24
Jun
08

Ciri-ciri Masyarakat Patriarchal

Masyarakat Patriarchat mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

  • Pembagian masyarakat dalam tingkatan-tingkatan atau kelas-kelas atau kasta-kasta yang bersifat menindas dari kasta yang atas ke kasta yang di bawahnya. Masyarakat Hindu adalah masyarakat yang menerapkan konsep ini secara ekstrim, dan memberi nama kepada setiap kelas-kelas/kasta-kasta tersebut dari kasta Brahmana yang setingkat Dewa/Tuhan sampai kepada kasta Pariah yang dinistakan dan tidak ada hak apa-apa.
  • Keluarga adalah keluarga “kecil” yang “dikepalai” oleh seorang Bapak yang dianggap sebagai “pemilik” keluarga dan berhak melakukan hal-hal apapun juga terhadap hak “miliknya” yaitu istri dan anak-anaknya. Di dalam konsep Hindu bahkan Bapak dianggap sebagai Tuhan/Dewa dari istri dan anak-anaknya. Apa yang dikatakan oleh Bapak adalah hukum bagi istri dan anak-anak.
  • Kata Ibu hanya terbatas pada Ibu yang melahirkan kita saja. Anak adalah milik Bapak dan Ibu adalah yang harus mengurus “anak si Bapak”.
  • Anak adalah cuma terbatas pada yang dilahirkan oleh seorang perempuan. Anak dari saudara perempuan Ibu/Bapak dikenal dengan sebutan sepupu.
  • Perkawinan biasanya dalam bentuk, perkawinan tetap, dimana pihak perempuan tinggal di rumah keluarga suaminya atau di rumah suaminya di mana dalam bentuk ekstrimnya perempuan sebagai istri tidak mempunyai hak apa-apa di rumah ini dan seringkali harus menerima perlakuan buruk dan siksaan dari keluarga suaminya atau dari suaminya.
  • Anak yang dilahirkan digolongkan ke dalam klan Bapak atau dianggap sebagai hanya “anak dari si Bapak” dan akan dinamakan berdasarkan nama Klan Bapaknya atau nama keluarga Bapaknya.
  • Budaya yang tidak egaliter (hirarkis) dan tidak demokratis. Bentuk ekstrimnya adalah kediktatoran dan budaya otoriter.
  • Pengambilan keputusan adalah tidak demokratis/demokratis semu/demokratis tapi untuk segolongan orang saja (kelompok elitis) dan tidak melibatkan semua pihak. Biasanya hanya melibatkan dan berlaku hanya untuk kelompok laki-laki elitis dan mengenyampingkan kelompok-kelompok laki-laki lainnya, kelompok perempuan, kaum muda. Semua tidak dapat menyuarakan pendapatnya
  • Masyarakat yang akrab dengan golongan-golongan (hirarki) dan mempunyai kelas/kasta/kelompok penguasa yang dikenal sebagai raja/ratu (tapi jarang sekali), kaisar, sultan, pangeran dll. Kelompok penguasa inilah yang merupakan kelompok pemilik dari semua harta/kekuasaan/hukum/ yang ada di masyarakat, dan seringkali merupakan perlambang daripada kekuasaan Tuhan di dunia seperti di Arab Saudi dan kerajaan-kerajaan Eropa di Abad Pertengahan. Budaya jilat-menjilat pantat penguasa dan budaya “menginjak ke bawah” menjadi keharusan yang harus diikuti untuk bisa hidup dalam tingkatan-tingkatan (hirarki)/kelas-kelas/kasta-kasta yang sangat kejam ini.
  • Masyarakat yang menyukai peperangan dan kekerasan. Mempunyai kelas/kasta/kelompok tukang perang/ksatria dan mengenal budaya pembentukan tentara/ksatria/tukang perang sebagai bagian dari kekuasaan dan pembentukan kekuasaan. Budaya kekerasan dan perang dianggap “biasa” dan lumrah serta “kodrat manusia”. Budaya-budaya kekerasan seperti pembunuhan, perang, perampokan, pemerkosaan berkembang dan sangat membudaya. Kata-kata seperti “membunuh”, “memperkosa”, dan lain-lain kata-kata yang merupakan perlambang daripada kekerasan dan penindasan berasal daripada masyarakat ini. Dan lagi-lagi konsep-konsep ini dianggap sebagai “biasa”/”lumrah”/”sudah kodrat manusia”.
  • Memuja seorang/beberapa Dewa atau seorang Tuhan yang dipuja sebagai Bapak Dewa/Tuhan di surga yang biasanya merupakan Dewa perang dan bersifat menghukum atau mengesahkan perilaku kekerasan kepada “yang tidak memujanya”.
  • Mempunyai pandangan mengenai “kepemilikan pribadi”/oran perorang, yang bersifat pemumpukan harta dan diturunkan dari Bapak ke anak laki-lakinya.
  • Mempunyai konsep kepala-kepala dan lain-lain kedudukan yang bertumpu pada kekuasaan yang pada bentuk ekstrimnya berupa kekuasaan absolutis yang sama sekali tidak demokratis dan tidak egaliter. Hitler, Suharto dan Raja Arab Saudi adalah contoh-contoh daripada kekuasaan absolut ini.
  • Mempunyai kelompok penguasa agama yang mengatur segala perizinan tentang urusan-urusan dalam masyarakat yang biasanya mengaku-ngaku serbagai perwakilan penguasa langit (Tuhan) yang merasa berhak menghukum dan mengadili masyarakat. Kelompok agama ini biasanya tidak mau bekerja, biasanya mengemis dan hanya menjual kata-kata yang mereka klaim sebagai “berasal dari Tuhan” atau kata-kata yang berharga karena “mereka adalah perwakilan Tuhan”, sang penguasa langit.
  • Sangat membenci hubungan kasih sayang antara laki-laki dan perempuan. Memuja budaya “asketisme” (mengharamkan hubungan laki-laki dan perempuan/anti hubungan antara laki-laki dan perempuan/anti hubungan lawan jenis), akan tetapi besifat mendua akan hubungan seksual sesama jenis (homoseksual) terutama antara laki-laki dengan laki-laki. Perkawinan adalah merupakan urusan kelompok agama dan harus mendapatkan “izin” dari kelas “penguasa agama” dan keluarga seringkali tidak berwenang menentukan hal ini. Hubungan badan antara laki-laki dengan perempuan dianggap suatu yang hina atau “mesum” atau sebagai salah satu ungkapan daripada “perbuatan setan”. Akan tetapi hubungan badan antara laki-laki tidak mendapatkan tantangan dan sama sekali tidak dibahas atau bahkan diberlakukan sikap mendua untuk hal tersebut seperti banyak yang terjadi di kalangan kelompok penguasa-penguasa agama dan kelompok-kelompok tukang perang/ksatria. Karena itulah masyarakat patriarchal akrab dengan perilaku seksual yang aneh-aneh, tidak alamiah ataupun brutal/biadab seperti seperti “pelacuran” (baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak), istri/suami simpanan (konkubin), homoseksualitas, pederasty/paedophile (seks dengan anak kecil), harem/poligami dan pemerkosaan (terhadap laki-laki/perempuan dan anak-anak).
  • Anak adalah mahluk yang tidak dihargai dan dihormati keberadaannya. Mereka dijadikan budak/sebagai obyek seksual perkosaan dan paedophile/pederasty. Kalau tidak mempunyai “Bapak”, tidak diakui keberadaannya dan dianggap sebagai “anak haram” dan dinistakan. Dibunuh pada saat dilahirkan atau di dalam kandungan karena mereka adalah anak perempuan atau karena Ibu yang mengandung mereka dinistaka oleh masyarakat karena “tidak ada suami”. Masyarakat Patriarchal akrab dengan konsep-konsep yang menistakan anak-anak seperti anak haram, anak tidak ber-Bapak. Anak sangat tidak dihormati kelahiran dan keberadaannya, dihormati hanya karena “siapa Bapaknya”. Ketika “siapa Bapaknya” tidak jelas maka ternistalah mereka. Masyarakat patriarchal akrab dengan budaya pembunuhan anak-anak, karena kekejian masyarakat terhadap perempuan hamil yang menyebabkan sang Ibu menggugurkan bayi dengan paksa atau karena konsep anak perempaun yang tidak ada harganya jika dibandingkan dengan anak laki-laki.
  • Akrab dengan konsep anak berdasakan kelaminnya. Karena itulah anak laki-laki maupun perempuan adalah tidak sama dihormati dan tidak sama dihargai. Akrab dengan budaya pembunuhan anak perempuan karena kelamin anak laki-laki lebih dihargai daripada kelamin anak perempuan. Anak adalah “siapa Bapaknya” dan tidak dihargai sebagai bakal individu.
  • Perempuan dalam bentuk ekstrimya adalh “siapa suaminya” (siapa yang memilikinya). Dalam budaya Hindu India yang sangat membenci perempuan, kalau suami dari seorang perempuan meninggal dunia, maka si perempuan (sebagai hak milik suami) harus ikut mati juga. Sang janda ini berdasarkan filsafat Hindu, dibunuh setelah suaminya mati. Ketika budaya ini dicoba dihapuskan oleh penjajah Inggris, pembunuhan perempuan janda ini mulai hilang. Akan tetapi sampai sekarang tetap saja janda-janda Hindu di India harus menerima nasib dinistakan karena status “janda”nya.

5 Tanggapan ke “Ciri-ciri Masyarakat Patriarchal”


  1. Juni 26, 2008 pukul 2:24 am

    wah, ini serangan yang cukup ngeri nih, ke kaum patriakat. uni, awak pernah baco lupo sumbernyo, disitu mengatakan tatanan masyarakat patrilineal lebih maju daripada matrilineal batuah tu ni??

  2. 2 Vara
    Juni 26, 2008 pukul 10:37 pm

    @catra

    sebelum saya coba jawab pertanyaan Catra, Uni mau perjelas dulu satu hal, bahwa istilah patrilineal maupun matrilineal tidak cocok dipakai di sini, karena hanya menyangkut satu aspek daripada tatanan masyarakat matriarchat dan patriarchat. kata patrilineal (garis bapak) maupun matrilineal (garis ibu) mencakup hanya dari sisi keturunan. Oleh karena itulah istilah yang tepat adalah tatanyan masyarakat matriarchat dan patriarchat.

    Sekarang mengenai “anggapan” bahwa masyarakat patriarchat lebih maju daripada masyarakat matriarchat berasal daripada banyak “pemikir” daripada budaya patriarchat yang berusaha ataupun secara tidak sengaja menjelek-jelekkan masyarakat matriarchat, yang memang dari sejarahnya merupakan sasaran serangan daripada masyarakat yang menganut budaya patriarchat. Jadi bukan suatu hal yang aneh. Suku bangsa-suku bangsa patriarchat ini ketika melancarkan peperangan, perampokan dan penghancuran daripada masyarakat matriarchat selalu berdalih bahwa masyarakat yang dijajahnya sebagai bangsa yang lebih rendah derajatnya, dll. Contoh nyata adalah bangsa-bangsa penjajah Eropa yang menjajah (memerangi, merampok, membantai dan menghancurkan) masyarakat-masyarakat matriarchat di seluruh dunia seperti Indian Amerika, suku bangsa-suku bangsa matraicrhat di Afrika, di Nusantara dan daerah-daerah lainnya menyatkan bahwa masyarakat jajahannya adalah masyarakat rendahan.

    Mengenai masalah kemajuan. Kalau kita mengatakan maju atau tidak. Apa yang kita maksudkan dengan maju. Masyarakat-masyarakat patriarchat mbisa dikatakan maju kalau yang disebur maju adalah penemuan tehnik.teknik penyiksaan, penghancuran, pembantaian, perampokan, penghancuran alam, maupun senjata-senjata pemusnah masal. Dalam hal ini masyarakat matriarchat kalah jauh, bahkan tidak ada apa-apanya. Pandangan hidup/filsafat mereka tidak mengenal budaya kekerasan yang memungkinkan dikembangkannnaya tehnik-tehnik tersebut.

    Kalau yang disebut maju adalah pengertian yang mendalam terhadap befungsinya alam semesta dan bagaimana manusia hidup dengan alam semesta, maka masyarakat matriarchatlah yang maju.

    Seandainya yang dimaksud dengan maju adalah kemajuan teknologi, maka masyarakat patriarchat tidaklah maju, karena teknologi dan ilmu pengetahuan lainnya adalah hasil-hasil daripada pemikir-pemikir dan cendekiawan-cenedkiawan dari seluruh dunia, yang kebanyakan berasal daripada masyarakat matraicrhat, atau yang masih menganut budaya matriarchat walau tidak sepenuhnya. Pemikir-pemikir dan para cerdik pandai adalah orang-orang yang umumnya bekerja tanpa pamrih dan bukan termasuk golongan penguasa (gabungan dari raja/sultan/diktator dengan kelas penguasa agama dan kelas tentara/ksatria).

    Adapun kalau dikatakan bahwa masyarakat barat yang patriarcaht tapi katanya “paling maju” adalah tidak benar. Kekayaan mereka yang mereka kembangkan sampai sekarang berasal daripada hasil merampok (kolonialisasi adalah kata halus daripada merampok secara besar-besaran sekaligus membantai sekaligus menghancurkan) bangsa-bangsa sedunia di seluruh benua: Asia, Amerika, Afrika dan Australia. Ilmu pengetahuan yang mereka kembangkan juga berasal dari peradaban manusia yang telah berusia beribu-ribu tahun yang pada mulanya dikembangkan oleh masyarakat matriarchat di seluruh dunia.

    Kalau dikatakan bahwa masyarakat matraicraht adalah terbelakang, Minangkabau dan masyarakat matriarchat di negara bagian Kerala di India adalah suku bangsa yang paling maju di negaranya. Minangkabau adalaha suku bangsa yang paling maju dalam segala aspek kehidupan di Indonesia, demikian pula suku bangsa matriarchat di Kerala adalah sangat maju di bandingkan dengan suku bangsa-suku bangsa India lainnya yang patriarchat dalam hal pendidikan, dan lainnya.

    Suku bangsa Indian Amerika sepertinya terpinggirkan karena penguasa Inggris menerapakan pembantaian sepenuhnaya suku bangsa-bangsa Indian di Amerika dan meminggirkan mereka ke tempat-tempat reservasi di Amerika.

    sekian dulu keterangannya. semoga menjawab keingintahuan Catra. Jadi kalau masyarakat patriarchat itu lebih maju, indak batuah tu mah… Mereka kaya dari hasil-hasil merampok, sampai sekarang.

    :)

  3. 3 ken
    Juli 7, 2008 pukul 2:22 pm

    saya salut dengan kelugasan uni, ada salah satu pstingan uni yang saya ambil “bangga menjadi orang minang” jadi perdebatan hangat oleh beberapa teman, d RS salah satunya oleh dr hardi salah seorang kawan (seorang dosen) juga sedang belajar d negri orang (australi), dia mengatakan bahwa orang minang yang tinggal di kampuang halaman kini ” takah mangapik daun kunyik” dalam arti kata kalau ada hal yang baik semuanya ktas nama kita tapi kalo yang jelek orang lain yang punya. sebagai contoh seberapa banyak mamak mamak kita yang mengaku kemenakan hanya jika kita berhasil dirantau, tanpa peduli sebelumnya bagaimana keadaan kita, bagaimana perjuangan kita… menurut uni bagaimana?

  4. Juli 18, 2008 pukul 1:25 pm

    Sorry out of the topic, vara. I have linked you in Indonesian Expatriates Forum. Please link us back ya.


Tinggalkan Balasan




 

Juni 2008
S S R K J S M
« Mei   Agu »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Blog Stats

  • 19,918 hits