09
Jun
08

Poligami dan Korban-korbannya

Kalau kita berbicara soal Islam, maka hampir otomatis yang dimaksud adalah peremuan berjilbab dan keharusan berpoligami bagi “laki-laki gatal” atau laki-laki soleh. Berbusa-busa sudah mulut para cendekiawan muslim dalam menerangkan soalan mengenai “ayat tentang poligami” dan berjuta-juta lembar buku, artikel dan tulisan-tulisan mengenai poligami dan kerudung (jilbab, abaya, burqa dan kawan-kawannya), yang menyatakan bahwa hal itu bukan hakikat atau ajaran Islam, tetap saja para fundamentalis Islam dan para pengikut bertahan pada “aturan kerudung dan poligami” ini. Saya tidak akan memasuki debat kusir yang cuma akan menghabiskan tenaga dengan orang-orang tidak punya otak yang hanya berfikir tentang pemuasan alat kelamin laki-laki ini, tetapi saya akan berbicara mengenai korban-korban poligami dan budaya poligami pada suku bangsa-suku bangsa dunia lainnya. Tidak hanya perempuan menjadi korban daripada poligami, laki-laki dan anak-anak justru yang menjadi korban utama dari tatanan “perkawinan” patriarchat ini. Dan tidak seperti anggapan orang banyak yang selama ini kita dengar bahwa poligami adalah budaya khas Islam, budaya-budaya patriarchat dunia lainnya mengenal praktek poligami ini. Saya tidak akan terlalu banyak berbicara tentang budaya-budaya patriarchat dunia yang menerapkan poligami melainkan korban-korban daripada poligami.

Laki-laki korban poligami

Laki-laki, tidak dapat disangkal lagi, adalah korban utama daripada poligami. Ah, kok bisa? Laki-laki yang tidak menyetujui poligami kebanyakan tidak berdaya untuk menyatakan ketidak setujuannya karena tidak punya alasan untuk itu. Menurut pendapat “hampir semua orang”, laki-laki selayaknya tidak memprotes kampanye poligami ini, karena “laki-laki adalah pihak yang diuntungkan”. Bukannya enak bisa berhubungan badan dengan lebih dari satu perempuan? Tapi, apa bisa semua laki-laki berhubungan badan dengan lebih dari satu perempuan? Jawabannya ternyata adalah tidak. Berikut kita lihat mengapa.

75% Laki-laki Tidak Akan Mendapatkan Pasangan

Menurut banyak laki-laki (dan juga perempuan) pendukung poligami, yang masih malu-malu menyatakan dukungannya untuk poligami, poligami diperlukan karena jumlah perempuan lebih banyak daripada jumlah laki-laki. Jadi untuk menghindarkan perempuan yang tidak mempunyai suami, maka perlulah poligami ini dijalankan. Pendapat ini misalnya diyakini dengan sangat oleh “penguasa PKS”, Hidayat Nur Wahid. Ternyata mereka mendasari pendapat gila ini dari hasil penghitungan jumlah penduduk laki-laki dan perempuan. Jumlah perempuan daripada hasil statistik ini memang sedikit lebih tinggi, walaupun kadang-kadang lebih rendah. Jumlah prosentasi perempuan di Indonesia berkisar antara 48%-52%, dibanding jumlah laki-lakinya. Ini tidaklah aneh. Dari hasil penelitian-penelitian dalam bidang ilmu biologi terutama ilmu genetika menunjukkan bahwa jumlah laki-laki dan perempuan akan selalu berkisar sekitar 50%-50%. Jadi jumlah statistik ini adalah normal, karena tidak beda jauh.

Sekarang pertanyaannya adalah apa yang menyebabkan perbedaan statistik jumlah laki-laki dan perempuan di dunia? Dari hasil penelitian ilmu-ilmu alam dan sosial ditemukan bahwa perempuan adalah mahluk yang lebih kuat daripada laki-laki. Pengertian kuat disini adalah bukan dalam pengertian bertinju cara petinju kelas berat seperti Mike Tyson, melainkan dalam hal menahan sakit, mental dan ketahanan tubuh. Perempuan mungkin “lemah” dalam hal tinju-bertinju seperti berusaha ditekankan para pendukung ideologi perempuan adalah mahluk lemah, akan tetapi mereka “kuat” dalam hal hal yang berhubungan dengan penderitaan hidup, rasa sakit dan emosi. Perempuan sejak haid pertama, telah terbiasa (dan akhirnya terlatih) dengan rasa sakit melalui haid yang datang tiap bulan, mengandung dan melahirkan anak. Secara mental perempuan juga lebih bisa menghadapi stress dan tidak mudah terjerumus ke dalam kebiasaan buruk yang menyebabakan ketagihan dan kerusakan mental dan tubuh. Karena itulah mereka umunya, kalau tidak sengaja dibunuh atau karena kecelakaan, biasanya masa hidupnya lebih panjang. Di Indonesia belum ada budaya membunuh bayi atau anak-anak perempuan seperti banyak terjadi di India dan Cina yang berbudaya Ultra-Patriarchat. Dari sinilah asal kelebihan dalam statistik di atas. Nilai lebih sekitar 2% ini datang dari perempuan-perempuan tua atau “nenek-nenek metal” :) yang masih kuat hidup, bahkan sampai di atas usia 100 tahun, seperti Inyiak Upiak Palatiang yang sampia sekarang masih hidup dalam usianya yang menjelang 106 tahun, dan yang terkenal sebagai pandeka silek (Indon. pendekar silat) dan masih aktif bekerja di sawah, mengarang lagu dan menggubah musik serta sebagai dukun anak. Jadi dengan alasan perempuan lebih banyak daripada laki-laki semestinya laki-laki gatal ini kawin dengan nenek-nenek kuat ini :). Karena perempuan muda jumlahnya hampir selalu persis sama dengan laki-lakinya, yaitu 50%-50%. Kalau laki-laki gatal ini mengatkan bahwa mereka berhak atas 4 istri, maka calon istri daripada laki-laki lainnya akan mereka ambil. Karena laki-laki cuma bisa berpasang-pasangan karena prosentasi yang sama. Kalau 25% laki-laki Indonesia berpoligami atau beristri 4 seperti katanya “diharuskan” oleh Islam, maka tidak ada lagi perempuan yang tersisa. Semua sudah dikawini oleh laki-laki gatal yang cuma terdiri dari 25% dari keseluruhan laki-laki yang ada. Jadi para laki-laki, sekitar 75%, harus siap-siap untuk tidak mendapatkan istri atau pasangan hidup. Dan siap-siaplah untuk mencari istri di luar negri, atau menjadi homoseksual, bila poligami jadi diterapkan, yang tampaknya akan terjadi kalau Partai Islam seperti PKS (Partai Keadilan Sejahtera) menang dan bekerja sama dengan tentara.

Laki-laki Tidak Kaya

Para laki-laki yang tidak sanggup membiayai 4 istri dan entah berapa banyak anak-anak yang akan lahir dari “perkawinan gila” ini jelas cenderung tidak akan mendapatkan istri karena laki-laki beruanglah yang akan mendapatkan 4 istri karena bsia membiayainya. Hamzah Haz, Gymnastiar, Puspo Wardoyo, Rhoma Irama dan presiden Sukarno adalah contoh-contoh daripada “laki-laki beruang” yang bisa membiayai lebih dari satu istri. Hamzah Haz lewat korupsi, Gymnastiar lewat jualan dakwah, Puspo Wardoyo lewat usaha jualan ayam gorengnya (yang herannya masih dikunjungi orang), Rhoma Irama lewat “jualan suaranya” serta Sukarno sebagai “penguasa Indonesia” selama sekitar 20 tahun. Laki-laki yang penghasilannya pas-pasan atau hanya cukup untuk membiyai 1 istri atau bahkan cukup untuk membiayai diri sendiri atau bahkan yang dibiayai oleh istri, harus siap-siap gigit jari, karena tidak akan ada perempuan lagi yang tersisa.

Seharusnya para laki-laki memboikot laki-laki egois penghianat kaum laki-laki ini dengan jalan tidak memilih partai yang diwakili Hamzah Haz, tidak membeli lagi dagangan Gymnastiar, atau tidak lagi berkunjung ke restoran Puspo Wardoyo.

Dan memang dari sejarahnya poligami adalah hampir selalu hak istimewa dari kalangan pen guasa, baik itu sultan-sultan di Arab dan di Turki yang haremnya bisa berjulah ribuan perempuan, atau kaisar Cina yang haremnya hampir sama dengan sultan-sultan Arab, atau sultan-sultan dan raja-raja Jawa yang beristri banyak. Dalam budaya-budaya ini, laki-laki tidak beruanglah atau yang terpaksa bekerja untuk laki-laki elite dan penguasalah yang akan menjadi korban. Di keraton Cina, laki-laki yang berkerja untuk kaisar Cina harus dipotong buah pelir dan kemaluannya agar “tidak menganggu atau berhubungan badan” dengan istri-istri kaisar. Demikian pula yang terjadi pada kesultanan-kesultanan Arab dan kerajaan-kerajaan di India. Jadi wahai laki-laki, kalau solider dengan sesama laki-laki dan ingin mendapatkan pasangan, boikotlah laki-laki gatal, egois dan penghianat laki-laki ini. Bekerjasamalah dengan perempuan yang juga akan menjadi korban poligami untuk memerangi perkawinan setan ini.

“Adil” dan “Tidak Zina”

Alasan daripada diberlakukannya poligami adalah kalau bisa adil terhadap ke 4 istri maka boleh berpoligami dan untuk menjaga agar tidak terjadi “zina”. Pengertian zina juga tidak jelas. Jadi laki-laki gatal seperti Hamzah Haz, Gymnastiar dan Puspo Wardoyo menganggap dirinya adil! Padahal adil adalah suatu ideal yang ingin dicapai ileh manusia, tapi tidak seorangpun di dunia yang bisa adil. Bahkan Islam sendiri menyatakan bahwa hanya Tuhan yang bisa adil dan maha adil. Manusia adalah mahluk yang seringkali khilaf. Kalau begitu siapa mereka ini. Apakah mereka berfikir bahwa mereka sudah sama dengan Tuhan, yang bisa adil? Berarti mereka sirik, menganggap dirinya setara dengan Tuhan yang Adil. Padahal di hati mereka tersimpan buah dada, dan tubuh yang montok dari istri yang lebih muda dan biasanya yang lebih sering dikunjungi adalah istri yang muda. Adil? Ah, cuma gatal-gatal saja kemaluan bapak-bapak ini. Istri Gymnastiar sampai pingsan-pingsan, karena ketidakadilan dan dusta Gymnastiar, istri-istri dari Puspo Wardoyo jelas-jelas perempuan bodoh, terlihat dari air mukanya, yang cuma bisa menurut saja dan tidak bisa mengartikan apa itu adil. Hamzah Haz, wah jelas-jelas laki-laki berkuasa di salah satu partai Islam, istrinya harus tutup mulut dong kalau ada urusan mengenai keadilan. Apakah itu yang menyangkut soal-soal jatah kelamin Hamzah Haz sampai jatah keuangan perbulannya. daripada bikin malu.

Satu lagi alasan yag paling menggelikan adalah poligami perlu adalah agar tidak “zina”. Kalau kita bertanya kepada mereka apa arti “zina”, jawabannya tidak pernah jelas. Tapi kira-kira pengertian zina seperti ini: kalau laki-laki dan perempuan berhubungan badan dengan izin penguasa agama walaupun untuk cuma beberapa jam seperti banyak terjadi di Iran (yang dikenal dengan istilah kawin mut’ah) atau di Arab Saudi (yang dikenal dengan kawin “Al Misyar”), maka itu tidak dianggap “zina”. Kawin “mut’ah” atau “al misyar” ini saya lihat sebagai pelacuran. Demikian juga penilaian daripada orang-orang lainnya yang mendasarkan perkawinan pada cinta dan kekeluargaan. Jadi bapak-bapak pengikut kepercayaan ini, bisa saja pergi ke tempat pelacuran, seperti di Iran, di Arab Saudi dan di negara-negara Arab lainnya, dan berhubungan dengan pelacur tersebut. Syaratnya cuma satu, sebelum masuk ke kamar dan berhubungan dulu, harus meminta “restu” dari penguasa agama, apapun namanya. Dan memang inilah yang diterapkan di tempat-tempat pelacuran di Arab Saudi. Ternyata prinsipnya sama saja, pergi ke pelacuran dan berhubungan seks sebebas-bebasnya bagi pihak laki-laki beruang (termasuk dengan pelacur dan anak-anak). Cuma tampaknya alasannya perlu diper-suci-kan dengan dukungan Tuhan. Laki-laki yang masih memiliki cinta kepada pasangan dan masih memiliki moral tampaknya harus waspada dengan pengertian mengambang “zina”, “mut’ah” dan “al misyar” ini. Buat saya jelas-jelas poligami adalah zina, karena tidak berdasarkan cinta kasih antara pasangan yang terdiri dari 1 laki-laki dan 1 perempuan.

Bahaya Homoseksualitas di antara Laki-laki

Para cendekiawan ilmu-ilmu sosial di Cina menghawatirkan akan meningkatnya budaya homoseksualitas yang dipercepat dengan menurunnya jumlah perempuan di Cina sebanyak 25%. Cina yang menerapkan kebijakan anak satu bagi seluruh orang Cina, telah menyebabkan calon bayi-calon bayi perempuan dibunuh sejak masih di dalam kandungan atau ketika baru dilahirkan. Alasannya adalah karena anak laki-laki di Cina jauh lebih berharga daripada dibandingkan dengan anak perempuan. Bagi keluarga-keluarga kaya, calon bayi perempuan digugurkan secara kedokteran oleh dokter setelah diketahui bahwa si calon bayi berjenis kelamin perempuan, ini banyak terjadi di kota-kota Cina yan kaya seperti Hong Kong. Pada keluarga.keluarga miskin, biasanya bayi perempuan dibunuh pada saat baru dilahirkan, atau dibiarkan mati kepanasan atau kedinginan di jalanan. Budaya membunuh anak perempuan adalah budaya yang sudah lama ada pada masyarakat Cina dan India yang menganut budaya Ultra-Patriarchat, di mana anak laki-laki lebih dihargai daripada anak perempuan. Jadi kebijakan 1 anak ini bukanlah pemicu asal daripada budaya membunuh anak-anak perempuan. Beberapa tahun yang lalu ketika jumlah laki-laki diperhitungkan sudah 25% lebih banyak daripada jumlah perempuanya, ilmuwan di Cina mengkhawatirkan meningkatnya homoseksualitas karena 25% laki-laki tidak akan mendapatkan pasangan. Indonesia mungkin belum memiliki budaya membunuh bayi perempuan, juga tidak pada masyarakat Jawa yang tergolong sangat patriarchal di Indonesia, akan tetapi dengan kebijakan poligami dan beristri 4, apalagi kalau sampai disahkan oleh negara Indonesia, maka akan ada 75% lebih banyak laki-laki yang tidak akan mendapatkan pasangan, 3 kali lebih banyak daripada Cina. Coba bayangkan kemungkinan meningkatnya budaya homoseksualitas di kalangan laki-laki. Yah, daripada sendirian…..

Jadi para laki-laki, waspadalah!!!

Anak-anak korban poligami

Sudah jadi rahasia umum, bahwa anak dari istri tua, adalah anak yang paling menderita. Karena biasanya si bapak hanya mengunjungi istri(-istri) mudanya dan tentunya anak-anak istri(-istri) mudanya. Sering kali bahkan, si bapak sama sekali tidak mengunjungi istri tuanya dan akhirnya tidak mengunjungi mereka. Masalah keuangan juga menjadi masalah utama daripada anak-anak daripada bapak-bapak gatal ini. Biasanya mereka harus hidup miskin, karena umumnya si bapak tidak lagi membiayai ibu-ibu mereka yang berlaku sebagai istri tua. Saya sendiri kenal dengan keluarga-keluarga beberapa istri tua ini. Mereka jadi miskin karena biasanya perempuan-perempuan yang mau dimadu ini adalah mereka-mereka yang tidak memiliki pekerjaan atau tergantung secara ekonomi kepada suami mereka. Yang kemudian beristri lagi.

Mereka juga harus menderita secara emosional karena pertengkaran antara orang tua mereka karena masalah-masalah soal keadilan ini, yaitu masalah kunjugan si bapak dan masalah keuangan yang tidak adil. Mereka juga harus menderita karena pertengkaran orang tua mereka, pada saat si bapak “mau kawin lagi”. Penderitaan emosional ini juga berlaku bagi anak-anak dari si istri muda.

Penderitaan mereka menjadi lebih lengkap lagi, karena mereka harus diberi panggilan: “anak istri tua” atau “anak istri muda”, yang biasanya juga mengandung penghinaan.

Perempuan Korban Poligami

Perempuan mungkin terlihat “lebih beruntung” daripada para laki-laki yang harus menghadapi bahaya homoseksualitas karena “budaya istri 4″ ini. Mereka sedikitnya “masih mempunyai suami”, walaupun untuk 1 hari 3/4 per minggunya. Kalau adil. Tapi kalau sendag rindu dengan badan suamai dan alat kelamin laki-laki, apa daya harus menderita sendirian, karena kerinduan ini datanganya tidak bisa diatur ketika “jatah kunjungan” yang 1 hari 3/4 itu tiba. Yah akhirnya kalau tidak makan hati karena cemburu (karena membayangkan alat kelamin si suami sedang berada di dalam alat kelamin istri lain dari sang suami) dan gelisah karena ingin bemesraan dengan suami, pilihan lainnya yah masturbasi sendirian atau serong. Jadi buat apa dong punya suami, kalau musti mastrubasi sendirian atau makan hati? Jadi para perempuan hati-hati kalau bilang poligami adalah ajaran agama. Dengan pernyataan ini anda menggali lubang sendiri dan juga lubang kubur perempuan-perempun lainnya yang bernasib sama.

Suami yang berpoligami biasanya juga pergi ke pelacuran, atau serong. Kan dilarang agama? Kata siapa? Kan ada “nikah mut’ah atau al masyar”, yang cuma perlu beberapa jam, cukup untuk berhubungan seks saja. Dan itu sudah sempat jadi trend kok di Indonesia. Jadi alat kelamin suami anda sudah masuk ke alat kelamin perempuan lainnya yang berisiko punya penyakit kelamin. Jadi kalo tidak mau kena penyakit kelamin jangan mau di poligami. Penyakit kelamin juga bisa berasal dari “madu” anda sendiri. Kalau mereka tidak higienis dengan alat kelamin mereka, mereka akan menularkannya kepada anda lewat kelamin suami anda. Masakan anda tidak takut? Kelamin suami anda sudah masuk ke 3 kelamin perempuan lainnya dan mungkin juga ke kelamin pelacur yang kemungkinan besar sudah kena penyakit kelamin? Ah, coba pikir-pikir lagi deh. Mungkin ada “tidak cemburu” karena dijanjikan surga, tapi anda harus pikir soal penyakit kelamin ini. Ini masalah serius.

Kemungkinan besar para perempuan akan frustasi seumur hidup karena tidak mendapatkan kepuasan sangat besar. Pertama sebagian besar laki-laki menderita penyakit ejakulasi prematur (hasil dari penelitian di bidang kedokteran). Dan walaupun ini “bisa disembuhkan”, karena budaya patriacrhat yang menyebabkan laki-laki sangat egois dan menganggap bahwa perempuan adalah alat seks dan tidak perlu mendapatkan orgasme, tidak banyak laki-laki yang mau menyembuhkan dirinya, walupun mereka nyata-nyata sakit secara seksual. Sekarang ditambah lagi dengan “berhubungan seks dengan 4 istri. Sudah loyo tapi punya istri 4! Yah, akhirnya seumur hidup (kalau anda tetap mau kawin terus dengan laki-laki gatal ini), anda dan madu-madu anda cuma jadi pemuas nafsu suami anda yang gatal dan egois.

Saya juga tidak yakin anda bisa “tidak cemburu” dan bahwa tidak akan ada pertengkaran dengan madu-madu anda soal waktu, kunjungan dan masalah keuangan, dan lain-lain. Kalau anda masih juga ingin dimadu, karena ingin masuk surga, masih banyak cara untuk bisa masuk surga. Dimadu adalah jalan paling hina dan rendah untuk masuk surga, masih banyak cara-cara lain. Menolong orang banyak yang miskin, yatim piatu dan lain-lain kegiatan sosial. Masuk surga karena dimadu juga tidak jelas asal-usulnya. Yang jelas alam/Tuhan menciptakan perempuan tidak 4 kali lebih banyak dari laki-laki yang memungkinkan Tuhan menyuruh anda untuk berbagi satu laki-laki dengan 3 perempuan lainnya. Akan tetapi sudah jelas Tuhan menciptakan manusia, laki-laki dan perempuan untuk hidup berpasang-pasangan karena hanya ada 1 perempuan untuk 1 laki-laki agar semuanya bisa berpasang-pasangan.

Kalau anda tetap berkeras untuk di poligami, maka saya cuma akan katakan anda adalah perempuan yang berbahaya untuk perempuan lainnya, untuk kebanyakan laki-laki dan untuk anak-anak.

Penutup

Susilo Bambang Yudhoyono tampaknya akan mencoba mendapatkan dukungan dari kelompok Islam fundamentalis yang salah satu isu utamanya adalah mengesahkan poligami. Dia sudah menunjukkan “restunya” akan budaya poligami ini lewat komentarnya yang memuji-muji propaganda poligami daripada film “ayat-ayat cinta”, yang buat saya judulnya adalah ayat-ayat setan, karena akibat-akibat menyeramkan yang akan terjadi terhadap laki-laki, anak-anak dan perempuan. Penguasa PKS sendiri yang jelas-jelas memiliki link ke setan dunia Arab Saudi, dan ke kelompok Fundamentalis Islam Mesir, Muslim Brotherbood, Hidayat Nurwahid, telah mengatakan jelas-jelas bahwa dia menyukai buku “ayat-ayat setan”.

Dan seperti telah ditunjukkan oleh Pakistan, Arab Saudi, Iran, dan lain-lain negara Islam, kombinasi antara kelompok penguasa negara dengan kelompok penguasa Islam adalah sangat berbahaya. Akan semakin berbahaya lagi apabila kombinasi ini ditambah dengan pengusa dari militer, yang sedang terbentuk di Indonesia, dibantu dari dana dan kampanye lewat media luar negri.

Laki-laki tidak gatal dan tidak egois serta perempuan normal harus hati-hati menyikapi isu poligami, pemilu 2009 dan partai Islam. Anda akan menjadi korban, baik anda laki-laki atau perempuan, apabila tentara dan kelompok Islam fundamentalis menguasai panggung politik.

Bagi orang-orang Minangkabau haru diingat bahwa apapu hsailnya ternd yang terjadi sekrang ini adalah bisa merupakan akhir dari Budaya Minangkabau. Kombinasi Islam fundamentalis (Jawa), tentara (Jawa)dan Arabisme/Wahabisme adalah sangat berbahaya. Kita semua telah tahu bahwa politik tidak bisa diserahkan kepada partai politik, karena permainan setan dan busuk yang terjadi di dalamnya. Politik adalah merupakan tanggung jawab kita semua, bukan milik partai politik, apalagi partai politik Islam yang mewakili kepentingan Arb Saudi/Arabisme/Wahabisme dan karenanya juga penguasa dunia, walaupun mereka berdalin apapun ataupun bermuka manis seperti Hidayat Nurwahid.

Harus diingat bahwa didalam orang-orang PKS ada agenda untuk menghancurkan budaya matriarchat Minangkabau dan menghancurkan “Islam versi Minangkabau” yang katanya tidak sejalan dengan hukum Islam. Perlu diingat bahwa Islam, Jawa dan Arab Saudi adalah budaya-budaya patriarchat dunia yang kejam yang selalu bertujuan untuk menghabisi budaya matriarchat.

Media nasional maupun internasional telah dipelintir untuk “cuma
“meliput urusan-urusan kelamin dan kekerasan dan “agama”, seperti kasus Inul dan Undang Undang Anti Pornografi, pembiaran kekerasan dari kelompok-kelompok Islam fundamentalis seperti FPI dan lainnya, pelarangan kelompok agama tertentu dan “pengharaman oleh negara” karena desakan satu kelompok ynag merasa mewakili “Islam yang benar” pada kelompok Ahmadiyah yang baru-baru ini terjadi, serta kasus “ganyang Malayisa”. Kita tahu bahwa alasan “Islam yang benar” telah depergunakan untuk membunuh jutaan orang Islam di seluruh dunia. Semestinya Indonesia mengatakan “ganyang Arab Saudi” yna gtelah membunuhi perempuan-perempuan Indonesia yang bekerja di sana, dan ynag telah membiayai para fundamentalis Islam di Indonesia.

Urusan-urusan ynag benar-benar penting seperti masalah kekurangn pangan, nasib Indonesia setelah perdagangan bebas di terapkan, kembalinya kekuasaan militer di Indonesia, kekerasan oleh negara di Universitas Nasional, “deal-deal” tentara dengan penguasa dunia Amerika Serikat, dikesampingkan begitu saja.

Semua harus menderita karena ada sekelompok laki-laki yang beruang dan “berkuasa” yang ingin memuaskan alat kelaminnya saja. Contohnya sudah jelas: Arab Saudi.


2 Tanggapan ke “Poligami dan Korban-korbannya”


  1. 1 Catra Juni 16, 2008 pukul 2:39 am

    AWAK SUKO SAMO PEMIKIRAN-PEMIKIRAN UNI….

  2. 2 marola Agustus 6, 2008 pukul 1:31 pm

    Kalo ambo No Comment tentang ini, terutama pada paragraf diateh.
    Bana kecek uni, sampai kiamatpun, iko tak akan pernah salasai do, bagi saya ini hanyalah, mancuboan ka diri awak, bagai mana perasaan kalau amak kita dimadu?, saudara perempuan kita? atau umpama kita (kalau ambo padusi).

    Kalau ado urang (padusi) nan mau dan menurut pelajarannya boleh, ya silakan…
    Kalau saya dengan keyakinan saya meng anggap boleh, Insya Allah tak akan.

    :-)

Tinggalkan Balasan




 

Juni 2008
S S R K J S M
« Mei   Agt »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Blog Stats

  • 3,313 hits