnastiar berusaha menegar-negarkan dirinya, entah karena termakan tipuan surga yang dijanjikan seorang laki-laki gatal penipu seperti Gymnastiar, atau karena desakan ekonomi sebagai perempuan tidak bekerja yang sudah memiliki anak tujuh dan sudah tidak menarik lagi untuk bisa mencari laki-laki lainnya.

Kisah yang dilantunkan di dalam lagu ini melambangkan kenyataan yang dihadapi banyak perempuan di Indonesia, yang harus berhadapan dengan laki-laki tidak tahu diuntung yang tahunya hanya mabuk. Entah itu mabuk judi, mabuk minuman atau mabuk perempuan lain. Bagi perempuan Minangkabau, apabila mereka diperlakukan buruk oleh suami mereka, mereka mendapat dukungan penuh dari keluarganya untuk bercerai. Setelah bercerai, mereka akan diberikan dukungan untuk segera kawin lagi, agar tidak harus hidup dan bobok sendirian. Kalau tidak bisa mencari sendiri, maka akan dicarikan suami baru oleh pihak keluarga. Mereka tidak perlu takut tidak memiliki tempat tinggal, karena rumah keluarga akan selalu terbuka untuk mereka, dan karena semua perempuan Minangkabau mandiri dan memiliki mata pencaharian sendiri yang membuat mereka tidak tergantung kepada pihak laki-laki.

Perempuan Jawa dan Sunda serta perempuan-perempuan lainnya harus menemui nasib malang ketika suami mereka berlaku seenaknya. Mereka harus menelan mentah-mentah penderitaan karena harus bobok sendirian, harus mau di-dua-kan, karena ketakutan tidak bisa menghidup diri mereka sendiri atau karena ketakutan dipandang rendah oleh masyarakat dikarenakan status jandanya. Menjadi janda dalam filsafat Jawa yang sangat kental pengaruh Hindunya adalah sesuatu yang sangat terhina.

Penyanyi lagu mabok janda ini di mata saya mempunyai tempat terhormat daripada istri-istri Gymnastiar atau Rhoma Irama atau Hamzah Haz atau Puspo Wardoyo atau Sukarno yang hanya bisa menghamba pada laki-laki dan hanya memiliki sikap pasrah dan tidak mau bekerja untuk menghidupi diri sendiri.

Baju sang penyanyi yang bernama Resty ini berwarna merah, warna darah yang melambangkan kehidupan. Goyangannya yang seksi melambangkan kegairahann hidup dan seksualitas yang merupakan sumber kehidupan. Di video di atas bisa juga disaksikan goyang seorang laki-laki berbaju kuning di panggung, yang juga bergoyang dengan sangat seksi. Bisa kita lihat di sini bahwa baik laki-laki dan perempuan di Indonesia bergoyang dengan seksi. Dan hal itu bukan suatu kebetulan. Sebelum kelompok-kelompok fasis Islam mulai menguasai kehidupan masyarakat, hubungan kasih dan hubungan badan antara laki-laki dan perempuan di Indonesia adalah bukan hal terlarang. Seks atau urusan kelamin adalah perlambang kehidupan, perlambang dilanjutkannya keturunan manusia.

Bukan hubungan badan dan kasih sayang antara laki-laki dan permpuan yang normal dan alamiahlah yang layak diperangi oleh “orang-orang Islam” Indonesia, melainkan perilaku tidak normal, tidak alami, menyakitkan dan merendahkan pasangan, serta perilaku seks biadab lainnyalah yang perlu dihindarkan seperti pemerkosaan, pelacuran, pedofili/pederasty, harem/poligami, homoseksualitas, incest (hubungan seks terhadap keluarga sendiri). Hal ini juga selayaknya ditanggulangi tidak dengan cara fasisme Islam yang sedang berlangsung sekarang terhadap tubuh perempuan seperti melarang, menghujat, menghakimi, memakai kekerasan, dan hal-hal lain yang serupa, melainkan dengan dicari akar masalahnya dan bagaimana pemecahannya yang baik.

MUI dan orang-orang DPR/MPR di bawah Hidayat Nur Wahid melancarkan “perang” yang salah. Mereka melancarkan perang terhadap tubuh perempuan, terhadap buah dada perempuan dan bagian-bagian tubuh perempuan lainnya yang merupakan perlambang kehidupan, karena berfungsi untuk meneruskan keturunan, baik dalam hubungannya dengan anak maupun dalam hubungannya dengan laki-laki.

Hidayat Nur Wahid dan MUI sampai sekarang bungkam dan santai-santai saja terhadap perilaku seksual yang aneh-aneh seperti homoseksulitas di kalangan laki-laki yang berbentuk pederasty di kelompok homoseksualitas Ponorogo yang dikenal sebagai Warok dengan pasangannya dari lelaki remaja/di bawah umur yang dikenal dengan istilah gemblak, ataupun kelompok-kelompok homoseksual (terutama kaum laki-laki) di Indonesia yang bisa bebas berkeliaran dan “hidup bersama”, tanpa harus pusing-pusing dengan hukum yang sedang digodok oleh orang-orang pembenci tubuh perempuan di DPR/MPR. Dari sini sudah terlihat jelas apa yang dimusuhi oleh Hidayat Nur Wahid, MUI dan kelompok pembenci perempuan lainnya, yaitu tubuh perempuan dan hubungan kasih sayang yang alami dan tidak menindas antara laki-laki dan perempuan.

Juga terlihat jelas apa yang sedang didukung oleh Hidayat Nur Wahid, MUI dan geng pembenci tubuh perempuannya yaitu perilaku menyimpang homoseksualitas di kalangan laki-laki. Mereka bisa bebas, sebebas-bebasnya melakukan aktivitas seksual mereka tanpa ada halangan dari masyarakat. Karena semua mata memandang dengan benci ke tubuh Julia Perez. Sementara itu kelompok laki-laki bebas berasyik-masuk dengan laki-laki lainnya. Indonesia sudah mulai menjadi neraka bagi perempuan dan para kekasih yang mencintai lawan jenis dan menjadi surga bagi kaum homoseksual laki-laki.

Bagaimana menghindari pemerkosaan, pedofili/pederasty, pelacuran, incest, harem/poligami dan homoseksualitaslah yang harus diusahakan dengan cara yang baik tentunya dan tidak dengan cara-cara fasis Islam, dan bukannya melarang terlihatnya tubuh perempuan yang sejak berjuta-juta tahun yang lalu yah begitu-begitu saja bentuknya, tidak berubah, sama saja, siapapun perempuannya. Tidak ada yang aneh dan tidak ada yang perlu ditutup-tutupi. Buah dada, pinggul, pantat dan vagina adalah bagian-bagian tubuh perempuan yang melambangkan kehidupan, bukan untuk dicaci, bukan untuk dibenci ataupun diberi pandangan menistakan melainkan pandangan sayang dan hormat.

Akan dibawa ke manakah Indonesia oleh orang-orang pembenci tubuh perempuan dan pembenci perilaku seksual yang alami dan normal ini?

13
Okt
08

Madrid-Hotel Puerta America

Apabila kita berwisata di kota-kota di Eropa sudah jelas tempat-tempat yang akan dituju: yaitu Katedral, Istana raja-raja, Musium, taman-taman, pantai (kalau ada) ataupun tempat-tempat makan khas daerah setempat. Bagi saya, ada tambahan satu lagi tempat menarik untuk dikunjungi yaitu hotel dengan arsitektur yang khas. Tidak semua hotel menawarkan sesuatu yang khas untuk dinikmati sebagai “tempat tujuan wisata”. Hotel-hotel kebanyakan mempunyai konsep yang sama dan tidak menawarkan sesuatu yang baru.

Hotel Puerta America di kota Madrid, Spanyol adalah hotel berbintang lima yang menawarkan konsep yang lain. Hotel ini mempunyai 12 lantai hunian, dimana tiap-tiap lantainya dirancang oleh arsitek-arsitek kelas dunia yang berbeda. Saya menginap di lantai pertama yang merupakan hasil rancangan dari arsitek kelahiran Iraq yaitu Zaha Hadid. Star Wars adalah kata yang meluncur dari bibir saya ketika saya melihat katalog dari kamar-kamar hotel pada waktu check-in. Kamar-kamar di lantai satu ini di dominasi warna putih. Lantai dua sampai dengan 12 menawarkan kamar-kamar lainnya dengan warna merah erotis dan indah, kamar-kamar dengan hiasan bunga, serta warna-warna lainnya seperti nuansa logam bergaya futuristik.

Zaha Hadid yang lahir tahun 1950 ini adalah salah seorang perempuan Irak yang sempat menikmati masa-masa di mana pendidikan perempuan di Irak masih sangat maju sebelum jatuh ke dalam kekuasaan penguasa-penguasa radikal Islam yang dimulai pada zaman diktator Shadam Hussein. Irak pada waktu itu terkenal sebagai negara termaju di Timur Tengah dalam bidang pendidikan baik itu untuk laki-laki maupun perempuan. Sekarang ini beliau merupakan salah seorang arsitek yang sangat dihormati di dunia arsitektur antar bangsa. Karya-karyanya yang tergolong ke dalam maha karya arsitektur dunia misalnya Signature Tower di Dubai, BMW Central Building di kota Leipzig Jerman serta Bridge Pavilion di kota Zaragoza Spanyol.

Berikut bisa dinikmati foto-foto dari kamar tempat saya menginap di lantai satu, hotel tampak muka, restoran dan lantai-lantai lainnya.

10
Okt
08

Kebanggaan Orang Minang di ranah

Ada tanggapan dari seorang dokter bedah muda RS dr M Djamil / FK Unand Padang yaitu dr Rixendo terhadap tulisan saya mengenai kebanggaan sebagai orang Minangkabau. Berikut ini tanggapannya:

saya salut dengan kelugasan uni, ada salah satu postingan uni yang saya ambil “bangga menjadi orang minang” jadi perdebatan hangat oleh beberapa teman, di RS salah satunya oleh dr hardi salah seorang kawan (seorang dosen) juga sedang belajar di negri orang (australi), dia mengatakan bahwa orang minang yang tinggal di kampuang halaman kini ” takah mangapik daun kunyik” dalam arti kata kalau ada hal yang baik semuanya atas nama kita tapi kalo yang jelek orang lain yang punya. sebagai contoh seberapa banyak mamak mamak kita yang mengaku kemenakan hanya jika kita berhasil dirantau, tanpa peduli sebelumnya bagaimana keadaan kita, bagaimana perjuangan kita… menurut uni bagaimana?

Kebanggaan terhadap budaya dan adat istiadat dari nenek moyang adalah ciri khas daripada masyarakat matriarchat, di manapun mereka berada. Merasa diri rendah dan hina, adalah gejala-gejala masyarakat tertindas, yaitu masyarakat patriarchat. Dalam hal ini kebanggaan berarti sehat apabila dilihat dari segi kejiwaan. Kebanggaan akan budayalah yang menyebabkan suku bangsa Minangkabau bisa bertahan dari gempuran budaya bertubi-tubi dan penyerangan-penyerangan dari sekian banyak kekuasaan yang datang silih-berganti ke pusat budaya Minangkabau, baik yang berasal dari orang-orang luar Minangkabau ataupun dari orang-orang “Minangkabau” sendiri yang sebenarnya tidak layak lagi disebut sebagai orang Minangkabau karena budaya yang mereka anut bukan lagi budaya Minangkabau. Contoh-contoh daripada rasa bangga dari masyarakat matriarchal:

1. Contohnya saya :) Karena saya tahu apa yang telah diperbuat oleh orang Minangkabau. Orang Minangkabau (dan suku bangsa-suku bangsa matriarkal lainnya) tahu apa yang baik dari raso dan pareso (rasa/perasaan dan rasio/logika). Kita tahu bahwa melukai badan apalagi sampai mebunuh mendatangkan rasa sakit yang tak terkira (raso), dan akibta-akibat menyedihkan lainnya (pareso). Karena itulah melukai/membunuh adalah perbuatan buruk. Orang-orang yang berjuang agar sesutau perbuatan buruk tidak terjadi, atau yang melakukan gugatan terhadap perbuatan itu jadinya termasuk orang yang baik. Dan itulah yang dilakukan oleh banyak sekali orang-orang Minangkabau. Hal itu dimungkinkan oleh pandangan hidup matriarchal yang dianut oleh orang Minangkabau (yang benar-benar Minangkabau). Sementara orang-orang dari suku bangsa lain menganggap bahwa makin banyak seseorang atau suatu suku bangsa dalam melakukan perampokan, pembunuhan dan pembantaian maka makin besar “nilai” dan “kekuasaan” orang atau suku bangsa tersebut, maka semakin dihormatilah mereka. Hal ini berdasar kepada pandangan daripada masyarakat patriarkat yang mendasarkan pandangan hidupnya tidak pada raso dan pareso melainkan pada kekuasaan dan kedigdayaan (dalam banyak hal berarti berapa banyak orang yang mati, termiskinkan, menjadi kelaparan, dan berapa banyak air mata yang keluar dst, yang disebabkan oleh orang berkuasa tersebut). Kebanggan berangkat dari sesuatu hal yang dibanggakan. Baik dan buruk pada masyarakat matriarkal tidaklah ditentukan oleh konsep-konsep yang ditentukan oleh penguasa baik itu penguasa agama, perang, ataupun negara/kerajaan, melainkan dari akibat-akibat yang ditimbulkan dari suatu perbuatan. Pada masyarakat Minangkabau hal itu jelas asalnya dan jelas dalih apa yang dipakai.

2. Banyak orang Minangkabau berbangga dengan tatanan matriarkat Minangkabau, karena dengan tatanan ini, kesejahteraan anak terjamin karena Bunda mereka yang nota bene adalah yang paling dekat dengan mereka karena mengandung dan melahirkan mereka serta keluarga besar Bunda mereka selalu ada mendampingi mereka. Rumah gadang selalu menjamin mereka terlindung dari hujan, panas dan angin, serta ekonomi keluarga besar yang menjadi dasar dari tatanan keluarga Minangkabau yang menjamin kesejahteraan seluruh keluarga dimana seluruh anggota keluarga bekerja untuk seluruh anggota keluarga. Setelah tatanan keluarga patriarchat mulai banyak dianut oleh orang Minang, yaitu bentuk keluarga kecil dengan anggota yang hanya terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak, dimulailah zaman dimana banyak perempuan Minangkabau karena perceraian dan hal-hal lain sebagainya menjadi termiskinkan, tidak mempunyai rumah. Hal ini pada gilirannya menyebabkan anak-anaknya juga ikut termiskinkan dan tidak mempunyai rumah. Oleh karenanya, fenomena anak gelandangan (anak-anak tidak berumah) dan lain-lain mulai muncul di ranah Bundo Kanduang. Hal ini bisa kita baca langsung di surat-surat kabar di Sumbar sendiri. Budaya Minangkabau yang tidak mengenal pelacuran baik itu laki-laki, perempuan dan anak-anak karena keluarga besar yang bekerja bahu-membahu untuk kesejahteraan seluruh anggota keluarga, sedikit demi sedikit mulai sudah berubah. Padaumumnya, di desa-desa (atau nagari-nagari) Minangkabau belum ada budaya pelacuran dan “rumah remang-remang” seperti banyak dijumpai di hampir seluruh tempat di pulau Jawa. Tapi sudah mulai ada perempuan Minangkabau (dan juga laki-lakinya) yang mulai berprofesi sebagai pelacur, karena desakan penghidupan walaupun masih sangat sedikit jumlahnya. Untuk masalah ini tampaknya masih perlu dilakukan penelitian seberapa jauh dampak patriarkalisasi budaya Minangkabau mempengaruhi ekonomi dan perilaku orang Minangkabau.

3. Laki-laki dari suku bangsa Mosuo di Yunnan, Cina Selatan merasa bangga karena mereka memperlakukan kekasih-kekasih mereka dengan baik dan penuh kasih sayang walaupun mereka sering dihina oleh masyarakat-masyarakat dari suku bangsa patriarkal lainnya di Cina sebagai “laki-laki yang diatur oleh perempunannya” (walaupun kenyataannya tidaklah begitu). Mereka hanya menjawab dengan bangga: ya kami bangga menjadi laki-laki Mosuo dibandingkan dengan kalian yang memperlakukan kekasih-kekasih (istri-istri) kalian seprerti memperlakukan binatang! (bangsa Cina terkenal sebagai bangsa yang memperlakukan perempuan-perempuannya dengan buruk, dan orang Mosuo tahu akan hal itu). Hinaan mengenai “laki-laki diatur oleh perempuan” ini juga pernah menimpa Prof. Dr. Emil Salim, pakar nasional dan internasional dalam bidang lingkungan hidup. Tapi oleh beliau tidak diambil pusing, malahan beliau tetap berkonsultasi dengan Bunda-nya ketika ditawari jabatan oleh Suharto dalam pemerintahannya.

Contoh-contoh daripada rasa rendah diri yang berlebihan adalah merupakan perwujudan daripada mental orang-orang terkalahkan dan tertindas, yaitu mental bangsa-bangsa patriarkal. Contoh:

1. Orang Jawa (yang sangat patriarkal) sering sekali menyebut dirinya orang kecil (wong cilik), orang hina apabila merujuk kepada orang yang lebih kaya, orang yang “kedudukannya” lebih tinggi, pejabat, orang berkuasa, orang penting dsb, tapi terhadap orang-orang yang dalam hal uang, kekuasaan, posisi dsb berada dibawahnya sangat memandang rendah. Semua yang berasal dari Belanda atau Barat atau Amerika adalah bagus, sedangkan yang asal Indonesia semuanya adalah buruk

2. Orang Jerman ketika masih berjaya pada zaman Hitler memandang rendah semua bangsa-bangsa lainnya, sekarang apa-apa yang berbau Amerika (sebagai “penguasa dunia”), adalah “cool”.

3. Orang Minangkabau (yang sebenarny sudah bukan Minangkabau lagi) yang berusaha merubah budaya matriarchat Minangkabau ke budaya Arab Sudi karena berpikir budaya Minangkabau tidaklah “cool” sedangkan budaya Arab Saudi adalah “cool”.

4. Dll. Saya rasa kita bisa melihat contoh-contoh itu sehari-hari.

Mengenai soal orang-orang di kampung yang “takah mangapik daun kunyik” dan hubungannya dengan mamak-mamak yang tidak mempunyai peran dalam “keberhasilan” kita di rantau dan kemudian berbangga-bangga dengan keberhasilan kita, saya rasa tidak ada hubungannya.

Budaya Minangkabau sekarang ini sedang berada di ambang kehancuran karena, seperti telah disebut di atas, telah mengalami serangan bertubi-tubi dan berlapis-lapis dari berbagai macam arah, tidak saja dari luar Minangkabau tapi yang paling menyedihkan adalah upaya menggerogoti budaya Minangkabau dari dalam oleh “orang-orang Minangkabau” sendiri dan oleh para Malin Kundang-Malin Kundang Minangkabau. Sekarang ini kata Niniak hampir tinggal nama dan susah hampir terhapuskan perannya.  Mamak laki-laki tidak bisa menjalankan fungsinya sebagai mamak karena dituntut menjadi “ayah” dalam konsep keluarga kecil patriarchat yang menjadi trend atau sebagai lambang “kemodernan”. Para panghulu tidak dapat menjalankan tugasnya karena harus berhadapan dengan kekuasaan negara. Kesepakatan bersama yang dicapai dengan perundingan panjang yang melibatkan semua pihak yang menjadi dasar hidup bersama masyarakat Minangkabau telah digantikan oleh fasisme Islam yang didukung oleh kekuasaan negara oleh sekelompok “orang-orang Minangkabau” yang merasa berhak “mengkafirkan” atau menyatakan bahwa seseorang bukan Minangkabau karena orang-orang Minangkabau tersebut tidak mau menggantikan budaya Bundo Kanduang dengan budaya Arab atau orang-orang Minangkabau yang menggugat fasisme Islam yang sedang menggerogoti akar-akar budaya Minangkabau dst.

Kalau mamak-mamak kita masih berbangga tentang keberhasilan kita, berbahagialah anda (dr Hardi), karena itu berarti masih ada anggota keluarga kita yang mengakui “pencapaian” kita. Banyak orang-orang dalam budaya patriarchat yang frustasi/bunuh diri/menjadi gila karena “pengakuan sosial” yang sangat penting dalam perkembangan jiwa seseorang tidak mereka dapatkan. Dan anda tetap harus berterima kasih kepada mamak anda dan dunsanak anda yang lain, sebagai penerus budaya Minangkabau yang mempunyai budaya merantau dan yang memungkinkan anda merantau sampai ke Australia, sehingga “menjadi orang berhasil” yang dibangga-banggakan mamak-mamak anda, yang nota bene adalah keluarga kontan anda. Orang-orang di kampaung sekarang ini hidup susah dan lebih miskin daripada orang-orang Minangkabau seperti saya dan anda yang hidup di rantau. Perjuangan hidup telah menyebabkan mereka tidak bisa “membantu dunsanak-dunsanak” dan kamanakan mereka. Mereka hanya bisa berbangga. Itupun, menurut saya, sudah lebih dari cukup. Kita yang berhasil di rantau inilah yang selayaknya membantu mereka.

Saya sendiri bekerja keras untuk mencapai apa yang saya capai sekarang dengan dukungan budaya Minangkabau yang saya kenal sejak kecil.

Saya merasa bahagia ketika dunsanak-dunsanak saya berbangga akan perantauan saya dan pencapaian intelektual saya. Hal itu dimungkinkan oleh budaya Minangkabau dimana niniak-mamak dan dunsanak-dunsanak saya adalah juga pembawa dan penerus budaya tersebut. Ketika perempuan-perempuan lain sibuk berkutat pada masalah-masalah kecantikan untuk bisa menjerat laki-laki kaya, saya diajarkan oleh Bunda saya dan dunsanak-dunsanak saya untuk membangun diri saya sendiri dan untuk bersama dengan laki-laki yang baik dan menyayangi saya dan tidak untuk menjerat laki-laki.

Saya merasa tidak membutuhkan modal lainnya seperti modal uang “dari mamak”, karena modal budaya yang saya terima tidak terkira nilainya. Itu karena budaya Minangkabau yang dibawa secara turun-temurun oleh orang-orang yang menyebut dirinya Urang Awak yang diantaranya adalah mak gaek saya dan “mamak” saya yang “tidak ada peran apa-apa” dalam keberhasilan saya, yang tentu saja tidak benar. Keluarga besar saya dan anda termasuk mak gaek/niniak dan mamak berjasa karena peran budaya mereka yang memungkinkan saya dan anda menjadi “orang” di rantau. Setahu saya tujuan kita merantau adalah untuk mencari pengalaman, menimba ilmu dan kalau berhasil membantu dunsanak-dunsanak di kampuang? Apakah hal itu telah dr Hardi lakukan? Atau dr Hardi telah mengikuti jejak begitu banyak perantau-perantau Minangkabau lainnya yang mengambil manfaat dari budaya Bundo Kanduang tapi kemudian tidak melakukan hal-hal yang berguna untuk keluarga besar mereka dan masyarakat darimana mereka berasal atau bahkan jejak para Malin Kundang Minangkabau yang malah menistakan budaya Bundo yang telah “membesarkan” mereka? :(

Janganlah anda ikut-ikutan menistakan budaya Bundo Kanduang hanya karena kekhilafan manusia yang sangat bisa dimaklumi dan menafikan sisi-sisi baik dari kebudayaan itu untuk kehidupan manusia. Lagipula, budaya Minangkabau terdiri dari banyak sisi, dan tidak hanya bertumpu kepada “peran mamak”. Mamak bukan merupakan inti budaya Minangkabau. Jadi kalau mamak-mamak “tidak menjalankan perannya”, bukan berarti budaya Minangkabau itu lalu menjadi buruk sepenuhnya.




 

Oktober 2008
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Blog Stats

  • 48,659 hits

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.